
Saat itu Leo hanya memperhatikan saja serta segera memasang telinga dan bersiap-siap untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Halo Paul. Kemana saja kau hah? Aku sudah mencari mu kemana-mana. Di mana kau saat ini Paul?" Bentak Adolf begitu menjawab panggilan itu.
"Hahaha. Hahahaha."
Hanya suara tawa yang terdengar dari seberang sana membuat Adolf menjadi semakin pitam sehingga kata-kata mutiara pun mulai berhamburan dari bibirnya yang seperti kenalpot racing itu.
"Apa yang lucu hah? Mengapa kau tertawa. Cepat datang ke komunitas elite sekarang juga! Jangan lupa bawa sekalian surat-surat perjanjian dan surat izin dari proyek yang sedang kita kerjakan di Garden Hill bagian Timur itu!" Katanya memerintahkan.
"Adolf.., Adolf. Ternyata kau masih membutuhkan aku. Aku kira setelah kau merekrut Ryan, Riko dan Arslan itu, kau sudah tidak membutuhkan aku lagi. Ternyata oh ternyata. Hahaha."
"Apa maksud mu Paul? Apakah kau ingin mempermainkan aku hah?" Bentak Adolf.
"Tuan Adolf Miller yang terhormat. Aku kira kau akan melupakan aku setelah berhasil merekrut mantan dari perusahaan Future of Company itu. Mengapa mencari ku? Apakah anda merindukan aku? Kau tau apa yang aku rasakan ketika aku datang ke rumah mu tapi kau malah menolak untuk bertemu dengan ku."
"Tuan Adolf yang terhormat. Kau ini benar-benar serigala tak berbulu. Kau perlakukan aku seperti sampah. Padahal selama ini aku bekerja untukmu. Berusaha untuk menyenangkan hati mu. Aku telah berbuat banyak. Tapi, setelah kau mulai bisa menancapkan kuku mu di negara ini, kau mulai melupakan aku."
"Ketahuilah wahai Tuan Adolf Miller yang paling terhormat sejagat. Seluruh rahasia kebusukan mu berada di dalam genggaman tangan ku. Sekali saja aku bernyanyi, maka kau pasti berada dalam masalah yang besar. Sialan kau itu Adolf. Kau datang ke negara ku, menumpang mencari keuntungan di negara ku. Tapi kau sama sekali tidak menghargai orang yang membukakan jalan untuk mu. Empat tahun aku merintis jalan agar perusahaan Arold Holding Company bisa bertapak di negara ini. Tapi kau melupakan itu Tuan Adolf. Kau lupa kepada orang yang telah menolong mu." Kata Tuan Paul.
"Kau jangan macam-macam Paul. Aku bisa membunuh mu kapan saja aku mau. Aku masih bisa berdamai dengan mu dan berbaik hati memaafkan mu. Sekarang serahkan dokumen penting itu. Setelah itu terserah kepada mu mau kemana kau pergi." Kata Adolf mengancam.
"Semudah itukah? Hahaha. Aku sudah hidup di dunia ini selama enam puluh tahun lebih. Aku sudah kenyang makan asam dan garam kehidupan ini. Kau mau menggertak ku dengan kata-kata kematian? Heh Adolf. Harusnya kau memanggilku dengan sebutan Ayah jika menilik dari usia. Tapi dasar bangsat seperti mu itu tidak tau sopan santun. Kau mengancam ku di rumah ku sendiri. Apa kau sudah sangat lelah?" Tanya Tuan Paul.
"Ok. Begini saja. Kau beritahu apa mau mu saat ini? Aku akan memberikan kepada mu. Asalkan kau serahkan semua dokumen itu kepada ku. Bagaimana?"
"Tuan Adolf. Sepertinya anda tau apa yang aku mau. Sekarang ini, aku menginginkan seratus juta poundsterling. Tidak kurang boleh lebih. Setelah kau mentransfer uang itu ke rekening ku, aku akan menyuruh seorang kurir untuk mengantarkan kertas pembungkus belacan ini ke rumah mu."
"Bangsat kau Paul. Apa kau kira aku ini orang bodoh, hah? Katakan di mana kau saat ini berada. Aku akan segera menemui mu dan membawa uang yang kau inginkan. Kau ingin dalam mata uang Inggris kan? Baiklah. Aku menuruti kemauan mu. Sekarang katakan di mana posisi mu?!"
"Hohoho. Apa kau kira aku ini bodoh? Sekarang aku tidak mau tau. Kau transfer uang itu, atau dokumen penting milik mu ini aku serahkan kepada Jerry. Kau tau kalau Jerry ini memiliki orang-orang seperti Drako, Regan, Jeff dan Tuan Syam? Khusus untuk Tuan Syam ini adalah mantan intelijen di kesatuan tentara. Dia banyak mengenal orang-orang penting di negara ini. Jika kertas pembungkus belacan ini sampai ke tangannya, maka kau tunggulah kehancuran mu yang sudah sangat dekat."
"Kau akan menyesal telah bermain-main dengan ku Paul. Aku pasti akan melacak lokasi keberadaan mu. Kau lihat saja nanti." Kata Adolf Miller mengancam.
"Baiklah. Terserah kau saja. Yang pastinya aku menunggu anak buah mu untuk melacak keberadaan ku. Tidak perlu susah-susah! Saat ini aku berada di Mountain Lotus. Tepatnya Villa milik Jerry William. Jika kau punya nyali, segeralah datang kemari mengantar kepala mu. Mudah-mudahan Jerry berkenan memenggal batang leher mu." Kata Tuan Paul lalu mengakhiri panggilan.
Tut.., tut.., tut!
"Hallo."
"Hey Paul. Hallo."
"Bangsaaaaat!"
Prak!
Saking jengkelnya kepada Tuan Paul, Adolf pun langsung membantuk ponsel miliknya di atas lantai ruangan itu sampai retak di sana-sini.
"Paul bangsat. Kau pasti akan mendapatkan ganjaran mu. Ganjaran atas perbuatan mu. Berani mempermainkan Adolf, berarti menggali lobang kuburan untuk mu sendiri."
Panas benar hati Adolf saat ini sampai-sampai meja yang terdapat di ruangan itu di obrak-abrik sampai terbalik.
"Kau tunggu di sini sebentar Leo!" Kata Adolf lalu berjalan memasuki salah satu kamar di rumah besar itu.
Selang lima menit, dia kembali keluar dengan membawa amplop dan melemparkannya kepada Leo.
"Di dalam ada lima ribu Dollar. Cari di mana keberadaan Paul itu. Terserah bagaimana cara mu menemukan bangsat itu. Yang jelas, aku ingin surat-surat penting yang ada di tangannya. Setelah itu, bunuh saja!" Perintah Adolf kepada Leo.
"Siap Tuan Besar. Saya akan segera member kabar kepada anda." Kata Leo sambil mencium amplop berisi uang itu kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan itu menuju ke mobilnya.
"Hahaha. Jika terus ada konflik seperti ini, aku akan kenyang. Hahaha." Kata Leo dalam hati.
Tak lama kemudian mobil milik Leo ini pun bergerak meninggalkan halaman luas rumah milik Adolf ini.
"Hallo Black. Tepat seperti yang kita prediksi, bahwa Paul mulai termakan taktik yang dilakukan oleh Tuan muda." Kata Leo merekam pesan suara lalu mengirimkan pesan tersebut melalui aplikasi WhatsApp kepada Black.
"Leo. Kita akan membahas masalah ini nanti. Saat ini aku sedang berada di perjalanan menuju Metro City." Balas Black terhadap isi pesan suara dari Leo tadi.
"Hey. Apa yang akan kau lakukan di sana Black?" Tanya Leo penasaran.
"Mendampingi Tuan muda yang sedang menerima hukuman dari Tuan besar William dan Tuan besar Smith." Jawab Black.
"Hahaha. Ternyata dia bisa juga mendapat hukuman. Aku kira Tuan muda kita itu kebal hukum."
Black pun mulai menceritakan semua kejadian dan apa penyebab sampai Joe William bisa mendapat hukuman dari kedua kakek uyut nya itu.
"Baiklah. Nanti kau sampaikan informasi yang aku berikan tadi kepada Tuan muda. Dan jangan lupa untuk membantu ku melacak keberadaan Tuan Paul ini." Kata Leo.
"Siap. Mau kemana orang tua itu lari? Negara ini terlalu sempit untuknya."
"Terimakasih. Mari kita lakukan pekerjaan kita." Kata Leo lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku dan langsung tancap gas menuju Starhill.