Joe William

Joe William
Rapat di kota batu



Kriiiing!


Kriiiing..!


"Karman?! Apakah ada berita yang akan kau sampaikan?" Tanya seorang lelaki paruh baya yang masih menyisakan ketampanannya.


"Hmmm.!"


"Iya. Aku mendengar. Terus saja awasi. Lain kali, kau jangan sering-sering menghubungi ku. Bisa saja mereka mengawasi mu!"


Lelaki paruh baya itu segera mengakhiri panggilan.


"Kegilaan mereka ini bisa menghancurkan generasi penerus," pikir lelaki paruh baya itu. Tampak wajahnya merah padam. Mungkin dia sedang menahan luapan emosi nya.


Di waktu yang sama, di kota batu, tepatnya di kantor kepolisian kota batu, sedang berlangsung rapat antara Kombespol dan seluruh jajaran kepolisian kota batu bagian kriminal dan anti narkotika.


Rapat kali ini juga dihadiri oleh beberapa Kapolsek yang sengaja datang ke Kapolres kota Batu, guna membahas isu yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi anak-anak muda.


Rapat kali ini bukan hanya dihadiri oleh AKBP Rio Habonaran saja. Bahkan, salah satu polisi yang paling senior bernama Ferdy yang dulunya adalah anak buah Kapten Bonar Habonaran yaitu ayah dari Tigor dan Rio juga menghadiri rapat tersebut. Dengan dipimpin oleh Kombes pol Rulian.


Setelah rapat usai di gelar, Pak Rulian dan Rio segera berbincang-bincang mengenai apa saja tindakan yang harus mereka ambil guna mencegah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini.


Disela-sela perbincangan antara atasan dan bawahan tersebut, tidak lupa Pak Rulian membahas masalah maraknya peredaran narkoba yang saat ini telah merebak di sekitar kota Tasik Putri, dan tidak akan lama lagi pasti akan memasuki kota batu ini.


Rio yang sebenarnya sudah mengetahui jauh sebelum rapat tadi di gelar sudah mewanti-wanti bahwa dia akan segera mengambil langkah-langkah pencegahan, dan akan memperketat pengawasan di perbatasan antara kota Batu dan Tasik Putri.


"Pak Rio. Anda harus segera mengambil langkah-langkah pencegahan sebelum kota Batu ini akan menjadi sasaran empuk bagi sindikat pengedar narkoba ini!" Kata Pak Rulian disela-sela diskusi antara dua orang atasan dan bawahan ini.


"Sebenarnya, semuanya sudah dijalankan, Pak. Hanya saja, satu yang membuat saya heran adalah, setiap kali pihak kepolisian bagian anti narkotika bergerak, maupun dalam bentuk berpakaian dinas, ataupun ala preman, selalu mampu mereka cium dengan mudah!" Jawab Rio yang merasa ada sesuatu yang aneh.


"Apakah ada yang kau curigai?" Tanya pak Rulian.


"Untuk saat ini saya tidak berani mencurigai siapapun. Masih terlalu awal untuk membuat kesimpulan. Tapi, yang saya heran kan adalah, mengapa begitu mudah barang haram ini beredar di Tasik Putri? Apa saja yang dikerjakan oleh pihak kepolisian di sana?" Tanya Rio yang merasa heran juga dengan situasi di Tasik Putri. Bahkan, saat ini saja, Universitas Tunas bangsa sudah sebagian besar positif dari obat-obatan terlarang tersebut. Bahkan, dengan sangat berani mereka menggunakan obat-obatan tersebut tidak jauh dari tempat umum. Benar-benar Tasik Putri sudah menjadi kota bar-bar.


"Saat ini, hentikan praktek tuding jari! Itu adalah tugas kalian sebagai aparat penegak hukum untuk saling bahu-membahu dalam masalah ini. Apakah anda mengerti, Pak Rio Habonaran?"


"Saya mengerti, Pak!"


"Usut sampai tuntas! Apapun metodenya, saya ingin agar dalang di balik pengedaran obat-obatan terlarang ini segera di ringkus! Terserah apa cara sekalipun!"


"Bagus! Perbanyak menyebarkan mata-mata di setiap titik yang anda curigai sebagai sarangnya para sindikat ini. Andai semuanya sudah pasti, maka kita bisa menyergap mereka. Hanya dengan begitu, barulah kita bisa mengorek keterangan dari orang ini, siapa Boss besar mereka,"


"Siap, Pak!" Jawab Rio sekaligus memberikan hormat ala polisi.


*********


Club' malam kota Batu


Plak!


Terlihat Dhani memasuki ruangan dimana teman-temannya sedang duduk-duduk. Begitu tiba di ruangan tersebut, tampak sesuatu yang dia lemparkan tepat di atas meja.


"Dari mana kau Dhani?" Tanya Marcus sambil melihat antara ketua geng Cobra dan bungkusan yang terletak di atas meja tadi.


"Dari menjemput stok baru. Malam ini kita bergerak ke kampung baru. Setelah itu, anak-anak universitas Kota Batu. Dekati orang-orang yang terdekat dengan geng kita. Ingat! Jangan ada diantara kalian yang mendekati anak-anak J7!" Pesan Dhani kepada Marcus.


"Kau tenang saja! Anak-anak J7 adalah target terakhir kita!" Jawab Marcus. Namun, dalam hatinya, dia sangat ketakutan andai Joe mengetahui bahwa dia ikut terlibat dalam pengedaran obat-obatan narkoboy ini. Bisa jadi pengendara kursi roda dirinya andai Joe tau.


"Menurutku, cara terbaik untuk memasuki universitas Kota Batu adalah dengan cara mendekati mahasiswa yang perekonomiannya lemah. Tidak semua mahasiswa di sana berkemampuan. Kita dekati mereka, iming-imingi uang yang lumayan, pasti mereka akan mau bekerja atau kita!" Jawab salah satu dari pentolan geng Cobra yang juga berada di ruangan itu.


"Hmmm. Kau ternyata pintar juga, Rendra. Bagus. Sekarang, mari kita berbagi tugas. Apa kau mempunyai kenalan di Universitas Kota Batu?"


"Ada. Kau tenang saja. Serahkan semua urusan itu kepada ku!" Jawab pemuda bernama Rendra tadi.


"Hahaha...!"


"Ambil timbangan! Kita packing sekarang barangnya! Paman Irfan sudah memberikan kebebasan kepada ku untuk sedikit melebihkan berat timbangannya, untuk menarik minat konsumen!"


Marcus langsung membuka laci di meja yang berada di ruangan itu.


Kini, ditangan pemuda itu terdapat timbangan kecil yang biasa digunakan untuk menimbang berat emas.


Dengan dibantu oleh beberapa anak muda yang sebaya dengan mereka, mereka lalu membuat lingkaran mengelilingi bungkusan tersebut lalu mulai melakukan pekerjaan menimbang barang haram tersebut.


Bersambung...