Joe William

Joe William
Duff Clifford dan Naomi Johnson



...Hari ke dua sebagai mahasiswa....


...***...


Satu unit mobil sport Lamborghini Gallardo tampak memasuki gerbang kampus dan langsung berhenti di area parkir.


Beberapa mahasiswa tampak melototkan matanya melihat ke arah mobil berwarna oranye tersebut. Terlebih lagi mahasiswi. Mereka bermimpi memiliki seorang pemuda yang menjadi pacar mereka dengan memiliki mobil yang mewah dan trendy seperti itu. Maka, sudah pasti mereka akan pamer ke sana dan ke sini.


Bagi sebagian pemuda yang memang berasal dari kalangan menengah kebawah, mereka hanya mampu menelan ludah melihat mobil tersebut.


Bagi mereka, jangankan membeli mobil tersebut. Buat membeli sebelah ban nya pun mereka tidak mampu. Andai pun mampu, lebih baik uangnya dibuat untuk biaya kuliah. Lagian, siapa pula yang kurang kerjaan hanya membeli sebelah ban mobil Lamborghini doang tanpa ada kegunaannya. Iseng banget tuh orang.


Dari dalam mobil, keluar lah seorang pemuda yang bisa dikatakan berwajah tampan. Hanya saja, dari sorot mata dan gayanya, terpancar keangkuhan yang berlebihan dan tampak sangat mendominasi.


Pemuda yang berusia sekitar 20-an yang mengenakan kemeja putih slim fit dengan kedua lengannya di gulung rapi itu pun setengah berlari mengitari mobil tersebut kemudian membukakan pintu di bagian penumpang.


Sekali lagi para mahasiswa melotot melihat seorang gadis berambut panjang sebahu dengan mengenakan pakaian putih telur dipadu dengan rok yang tidak terlalu panjang berwarna hitam keluar dari dalam mobil, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung bergegas menuju ke ruang lift untuk naik.


Beberapa mahasiswa melongo melihat body semlohai gadis itu.


Kaki jenjang dengan bentuk yang indah dan putih mulus, yang nyaris tanpa noda. Bentuk tubuh yang sempura, tidak terlalu gemuk tapi tidak juga terlalu kurus, leher jenjang dan memiliki dua mata kebiru-biruan seakan menambah pesona sang gadis yang dari cara-caranya tampak seperti tidak bahagia.


Namun, walaupun wajah gadis itu tampak sangat kecut, tapi itu tidak dapat menandingi kemanisan wajahnya. Mungkin waktu kecil, gadis ini dulu di rendam oleh orang tuanya di dalam air gula tujuh hari tujuh malam.


Beberapa mahasiswa entah karena terlalu kagum, atau terlalu mesum, sampai lupa membedakan mana mulut dan mana lobang hidung. Tanpa sadar mereka memasukkan pipet minuman mereka ke salah satu lobang hidungnya. Ketika menyadari, barulah mereka tersedak dan langsung meninggalkan tempat itu. Mungkin malu dengan ketololannya.


Sang pemuda yang tadi membukakan pintu, tampak hanya mengangkat sedikit pundaknya karena merasa diabaikan oleh gadis tadi.


Sambil membanting pintu mobilnya, pemuda itu kini melangkah santai dengan maksud menuju ke kantin.


Baru beberapa langkah dia berjalan, muncul empat orang pemuda yang sebaya dengannya yang langsung menyambut pemuda itu dengan sangat akrab, jika tidak ingin dikatakan lebih ke arah menjilat.


"Hi Duff. Gadis baru lagi ya? Ada apa dengan gadis mu yang lama?" Tanya seorang temannya, salah satu dari keempat pemuda tadi.


Ternyata nama pemuda itu adalah Duff. Duff Clifford. Putra satu-satunya dari tiga bersaudara dari keluarga Clifford. Keluarga paling kaya di kota Quantum ini.


"Hahaha. Wanita bagiku ibarat pakaian. Bosan, tinggal buang, tukar dengan yang baru," kata pemuda bernama Duff Clifford itu menjawab pertanyaan salah satu dari keempat pemuda yang menghampiri dirinya tadi.


"Bukankah gadis tadi adalah Naomi? Putri dari keluarga Johnson pemilik kampus ini?" Tanya pemuda satunya lagi.


"Ya," jawab Duff Clifford singkat.


"Lalu, mengapa dia bersama dengan mu? Bukankah kau bersama dengan Melissa?"


"Itu dia masalahnya. Orang tuanya dan orang tua ku terlibat bisnis bersama. Mereka ingin mendirikan bisnis di bidang pendidikan, kesehatan dan sains. Entah kenapa, tiba-tiba tercetuslah ide mereka untuk menjodohkan kami. Aku sih tidak ada masalah. Bagiku, tetap sama. Setelah bosan, paling dia hanya akan menjadi penunggu rumah," kata Duff sambil berlagak cuek lalu melenggang meninggalkan ke-empat pemuda tadi yang hanya geleng-geleng kepala saja mendengar jawaban dari Duff.


...*********...


"Hi.., Tye! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Seorang pemuda yang baru saja turun dari lantai atas.


"Apa yang membuatmu begitu serius Tye?" Tanya Joe merasa heran. Karena, sahabat barunya ini nyaris tak berkedip.


"Waaaah. Lamborghini Gallardo!" Kata seorang lagi pemuda yang baru saja turun kemudian memegang pundak Joe dan Tye.


"He'em. Kapan ya kita bisa punya seperti itu, Sylash?" Tanya Tye kepada pemuda yang baru tiba setelah Joe tadi.


"Aku tidak berani memimpikan nya, Tye. Terlalu tinggi. Takut nanti jatuhnya sakit," jawab pemuda bernama Sylash tadi sambil terus merangkul pundak kedua sahabatnya itu.


"Bermimpi lah! Karena mimpi itu gratis. Namun, kau harus tahu, jangan hanya sekedar bermimpi! Semua diawali dengan mimpi. Tetapi kau harus bangun untuk meraihnya. Kau harus menggapai mimpi itu. Tidak ada yang mustahil. Lagi pula, itu hanya mobil sport Lamborghini seri yang rendah. Tidak ada yang terlalu istimewa," kata Joe dengan cuek.


"Aku mengamini perkataan mu yang di bagian pertama tadi, Joe. Namun, untuk bagian akhir dari perkataan mu barusan, aku kurang setuju. Perkataan mu itu terkesan sombong!" Celetuk Sylash yang merasa bahwa perkataan dari Joe yang menyepelekan Mobil Lamborghini Gallardo sebagai mobil terendah dari Lamborghini, terkesan seperti besar pasak daripada tiang.


Menyadari kecerobohannya dalam berucap, Joe pun segera mengatupkan mulutnya. Dia tidak ingin berbicara lagi. Khawatir akan keterlepasan bicara sekali lagi. Jika itu terjadi, maka terbongkar lah kedoknya sebagai tuan muda dari keluarga William.


"Aku lapar, Tye. Apakah kau sudah kenyang hanya melihat mobil itu?" Tanya Sylash.


Mendengar ini, Tye segera meraba perutnya dan berkata, "hehehe. Aku juga lapar," jawab pemuda itu dengan cengengesan.


"Aku pikir, hanya dengan melihat mobil sport itu, kau menjadi kenyang," kata Sylash mencibir.


"Kau tidak tahu saja. Bukan hanya mobil itu yang membuatku lupa daratan. Akan tetapi, seorang gadis yang keluar dari mobil itu tadi. Sungguh sangat cantik sekali. Bagaikan seorang bidadari yang turun dari helikopter," kata Tye yang sukses membuat Joe dan Sylash saling pandang.


"Kau kenal gadis itu, Tye?" Tanya Sylash lagi.


"Kenal. Aku kan orang asli Quantum City ini. Gadis itu bernama Naomi Johnson. Putri dari keluarga terpandang di kota ini. Konon katanya, kampus ini dibangun oleh orang tua Naomi ini," jawab Tye.


"Hmmm. Berarti.., Globe's University ini adalah milik keluarga Johnson?" Tanya Joe.


"Kemungkinan terbesarnya adalah begitu,"


"Ah. Sudahlah. Ayo kita makan dulu. Tiga puluh menit lagi kita akan ada kelas. Jika perut lapar, mana bisa belajar dengan tenang. Harus kenyang, baru tenang, kemudian senang dan timbullah sayang," kata Joe sesuka hatinya.


"Kau mau mentraktir kami, Joe?" Tanya Sylash.


"Boleh. Ayolah. Biar aku yang mentraktir kalian. Bila perlu, jangankan nasi goreng. Nasi kosong pun aku sanggup memberikan kepada kalian," kata Joe sambil menoel hidungnya.


"Huuuu. Nasi kosong," cibir kedua pemuda itu.


"Ayo lah. Terserah kalian mau makan apa. Ayah ku baru menjual sapi satu kandang. Kita bisa makan sepuasnya," kata Joe sambil mendahului kedua sahabatnya itu.


"Baiklah. Kita lihat saja. Apakah anak songong itu mampu membayar semua yang kita makan dan yang kita minum nanti," kata Sylash bergegas mengejar Joe yang telah mendahului.


...Selesai baca, wajib Like!...


Bersambung...