
Waktu tanpa terasa begitu cepat berlalu.
Kini tanpa terasa, Joe William dan Namora sudah menghabiskan masa satu tahun berkuliah di universitas Kota Batu.
Banyak moment yang telah mereka lalui baik itu dari segi pendidikan maupun yang lain-lainnya.
Beberapa proyek yang mereka rencanakan juga telah berjalan dengan lancar. Baik itu di kubu Tower Sole propier, maupun di kubu lawan. Namun, bukan itu yang akan di bahas. Melainkan..,
*****
Central Jail kota Batu.
Terhitung lebih dari sepuluh unit kendaraan mewah terparkir di luar pusat tahanan kota Batu. Sepertinya, ada yang mereka tunggu. Dan benar saja,
Sekitar tiga puluh menit berselang, tampak seorang lelaki membawa tas ransel Kumal keluar dari pintu besar pusat tahanan dengan diapit oleh dua orang pegawai polisi.
Lelaki yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya itu terlihat sangat dekil, rambut gondrong, dengan kumis dan jenggotnya sudah memiliki dua warna.
Begitu tiba di luar pintu tahanan, dengan wajah garang dan tatapan tajam dia memandang ke arah orang-orang yang berdiri di luar mobil yang tampak seperti sangat berbahagia dengan kebebasan lelaki paruh baya yang terlihat tua itu.
Tidak sampai lima menit, seorang lelaki sekitar 45-an maju menghampiri lelaki yang baru keluar dari pusat tahanan tadi sambil merentangkan tangannya.
Sambil tersenyum, mereka langsung berpelukan dengan ucapan-ucapan selamat.
"Selamat menghirup udara bebas, Bang!"
"Terimakasih, Irfan. Siapa orang-orang yang kau bawa ini? Mengapa mereka begitu ramai?" Tanya lelaki mantan narapidana itu.
"Itu urusan nanti. Aku akan memperkenalkan bang Marven kepada mereka semua. Tapi, sebaiknya kita tinggalkan dulu tempat jahannam ini!" Ajak lelaki yang bernama Irfan tersebut.
"Mari bang!"
"Hmmm. Ayo!" Balas mantan narapidana yang bernama Marven tersebut.
Mereka berdua lalu melangkah beriringan menuju ke sebuah mobil mewah yang memang telah dipersiapkan untuk menjemput bos besar dari geng kucing hitam itu.
Setelah mereka semua memasuki mobil, rombongan tersebut pun langsung berangkat menuju area perumahan elite Tasik Putri.
Rombongan itu sengaja bergerak perlahan untuk memberikan kesempatan kepada Marven untuk melihat-lihat di sepanjang jalan. Maklumlah, selama mendekam di penjara, Marven ini benar-benar terputus dari dunia luar. Dan tidak tanggung-tanggung. Dia mendekam dalam tahanan kota Batu selama dua puluh tahun. Tiga tahun lebih lama dari Tigor yang juga mendekam dalam penjara yang sama, tapi beda tempat. Karena, khusus Marven maupun Tigor memang diasingkan. Ini karena, kasus mereka tergolong sangat berat sebagai kepala dari kelompok mafia, Gengster, dan berbagai pelanggaran hukum lainnya.
Irfan yang berada di sampingnya hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana tidak tersenyum kecut, baru saja Abang tiri nya itu memuji salah satu dari aset dan properti milik Tower Sole propier yang notabene adalah musuh mereka.
Untuk menghilangkan kekesalan di dalam hatinya, Irfan segera menyela. "Ah. Apa hebatnya bangunan yang baru jadi itu? Di kota Tasik Putri bahkan lebih maju lagi. Bahkan, di sepanjang jalan menuju ke Dolok ginjang sudah sangat maju. Terlebih lagi di Tikungan Pitu. Perusahaan kita juga ada di sana. Dan atas persetujuan dari Abang, kita juga memiliki 60% saham di perkebunan kelapa sawit hankam di Pabriknya sekaligus. Tentunya berkat bantuan dari Arold Holding Company,"
"Arold Holding Company ini. Aku merasakan bahwa mereka hanya ingin memanfaatkan nama besar Martins Group saja. Mereka ingin memulai segala sesuatunya dengan instan. Apa kau tidak merasakan kekhawatiran itu, Fan?" Tanya Marven dengan tatapan tajam ke arah adik tirinya itu.
"Hanya ini yang bisa kita lakukan, Bang. Kita tidak memiliki apa-apa lagi kecuali nama yang nyaris rusak. Martins Group masih bertahan karena itu milik mendiang ketua. Andai itu adalah Marven Group, sudah pasti semuanya akan di sita oleh pemerintah. Itu pun banyak aset milik perusahaan yang dibekukan. Lalu, apa lagi yang kita miliki bang?
Kalau hanya mengandalkan Restoran Samporna dan pusat hiburan Dunia gemerlap, kita tidak akan bisa bertahan, bang! Hanya dengan bantuan dari Arold Holding Company ini saja barulah kita bisa bangkit dan membalaskan dendam kita kepada Tigor!"
Melihat Marven terdiam, Irfan kembali melanjutkan. "Bekas anak buah Jordan di kota Kemuning, Bekas anak buah Birong di Kota Batu, juga bekas anak buah geng kucing hitam di Tasik Putri bersedia berada di belakang kita untuk menyerbu dan membalaskan dendam terhadap Tigor. Itu tentu membutuhkan dana! Tanpa Arold Holding Company, kita tidak akan memiliki kekuatan uang. Jika begitu, maka mereka juga akan kembali kabur dan membentuk kelompok mereka sendiri-sendiri!"
"Apa kau pernah ke kota Kemuning?"
"Pernah bang. Beberapa kali aku ke kota itu. Dan aku menemukan bahwa kekuatan Tigor saat ini benar-benar mengerikan. Dia bahkan mendapatkan dukungan langsung dari Putra Jerry William."
"Siapa lagi itu putra Jerry William?" Tanya Marven dengan mengerutkan keningnya.
"Anak itu bernama Joe William. Tapi, sampai saat ini aku belum tau yang mana orang yang bernama Joe William itu. Orangnya masih sangat muda. Tapi otaknya seperti kancil. Sebentar kulitnya hitam legam. Sebentar seperti orang gila. Sebentar terlihat sangat cupu. Setelah itu dia berpenampilan layaknya pangeran. Ini ditambah lagi dengan orang-orang disekelilingnya yang terus menghalangi kami untuk menyiasat pemuda itu. Dia juga memiliki banyak sahabat yang usianya sama persis dengan dirinya. Ah... Pokoknya sangat sulit menghadapi anak ingusan itu. Bahkan, berkali-kali orang-orang kiriman dari kepala keluarga Miller kembali hanya tinggal nama. Alias, berakhir dengan kematian. Semua gara-gara anak itu,"
"Sehebat itu kah dia?" Tanya Marven nyaris tidak percaya.
"Dia tiga tahun lebih berguru dengan Tengku Mahmud di Kuala Nipah!" Jawab Irfan.
"Hah? Celaka sungguh jika sudah begitu."
"Makanya itu, Bang! Kita tidak akan mampu melawan Tigor tanpa bantuan dari keluarga Miller dan Arold Holding Company miliknya.
"Selagi Tigor masih hidup. Selagi itu pula aku tidak akan pernah tenang. Dia harus membayar semuanya dengan kontan! Hutang air bayar air. Hutang darah balas darah. Hutang nyawa, maka nyawa dia sebagai tebusannya.
Aku masih ingat seperti apa dia menghancurkan acara pernikahan ku dengan Butet di Villa Birong bukit batu. Aku juga masih ingat Ibu ku nyaris gila, istriku keguguran karena terlalu stress. Dan itu semua karena ulah dari Tigor. Dia harus membayarnya!" Marven meninju kursi empuk yang dia duduki. Terbayang seperti apa Tigor dan orang-orang dari Dragon Empire membantai semua mereka yang ada di tempat itu. Padahal, jika bukan karena Marven yang ingin menghancurkan Tigor, mustahil Tigor meminta bantuan kepada Jerry William untuk menghancurkan geng kucing hitam dan Geng Tengkorak.
Irfan tersenyum mendengar perkataan dari Marven tadi. Dalam hatinya, dia sangat optimis bahwa kali ini mereka pasti bisa menghancurkan Tigor.
Bersambung...