Joe William

Joe William
Joe tiba di apartemen



Jam menunjukkan tepat pukul satu dini hari, ketika Joe baru saja tiba di apartemen yang dia sewa.


Tadinya dia ingin singgah di perumahan dinas milik Rio. Namun, dia membatalkan niatnya karena tidak ingin di ketahui bahwa dia memiliki hubungan dengan Rio dan Namora.


"Malam yang campur aduk. Melelahkan, memalukan, tapi juga menyenangkan," kata Joe dalam hati. Dia lalu mengeluarkan kartu kemudian menggesekkan kartu tersebut untuk membuka pintu.


Tiba di dalam, Joe pun segera menghempaskan tubuhnya di sofa yang terdapat di ruangan tengah tersebut. Dalam hatinya kini bernyanyi-nyanyi kecil mengingat kejadian hari ini.


Setelah cukup beristirahat di sofa, Joe segera memasuki kamar mandi. Terasa lengket kulit wajah nya saat ini.


Setelah semuanya selesai, Joe segera membongkar barang-barang miliknya untuk mencari di mana dia menyimpan kartu BCA miliknya.


"Nah. Ketemu juga kau," kata Joe sambil tersenyum. Dia lalu menciumi kartu tersebut sambil berujar, "andai tadi kau ikut, handphone ku tentu tidak digadaikan,"


Joe pun lalu memasukkan kartu tersebut kedalam dompet miliknya lalu segera berbaring di atas kasur empuk yang terdapat di kamarnya tersebut.


"Tiara oh Tiara. Apakah kau memimpikan aku saat ini?" Ucap Joe dalam hati. Dia kini tersenyum sendiri sambil menatapi langit-langit kamarnya.


Terbayang di pelupuk matanya saat mereka dikejar-kejar oleh anak-anak dari geng Cobra, bersembunyi di tumpukan keranjang ayam, lalu ditraktir oleh gadis itu, kemudian berjalan beriringan.


"Huh. Andai setiap hari seperti itu, tentu aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini," seperti orang gila, Joe kini memukuli bantal guling. Lalu, entah kenapa tiba-tiba dia menciumi bantal guling tersebut dan kembali berucap, "Tiara. Hehehe. Aku sangat mencintaimu!"


***


Kriiiing!


Kriiiing!


Suara alarm membangunkan tidur indahnya. Kini Joe segera bangun dan melihat bahwa jarum jam tepat menunjuk ke angka enam.


Joe segera menggerinjang turun dari tempat tidur lalu bergegas menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berkemas, Joe pun segera berjalan untuk mencari Taxi agar tidak terlambat tiba di kampus.


Baginya saat ini, dia ingin cepat-cepat tiba di gerbang kampus dan menunggu Tiara di sana. Pasti gadis itu akan tersenyum kearahnya. Dan ini adalah hal yang paling menyenangkan.


Saat ini, Taxi yang ditumpangi oleh Joe telah sampai di depan kampus. Dengan bersemangat, Joe segera keluar dari taxi tersebut setelah terlebih dahulu membayar ongkos.


"Hei. Lihat anak baru itu telah tiba," kata seorang gadis kepada teman-temannya.


"Woy anak baru! Di mana Vespa butut mu itu?" Tanya salah seorang dari mereka kepada Joe.


"Hallo kak. Saya ingin membayar hutang kemarin sekaligus untuk menebus handphone saya!" Kata Joe begitu dia sampai di depan seperti wanita penjaga kasir.


"Oh baiklah. Apakah adik akan membayar menggunakan uang tunai? Saran kakak, jangan gunakan lagi kartu kredit yang tidak biasa!"


Joe hanya tersenyum. "Dasar orang berpengetahuan rendah!" Kata Joe dalam hati. Dia segera menyerahkan kartu BCA miliknya. Dan setelah kartu kredit tersebut di gesekkan, sang penjaga kasir pun tersenyum.


"Ini dik kartu mu. Pembayaran telah berhasil. Dan, ini handphone mu!"


"Terimakasih kak!" Kata Joe lalu segera mengambil kembali handphone miliknya kemudian duduk di salah satu kursi dan memesan sarapan pagi.


*********


"Sudah lama sampai?" Terdengar suara seorang gadis bertanya membuat Joe memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara.


Begitu dia melihat siapa yang datang, diapun tersenyum dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk.


"Kau sudah sarapan, sayang?" Tanya Joe.


"Em. Belum," jawab gadis itu jujur.


"Ayo sarapan! Kau pesan saja, dan aku akan membayarnya!" Kata Joe mempersilahkan.


Gadis itu segera memesan sarapan paginya. Dan setelah pesanannya datang, mereka berdua lalu menikmati sarapan mereka berduaan tanpa memikirkan ocehan dan tanggapan miring dari mahasiswa yang lainnya.


"Anak cupu dan gadis miskin. Sungguh pasangan yang sangat klop sekali. Hei Dewi! Apakah kau tidak ingin melihat pasangan yang sungguh sangat serasi ini?" Kata Mira kepada sahabatnya yang bernama Dewi.


"Cieee... Hei Tiara. Kenalin dong pacar baru mu sama kami!" Ujar Dewi dengan senyum mengejek.


"Kau sudah Joe? Kalau sudah, ayo kita pergi!" Ajak Tiara yang langsung bergegas bangkit dari duduknya.


"Ya sudah!" Kata Joe sambil mengangkat pundaknya kemudian melangkah menuju kasir untuk membayar.


"Heh anak baru! Gak menghargai banget sih?!"


"Maaf ya. Berapa harga mu per kilogramnya?" Tanya Joe yang memang sudah sangat kesal. Lalu, tanpa menunggu tanggapan dari kedua gadis itu, dia segera berlalu meninggalkan mereka.


Kini tinggallah mereka berdua di kantin kampus itu dengan wajah merah padam.


Bersambung...