
Prak!
Di toilet, Joe menumpahkan kekesalannya dengan menumbuki kaca cermin hingga retak di beberapa bagian.
"Tahan Joe. Kau harus kuat dan sabar!" Katanya dalam hati sambil mengusap-usap kepalan tinjunya. Mood nya untuk belajar kini sudah tidak ada lagi. Sambil membuang kemejanya di tong sampah, dia segera keluar dari toilet tersebut hanya mengenakan T-shirt saja dan langsung turun ke bawah. Rencananya, dia akan menjenguk sepeda motor Vespa miliknya di bengkel dan langsung pulang ke Apartemen.
Beberapa mahasiswa terdengar mengejek dan mencibir ke arah Joe. Namun sedikitpun dia tidak menggubris. Dia tetap saja berjalan menuju ke gerbang kampus. Tapi, sebaik saja dia sampai di luar gerbang, empat orang lelaki yang sebaya dengannya tampak sedang nongkrong di sana.
"Aku mohon agar kalian jangan mengusik ku. Suasana hatiku benar-benar sedang kacau. Jangan sampai kalian menjadi tempat pelampiasan amarah ku!" Joe berdoa dalam hatinya. Setelah memantapkan hati, dia lalu kembali melangkah dan berpura-pura tidak melihat ke arah empat orang pemuda yang sedang duduk di pinggir jalan tersebut.
Harapan Joe sepertinya hanya tinggal harapan saja. Ketika dia melintas di depan empat orang pemuda tadi, salah seorang dari mereka mulai mencegat Joe dan segera menjambak leher T-shirt nya.
"Dia ini lah anak cupu yang menumpahkan kuah bakso ke atas kepala ketua kita!" Kata pemuda itu tanpa melepaskan cengkraman tangannya.
"Hahaha. Tumben loe sendiri? Kemana teman-teman mu yang lain?"
"Maaf bang. Aku baru saja kenal dengan mereka. Mereka bukan sahabatku. Aku hanya ingin lewat. Tolong jangan ganggu aku!" Kata Joe memelas.
"Hahaha. Boleh. Kau bisa saja lewat. Tapi kami harus membalas perbuatan mu! Bagaimana? Kuah bakso akan kami siram ke atas kepala mu. Baru bisa impas,"
"Oh ya? Boleh bang. Tapi, dengan satu syarat!" Kata Joe yang mulai panas.
"Tidak ada syarat!"
"Baiklah. Silahkan saja jika kalian mampu!" Kata Joe sambil melepas kacamatanya, lalu menurunkan pinggang celananya sampai ke batas pinggul. "Maju lah!" Ujarnya sambil mengatur kuda-kuda.
"Kurang ajar! Berani juga anak ini! Ini bagian mu!"
Wuzzz!
"Heh. Punya isi juga kau ya!" Kaget si penyerang.
"Kalian terlalu memandang rendah kepada orang lain. Nih terima!"
Bugh!
"Uhuk!" Lelaki yang menyerang tadi langsung tertunduk begitu ulu hatinya ditendang oleh Joe menggunakan ujung sepatunya.
"Aku memang sedang mencari pelampiasan kekesalan hatiku. Sekaligus saja kalian maju! Melawan atau tidak, kalian tetap akan aku buat menjadi seperti tempe!" Kata Joe yang mulai menatap ke arah tiga orang lainnya dengan tatapan dingin yang menggetarkan hati.
Ketiga pemuda itu saling pandang dan mulai melirik ke arah seorang pemuda yang sudah memuntahkan cairan akibat ulu hatinya terkena tendangan dari Joe tadi.
"Bagaimana? Masa iya kita bertiga tidak bisa menghajar si brengsek ini?!"
"Ayo lah. Sudah kepalang tanggung!" Kata salah seorang dari mereka lalu mulai mengepung Joe yang saat ini berdiri dengan tangan terkepal. Tampak urat-urat tangannya menegang.
Wuzzz!
Tendangan kilat dilepas oleh salah satu dari pemuda pengeroyok itu. Namun, tendangan itu hanya mengenai angin karena Joe sudah berjongkok duluan.
Dua gerakan cepat dilakukan oleh Joe. Sambil berjongkok, dia menyapukan kakinya menjegal kaki lawannya yang di depan dan bangkit dengan sebutir kerikil ditangannya.
Brugh!
"Adaw!"
Wuzzz!
"Aduh Mak. Sakiiiit!" Kata seorang lagi sambil memegangi kepalanya yang berdarah terkena lemparan kerikil dari Joe tadi.
Saat ini sudah tiga orang yang terkapar di depan gerbang kampus tersebut akibat amukan dari Joe.
"Sekarang giliran kamu!" Kata Joe lalu menjambak rambut pemuda itu sehingga pemuda tersebut tertarik ke arahnya.
"Ampuni aku, bang!" Pinta pemuda itu.
"Ampun katamu? Andai aku yang berada di posisimu? Apakah kau akan mengampuni aku?"
"Bang. Aku janji tidak akan menggangu siapapun lagi!" Pemuda itu tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Lain kali, jangan melihat orang itu dari tampilannya saja!"
Kletuk!
Joe menyepak tulang kering pemuda itu membuat pemuda tadi meraung dan jatuh terduduk.
Dengan kedua tangannya, dia memijit-mijit tulang kering nya yang terkena sepakan ujung sepatu Joe.
"Aku akan melepaskan mu dengan satu syarat!"
"Apa itu bang? Abang bilang aja apa syaratnya! Aku pasti akan menuruti,"
"Kejadian ini jangan sampai ada yang tau. Jika sampai ada yang tau, berarti kalian lah yang menyebarkannya. Aku pasti akan memburu kalian sampai kemanapun kalian pergi. Apa kau dengar?"
"Dengar, Bang! Aku dengar. Tolonglah bang! Tolong jangan cederai aku. Aku hanya terbawa-bawa oleh mereka. Jika aku tidak ikut, maka aku pasti akan diasingkan oleh para mahasiswa yang lainnya," ujar pemuda itu memelas.
"Siapa nama mu?"
"Nama ku Marcus, Bang!"
"Apakah kau dari geng Cobra?"
"Benar bang. Aku memang member di sana. Ada apa bang?"
"Mari kita bertukar informasi kontak! Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan kepada mu. Tapi ingat! Jika kau berkhianat, kota Batu ini akan sangat sempit untuk mu. Aku adalah murid tunggal dari Maha guru Tengku Mahmud di Kuala Nipah. Kau pernah dengar?"
"Oh Tuhan. Siapa yang tidak kenal dengan orang tua itu. Ja-ja-jadi, jadi, Abang ini adalah,"
"Sssst. Simpan saja semua di dalam perut mu! Sekarang, kau boleh pergi! Bawa ketiga sahabatmu ini! Ingat! Jika kau tidak percaya dengan ucapan ku, aku akan mengutus menantu Lalah untuk menemui mu malam ini!"
"Maksud Abang, Tuan Roger?"
"Kau tau bukan? Jadi, jangan macam-macam! Aku tidak punya banyak waktu lagi. Ingatlah untuk tidak bernyanyi!" Kata Joe. Mereka lalu bertukar informasi kontak dan setelah itu, Joe pun memakai kembali kacamata bulat dan tebal serta menarik pinggang celananya sampai ke atas.
Seperti tidak ada kejadian, Joe pun segera meninggalkan tempat itu dengan penampilan cupunya. Sama sekali dia tidak terlihat seperti seorang yang baru saja menggebuki tiga orang pemuda sekaligus dan membuat yang satunya lagi setengah mati ketakutan.
Bersambung...