Joe William

Joe William
Sepi di keramaian



Malam baru saja akan mengambil alih sore. Di bagian perkemahan para mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas itu, tampak Joe sedang duduk sendirian.


Sementara itu, di bagian yang lainnya tampak beberapa kelompok mahasiswa sedang duduk mengelilingi unggun api sambil bersenda gurau diantara mereka.


Ada yang menari, menyanyi, memukul gendang, bermain gitar dan sepertinya itu sangat menyenangkan. Tapi itu tidak bagi Joe. Dia benar-benar merasa kesepian di keramaian. Semua orang kini merasa sungkan kepadanya. Beberapa orang lainnya tampak seperti ketakutan. Ada juga yang sengaja menjaga jarak dengan maksud, takut menyinggung pemuda yang baru saja identitasnya dibongkar oleh Hendro dan Udin.


Joe tidak ubahnya seperti orang yang disingkirkan dari pergaulan.


Dengan perasaan sedih, dia hanya duduk sambil mendekap lututnya. Di depannya, ada secangkir teh yang masih mengepulkan asap. Baru saja tadi Jericho mengantarkan teh tersebut kepadanya.


Di saat-saat seperti ini, Joe merasakan kerinduan terhadap Starhill. Dia rindu Ayahnya, rindu Ibunya, rindu Globe's University yang tidak mengasingkan dirinya walaupun mereka tau siapa dia sebenarnya.


Cara penghormatan seperti ini benar-benar tidak menyenangkan bagi Joe. Dia seribu kali lebih suka di bully daripada harus terasing karena ditakuti. Inilah mengapa dia berlagak culun dan di hina. Itu lebih baik. Karena, dia akan mendapatkan sahabat dan pembenci yang benar-benar murni. Murni tanpa di buat-buat.


Dalam keadaan pikiran entah kemana, Joe saat ini merindukan Harvey dan Lilian. Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sahabatnya itu. Namun sial, di tempat itu tidak ada jaringan operator.


Dari arah kemah yang tidak jauh dari kemah milik Joe, keluar seorang gadis cantik yang langsung berjalan menghampiri dirinya.


"Mengapa kau termenung sendirian Joe? Apakah kau tidak ingin bergabung dengan mereka?" Sapa gadis itu.


Joe menatap wajah gadis itu lalu menggelengkan kepalanya.


"Mengapa?"


"Mereka seperti melihat hantu ketika melihat wajahku. Andai saja Hendro dan Udin tidak keceplosan bicara, semuanya pasti tidak seperti ini. Kini aku bagaikan diasingkan. Mereka ketakutan melihat ku. Rasanya aku ingin kembali saja ke Starhill!"


"Kembali ke Starhill? Lalu, bagaimana dengan kuliah mu? Kapan kau akan menyelesaikan kuliah jika terus-menerus pindah?" Tanya gadis itu.


Tidak ada jawaban dari pemuda itu. Gantinya, hanya hempasan nafas berat yang keluar dari hidungnya.


"Besok, semuanya pasti sudah berubah. Tidak ada lagi canda tawa. Tidak ada lagi yang mengejek ku, tidak ada lagi yang berani dengan ku. Lalu, dimana lagi keseruan bersahabat? Ah... Aku muak!" Ujar Joe yang tidak henti-hentinya mengeluh.


"Kau tunggu di sini. Aku akan mengumpulkan kayu bakar. Lama-lama dingin juga."


Joe segera bangkit untuk mengumpulkan ranting-ranting kayu bakar untuk membuat api unggun. Namun, baru beberapa ranting kering yang dia dapat, Hendro, Udin dan beberapa mahasiswa lain segera membantu dan bahkan siap dengan menyalakan api sekaligus. Tindakan ini benar-benar membuat Joe mati kutu.


Ingin rasanya dia menendang api unggun yang baru saja dinyalakan itu. Tapi, itu tentu tidak sopan.


Di kejauhan, Namora yang duduk sendirian juga merasa kasihan dengan Joe. Tapi dasar Namora. Dia sama sekali tidak menghampiri Joe. Baginya, Dia lebih suka sendirian dan diam. Jangan ada yang mengganggu dirinya.


Perbedaan Namora dan Joe memang bagai langit dan bumi. Jika Joe tidak tahan kesepian, Namora justru tidak tahan jika terlalu ramai.


*********


Pagi hari suasananya tidak jauh berubah.


Joe yang ingin membantu memperbaiki Jembatan pun langsung di cegah oleh mereka. Semuanya hanya mereka yang melakukan. Dan Joe hanya bertindak seperti mandor.


Setelah ponselnya mendapat sinyal, dia segera menelepon Ameng untuk membawa banyak bahan makanan pokok dari kota Kemuning ke perkampungan Murni sari.


"Jika kekuasaan yang membuat kalian segan kepada ku, maka lihatlah seperti apa kekuasaan ku! Ini yang kalian inginkan?!" Maki Joe dalam hati.


Berjarak empat jam dari dia menelepon Ameng tadi, kini dari atas udara, menderu lima unit helikopter.


Beberapa anak-anak di perkampungan itu mendadak ketakutan dan melarikan diri memasuki rumah begitu Helikopter tersebut berada di atas ketinggian yang tidak terlalu dari perkampungan tersebut.


Semua orang terheran-heran. Bahkan anak-anak dari berbagai kampus yang melakukan kerja bakti pun terheran-heran, mengapa bisa Helikopter berdatangan ke perkampungan ini dan sepertinya, tujuannya adalah kampung Murni sari ini.


Ketika itu, Joe tanpa memperdulikan mereka langsung berjalan ke area luas di depan rumah kepala desa kampung tersebut dan memberi aba-aba agar helikopter itu mendarat.


Setelah helikopter tersebut mendarat, beberapa orang langsung berlari dan berbaris di depan Joe, kemudian mereka semua membungkuk hormat.


"Ketua.., pesanan anda telah tiba. Mohon berikan perintah!"


"Temui kepala desa! Katakan kepadanya bahwa perusahaan Tower Sole propier ingin memberikan bantuan! Katakan bahwa pak kepala desa harus mengumpulkan warganya dan berikan barang-barang makanan pokok ini secara adil!" Perintah Joe kepada lelaki tadi.


"Siap ketua!" Jawab mereka. Lalu dengan kerjasama semuanya, akhirnya warga perkampungan itupun berkumpul di halaman rumah kepala desa untuk menerima bantuan dari Joe.


"Satu orang tinggal di sini untuk membawa sepeda motor ku kembali ke apartemen bukit batu! Aku akan berangkat ke kota Kemuning. Segera kosongkan satu unit helikopter. Tidak pakai lama!" Kata Joe dengan tegas.


Jatuh bangun mereka mengosongkan satu unit helikopter yang diinginkan oleh Joe tadi.


Begitu semuanya sudah selesai, tanpa memperdulikan tatapan dari para mahasiswa yang lainnya, Joe segera menarik tangan Tiara untuk meninggalkan kampung tersebut.


"Ayo sayang! Kita tidak dibutuhkan di sini. Sekali aku tidak dianggap, sejuta kali aku akan menganggap mereka semua ini layaknya seperti sampah!" Kata Joe sambil menunjuk ke arah mahasiswa yang lainnya.


Pucat wajah mereka melihat kemarahan yang tergambar di wajah pemuda itu.


Sejujurnya, bukan maksud mereka untuk mengasingkan diri Joe. Hanya saja, mereka sungkan. Apa lagi anggota J7 yang merasa malu karena telah berkali-kali mengerjai Joe. Walaupun itu hanya sebatas candaan, tapi tetap saja mereka menjadi tidak enak setelah mengetahui siapa orang yang mereka becandain selama ini.


Helikopter yang membawa Joe dan Tiara akhirnya lepas landas meninggalkan perkampungan itu dengan diiringi tatapan dari semua orang.


Mereka tidak tau harus mengatakan apa. Yang jelas, saat ini mereka merasa bersalah sekaligus perasaan campur aduk yang sangat sukar untuk dijelaskan.


"Tamat lah sudah!" Gumam Hendro.


"Kau yang tidak bisa menjaga muncung mu itu!" Sergah Udin.


"Aku? Aku salah apa? Apa aku tau jika semuanya akan seperti ini? Huh. Kalau aku tau, aku lebih baik diam!"


"Sekarang pun sebaiknya tutup saja mulut protokol mu itu!" Maki Udin yang segera berlalu meninggalkan mereka semua yang sedang memperbaiki jembatan yang terbuat dari belahan papan itu.


Bersambung...