
"Penyakit tidak datang, malah di undang. Oh Tuhan ku yang maha Agung..! Hamba mohon lindungilah kampus kota Batu ini dari Joe setan yang terkornslet!" Doa Namora dalam hati.
"Aku heran. Boleh saja menjadi cupu untuk menutupi identitasnya. Tapi itu menurut ku terlalu niat. Entah bencana apa lagi ini. Semoga aku tidak terseret. Tapi kan dia menyuruhku untuk berpura-pura tidak kenal. Ya sudah. Anggap aja aku lagi amnesia. Lupa ingatan!" Kata Namora lagi lalu bergegas kabur dari tempat itu.
"Awas kau ya Namora! Ku siksa kau!" Kata Joe dalam hati karena tadi dia sempat melirik ke arah Namora yang keburu ngacir.
Sambil menepuk-nepuk bagian belakang celananya dan menaikkan pinggang celana tersebut sampai nyaris ke ulu hati, Joe pun melangkah acuh. Dia sama sekali tidak memperdulikan tatapan najis dari orang-orang yang melihat kearahnya. Baginya, dia harus memperkenalkan diri dengan segera. Semoga saja dia tidak melalui ospek yang sama sekali akan membuatnya mati berdiri. Namun, yang namanya mahasiswa baru, itu adalah hal yang harus dia lalui dengan tabah.
Dari kantin, anggota J7 yang kini tinggal ber-enam saja hanya memperhatikan ke arah anak baru tersebut sambil geleng-geleng kepala. Sesekali terdengar hembusan nafas berat dari tiap orang.
"Bagaimana, Jaiz? Ternyata apa yang kita harapkan benar-benar tidak kesampaian,"
"Bodo amat lah! Ayo masuk. Aku malas membahas orang baru itu!" Jawab salah satu dari ke-enam pemuda yang bernama Jaiz itu.
"Eh. Tapi namanya Joe loh! Pas sama kita. Jika dia bergabung dengan kita, lengkap sudah anggota kita menjadi J seven."
"Ngaco loe! Udah ah. Ayo kita ke kelas. Nanti telat lagi!"
"Ok."
Mereka berenam pun segera berlalu meninggalkan kantin tempat mereka selalu berkumpul.
Di kelas, kehadiran Joe kini jadi bahan tertawaan bagi setiap mahasiswa.
Joe yang ketika itu memperkenalkan diri mendadak dapat sorakan dari banyak orang. Bisa dikatakan bahwa kini di ruangan kelas tersebut hampir semuanya menyoraki pemuda cupu itu membuat Dosen sampai menegur mereka, barulah mereka semua diam.
Joe kini yang benar-benar beracting layaknya seperti orang cupu benaran dengan salah tingkah melangkah menuju kursi yang kosong.
Gubrak!
"Hahaha...!"
Ketika Joe berjalan menuju ke arah kursi kosong tersebut, salah seorang yang dia lewati menjulurkan kakinya menghalangi langkah Joe. Joe tau dan bisa saja menghindari. Namun, lagi-lagi dia berpura-pura bego hingga akhirnya kakinya tersandung dan jatuh hampir tertelungkup di lantai.
Gelak tawa dari mereka pun pecah juga melihat kejadian itu.
Sambil mengusap-usap telapak tangannya yang tidak sakit, Joe pun akhirnya kembali berjalan dan segera duduk di kursi kosong tersebut sambil membetulkan letak kacamatanya yang tebal dan bulat itu.
"Kau lihat itu, Mira? Betapa lugunya dia. Aku akan mengganggu anak baru itu nanti!"
"Jangan begitu, Dewi! Apa yang bisa kau harapkan dari mahasiswa cupu dan culun itu?" Tanya Mira.
"Hanya sekedar iseng!"
"Huh kau ini. Tapi ya sudah. Daripada tidak ada kerjaan."
"Hahaha..!"
Mereka kembali tertawa begitu menatap ke arah Joe yang tampak fokus mendengarkan materi yang diberikan oleh Dosen. Ini karena, sebagai mahasiswa baru, dia harus mengikuti dua kelas sekaligus pagi dan sore untuk mengejar ketertinggalannya.
"Untung baru satu bulan. Jika lima bulan, mati aku jika harus mengulang semuanya dari awal lagi," kata Joe dalam hati. Sedikitpun dia tidak memperdulikan tatapan menghina dan mengejek dari mahasiswa lainnya. Baginya, jika dia mau, mereka semua bisa dia bikin terbelalak. Tapi apalah artinya?
*********
Kelas yang diikuti oleh Joe pun akhirnya selesai juga.
Kini semua mahasiswa fakultas ekonomi jurusan Manajemen tersebut bisa menarik nafas lega.
Bagi Joe, walaupun itu bukanlah hal sulit, namun karena semuanya serba baru, ditambah lagi dengan sambutan orang-orang terhadap dirinya, sedikit banyaknya membuat proses pembelajarannya agak terganggu juga.
Baru saja dia mencapai pelataran kampus, kini dia sudah di tunggu oleh kakak-kakak senior di Kampus tersebut.
Joe tau apa arti dari semua ini. Ini tidak lain adalah salam perkenalan pertama yang tidak mengenakkan baginya.
"Hai Joe. Nama mu Joe kan?" Tanya Mira kepada Joe.
Joe hanya mengangguk saja sambil memeluk beberapa buku di dadanya.
"Singkirkan dulu buku sialan mu ini. Sekarang, kau harus mentraktir kami di kantin! Tidak boleh menolak! Atau kau lihat di sana itu?! Kami akan merantai Vespa butut milikmu itu agar kau tidak bisa pulang!" Ancam Mira lagi.
Setengah mati Joe berusaha agar wajahnya terlihat ketakutan. Dan itu berhasil.
"Ja-ja-jangan. Jangan kalian apa-apa kan motor kesayangan ku itu! Saya bersedia mentraktir kalian!" Kata Joe dengan gestur ketakutan.
"Hahaha. Ternyata kau baik juga. Baiklah! Tapi jangan kira bahwa hanya kami saja! Lihat di sana itu!" Kata Dewi menunjukkan ke arah beberapa bangku panjang.
"Haiii...!" Kata mereka melambaikan tangan mereka ke arah Joe.
"Sebegitu ramainya?" Tanya Joe sambil menelan ludahnya. Jakun nya kini turun naik membayangkan sebegitu ramainya yang harus dia traktir.
"Mengapa? Kau takut? Jika begitu baiklah! Kami akan mengikat motor busuk mu itu. Ayo teman-teman!" Ajak Mira.
"Jangan! Jangan lakukan itu. Saya akan mentraktir kalian semua!"
"Nah. Begitu dong! Ayo manteman kita makan sepuasnya! Mumpung ada yang bayar,"
Mereka kini berlari menyerbu kantin dan saling dorong agar mendapat tempat duduk.
Joe benar-benar dikerjai kali ini. Biasanya dia yang mengerjai orang lain. Tapi kini dia sepertinya mendapat karma instan.
Bukannya tidak mampu. Tapi, dia merasa seperti benar-benar dikerjai. Dan hal ini sungguh sesuatu yang sangat tidak dia suka.
Sambil mengelus dada, Joe pun melangkahkan kakinya juga ke arah mereka dan berdiri memandangi mereka yang saat ini sedang makan dengan lahap.
"Hei anak baru! Sini duduk!" Tegur seorang pemuda yang sebaya dengannya.
Joe memalingkan wajahnya lalu dengan malu-malu dia pun melangkah mendekati meja orang yang memanggilnya tadi.
"Terimakasih bro. Oh ya. Apakah anda tidak malu duduk satu meja dengan saya?" Tanya Joe.
"Hahaha. Santai aja Joe."
"Oh ya. Anda sudah tau nama saya. Tapi maaf nih. Apakah saya boleh tau nama anda?" Tanya Joe ragu-ragu.
"Boleh. Aku adalah senior mu di sini. Namaku adalah Jericho. Orang-orang mengenaliku di sini sebagai salah satu dari pentolan J7. Kau boleh memanggil ku dengan nama itu!"
"Oh. Maaf kak. Ternyata anda ini adalah senior saya," kata Joe menjadi tidak enak.
"Hahaha. Kau terlalu kaku. Aku tidak sama dengan mereka yang suka membully anak baru. Bagiku, selagi aku tidak di usik, maka aku akan santai," kata Jericho sembari tertawa.
"Tapi kak, J7 itu apa?" Tanya Joe yang memang benar-benar tidak tau.
"Kapan-kapan kau akan tau sendiri. Ya dah aku cabut dulu! Kau jangan terlalu memberi hati kepada mereka semua. Ingat itu!" Kata Jericho memberikan peringatan kepada Joe untuk tidak terlalu memberi hati kepada mereka.
Bersambung...