
Dari kejauhan, kini Joe melihat Duff Clifford dan Bernard Shawn telah berjalan ke arah kantin.
Sambil memejamkan matanya, Joe pun berkata. "Namora. Tugas pertama mu sepertinya lebih cepat dari yang aku bayangkan,"
"Maksud, Ketua?" Tanya Namora yang langsung menghentikan makan.
"Nanti saja. Sepertinya bukan tugas namanya. Karena, kau akan melakukannya dengan kemahuan mu sendiri," kata Joe lalu tertawa.
Tawa dari Joe ini lah yang memancing perhatian Duff Clifford dan Bernard Shawn.
Perasaan Jengkel langsung merasuki hatinya. Terlebih lagi, dia melihat ada Naomi dan Melissa yang juga berada bersama Joe. Seperti luka di atas luka. Ibarat kudis yang berkudis, kecemburuan Duff semakin menjadi-jadi ketika dia melihat bahwa tiga mahasiswa baru yang menjadi perbincangan dikalangan mahasiswa juga berada di sana.
Entah mengandung magnet apa Joe ini, sehingga dirinya bagaimana gula yang dikerumuni oleh semut.
"Naomi. Kamu mau sesuatu? Sini aku suapi!" Kata Joe dengan sendok berisi makanan di tangan nya.
"Dasar sialan. Naomi! Kau ini benar-benar tidak mempan dengan sangsi yang diberikan oleh keluarga ku kepada mu kan?" Bentak Duff Clifford geram melihat ulah Naomi dan Joe ini.
"Ayo sini, Naomi sayang! Biarkan kambing mengembek! Kafilah akan tetap berlalu," kata Joe mencibir sinis.
Merah padam wajah Duff mendengar perkataan dari Joe. Dengan kemarahan yang meluap-luap, dia langsung membentak. "Naomeeeei! Sialan kalian semua. Aku pasti akan membuat kalian semua susah!" Ancam Duff.
"Hei Bro. Apa maksud mu dengan kalian semua? Apakah itu termasuk aku?" Tanya Namora yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kau anak baru itu ya? Ternyata hanya besar berita daripada kenyataan. Kau bahkan sama saja dengan gerombolan orang-orang sekarat itu," maki Duff semakin berang.
"Ku beri kau waktu tiga detik untuk menarik kata-kata mu tadi!" Kata Namora lalu menghitung. "Satu dia tiga!"
Prak!
"Wadiaaaaw...!"
Namora langsung menghitung. Dan tepat di hitungan ke tiga, piring tempat makanannya tadi langsung berpindah tempat ke atas kepala Duff Clifford dan pecah berantakan.
Duff, si anak manja yang hanya mengandalkan kekuatan keluarga nya hanya bisa menjerit kesakitan. Darah kini menetes membasahi kemeja putihnya.
Namora menghampiri Duff. Mencolek darah yang menetes di kepala pemuda sombong itu lalu menjilatinya.
"Lain kali lihat siapa orang yang ingin kau hina! Aku kemari karena aku ingin merasakan seperti apa rasa darah orang Quantum City ini," ujar Namora lalu menyentil telinga Duff hingga merah. Dingin dan tanpa ekspresi suara Namora itu.
Sekali lagi Duff terpekik. Bukannya ketakutan karena kepalanya telah berdarah, malahan Namora semakin menambah penderitaan nya dengan menyentil daun telinga nya. Telinga itu pun kini berubah menjadi merah padam.
"Kau mau senasib sepenanggungan dengan teman mu ini?" Tanya Namora kepada Bernard Shawn.
"Ampun. Aku tid-tidak berani," jawab Bernard ketakutan.
"Jika kau tidak ingin, maka segera bawa dia! Menyingkir dari hadapan ku!"
"Ba-ba-baik. Baiklah," kata Bernard lalu segera menarik tangan Duff Clifford yang telah merah oleh darah.
"Sombong dihadapan Namora, berarti sudah bosan makan klepon,"
Namora kembali melangkah dan duduk kembali di kursinya.
Beberapa pasang mata kini tidak berani menatap kearah pemuda dingin tanpa ekspresi itu. Ini juga termasuk Xenita dan Talia. Kedua gadis ini sama sekali tidak menyangka bahwa Namora bisa menjadi seganas itu. Padahal, ketika bersama dengannya, Namora ini persis seperti kucing kurap mandi di comberan.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini!" Ajak Joe sembari meletakkan menyerahkan uang beberapa lembar kepada Sylash untuk membayar semua yang mereka makan. Sekaligus harga piring yang pecah oleh Namora tadi.
Tak lama setelah itu, beberapa unit mobil pun meninggalkan tempat parkir kampus itu menuju ke Quantum entertainment.