Joe William

Joe William
Joe sang Pahlawan



Sepeda motor yang ditunggangi oleh dua orang pemuda yang tampan dan satunya lagi tampan banget itu pun berhenti di belakang kerumunan mahasiswa yang ketika itu serentak mendongak ke atas melihat ke arah tingkat tinggi bangunan kampus tersebut.


Ketika sepeda motor itu berhenti, seorang pemuda yang juga tampan tapi tidak pake banget menghampiri kedua pemuda yang tampan dan tampan pake banget itu sambil nyengir kuda.


"Kalian datang juga akhirnya," ujar pemuda itu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Pemuda yang tampan pake banget itu.


"Keadaan ku saat ini, gigi dan gusi ku kering karena mendongak sambil menyeringai," jawab pemuda yang menyambut kedatangan dua orang itu tadi.


"Aku tidak menanyakan keadaan mu. Bagaimana keadaan mahasiswi yang mau bunuh diri itu?"


"Oh. Itu maksud mu. Para dosen dan sahabatnya sedang melakukan negosiasi dengan mahasiswi yang sudah bosan hidup itu,"


"Heh. Mau mati saja pakai negosiasi segala," kata pemuda itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau mau kemana Joe?" Tanya Tye.


"Sylash dan kau Tye! Tunggu saja di sini ya. Aku mau ikut-ikutan bernegosiasi dengan calon mayat itu," jawab pemuda tampan pake banget yang ternyata adalah Joe adanya.


Tanpa menggubris ocehan kedua sahabatnya itu, Joe bergegas menuju ke arah tangga lalu berlari sekuat tenaga ke lantai atas bangunan yang menyerupai Rooftop itu.


Entah bagaimana caranya, tau-tau dia sudah tiba dalam waktu kurang dari dua puluh menit dan ikut-ikutan mencegah mahasiswi tadi yang sedang berusaha dibujuk oleh sahabat dan beberapa dosen di kampus itu.


"Hei mahasiswi bodoh. Jika ingin mati, jangan di sini. Kalau kau bosan hidup, mati saja jauh dari kampus ini. Jika kau mati, tidak ada yang merasakan kerugian. Namun, jika kau mati di kampus ini, sudah jelas semau pihak akan merasa dirugikan. Nyawa sampah mu itu sama sekali tidak berguna bagi kami. Tabrakkan saja dirimu ke mobil di jalan raya sana jika memang ingin mati. Mau mati saja harus nyari sensasi," Joe tampak acuh tak acuh sambil berkata seperti itu. Namun dihatinya, dia merasa kasihan dengan gadis itu. Pasti dia saat ini mengalami frustasi atau depresi sehingga memilih untuk mengakhiri hidupnya.


"Heh anak jin. Sudah gila kau ya? Mengapa kau menyuruh dia mati? Sedangkan kami di sini berusaha mencegahnya," bentak salah seorang mahasiswi di tempat itu.


"Kau gadis bodoh. Apa menurut mu mati itu adalah penyelesaian dari segala masalah? Orang tua mu memeras keringat membanting tulang untuk pendidikan mu. Kau malah ingin mati. Sia-sia Tuhan memberi mu otak untuk berfikir. Kau diberangkatkan dari rumah ke universitas ini dengan doa dan harapan dari orang tua mu. Setelah itu, apa balasan mu?" Tanya Joe dengan suara keras.


"Biarkan saja aku mati. Aku sudah terlalu lelah dipermainkan, diberi harapan, kemudian dilecehkan. Apakah begini nasib orang miskin? Selalu di hina dan dilecehkan? Aku sudah tidak tahan lagi. Semua uang yang dikirim oleh orang tua ku habis karena aku ditipu oleh rayuan manis. Setelah semuanya habis, aku dibuang begitu saja. Kini, aku tidak tau lagi harus melanjutkan kuliah dengan cara apa. Mati lebih baik daripada aku gagal dalam pendidikan," kata wanita itu sambil berurai air mata.


"Kau butuh uang? Jika butuh uang, kau bisa berusaha. Kau butuh sesuatu, maka bekerja lah. Bukan bunuh diri, Bodoh!" Bentak Joe sengit.


"Bukan hanya uaaaaang. Tapi aku juga telah hancur. Aku telah rusak. Masa depan ku telah hancur," jerit wanita itu.


"Panas sekali di sini. Jika terus seperti ini, bisa gosong kulit ku. Aku tidak ingin hitam seperti beberapa bulan yang lalu," kata Joe sambil mengeluarkan jarum peraknya.


Sejenak setelah itu..,


Wuzzz


Wuzzz


Wuzzz...!


Tanpa ada yang melihat, Joe menjentikkan jarinya dengan jarum ke arah bagian urat-urat di beberapa bagian kaki gadis itu dengan pengerahan tenaga dalam.


Dengan santai, Joe berjalan ke arah gadis tersebut lalu menarik tangannya kuat-kuat sehingga gadis itu terbetot dan menabrak tubuhnya sendiri.


Mereka berdua lalu saling tindih dimana posisi Joe sama sekali tidak menguntungkan.


"Berat sekali tubuh anda, Nona!" Kata Joe sambil mendorong tubuh gadis itu.


Dia segera meraba dan mencabut sekitar empat batang jarum di kaki gadis itu.


"Ternyata jurus jarum setan ku manjur juga," gumam Joe dalam hati.


"Nona. Aku hanya ingin agar kau mau berfikir dengan jernih. Kau jangan mengambil tindakan bodoh dengan membunuh dirimu. Sebaiknya, berusaha lah untuk berbenah dan memperbaiki keadaan. Semua orang di sini memiliki pendidikan. Mengapa berfikir terlalu sempit? Buktikan kepada mereka bahwa kau wanita tegar yang mampu mengubah dirimu. Jangan kalah. Ketika kau kalah, orang lain akan menganggap dirinya telah menang. Kasihanilah orang tua mu yang bersusah payah untuk membiayai pendidikan mu. Jangan berikan gelar almarhum mu kepada mereka!" Kata Joe.


Prok.., prok.., prok!


Suara tepuk tangan bergemuruh di atas bangunan kampus itu ketika Joe berhasil menggagalkan upaya gadis itu untuk bunuh diri.


"Wah. Ternyata anak jin ini pintar juga. Tidak ku sangka," kata salah satu dosen sambil bertepuk tangan.


"Benar. Kami berterima kasih kepada mu, Joe. Jika tidak, tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Karena, puluhan tahun semenjak universitas ini berdiri, belum pernah ada kejadian mahasiswa di sini bunuh diri. Jika kasus ini terjadi, kemungkinan ketua yayasan akan menghadapi penyiasatan dari kementerian pendidikan," kata Dosen yang lainnya.


"Nama kamu siapa, Nona?" Tanya Joe.


Sambil terisak-isak, gadis itu menjawab bahwa namanya adalah Aurelie.


"Jika kau butuh sahabat, aku akan ada untuk mu. Aku juga memiliki dua orang sahabat lainnya. Jika kau dalam kesusahan, aku bisa membantu mu. Ayah ku adalah pengusaha sapi. Kau tenang saja. Kita akan berbagi beban dengan mu," kata Joe membantu gadis yang bernama Aurelie itu berdiri.


"Terimakasih, Kak. Apakah nama mu Joe?" Tanya gadis itu.


"Benar. Namaku adalah Joe Iprit," jawab Joe sambil menahan tawa.


"Hahaha. Nama mu aneh sekali," kata gadis itu diantara tangis dan tawa.


"Sudah selesai. Mari kita turun!" Ajak Joe kepada yang lainnya.


Mereka kini segera beranjak untuk turun setelah semua masalah yang menarik perhatian seluruh mahasiswa di kampus ini kelar.


Mereka menarik nafas lega karena satu masalah terselesaikan dengan baik. Namun, di kalangan mahasiswa yang bersyukur itu, ada beberapa pemuda yang memperlihatkan adegan itu menunjukkan wajah tidak senang mereka.


Diantara pemuda yang mengumpat dan memaki itu adalah, Duff Clifford, Daren, Dilon, Reynold dan Bernard.


"Ayo kita tinggalkan kampus ini. Bangsat yang menjadi pahlawan kesiangan itu bisa kita urus nanti!" Ajak Duff Clifford sambil masuk ke dalam mobil miliknya.


Bersambung...