Joe William

Joe William
Penderitaan Frank dan Diana Regnar



Byur...


"Bangun kalian. Dasar sampah masyarakat. Bangun atau aku hajar kalian. Pagi-pagi menghalangi rejeki orang saja!"


Terdengar suara percikan air diiringi sumpah serapah dari seorang lelaki yang dengan marah memaki ke arah dua orang lelaki dan perempuan yang kesiangan tidur di depan sebuah toko di pinggiran kota Metro City ini.


Kedua orang tua itu terkejut mendapat siraman air gratis di lagi hari yang sangat dingin itu.


Sambil mengusap mata, kedua orang itu langsung beringsut bangkit dan segera berlalu meninggalkan depan toko tersebut.


Tiba di samping sebuah restoran kecil, mereka lalu berhenti sejenak. Memandang ke arah steling sambil menelan ludah dan mengusap kebagian perut mereka.


"Kak. Perut ku lapar sekali." Kata perempuan tua itu kepada seorang lelaki yang bersama dengannya.


"Sabar lah Diana. Kita tidak mempunyai uang. Sementara dari kemarin tidak ada yang mau menerima ku bekerja karena sudah terlalu tua." Keluh lelaki tua itu.


"Heh kalian berdua! Apa yang kalian lakukan berdiri di depan restoran ku ini hah? Pergi dari sini dan jangan membuat sial! Kehadiran kalian berdua hanya akan membuat para pelanggan tidak mau singgah di restoran milik ku ini. Pergi kalian atau aku panggilkan Security?!" Bentak pemilik restoran kecil itu sambil mengancam.


"Ayo Diana! Kita harus segera pergi sebelum pemilik restoran ini memanggil petugas keamanan." Kata lelaki tua itu sambil menarik tangan wanita tua yang bernama Diana.


Mereka kini berjalan melewati lorong-lorong rumah milik warga pinggiran kota itu sambil meminta-minta.


Alih-alih mendapatkan sedekah, mereka malah tidak jarang mendapatkan cacian, hinaan serta di usir oleh orang-orang yang merasa terganggu dengan kehadiran mereka.


Ini lain lagi kadang mereka mendapatkan gangguan dari segerombolan anak-anak kecil yang berteriak memanggil mereka dengan sebutan gelandangan dan melempari mereka dengan batu-batu kecil.


"Ayo Diana! Cepat kita tinggalkan tempat ini. Di sini tidak ramah." Kata sang kakak mengajak adiknya untuk cepat-cepat pergi meninggalkan kawasan itu sebelum salah satu dari mereka mengalami cedera karena lemparan batu dari anak-anak yang iseng itu.


"Sudah kak. Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk terus melangkah. Kita istirahat sejenak di sini." Kata Diana sambil terduduk di samping rumah milik salah satu warga.


Keadaan dua orang itu sangat menyedihkan sekali. Dengan pakaian lusuh dan berbau tak sedap. Sedangkan kaki Diana sudah lecet di beberapa bagian.


Seumur hidup tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa mereka harus melewati hari-hari mereka di usia senja ini sebagai gelandangan.


Walaupun mereka berasal dari keluarga kelas dua, tapi selama ini mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup. Apa lagi bagi Diana. Sempat merasakan menjadi nyonya besar dalam keluarga William yang terkenal sebagai salah satu dari empat keluarga kelas satu yang kaya raya, tentunya dalam mimpi pun dia tidak akan pernah mengalami seperti keadaannya yang sekarang ini. Tapi inilah kenyataan.


Berulang kali Diana berdoa semoga ini adalah mimpi dan ketika dia bangun, semuanya akan baik-baik saja.


"Ayo Diana. Kita jalan lagi. Mungkin kita bisa duduk di lampu merah sana. Mana tau kita akan bertemu dengan salah seorang dari mereka yang kita kenal. Tidak apa-apa menahan malu asalkan perut kita bisa terisi untuk hari ini." Ajak sang kakak.


"Ayo kak Frank. Bantu aku untuk bangkit!" Kata Diana sambil berusaha untuk berdiri dan melanjutkan lagi berjalan ke mana saja Frank mengajak dirinya.


Mereka kini kembali berjalan lalu berhenti di lampu merah.


Mereka terus saja begitu sampai matahari mulai naik seujung kepala.


Ketika dia baru saja akan bangkit untuk berteduh karena hari memang sudah sangat panas, tiba-tiba satu unit mobil Mercedes Benz S-class berhenti tepat di samping mereka.


Begitu kaca mobil tersebut diturunkan, kini tampaklah seorang lelaki sebaya dengan Frank menegur mereka.


"Hey. Bukankah kau adalah Frank Regnar?" Tanya lelaki itu.


Frank sedikit mengernyitkan dahinya mencoba untuk mengenali lelaki tua yang sebaya dengannya itu.


"Aku adalah Brown. Brown Gordon. Apa kau masih ingat dengan ku?" Tanya lelaki yang mengaku bernama Brown Gordon itu.


"Oh. Ternyata itu adalah kau Brown. Bukankah kau berada di Kanada?" Tanya Frank yang mulai cerah wajahnya karena berharap Brown akan membantu dirinya. Minimal untuk makan siang ini.


"Kau tunggu aku di sana Frank!" Suruh Tuan Brown sambil menunjuk ke arah Bus stop.


Frank pun menganggu lalu mengajak Diana untuk berjalan ke arah Bus stop. Sementara itu Tuan Brown telah duluan tiba di depan bus stop tersebut. Dia memarkir mobilnya di bahu jalan lalu segera keluar dari mobil tersebut.


"Tuan Brown. Kapan anda tiba di Metro City ini? Mengapa tidak memberitahu ku?" Tanya Frank.


Mereka ini dulunya adalah sahabat satu sekolah bersama dengan Wilson, Jackson, Barry, Richard, Paul, Robin, Ronald, Austin, dan juga Drako. Namun Drako dikeluarkan dari sekolah karena memukul kepala Robin sampai berdarah.


"Aku terlalu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Makanya aku tidak sempat memberi kabar kepada anda. Oh ya. Mengapa kalian bisa seperti ini? Apakah kalian sedang membuat konten?" Tanya Tuan Brown Gordon terheran-heran.


"Panjang ceritanya Brown." Kata Frank. Dia lalu menceritakan semuanya kepada sahabat lamanya itu. Di mulai dari pertemuan mereka dengan Paul, sampailah mereka bekerja untuk keluarga Miller lalu mengalami kebangkrutan.


Brown hanya manggut-manggut mendengarkan penuturan dari Frank. Sedikitpun dia tidak menyela sampai sahabatnya itu menyelesaikan bicaranya.


"Ternyata begitu. Seharusnya kalian sadar diri siapa lawan kalian. Tadinya aku berniat untuk membantu kalian. Namun setelah tau bahwa lawan kalian adalah Future of Company, maka aku harus jujur bahwa aku angkat tangan dalam urusan ini. Perusahaan milik ku masih baru di negara ini. Jika perusahaan raksasa sekelas Arold Holding Company saja mampu mereka halau keluar dari negara ini, apa lagi perusahaan milik ku yang berada dua tingkat di bawah perusahaan milik keluarga Miller itu." Kata Brown dengan wajah menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku sudah senang dengan kau tidak melupakan kami dan masih mengenal kami walaupun dalam keadaan seperti ini." Kata Frank.


"Frank. Aku tidak bisa lama-lama. Kalian harus menjaga diri. Aku khawatir bahwa akan ada yang melihat aku berbicara dengan mu. Sejujurnya aku tidak takut dengan Future of Company. Tapi aku takut kepada empat Naga dari Metro City ini. Aku juga segan kepada Jerry. Maafkan aku sobat!" Kata Brown lalu berbisik dengan perlahan kepada Frank.


"Frank. Aku akan menjatuhkan uang seratus Dollar. Jangan tegur dan ambil uang itu nanti untuk membeli makanan mu." Kata Brown lalu bangkit berdiri sambil menjatuhkan selembar uang kertas seratus Dollar kemudian berpura-pura tidak tau lalu segera memasuki mobilnya.


Melihat ini, Diana cepat-cepat menginjak yang itu dengan kakinya lalu berpura-pura menggaru kakinya yang gatal dan meraih uang yang dijatuhkan oleh Tuan Brown tadi.


"Syukur kak. Kita bisa makan enak hari ini." Kata Diana dengan wajah penuh rasa syukur.


"Ayo Diana. Kita barus segera pergi dari sini!" Ajak Frank.


Mereka berdua lalu segera meninggalkan bus stop itu dengan rencana untuk segera membeli makanan.


Bersambung...