Joe William

Joe William
Akhir dari sebuah pelajaran



Suasana masih terasa sangat hening tanpa jawaban sepatah katapun dari mereka yang di tanya. Hal ini membuat Joe semakin merasa kesal.


"Kami ini andai sedikit saja memiliki sifat buruk yang kalian miliki, sudah pasti kalian ini akan merasakan penderitaan yang sangat pedih. Akan tetapi keluarga William tidak sama dengan kalian. Maka dari itu, aku memohon kepada Ayah ku agar kalian ini jangan terlalu lama mengalami penderitaan."


"Sudah sudahi lah menyimpan kebusukan hati itu. Sudah saatnya diusia senja ini Oma Diana dan Kakek Frank membersihkan diri agar tidak menjadi masalah di usia tua kalian."


"Berkacalah dari pengalaman tiga hari ini. Andai aku yang kalah dari keluarga Miller, sudah pasti kalian akan menertawakan ku. Tapi apa kalian tau bahwa kami semua menangis ketika melihat kalian menderita. Kita ini adalah keluarga. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk meminta kepada Ayah ku agar rumah milik kalian itu di tebus dari bank. Walaupun perusahaan Regnar Group tidak di tebus, tetapi setidaknya kalian masih memiliki tempat tinggal. Lagi pula, untuk apa lagi perusahaan Regnar Group itu? Waktunya Kakek Frank dan Oma Diana menikmati masa tua dengan tenang. Future of Company tidak akan melupakan kalian. Begitu juga dengan paman Kenny. Maka dari itu, sudahi kebusukan hati yang kalian miliki dan mulai kehidupan yang lebih baik sambil menunggu malaikat maut menjemput." Kata Joe lalu segera duduk kembali di kursinya.


Kini tinggallah mereka bertiga tertunduk dengan air mata yang terus menetes.


Kata-kata Joe ini memang tidak terlalu bijak menurut mereka. Namun ketika seorang pemuda menegur mereka, di sinilah mereka merasakan malu yang teramat sangat.


"Ibu. Jangan lagi berdendam dengan Jerry dan keluarga William. Mereka tidak pernah jahat kepada keluarga Regnar. Sudah cukup ibu menyusahkan aku. Di sepanjang hidup ku aku tidak pernah merasakan kehangatan sebagai keluarga yang utuh. Ini semua karena ibu terlalu sibuk ingin menjerumuskan perusahaan William Group ke dalam kubangan kebangkrutan. Mengapa Bu? Apakah segitu bencinya ibu terhadap keluarga William? Kalau pun iya, mengapa Bu? Apa salah keluarga William kepada ibu?" Tanya Kenny sambil berurai air mata.


"Maafkan Ibu mu ini nak. Yang telah merampas kebahagiaan mu sebagai seorang anak. Sekali lagi maafkan ibu." Kata Diana semakin terisak tangis.


"Coba ibu bayangkan! Andai saja aku mampu membawa William Group ke puncak kejayaan. Ibu juga pastinya bangga. Tapi ibu malah sengaja menjegal setiap langkah yang diambil oleh perusahaan. Apa yang ibu dapat dari membantu keluarga Miller? Mereka itu perusahaan yang kuat Bu. Andai mereka gagal di sini, mereka tidak akan langsung jatuh miskin. Tapi, lihat keadaan ibu sekarang! Apakah mereka memperdulikan keadaan kalian? Tidak kan Bu? Hanya keluarga William yang ibu hancurkan ini juga lah yang peduli terdapat penderitaan ibu. Oleh karena itu, jangan lakukan lagi hal seperti ini. Apakah ibu berjanji?!" Tanya Kenny.


"Ibu berjanji anak ku. Ibu bersumpah akan menjadi ibu yang baik dan nenek yang baik untuk anak-anak mu!" Kata Diana tanpa henti menangis.


"Tuan Paul. Aku harap setelah ini, jangan ada lagi pengkhianatan yang anda lakukan. Sekarang anda mungkin masih aku maafkan. Tapi jika ini terulang lagi, jangan katakan bahwa aku tidak haus darah! Terkadang, jerit kesakitan dari musuh ku adalah kidung indah ditelinga ku."


"Untuk Charles dan Milner juga. Kalian aku maafkan. Awas jika sekali lagi berbuat sesuka hati kalian, aku kubur kalian hidup-hidup!" Ancam Joe.


"Oh ya Paman Ryan. Ada seorang staf yang bekerja sebagai Safety Officer. Charles kenal dengan orang itu. Aku ingin anda menaikkan pangkat orang itu menjadi kepala Safety di perusahaan." Kata Joe.


"Tenang saja Joe. Aku sudah mendengar semuanya dari Charles." Kata Daniel.


"Baiklah. Semuanya semudah selesai. Waktunya untuk melanjutkan pendidikan." Kata Joe sambil duduk manja diantara Jerry dan Clara.


"Di mana kau akan melanjutkan kuliah mu?" Tanya Clara.


Namun ketika Joe berdiri, dia melihat bahwa baju Ibunya yang terkena lengan tangan nya tadi berubah warna menjadi hitam.


"Hei. Kau mengotori baju Ibu, Joe?" Tanya Clara.


"Bu-bukan. Bukan sengaja Bu. Tapi sepertinya ramuan kakek guru ku sudah luntur." Kata Joe sambil menutupi wajahnya dan berlari meninggalkan ruangan rapat itu.


"Mau kemana kamu Joe?" Tanya Jerry setengah berteriak.


"Joe mau pamit dulu dari para pembaca. Suruh mereka menantikan season ke dua dari kisah ku ini!" Kata Joe sambil berlari menuju ke mobilnya.


"Anak ini sungguh aneh sekali. Ya sudah ayo kita bubar!"


"Sepupu ku Kenny! Aku harap kau bisa menjaga Bibi Diana dengan paman Frank dengan baik. Dan anda Tuan Paul, anda bisa kembali bekerja di sini sebagai direktur pemasaran. Jangan lakukan lagi kesalahan yang sama!" Kata Jerry memperingatkan.


"Terimakasih Jer, eh.., Tuan mu.., eh maafkan saya Tuan besar!" Kata Tuan Paul tergagap.


"Ya sudah. Sekarang mari kita bubarkan pertemuan ini."


Semua orang di ruangan itu kini membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.


Sementara itu, Diana Regnar, Frank Regnar dan Tuan Paul berangkat kembali ke rumah mereka dengan diantar oleh anggota Dragon empire yang tadi menjemput mereka


**Manteman. Jangan lupa mampir juga di karya saya yang lain ya berjudul, PANGERAN TANPA MAHKOTA.


BERSAMBUNG**...