
Malam itu, di beberapa gang bangunan serta lorong-lorong sempit, tampak beberapa bayangan manusia seperti sedang mengadakan transaksi.
Seorang pemuda terlihat sedang memberikan penjelasan kepada beberapa orang pemuda lainnya yang tampak sangat serius mendengarkan penjelasan dari pemuda tadi.
Tak lama setelah itu, pemuda yang mendengarkan penjelasan tadi segera mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan langsung menukarkan dengan sesuatu yang terbungkus dengan rapi.
"Ini adalah barang istimewa. Kami memberikan harga promosi kepada pelanggan kami yang masih baru. Kalian bisa mencobanya sendiri. Jika barang ini mengecewakan, aku bersedia mengganti uang kalian tiga kali lipat!" Kata pemuda itu memberikan jaminan bahwa barang darinya adalah barang yang berkualitas tinggi.
"Aku percaya kepadamu Dhani. Siapa yang tidak kenal dengan Panjol. Dan kau adalah anaknya!" Jawab mereka.
"Kita tidak boleh mengobrol terlalu lama. Aku pergi dulu!" Kata pemuda bernama Dhani tadi yang langsung meninggalkan mereka di sana.
Di tempat-tempat lain, keadaannya tidak jauh berbeda. Di club' malam kita batu, yang dikelola oleh Panjol, juga tidak luput dari para pengedar. Bahkan, di tempat ini jauh lebih sadis. Karena, mereka memperdagangkan obat-obatan terlarang seperti itu secara terbuka. Persis seperti menjajakan permen.
"Ayo. Siapa lagi yang ingin mencoba. Kali ini aku yang mentraktir kalian!"
"Wah. Hebat sekali kau, Rendra,"
"Apanya yang hebat? Ayo lah. Kau harus mencoba ini. Tapi ingat! Sebelum kau mencobanya, kau bayangkan terlebih dahulu sesuatu yang sangat kau suka!" Kata Rendra sambil membuat gestur melayang.
"Seumur hidup aku sangat ingin ke Paris, Prancis!"
"Kau akan sampai di sana dengan selamat! Ayo aku bantu kau menggunakan alat ini!" Kata Rendra, lalu memberikan alat untuk menggunakan obat-obatan terlarang tersebut kepada calon korbannya.
Suuuuuuuuuut... ! Suara hisapan pun terdengar disertai mengepulnya asap.
Begitu asap tadi sirna, tampak pemuda yang dicekoki oleh Rendra tertunduk dan geleng-geleng kepala. Begitu kepalanya dia angkat, kini matanya sudah tampak memerah.
"Aaaaaargh. Anj*Ng banget! Ini barang bagus!" Kata pemuda itu mulai oleng.
"Hahahaha.... Apa kataku! Ini tuh barang bagus. Tapi ingat! Gratis hanya untuk malam ini saja. Setelah malam ini, kalian harus mengeluarkan uang untuk memilikinya! Hehehe..!"
"Tidak masalah. Uang itu bukan masalah. Uang seperti jenggot. Di cukur, pasti tumbuh lagi!" Ujar mereka yang berada di tempat itu.
"Aku tadi sudah mabuk miras. Tapi setelah menggunakan obat ini, mabuk ku jadi hilang!"
"Dosis alkohol yang kau minum tadi belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dosis dari obat ini. Apa itu dosis alkohol? Lemah!" Jawab Rendra mencibir.
"Ayo! Ayo bakar lagi! Aku sudah hampir sampai nih di Paris!"
"Hahahaha!"
"Hahahaha...!" Suara tawa memenuhi ruangan itu.
"Sudah kena dia! Baru tau dia, ya kan?!"
"Ayo lah. Bentar lagi aku mau landing. Paris... Aku datang!"
Pesta obat-obatan terlarang pun terus berlangsung di ruangan itu.
Terhitung lebih dari sepuluh orang pemuda dan wanita bergoyang ria layaknya tidak punya rasa malu lagi.
Tidak ada istilah pacar. Siapa saja bebas memeluk dan menciumi siapa saja. Benar-benar kerusakan yang sangat nyata.
...*********...
...Kantor polisi Kota Batu....
Saat ini di ruangan kerja milik AKBP Rio Habonaran, sedang berlangsung perdebatan antara Rio bersama dengan Pak Ferdy.
Perdebatan yang diawali oleh rasa tidak puas dari Pak Ferdy yang merasa bahwa Rio sama sekali tidak bertindak dan seperti lari dari tanggungjawab untuk menjaga kota Batu ini.
Yang parahnya lagi, Pak Ferdy bahkan telah mengadukan hal tersebut kepada Kombespol Rulian yang menyebabkan atasan mereka tersebut memanggil Rio ke markas besar kepolisian.
"Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang bapak Ferdy inginkan. Sampai saat ini, aku masih menghargai bapak sebagai senior di Kapolres kota Batu ini. Jika ada masalah, seharusnya bapak langsung saja mengatakan kepadaku! Bukan malah mengadukan hal yang sama sekali tidak aku lakukan kepada pak Rulian!" Tegur Rio kepada pak Ferdy.
"Maaf untuk ketidak sabaran ku ini! Tapi anda harus tau AKBP Rio. Anda terlalu santai dalam menindaki kemelut ini. Oleh karena itu, aku terpaksa melaporkan anda kepada pak Rulian. Jika masalah ini terus berlanjut, maka anda bisa saja mendapat teguran keras dari Kapolda," jawab Pak Ferdy serius.
"Sayang sekali pak Ferdy. Seharusnya, di saat genting seperti ini lah kita harus bersatu dan berhenti untuk mencari muka. Sebagai senior, saya sangat kecewa kepada bapak!"
"Rio! Ini kasus yang sangat serius. Jika kau tidak mampu menanganinya, mundurlah! Kau kurang berkompeten dalam menangani masalah ini!"
"Apa maksud anda pak? Jadi, anda ingin mengatakan bahwa anda adalah orang yang sangat berkompeten? Aku jadi curiga kepada anda!"
"Curiga? Apa maksudmu?" Tanya pak Ferdy serius.
"Setiap pergerakan ku selalu diketahui oleh mereka. Anda juga selalu memojokkan aku. Jangan-jangan....?!"
"Tutup mulut mu itu Rio! Apa kau layak berkata seperti itu kepadaku? Aku adalah senior di sini. Bahkan, mendiang ayah mu dulu adalah sahabat sekaligus rekan seperjuangan ku. Berani kau berkata tidak sopan kepada ku hah?" Bentak Pak Ferdy yang tersulut emosi nya.
"Lihat juga siapa orangnya yang harus dihormati. Apa anda lupa siapa saya ini? Rio Habonaran adalah adik dari Tigor Habonaran. Tidak sulit bagiku untuk mengetahui siapa yang mengkhianati seragam ini! Anda harus ingat Pak! Jika aku tidak bisa melumpuhkan mereka dengan jalur hukum, maka aku akan menggunakan cara mafia! Yang penting tujuan utama ku adalah untuk menyelamatkan generasi muda! Bapak harus ingat itu baik-baik! Sekarang keluar dan tinggalkan ruangan ini!" Perintah Rio dengan tegas.
"Kau...!"
"Keluar kataku!" Bentak Rio sekali lagi.
"Kau mau bermain-main dengan ku nak?! Tunggu saja!" Ancam Pak Ferdy yang langsung bangkit dan dengan kasar berjalan meninggalkan ruangan kerja Rio.
"Bagaimana pak?" Tanya seorang perwira muda kepada Rio yang juga keluar dari ruangannya.
"Rubah tua itu tidak bisa dipandang remeh. Dia memiliki segudang pengalaman. Sekarang ini, yang bisa kita lakukan adalah merahasiakan setiap pergerakan kita. Jangan sampai dia tau. Atau, semuanya akan terbongkar!" Pesan Rio memperingatkan.
"Sulit, Pak. Kita tidak tau siapa saja di Kapolres ini yang berpihak kepada pak Ferdy. Uang mungkin telah menjadikan mereka gelap mata!"
"Aku tidak punya banyak pilihan. Jika gagal, kemungkinan tugas ini akan dicabut dari kita dan dilimpahkan kepada orang lain. Jika itu terjadi, Kapolres ini akan dipandang sebelah mata oleh jajaran kepolisian lainnya," Rio jelas sangat mengeluh didalam hatinya. Dia ingin meminta bantuan kepada Tigor. Tapi dia merasa malu. Sebagai aparat kepolisian, jelas-jelas dia akan sangat merasa malu.
Bersambung...