Joe William

Joe William
Menjadikan Rio sebagai umpan



"Paman. Ayah menyuruh mu untuk mengunjunginya di kota Kemuning!" Kata seorang pemuda berwajah dingin dan kaku kepada seorang lelaki yang duduk sambil menikmati kopinya.


"Apakah ayahmu ada mengatakan sesuatu?" Tanya lelaki yang dipanggil paman tadi.


"Tidak ada. Tapi, sepertinya dia mengkhawatirkan keselamatan Paman!" Jawab pemuda berwajah dingin tanpa ekspresi itu.


"Hmmm. Namora... Aku melihat kau jarang bersama dengan Joe. Apa saja yang dia kerjakan?"


"Sama seperti, Paman. Dia juga saat ini sedang menyebarkan orang-orangnya untuk membekuk kelompok yang menyebabkan banyak anak muda kecanduan," jawab pemuda yang ternyata adalah Namora itu.


"Apa kau mendengar bahwa dia mendapatkan informasi?"


"Tidak tau. Paman bisa menanyakan kepada Ayah nanti!" Jawab Namora.


"Ya sudah. Paman akan pergi. Kau jaga rumah, dan jangan kemana-mana!" Pesan lelaki itu bergegas bangkit dari duduknya.


"Iya, Paman! Namora tidak akan kemana-mana!" Jawab Namora patuh.


Tak lama kemudian, lelaki tadi pun keluar dari kamarnya. Setelah itu, seorang wanita cantik juga keluar sambil menggendong anak perempuan.


"Paman berangkat dulu!"


Namora hanya mengangguk saja sambil mengiringi paman dan bibinya menuju ke pintu.


Tak lama kemudian, bunyi suara mesin kendaran pun menderu dan kini terlihatlah satu unit mobil Toyota hardtop meninggalkan perumahan dinas kepolisian daerah kota batu tersebut, menuju ke kota Kemuning.


Lima menit setelah sang Paman meninggalkan perumahan dinas kepolisian tersebut, Namora segera mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


"Hallo Namora!"


"Joe. Paman ku sudah berangkat!"


"Bagus! Aku akan menggulung pengkhianat itu!" Jawab orang yang bernama Joe tersebut.


*


Sebenarnya, apa yang terjadi. Mengapa Joe mengatakan ingin menggulung si pengkhianat? Dan, siapa pengkhianatnya?


Mari kita kembali ke dua hari yang lalu, ketika terjadi pertengkaran antara Rio dan Ferdy.


Joe yang sudah mengenal Marcus ini, segera berpura-pura tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh salah satu dari anggota geng motor yang menamakan kelompok mereka dengan nama Cobra tersebut.


Ketika melihat Joe, tadinya Marcus sempat ketakutan. Namun, apa daya, dia tidak akan bisa melarikan diri dari anak jin itu. Kemanapun dia menghindar, jika Joe sudah memburu dirinya, pasti akan dapat juga. Oleh karena itu, Marcus tidak ingin lari lagi.


"Kau mau menghindar dariku, Marcus?" Tanya Joe.


"Kau mau apa lagi? Aku sudah cukup tertekan dengan mu! Tolonglah jangan menggangguku!" Balas Marcus dengan kesal. Wajahnya seperti ingin menangis saja.


"Kau yang menempatkan diri mu dalam tekanan. Aku sama sekali tidak menekan mu. Aku tau apa yang kau bawa itu. Tanpa kau memberitahu kepada ku pun, aku tau bahwa kau sudah menjadi kaki tangan orang-orang dari kota Tasik Putri!" Kata Joe tetap tenang.


"Jangan di sini!" Kata Marcus yang langsung berjalan menuju ke arah sepeda motor miliknya. Lalu, dia segera mengendarai sepeda motor miliknya tersebut menelusuri lorong-lorong gang sempit di perumahan milik warga dengan diikuti oleh Joe dari belakang.


Kini, Marcus dan Joe pun berhenti di sebuah bengkel. Kemudian, Marcus pun memasuki bengkel tersebut yang ternyata memiliki ruangan lain dibelakangnya.


"Bengkel siapa ini?" Tanya Joe.


"Langganan ku. Aku bebas di sini. Hanya ini tempat yang paling aman untukku dari kecurigaan Dhani. Kau terlalu membuat aku menjadi terbebani!" Kesal Marcus dengan wajah kecut.


"Katakan saja! Berita apa yang kau miliki. Aku tidak akan lama!" Ujar Joe yang memang tidak ingin berlama-lama.


"Berita ini sangat rahasia, Joe! Jika mereka tau kalau aku membocorkan rahasia ini, tamatlah riwayat hidup ku," Marcus tampak ketakutan. Itu terlihat dari perubahan wajahnya yang mendadak pucat.


"Aku memiliki selaksa kekuatan untuk melindungi mu. Kau boleh percaya dan juga tidak. Tapi, aku selalu menjaga keselamatan orang-orang yang bekerja untuk ku. Aku tidak sombong. Tapi kau tentu sudah tau siapa aku. Nah.., sekarang, kau boleh menceritakan kepada ku apa yang kau ketahui!"


"Ini berasal dari anggota kepolisian yang paling senior di kota batu ini. Aku turut berada di sana bersama dengan Dhani, Panjol, Irfan, dan beberapa orang asing. Aku mendengar sendiri bahwa anggota kepolisian itu mengatakan bahwa mereka memiliki ancaman serius. Ancaman itu datang dari seorang petugas bernama AKBP Rio Habonaran. Untuk melenyapkan Rio ini, mereka telah mengirim orang-orang pilihan. Mereka akan terus mengamati pergerakan Rio ini. Ketika dia berada di luar kota Batu, maka mereka akan menyergapnya. Kemungkinan, untuk di bunuh!" Kata Marcus menerangkan.


"Gila. Ternyata sudah sejauh ini mereka bertindak. Ini tidak bisa dibiarkan. Dulu, aku pernah mendengar bahwa ayah dari Paman Tigor dan Rio ini juga dibunuh oleh komplotan yang mengatasnamakan geng Tengkorak. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali!" Pikir Joe dalam hati. Dia berniat untuk membahas masalah ini dengan Tigor. Dan, hasil dari pembahasan mereka itulah, yang menyebabkan Tigor melalui Namora berpura-pura berpesan menyuruh Rio untuk menemuinya di kota Kemuning. Ini semua memang telah mereka rancang sedemikian rupa untuk menjebak orang-orang yang akan mencelakai Rio. Bahkan, Rio sendiri pun tidak mengetahui bahwa dirinya kini sengaja dijadikan sebagai umpan.


"Baiklah, Marcus. Kau jangan kembali ke dalam kelompok geng Cobra! Kemungkinan, sebentar lagi geng motor itu hanya akan tinggal nama saja. Aku akan menyuruh orang-orang ku untuk mengawasi mu. Berangkatlah ke kota Kemuning! Kau akan aman di sana!" Usul Joe kepada Marcus.


"Joe. Aku telah berbuat banyak untuk mu. Aku tidak pernah meminta apapun. Kali ini, aku meminta agar kau jangan membunuh Dhani! Dia adalah sahabat ku. Hanya itu permintaan ku!" Pinta Marcus kepada Joe.


Joe mendongak sejenak. Lalu dia pun mengangguk sambil menepuk pundak Marcus.


Bersambung...