
Setelah mereka berpisah dan kembali ke rumah masing-masing, sebelumnya mereka berenam sudah berjanji akan jalan-jalan ke Quantum entertainment ataupun Kryptonite Club. Karena, hanya dua tempat ini saja pusat hiburan yang sangat bergengsi di Quantum City ini.
Walaupun Quantum entertainment sangat terkenal dan banyak yang bermimpi untuk bisa sampai di klasik Mansion, namun, jika salah satu dari mereka tidak memegang kartu tanda keanggotaan minimal perunggu saja, niscaya mereka akan ditendang keluar dari pusat hiburan itu.
Untuk menjadi member di Quantum entertainment, mereka harus mengurus dulu kartu keanggotaan yang tentunya tidak menelan biaya yang sedikit.
Hanya untuk kartu perunggu saja, orang itu minimal adalah pegawai bang yang memiliki income setidaknya 2.000 dollar sebulan. Dan untuk menjadi member di Quantum dengan kartu terendah adalah 10 ribu USD dan setiap tingkatan memiliki satu kali lipat dari harga dasar.
Untuk kartu perunggu, mereka harus merogoh kantong sedalam 10.000 dollar
Untuk kartu silver pula, mereka harus mengeluarkan uang sebesar 20.000 dollar. Sedangkan untuk kartu Gold, berharga 40 ribu dollar, Platinum, 100 ribu dollar. Untuk VIP member dengan kartu Diamond pula, mereka harus merogoh kocek sebesar 250.000 dan itu pun tidka bebas diperjual belikan.
Untuk fasilitas yang mereka dapatkan juga berbeda-beda di tiap tingkatan. Jadi, untuk mahasiswa seperti mereka, maka mereka tidak memenuhi standar untuk memasuki salah satu pusat hiburan di Quantum entertainment, terkecuali Quantum Jewelry yang terbuka untuk umum, namun juga ada istilah member di sana.
Naomi, putri dari Tuan Johnson pemilik university Globe's ini saja, Ayah nya hanya memiliki kartu silver. Dia mungkin bisa untuk meminjam kartu tersebut. Tapi, apa alasan yang akan dia kemukakan? Oleh karena itu, mereka berenam pun sepakat untuk mencari klub malam disekitar Kryptonite saja.
***
Setelah menetapkan bahwa mereka berjanji akan bertemu lagi di kafe ini, masing-masing dari mereka pun membubarkan diri. Namun, sial bagi Joe. Karena, kehadirannya sudah ditunggu oleh wanita tambun yang subur, makmur, sejahtera dan sentosa itu di depan pintu kamarnya.
Dengan mata melotot seperti hendak melompat dari rongganya, Wanita itu segera menghampiri Joe dan langsung saja menjewer telinga pemuda itu.
"Apa kau kira bisa selamat dari ku dengan cara melarikan diri hah?" Bentak wanita itu dengan sengit.
"Am-am-ampun.., ampun Miss Lorenz. Tadi itu saya sedang buru-buru," kata Joe sambil meringis menahan sakit pada telinga nya.
"Tidak bisa. Kau harus mendapat balasan yang setimpal. Sekarang, kau ikut dengan ku ke kamar mandi!"
Wanita subur makmur itu pun menarik telinga Joe lalu segera mendudukkannya di kamar mandi.
Sambil bersenandung kata-kata mutiara dari bibirnya yang Jontor, Wanita tambun itu mengangkat seember air lalu enak saja dia menyungkupkan ember tersebut di kepala Joe sambil menghamburkan kata-kata ancaman.
"Ini adalah hukuman serupa, karena kau juga telah memperlakukan aku seperti itu. Awas jika kau berani kabur lagi. Aku akan menghukum mu sekali lagi," ancam wanita itu lalu duduk dengan santai di sebuah kursi plastik menunggu Joe yang terduduk dengan ember menutupi kepalanya.
*********
"Celaka! Aku melihat Joe mendapat hukuman dari pengawas asrama," kata Sylash sambil berlari menuju ke arah kafe dimana Tye, Ruby, Melissa dan Naomi sedang duduk di sana.
Karena sesuai janji, mereka pun menunggu Joe di kafe ini. Entah tidak sabaran atau karena terlalu lama, mereka pun meminta Sylash untuk menyusul Joe di asrama. Namun dia segera mengurungkan niatnya menghampiri sahabatnya itu karena melihat wanita tambun pengawas asrama itu sedang duduk menunggui Joe dengan kepala tersungkup ember.
"Di hukum?" Tanya Naomi datar.
"Enak saja menghukum sembarangan. Aku akan memberi peringatan kepada pengawas asrama itu. Mana ada istilah hukuman bagi mahasiswa yang tinggal di asrama. Jika didiamkan, dia akan sesuka hatinya kepada orang lain," kata Naomi lalu bergegas menuju ke mobilnya bersama dengan Ruby dan Melissa.
Tye pun tidak mau kalah. Dia dan Sylash juga segera memasuki mobil BMW milik ayahnya lalu menyusul Naomi Johnson yang telah lebih dahulu menuju ke asrama.
Sementara itu, Joe yang merasa bahwa saat ini para sahabatnya pasti sedang menunggu dirinya berusaha untuk membujuk kepala asrama itu dengan janji bahwa dia akan mentraktir wanita itu sebulan penuh dengan makanan yang dia mau.
Tapi sepertinya, upaya dari Joe ini sama sekali tidak membuahkan hasil.
Hampir saja Joe tersulut emosi jika tidak mengingat pesan dari ayahnya ketika dia keluar meninggalkan Villa mereka di Mountain Lotus ketika itu.
"Kau harus menerima hukuman. Ini setimpal. Karena kau telah membuat kesalahan sebanyak empat kali. Yang pertama, kau kabur dengan melompati tembok. Yang ke dua, kau tidak pulang semalaman. Yang ke tiga, kau kembali kabur. Dan yang keempat, yang paling parah adalah,. Kau kabur setelah menyungkupkan ember berisi air di kepala ku. Tidak dapat aku maafkan!" Bentak wanita itu.
"Aku tidak sengaja Miss Lorenz. Andai aku tidak buru-buru, aku pasti tidak akan kabur," kata Joe kembali membujuk.
"Pokoknya tidak bisa. Kau harus seperti itu sampai malam. Setelah itu, besok kau harus kembali membersihkan toilet dan kamar mandi. Mengerti?" Bentak wanita itu.
"Atas dasar apa kau memberikan hukuman kepada mahasiswa yang tinggal di asrama ini? Kau hanya pengawas asrama. Bukan tukang hukum. Apakah ada mandat tertulis bahwa kau berhak menghukum mahasiswa yang tinggal di asrama ini sesuka hati mu? Kau jangan keterlaluan, Lorenz!" Bentak satu suara dari luar.
Ketika pemilik suara tadi tiba, kini tampak wajah Miss Lorenz berubah menjadi pucat.
Dia tidak menyangka bahwa kelakuan nya itu akan tertangkap basah oleh Naomi. Anak gadis pemilik university Globe's ini berikut dengan asramanya sekalian.
"No-non-nona Naomi," kata Miss Lorenz tergagap.
"Mengapa? Kau terkejut ya melihat kedatangan ku? Besok, kemasi barang-barang mu! Kau akan digantikan oleh orang lain yang lebih baik dalam mengawasi asrama ini,"
"Ayo! Sekarang kau keluar dari sini. Biarkan sahabat ku ini membersihkan diri," kata Naomi lalu bergegas pergi meninggalkan kamar mandi itu sambil diikuti oleh yang lainnya.
Joe kini bernafas lega karena terbebas dari cengkraman wanita tambun itu.
Di dalam hatinya, berulang kali dia mengutuk wanita bongsor itu dengan segudang sumpah serapah.
Sambil menendang ember yang tadi dipakai oleh wanita tambun itu untuk menyungkup kepalanya hingga hancur berantakan, Joe pun kini mulai mandi.
Dalam hatinya, ini adalah terakhir kali dia berada di asrama ini.
"Sialan. Aku memiliki Villa. Tapi mengapa aku mau di hina seperti ini? Tidak. Aku tidak akan menjadi seperti ayah dulu yang diam saja ketika di hina. Hari ini Quantum City harus tau siapa Joe ini. Kalian lihat lah kakek kalian ini ketika tersakiti," kata Joe sambil mencak-mencak dikamar mandi itu seperti orang gila.
Bersambung...