Joe William

Joe William
Bakalan rumit lagi, Joe!



Seorang pemuda tampak sedang sibuk mengaduk-aduk pasir yang dijerang di atas tungku dengan api menyala, sehingga membuat pasir yang tadinya berwarna putih, kini berubah menjadi kecoklatan.


Begitu mendengar derap langkah kaki menuju ke arahnya, pemuda itu segera menyudahi aktivitasnya. Dia kemudian mengambil handuk kecil dengan maksud untuk menyeka keringat.


Ketika pemuda tadi berbalik, kini dia melihat tiga orang lelaki paruh baya yang sangat dia kenal telah berdiri di ruangan tempatnya berlatih tadi.


"Paman sudah datang? Silahkan duduk, Paman!" Kata pemuda itu mempersilahkan.


"Bagaimana dengan latihan mu Ketua?" Tanya salah seorang dari lelaki tadi sambil duduk di flat bench yang biasa digunakan oleh pemuda itu untuk latihan.


"Kaku semua, Paman!" Jawab pemuda itu nyengir.


"Apa kau sudah terlalu nyaman sehingga melupakan apa yang diajarkan oleh Kakek Tengku Mahmud?"


"Hehehe. Jangan memarahi ku, Paman! Aku terlalu sibuk melatih fikiran sehingga lupa melatih fisik!"


"Bagaimana dengan keadaan gang Kumuh?" Tanya pemuda itu kemudian.


"Hancur. Aku nyaris saja tidak bisa mengendalikan emosi ku," jawab lelaki paruh baya itu sambil menghempaskan tinjunya ke paha.


"Itu tidak akan lama, Paman! Biarkan mereka merasa menang terlebih dahulu. Aku masih menyicil kedatangan orang-orang dari Starhill, Country home dan Metro City. Setiap hari akan ada yang datang setidaknya lima puluh orang. Mereka akan ditempatkan di berbagai kawasan, dan berhubungan dengan mereka secara rahasia,"


"Apa kau tidak kuliah hari ini, Joe?" Tanya lelaki yang disebut paman tadi.


"Aku tidak punya kelas hari ini. Oh ya Paman, bagaimana dengan R4?"


"R4 sedang berada di gang Kumuh. Mereka masih menyelesaikan misi untuk menyelidiki kemana mereka menyalurkan obat-obatan terlarang tersebut,"


"Baiklah, Paman. Aku akan menunggu mereka!"


"Joe. Mereka menginginkan kita agar membayar uang keamanan kepada mereka. Dan, tanggal 1 ini pembayaran pertama!"


"Begitu kah? Lucu sekali. Bayar saja lah. Biarkan mereka menganggap kita ini lemah. Aku tidak ingin serba tanggung. Sekali libas, habis semua!" Kata pemuda yang ternyata adalah Joe tadi.


"Saat ini, mungkin Karman sedang mengaduk-aduk perasaan Marven. Jika Karman berhasil, maka kita bisa memanfaatkan kerenggangan hubungan antara Marven dan Honor,"


"Ternyata orang kepercayaan Paman hebat juga. Tidak kalah dengan orang kepercayaan ku yang bernama Leo,"


"Selama ada upah, dia memang bisa diharapkan!" Kata lelaki paruh baya itu tersenyum kecut.


"Bagaimana dengan keadaan keluarganya, Paman? Apakah mereka baik-baik saja?"


"Kau tidak perlu merisaukan hal itu. Empat orang pilihanku selalu menjaga mereka dan segera memberikan informasi jika ada sesuatu yang terjadi dengan mereka,"


"Paman mungkin sangat kelelahan. Paman silahkan beristirahat!"


"Kau mau kemana Joe?"


"Aku mau keluar mencari udara segar. Oh ya. Jangan lupa untuk mengintai setiap pergerakan di Kuala Nipah, Paman!" Pesan Joe yang berlalu pergi begitu saja.


Ketiga lelaki paruh baya itu hanya menggeleng melihat tingkah Joe yang pergi begitu saja tanpa mandi terlebih dahulu setelah selesai latihan. Malah, api di tungku yang membakar pasir di kuali pun tidak dia padamkan.


"Anak itu sebelas dua belas dengan Namora. Selalu sembrono,"


"Hahaha. Sudah lah bang! Ayo kita kembali dulu ke kota Kemuning!" Ajak salah temannya.


Ketiga orang itu bergegas keluar meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangan yang lain. Kemudian mereka kini keluar dari ruang tengah menuju pintu lift.


*********


Sore sudah hampir beranjak senja. Ketika empat orang gadis berjalan santai bagaikan sekelompok mahasiswi yang habis mengerjakan tugas kelompok.


Jika di lihat dari penampilan mereka yang sangat cantik, tentu keempat gadis ini adalah bunga di kampus. Tapi jangan salah! Dibalik kecantikan mereka, tersimpan rapi kekejaman yang tidak akan segan-segan menghabisi nyawa orang lain jika ada perintah dari Tuan mereka. Keempat gadis itu adalah R4.


Saat ini, ke-empat gadis tadi berjalan memasuki sebuah kafe. Sejenak mereka memperhatikan ke sekeliling ruangan. Tepat ketika mereka melihat seorang pemuda tampan sedang duduk menikmati secangkir minuman, sambil tersenyum mereka segera menghampiri meja dimana pemuda tadi duduk.


"Salam kami untuk anda, Tuan!" Kata salah seorang dari keempat gadis tadi.


"Sssst...! Hindari perhatian orang lain. Duduk dan bersikaplah sewajarnya!" Kata pemuda itu tanpa menoleh.


Keempat gadis itu tidak membantah. Mereka lalu segera duduk di kursi yang kosong. Kini posisi mereka telah mengelilingi meja.


"Kabar apa yang kau bawa, R1?" Tanya Pemuda itu.


"Tuan. Saat ini sedang terjadi rasa saling mencurigai antara Marven dan Honor. Desas-desus yang saya dengar, bahwa Irfan merasa tidak puas dengan tindakan Tiger Lee yang tidak mau menuruti kemauannya untuk mencelakai Tigor!"


"Hmmm. Itu aku sudah tau.


Kalian bertiga.., informasi apa saja yang kalian peroleh?" Tanya pemuda itu sekali lagi.


"Tuan.., saat ini, atas bantuan dari sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka dengan geng Cobra, telah membantu masuknya obat-obatan terlarang ke kota batu ini. Beberapa mahasiswa di universitas Kota Batu telah terjerat oleh mereka. Hanya saja, pengaruhnya belum begitu parah," jawab salah satu dari ketiga gadis yang ditanyai oleh pemuda yang dipanggil oleh mereka dengan sebutan Tuan itu.


"Aku mengerti sekarang. Memang, antara mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan anggota geng kucing hitam."


"Apakah Tuan menginginkan agar kami membunuh sekelompok pemuda yang mengatasnamakan geng Cobra itu?" Tanya R1.


"Daripada menghabisi mereka yang tidak berguna itu, lebih baik memikirkan bagaimana caranya menghentikan mereka men-suplay barang haram tersebut. Jika ingin membunuh sebatang pohon, bongkar sampai ke akarnya. Jika hanya ranting dan dahannya saja yang di potong, maka sebentar lagi akan tumbuh tunas yang baru," jawab pemuda itu tidak setuju dengan pertanyaan dari keempat gadis itu.


"Tuan. Sebenarnya, untuk apa kita mengalah kepada mereka? Kita bisa membabat habis mereka kapan saja. Tapi, mengapa anda terlalu memberi muka kepada mereka?"


"Kau tidak tau, R1. Mereka saat ini telah memenangkan hati penduduk Kuala Nipah. Jika aku membantai mereka sekarang, aku akan dimusuhi oleh orang-orang di Kuala Nipah. Mereka itu sudah aku anggap seperti saudara sekampung dengan ku. Aku hanya mengulur waktu supaya semua orang tau kejelekan keluarga Miller ini. Ketika masyarakat merasakan kerugian atas kedatangan mereka ke Indonesia ini, disitu lah kita akan bergerak. Jadi, dukungan terhadap mereka sudah tidak ada lagi. Aku tidak ingin dicap sebagai boss Gengster yang bisa menghabisi orang lain sesuka hatinya. Kita memiliki rentak kita sendiri. Jangan terpancing! Justru, semakin kita disakiti, semakin kuat pula alasan kita untuk membantai mereka. Dengan dalih, mempertahankan diri!"


"Saya mengerti maksud anda Tuan. Saya selalu siap kapan anda memberikan perintah!" Kata mereka bersungguh-sungguh.


"Kalian berempat memang orang-orang yang sangat aku andalkan dalam memata-matai kekuatan dan pergerakan lawan. Karena kalian adalah gadis-gadis cantik. Tentunya mereka tidak akan mencurigai kalian. Terimakasih karena kalian telah melayani ku. Suatu saat, jika perseteruan ini berakhir, aku akan memerdekakan kalian. Terserah kalian akan pergi kemanapun yang kalian mau!"


"Kami tidak ingin pergi. Jika kami pergi dan kembali ke organisasi, maka kami akan dicap pengkhianat. Kami akan di bunuh. Lebih baik tangan anda saja yang menghabisi kami, daripada kami harus diadili di Jepang."


"Baiklah! Kalau begitu...,"


"Hebat kau ya Joe! Kemarin dua, sekarang tambah lagi menjadi empat!" Belum lagi pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, satu suara dari arah belakang seperti halilintar yang menggelegar memekakkan telinga yang seperti di sambar dan tertampar.


Kering tenggorokan pemuda yang ternyata adalah Joe William itu begitu mendengar suara teguran tadi. Dia sangat kenal dengan suara itu.


"Ti.., ti.., Tiara...?!" Gumam Joe sedikit tergagap.


Bersambung...