Joe William

Joe William
Irfan kini jadi buruan



"Aku menyerahkan pembahasan ini kepada Paman Tigor. Bagaimanapun, kalian lebih mengerti, dan bersentuhan langsung dengan masalah ini. Silahkan!" Kata Joe. Menurutnya, lebih baik dia menjadi pendengar saja sambil memahami apa yang akan direncanakan oleh Tigor dan kawan-kawannya.


"Terimakasih, Ketua!" Ujar Tigor pula. Namun, sebelum Tigor membuka pembahasan itu, Karman, lelaki kurus berpakaian serba hitam tadi segera mengetuk meja, lalu berujar. "Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui. Maka, biarkan aku menjelaskan beberapa hal yang berhubungan dengan masalah Marven ini. Setelah itu, kalian boleh mengambil keputusan atas tindakan apa yang harus diambil,"


Joe merentangkan tangannya mempersilahkan Karman untuk menjabarkan semua yang dia ketahui.


"Terimakasih, Ketua. Terimakasih Bang Tigor!" Kata Karman lalu memulai pembicaraan.


Kini, semua orang memasang telinga dan memperhatikan ke satu jurusan, yaitu Karman.


"Ehem. Begini bang. Ketika aku masih berada di kompleks elite Tasik Putri, aku sempat membahas masalah tentang 30% saham yang dimiliki oleh Marven. Aku juga salah. Ketika itu, aku menyuruh Marven agar menghibahkan 30% sahamnya atas nama Irfan. Karena, aku ketika itu ingin menjebak Irfan.


Kita semua sama-sama sudah tau bahwa bisnis yang diusahakan oleh keluarga Miller ini adalah bisnis haram. Sedangkan pabrik ikan sarden dan beberapa proyek lainnya hanyalah kedok. Mereka mengembangkan kembali pusat dunia gemerlap malam hanya untuk menjadi port bagi produksi obat-obatan yang telah jadi. Dari sanalah baru obat-obatan tersebut didistribusikan. Jadi, aku ingin menjebak Irfan ketika saham tersebut dipindahkan. Dan Marven akan terlepas andai ada hal-hal yang kelak berbenturan dengan hukum di negara ini. Hanya saja, yang tidak aku sangka adalah, 30% saham itu malah menjadi rebutan antara Irfan dan Butet. Karena, setahuku adalah, mereka hanya membutuhkan tanda tangan dari Marven saja. Lalu, mereka akan mendapatkan ganjaran dari keluarga Miller atas usaha mereka membujuk Marven," kata Karman memberikan penjelasannya panjang lebar.


"Makin menarik. Aku menyukai konflik seperti ini," kata Tigor pula.


Tigor terdiam sejenak, lalu kembali berkata, "Ketua. Bunuh saja Irfan, lalu lindungi Marven dari ancaman Butet. Biarkan dia dia menanggung semua yang dia lakukan dulu, terhadap mendiang Martin. Aku khawatir kita terlambat. Andai dia sudah melakukan serah terima saham dengan Irfan, maka segalanya akan sudah sangat terlambat,"


"Tiger Syam!" Bergema suara Joe memanggil sembilan orang lelaki yang berdiri seperti patung tersebut.


"Berikan Perintah!" Kata mereka serentak.


"Temui Bent di kota batu. Lalu, segera berangkat ke kota Tasik Putri, tepatnya di kompleks elite Tasik Putri. Aku telah mengirim foto target kalian kepadanya. Dalam satu kali dua puluh empat jam, lelaki bernama Irfan ini harus mati! Setelah itu, jadilah pengawal bayangan untuk Marven. Kalian mendengar?"


"Kami mendengar!" Jawab mereka, lalu segera membungkuk hormat. Setelah itu, entah kapan tepatnya, mereka sudah tidak berada lagi di tempat berdirinya tadi.


"Cepat sekali pergerakan mereka," bisik Monang.


"Tidak perlu heran. Mereka adalah tentara terlatih. Tingkat mereka ada di level 3. Dan aku masih memiliki ribuan orang seperti mereka, dan ratusan orang level 4. Tidak sulit bagiku menghancurkan siapa saja. Hanya saja, aku tidak suka sebelum aku benar-benar disakiti!" Tegas suara Joe membuat yang lainnya terdiam.


Joe, yang biasa terlatih tentu saja bisa mendengar bisik-bisik mereka. Karena, entah apa saja ilmu yang diturunkan oleh Tengku Mahmud kepadanya.


*********


Di waktu yang sama dengan pertemuan antara Anggota Dragon Empire, ternyata di Villa mewah milik Birong juga tengah mengadakan pertemuan.


Orang-orang yang diutus untuk membuntuti Irfan juga telah kembali dengan membawa kabar. Dan sialnya bagi Irfan, ternyata mereka sudah mengetahui tentang rencana Irfan yang ingin melindungi Marven agar saham 30% milik Marven tidak otomatis jatuh ke tangan Butet ketika dia berhasil di bunuh oleh anggota geng Tengkorak.


"Kakak tertua. Orang-orang kita telah kembali dari membuntuti Marven. Apakah kakak tertua ingin langsung bertemu dengan mereka?" Tanya seorang lelaki tua kepada Butet.


"Paman, Anggiat. Suruh mereka masuk!" Pinta Butet kepada lelaki tua itu.


"Masuk kalian!" Suruh lelaki tua bernama Anggiat tadi.


"Kami telah kembali dari membuntuti Irfan, Kak!" Kata salah satu dari mereka.


"Bagaimana? Apa yang kalian dapatkan dari penyelidikan kalian?" Tanya Butet kepada orang-orang suruhannya itu.


"Benar dugaan tetua Anggiat. Ternyata Irfan ini adalah ular berkepala dua," jawab mereka.


"Benar. Ternyata dugaan ku tidak meleset. Anak dan ayah sama saja. Sama-sama licik!" Maki Paman Anggiat dengan kesal.


"Apa saja yang dilakukan oleh Irfan?" Tanya Butet ingin mengetahui lebih jelas.


"Dia mencari keberadaan Panjol, Mokmok dan Ganjang, untuk meminta bantuan melindungi Marven. Bukankah Irfan tau rencana kita. Jadi, dia segera mengantisipasi. Dia takut setelah kematian Marven, 30% saham yang dimiliki oleh suami Kakak itu akan jatuh ke tangan kakak secara otomatis!"


"Apakah dia telah mengerahkan anak buahnya untuk melindungi Marven?" Butet semakin memburu dengan pertanyaan.


"Tidak kak. Panjol, Mokmok dan Ganjang seperti menghilang. Bahkan, Irfan sengaja berangkat ke kota Batu untuk mencari anak dari Panjol. Namun, dia juga tidak berhasil menemukan dimana keberadaan anak Panjol itu," jawab mereka lagi.


"Irfan ini benar-benar penyakit. Bisa membahayakan dikemudian hari. Sebaiknya selesaikan saja dengan segera! Bagaimana menurut Kakak?" Tanya paman Anggiat.


"Bagiku sama saja. Antara Marven dan Irfan. Apa sebaiknya tidak kita bunuh saja Marven terlebih dahulu?" Tanya Butet meminta saran.


"Maaf kak. Kami juga menyebarkan beberapa orang untuk mencari keberadaan Marven. Tapi herannya, suami kakak itu seperti ditelan bumi,"


"Kita selesaikan saja dulu si Irfan ini Kak!" Paman Anggiat seperti tidak sabaran.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Paman Anggiat ini sangat benar. Irfan memang ular berkepala dua. Dia pasti akan menjadi duri dalam daging. Ibarat benalu. Awalnya dia menumpang tumbuh di sebatang pohon. Namun, lama kelamaan, dia pasti akan menguasai pohon tersebut.


"Sepertinya memang harus begitu. Irfan memang harus segera disingkirkan. Jika tidak, kemungkinan besar kita yang akan tersingkir. Dia sangat pandai menjilat. Jika dia berhasil menjilat ke keluarga Miller, ini pasti tidak akan mudah," Butet kini sepertinya setuju dengan pandangan dari paman Anggiat.


"Kakak mengatakan seperti itu, apakah Kakak menyetujui saran dari ku?" Tanya Paman Anggiat bersemangat.


"Ya. Urusan Marven bisa kita selesaikan setelah masalah Irfan ini dibereskan,"


"Kalian atur saja lah! Buat seperti kecelakaan!" Ujar Butet kepada bawahannya.


"Baik kak. Kami akan mengerjakan tugas dari Kakak," jawab mereka serentak.


Mereka semua lalu segera meninggalkan ruangan itu setelah Butet menganggukkan kepalanya.


Bersambung...


Wajib like setelah selesai baca!