Joe William

Joe William
Banjir darah di Garden Hill



Pagi itu, di pintu bagian barat lokasi proyek, orang-orang dari Dragon Empire yang menyamar sebagai masyarakat mulai bergerak melakukan demonstrasi.


Di seberang pagar, tepatnya di lokasi proyek, tampak Arslan, Riko, anggota Dragon Empire dan ratusan anak buah dari keluarga Miller yang memang lebih dulu berada di Garden Hill itu tampak santai-santai saja melihat para pengunjuk rasa sedang melakukan orasinya tersebut.


Bagi Arslan, Riko dan anak buahnya, mereka santai karena memang memiliki rencana lain.


Lain pula bagi ratusan anak buah Adolf Miller. Bagi mereka, hal ini sudah biasa. Paling hanya orasi biasa saja. Oleh karena itu, mereka menganggap ini adalah ulah dari orang-orang kampung yang masih tidak puas karena mereka belum menerima kompensasi atas lahan mereka yang di garap untuk dijadikan lokasi proyek.


Semakin matahari naik ke atas, semakin brutal unjuk rasa yang mereka lakukan itu.


Mereka mulai melempari para pengawal yang sedang duduk-duduk di atas menara pos dengan bom molotov.


Melihat keadaan yang sudah semakin panas tersebut, kini Arslan memerintahkan kepada anak buahnya untuk keluar dari pagar dan berpura-pura menyerang para demonstrasi itu dengan mengenakan masker dan topi pelindung agar tidak di kenali, mereka pun kini berpura-pura bertempur melawan orang-orang yang berada di luar yang juga adalah anggota dari organisasi Dragon Empire.


Ada beberapa cairan merah kini di lempar Lee arah para demonstran itu seolah-olah mereka saat ini sedang berdarah-darah. Dan itu tidak luput dari bidikan lensa kamera para wartawan.


Beberapa reporter kini mulai sibuk menjelaskan di depan kamera tentang situasi saat ini di mana para demonstran benar-benar sudah sangat teraniaya.


Hadirnya para Wartawan ini langsung mendapat tanggapan dari anak-anak buah keluarga Miller yang masih belum mengambil tindakan.


"Hei. Coba kau lihat di sana itu! Bukankah mereka adalah wartawan? Darimana mereka ini datang? Apakah proyek kita ini telah bocor?" Tanya salah satu dari pengawal itu.


"Celaka jika sudah begini. Ayo berbagi tugas! Kalian laporkan kepada Tuan besar Adolf Miller tentang kekacauan yang terjadi di sini. Juga katakan kepadanya bahwa ada banyak wartawan yang masuk ke lokasi proyek milik nya ini." Kata salah seorang dari rekannya memerintah.


Mereka lalu bergegas membagi tugas untuk membendung para demonstran, dan juga untuk menghubungi keluarga Miller tentang kejadian ini. Namun terlambat. Karena saat ini para demonstran sudah merengsek memasuki kawasan proyek. Bahkan sekitar dua ratus meter panjangnya pagar seng sudah roboh diamuk oleh massa.


Dari pagar yang sudah tumbang itu, kini orang-orang Dragon Empire yang di susul oleh masyarakat yang di kawal oleh orang-orang Drako mulai berlompatan mengepung ratusan anak buah milik keluarga Miller itu dan tanpa dikomando langsung menyerang sehingga pertarungan antara mereka yang memang memiliki perencanaan yang matang melawan anak buah dari keluarga Miller. Hal ini tentu saja adalah pertarungan yang tak seimbang.


Ketika Arslan memberi tanda kepada Daniel, Daniel yang mengerti mulai memberikan aba-aba kepada Wartawan untuk menyetop aktivitas mereka merekam serta memotret kejadian itu.


Setelah tanda dari Daniel diterima oleh Arslan, maka pembantaian pun terjadi.


Ini karena dari dalam jaket masing-masing para demonstran itu mulai mengeluarkan senjata tajam dan langsung membacok mereka yang memang sudah ditandai sebagai anak buah Adolf Miller.


Tidak sampai lima belas menit, tidak ada lagi yang tersisa dari anak buah Adolf yang ditugaskan untuk menjaga lokasi proyek itu.


Menghadapi orang-orang dari Dragon Empire yang terlatih tentu bukan makanan ringan bagi mereka yang mampu nya hanya menggertak orang-orang kampung saja.


Sekali ini mereka bertemu dengan batunya yang menyebabkan mereka semua kini tergeletak tanpa nyawa, alias modar dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


Selesai melakukan pembantaian, kini orang-orang dari Dragon Empire sedikit demi sedikit menghilang dari kawasan itu beserta beberapa mobil pribadi yang langsung menjemput para wartawan untuk memuat pemberitaan media sesegera mungkin.


Beberapa alat berat kini tampak datang ke lokasi pembantaian tersebut, mengorek lobang yang besar lalu menimbun semua mayat-mayat korban pembantaian itu secara massal.


Setelah semuanya selesai, kini keadaan kembali tenang seperti tidak ada kejadian apa-apa.


*********


Kriiiiiing...


Kriiiiiing...!


"Hallo Paman Ryan."


"Joe. Semuanya sudah selesai seperti yang telah kau rencanakan."


"Bagus Paman. Sekarang pulangkan semuanya ke markas. Paman bertiga juga segera kembali ke Metro City. Aku menunggu kalian di Villa Smith."


"Baiklah Joe. Kami akan segera kabur dari tempat ini. Biarkan sisanya dimainkan oleh Tuan Syam bersama orang-orang elite politik yang menyengsarakan masyarakat ini."


"Baiklah Paman. Jangan buang waktu lagi. Aku khawatir jika Adolf Miller mengetahui hal ini, maka akan sulit untuk menyembunyikan keterlibatan paman. Yang aku takut bukanlah moncong senapan. Tapi lensa kamera para wartawan."


"Hahahaha. Ucapkan selamat tinggal kepada MegaTown, Adolf Miller! Beginilah cara Tuan rumah mengusir pendatang asing yang tak tau diri. Mau menjadi benalu di negara ku, mungkin bisa. Tapi singkirkan dulu Dragon Empire ku." Kata Joe dalam hati lalu tersenyum-senyum sendiri.


"Mengapa kau tersenyum seperti itu hah? Apakah tingkat kegilaan mu sudah mencapai tingkat tertinggi?"


Tampak seorang lelaki tua berdiri sambil memperhatikan ke arah Joe yang tertawa tadi. Sehingga membuat pemuda itu sedikit gelagapan.


"Hehehehe. Kek. Bikin kaget saja." Kata Joe sambil garu-garu kepala nya.


"Sini ku pegang kening mu!" Kata Tuan Smith sambil meletakkan belakang tangannya di kening Joe.


"Hmmm. Kau tidak demam. Tidak sakit. Tapi mengapa kau mendadak gila?" Kata lelaki tua itu langsung mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.


"Uyut! Tega sekali mengatakan cicitnya gila. Aku ini masih waras ras ras ras!" Kata Joe sambil mencak-mencak.


"Lalu, mengapa kau tertawa sendiri hah? Dasar anak sedeng. Sudah gila kau ya? Kalau gila, mari kakek uyut antar kau ke rumah sakit jiwa."


"Kakek akan tau nanti. Tidak akan lama lagi, sebuah berita akan keluar di televisi tentang proyek ilegal milik keluarga Miller di Garden Hill bagian Timur. Hahaha."


"Apa maksudnya? Proyek ilegal?" Tanya Tuan Smith heran.


"Iya. Proyek milik mereka yang berada di Garden Hill itu ternyata ilegal. Mereka merampas paksa hak masyarakat. Banyak rumah yang dirobohkan. Kebun dan ladang gandum juga mereka garap untuk dijadikan lokasi proyek itu berdiri."


"Bagaimana kau bisa tau hah?" Tanya Tuan Smith semakin tidak sabaran.


"Ya dengan usaha lah kek. Kalau tidak usaha, mana mungkin aku bisa mengetahui bahwa proyek milik Arold Holding Company itu adalah proyek ilegal." Jawab Joe.


"Gaya mu. Kau aku lihat sibuk dengan urusan mu. Lalu, usaha apa yang kau maksud?"


"Hahaha. Yut. Memecat Paman Ryan, Paman Arslan dan Paman Riko itu adalah sebagian dari usaha ku untuk mengelabui pihak musuh. Apa kakek tidak curiga tentang pemecatan itu. Harusnya kakek curiga lah! Karena, mengapa ayah ku tenang-tenang saja ketika ketiga sahabatnya aku pecat. Apa hak ku memecat mereka kek? Andai pemecatan itu benar-benar, tentunya Ayah ku yang paling kebakaran jenggot." Kata Joe.


"Ja-ja-jadi?"


"Ya jadi-jadian." Jawab Joe sambil menoel hidungnya.


"Ini baru betul. Betul-betul anak setan. Mempermainkan orang tua. Harus mendapat hukuman!"


"Lah. Ini prestasi. Mengapa malah mendapat hukuman?" Tanya Joe seperti orang mau menangis.


"Hukuman karena tidak jujur dengan kami yang tua ini. Kau membuat kami senam jantung setiap hari. Harus di hukum."


"Kalau aku jujur, rencana ini bisa bocor kemana-mana. Apa lagi kakek uyut William. Dia kalau sudah bicara, persis seperti moncong senjata AK47. Seratus persen pasti rencana ku mentah di tengah jalan." Kata Joe membela diri.


"Apapun itu. Pokoknya di hukum."


Tuan Smith masih tetap ngotot untuk menghukum Joe.


"Iya sudah. Kalau gitu hukum lah!" Kata Joe sambil menjatuhkan diri berlutut di lantai.


Joe sudah pasrah jika harus di pukul lagi. Tapi yang tidak dia duga adalah, bukan di pukul. Tuan Smith malah memeluk cicitnya itu dengan mata berkaca-kaca lalu menciumi kepala Joe dengan penuh kasih sayang.


"Keluarga kita tidak akan pernah mati selama masih ada generasi penerus seperti diri mu ini." Kata Tuan Smith.


Joe juga memaksakan untuk terharu. Tapi dia gagal, lalu meletakkan air liurnya di bawah mata agar terlihat seperti menangis juga. Padahal dia saat ini merasa sedang bahagia karena sebentar lagi keluarga Miller akan kebakaran jenggot.


"Kau menangis Joe?" Tanya Tuan Smith.


"Iya Kek. Hikiz.., hikz.., hikz." Kata Joe dengan ekspresi wajah yang sangat lucu.


Bersambung...