Joe William

Joe William
Quantum entertainment



Satu unit Taxi berhenti di pinggir jalan tepat di depan pintu gerbang kampus Globe's University.


Seorang pemuda tampan berkulit putih kemerahan, berhidung mancung, dengan gaya rambut potongan zig-zag segera membuka pintu lalu duduk di bagian kursi penumpang.


"Kemana saya akan mengantar anda, anak muda?" Sopir taksi itu bertanya begitu pemuda itu duduk.


"Bawa saya ke Quantum entertainment, Pak!" Pinta pemuda itu.


Tanpa banyak bertanya lagi, sang sopir langsung menekan pedal gas lalu taksi itu pun berangkat membawa penumpang nya menuju ke alamat yang dikatakan oleh pemuda itu.


Di sepanjang jalan, pemuda itu melihat-lihat suasana kota yang kalau dilihat dari luasnya mungkin hanya setengah dari Metro City.


Tapi, walaupun kota ini tidaklah begitu besar, bisa dikatakan kota ini sangat maju dan banyak bangunan pencakar langit terdapat di kota ini.


"Apakah anda orang baru di kota ini?" Tanya Sang sopir membuyarkan lamunan pemuda itu.


"Emm.., benar Pak," jawabannya singkat.


"Kalau boleh saya tau, dari mana asal anda, anak muda? Dan apakah anda bekerja di sini atau hanya ingin jalan-jalan menikmati suasana di kota ini?" Tanya pak sopir taksi itu lagi.


"Saya berasal dari Starhill. Saya di sini bukan untuk jalan-jalan, Pak. Melainkan, saya di sini sedang melanjutkan studi," jawab pemuda itu.


"Hmmm. Aneh memang dunia ini. Di Starhill ada beberapa University yang sangat terkenal. Salahsatunya adalah Golden University. Namun, tidak jarang diantara mereka memilih kota lain untuk meneruskan studi mereka," kata pak sopir berbicara. Lebih tepatnya, bergumam.


"Banyak berjalan, banyak yang dilihat. Banyak bertanya, banyak pula yang diketahui. Menurut saya, memang di Starhill memiliki banyak university yang terkenal. Namun, saya tentunya tidak ingin seperti katak di bawah tempurung," jawab pemuda itu sok bijak dengan kata-kata nya yang seakan-akan bersastra.


"Benar juga katamu anak muda. Quantum City ini memang bukanlah sebuah kota besar seperti Metro City dan Starhill. Namun, untuk fasilitas di kota ini, Quantum City menurut ku tidak terlalu tertinggal jauh dengan kota-kota besar lainnya," kata Pak sopir itu memuji kota tempat tinggal nya ini.


"Apakah Bapak pernah bekerja atau menetap di kedua kota besar itu?" Tanya pemuda itu penasaran. Karena dia melihat, sepertinya sopir ini banyak tau tentang keadaan kota Metro dan Starhill.


"Dikatakan lama, tidak juga. Tapi saya pernah beberapa tahun bekerja sebagai sopir taksi di Metro City dan juga sempat berada di Starhill selama dua tahun. Namun, karena usia yang tidak lagi muda, saya memutuskan untuk kembali ke kota kelahiran saya ini. Dan memilih untuk tidak merantau lagi," jawab sopir taksi itu.


Karena mereka terlalu asyik mengobrol, akhirnya tanpa terasa, taksi yang mengantar pemuda itu pun sampai juga di tempat tujuan.


Setelah membayar ongkos, pemuda itu pun segera meninggalkan taksi tersebut lalu segera berjalan menuju ke salah satu restoran untuk mengisi perutnya yang sejak tadi meronta minta di isi.


*********


Bangunan di Quantum entertainment ini keseluruhan adalah tempat hiburan, Karaoke, Restoran, kafe elite, Hotel, Mansion dan banyak lagi pusat hiburan yang terdapat di lokasi ini.


Di salah satu bangunan besar di tempat itu, terlihat sebuah bangunan dengan papan nama terpampang di depannya dengan tulisan, Luxury Clubs.


Dari Quantum entertainment, dia dapat melihat di depan sana sebuah bukit yang lumayan tinggi dengan banyak terdapat Villa-villa berbentuk Castel dan mansion besar yang menyerupai bentuk bangunan kuno pada jaman kerajaan silam.


"Apakah itu yang dinamakan oleh orang-orang kota ini dengan nama Highland Park?" Pikirnya lagi dalam hati.


"Huh. Jika bukan atas perintah dari Ayah, tidak sudi aku datang ke tempat ini. Mengapa Ayah tidak melepaskan aku bebas tanpa membebani sesuatu yang aku tidak suka? Tidak di kota Kemuning, tidak pula di Quantum City ini. Selalu saja ada beban yang diletakkan di atas pundak ku," rungut pemuda itu lagi sambil berjalan meninggalkan restoran tempatnya tadi makan.


Beberapa pasang mata tampak menatap heran ke arah pemuda itu. Ini karena, restoran yang dia masuki tadi adalah salah satu restoran mewah dengan makanan yang dipesan tidak memiliki harga yang ramah terhadap isi dompet. Tapi pemuda itu begitu santainya tanpa memikirkan berapa biaya yang dia keluarkan untuk makan.


Pemuda itu tidak memikirkan semua itu. Baginya, lima ratus Dollar sekali duduk bukanlah hal yang sangat aneh. Tinggal serahkan kartu kredit miliknya, maka semuanya selesai tanpa hambatan.


"Ayah berkata bahwa aku harus menemui orang yang bernama Baron ini di Highland Park. Aku akan menelpon orang itu terlebih dahulu," pikirnya lalu mengeluarkan ponselnya kemudian membuka aplikasi WhatsApp untuk melihat nomor ponsel milik orang yang bernama Baron yang dikirim oleh ayahnya melalui aplikasi tersebut.


Tuuut.., tuuut.., tuuut!


Pemuda itu menunggu dengan sabar sampai panggilan itu terhubung.


Tak lama setelah itu, terdengar suara dari ujung sana menyapa.


"Hallo.., apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Tuan Baron. Aku adalah Joe William. Saat ini aku berada di Quantum entertainment. Bagaimana aku bisa menemukan mu?" Tanya pemuda yang ternyata adalah Joe William itu.


"Tu-tu-Tuan muda. Katakan di mana Anda saat ini?! Tidak perlu menemui saya. Saya yang akan menemui anda," kata suara di seberang sana dengan tergagap.


"Saat ini aku berada di depan bangunan bertuliskan Luxury Clubs. Kau dapat menemui ku di sini. Cepat lah! Aku tidak banyak waktu. Jika bukan ayah ku yang menyuruh, tidak sudi aku datang ke tempat seperti ini," kata Joe William sambil sedikit menyeringai karena cuaca saat ini memang sangat panas.


"Baiklah Tuan muda. Katakan anda memakai baju warna apa? Dan memakai celana jenis apa?" Tanya Tuan Baron.


"Aku mengenakan pakaian T-shirt abu-abu, memakai celana Jeans biru sobek di beberapa bagian dan memakai sepatu berwarna hitam yang juga sudah sobek," jawab Joe memberitahu warna pakaiannya untuk mempermudah Tuan Baron menemukan keberadaannya.


Mendengar ini, Tuan Baron sangat heran. Bagaimana mungkin seorang Tuan muda yang sangat kaya raya dan sangat berkuasa bisa berpenampilan seperti seorang tukang parkir.


Tapi dia segera tersadar dari lamunannya kemudian berkata. "baiklah Tuan muda. Saya akan segera tiba di sana. Mohon untuk menunggu!" Kata Tuan Baron sedikit buru-buru.


"Baiklah. Aku akan menunggu di sini!" Kata Joe lalu menutup panggilan itu.


"Seperti apa Tuan Baron ini? Sepertinya dia ini orang baik," kata Joe dalam hati.


Bersambung...