
Mobil Toyota hardtop yang dikendarai oleh Rio, beserta istri dan anak perempuannya, terus melaju membelah jalan lintas kota Batu menuju ke kota Kemuning.
Mobil legendaris yang tak lekang oleh zaman itu dengan gagah terus melaju. Diperkirakan, bahwa mereka akan tiba di kota Kemuning lewat dari tengah hari nanti, jika tidak ada halangan.
Di dalam mobil, Rio terus mengobrol dengan istrinya, dan sesekali meladeni celoteh anak perempuannya yang tampak sangat gembira dengan perjalanan tersebut. Maklumlah anak-anak. Jika diajak jalan, setiap melihat sesuatu, pasti akan bertanya.
Mereka terus saja mengobrol, sampailah pada saat memasuki kawasan dalam kabupaten Kota Kemuning. Di sini, barulah Rio menyadari bahwa sejak tadi, ada tiga kendaraan yang terus membuntuti mereka.
"Ada apa bang?" Tanya istrinya mulai merasakan sesuatu.
"Sepertinya kita dibuntuti, dek," jawab Rio yang terus melihat ke arah kaca spion.
"Ah. Mungkin perasaan Abang saja itu," bantah sang istri berusaha menafikan dugaan suaminya.
"Jika mereka ingin membalap mobil kita, jelas saja mereka bisa. Mobil kita ini adalah mobil tua. Tapi mereka tidak melakukannya!"
"Apakah ini ada hubungannya dengan kasus yang Abang tangani?"
"Entahlah. Abang akan berbelok ke kiri, lalu memutar dan memasuki jalan ini lagi. Jika mereka terus mengikuti kita, berarti sah dugaan Abang, bahwa mereka memang sengaja membuntuti kita," kata Rio lalu membanting setir mobil ke arah kiri.
Kini, mobil yang dikendarai oleh Rio dan Istrinya telah memasuki perkampungan kecil dengan jalan berlubang dimana-mana.
Ketika akan tiba di pematang sawah, Rio segera mengambil jalan kiri dan terus melaju menuju ke jalan raya tadi. Dan benar saja. Di belakang mereka, mobil yang membuntuti tadi tetap ada dan terus saja mengikuti kemana pun Rio mengarahkan mobilnya.
"Kurang ajar!" Kata Rio sambil terus mengebut kendaraannya.
"Pelan-pelan bang. Jangan sampai kita mati karena kecelakaan. Mereka belum tentu jahat. Sampai saat ini kan belum ada tanda-tanda bahwa mereka ingin mengganggu kita!" Kata istrinya memenangkan sang suami.
"Tau begini tadi, lebih baik aku tidak mengajak mu. Kalau aku sendiri, aku tidak takut. Tapi, aku khawatir jika kau kenapa-napa!" Rio saat ini memang sangat mengkhawatirkan istrinya. Baginya, jika hanya dia sendirian, dia tidak akan takut. Tapi andai dia tidak mampu menjaga keselamatan istrinya, maka dia akan sangat bersalah.
Dalam ketegangan hatinya, Rio segera meminta kepada istrinya untuk menghubungi Tigor.
Sang istri tidak membantah. Dia langsung meraih ponsel milik Rio, kemudian mencari kontak milik Tigor dan langsung menekan tombol panggil.
"Ini. Sudah tersambung!" Kata sang istri yang langsung menyerahkan handphone tersebut kepada suaminya.
"Hallo, Rio!"
"Hallo bang!"
"Sudah sampai dimana kau ini?" Tanya Tigor.
"Entah kampung apa namanya ini. Bang. Sepertinya aku sedang dibuntuti!"
"Oh. Kau kirim lokasi mu!" Kata Tigor menyuruh Rio untuk mengirimkan lokasinya.
Rio heran dengan sikap tenang dari Abangnya tadi. Padahal saat ini, hatinya sudah seperti beduk subuh hampir siang.
"Iya bang. Nanti aku kirim!" Kata Rio lalu mengakhiri panggilan.
"Dek. Tolong kirim lokasi kita saat ini kepada Abang!" Pinta Rio seraya menyerahkan smartphone yang berada di tangannya kepada sang istri.
Sang istri pun menerima ponsel tadi, dan langsung mengirim lokasi mereka.
*********
Di pinggir jalan umum yang menghubungkan antara kota Kemuning dan kota Batu, tepatnya di jalan sepi, terlihat seorang pemuda berjongkok sambil nyengir dan berlindung di bawah sebatang pohon karet. Di depannya, tampak seorang lelaki paruh baya yang sedang melakukan panggilan telepon.
Sesekali pemuda itu mencabuti rumput yang berada di ujung kakinya. Sesekali dia memandang ke arah jalan dengan sebelah tangan berada di bawah kening, layaknya seperti seorang polisi memberi hormat.
"Bagaimana, Paman?" Tanya Pemuda itu.
"Dia sudah mengirim lokasinya. Apakah kita berangkat saja?" Tanya lelaki paruh baya itu.
"Ayo lah! Apa benar bahwa paman Rio benar-benar dibuntuti?"
"Benar. Ada tiga mobil yang membuntuti nya!"
"Tiga mobil. Berarti hanya kita saja sudah cukup. Paman silahkan mendahului. Kami akan mengikuti!"
Mereka lalu memasuki mobil masing-masing dan langsung melajukan kendaraan tersebut menuju ke perkampungan perbatasan kota Batu dan kota Kemuning.
Sedangkan di perkampungan yang di lalui oleh Rio tadi, kini mobil berwarna putih yang paling depan posisinya, telah mempercepat laju kendaraan tersebut dan langsung menyalib mobil yang dikendarai Rio dengan cara ugal-ugalan.
Rio yang tersentak segera membanting stir ke kiri dengan sumpah serapah berhamburan dari bibirnya.
"Woi. Apa kau baru belajar mengendarai mobil hah?" Bentak Rio. Namun, tidak ada yang memperdulikan bentakan Rio tadi. Malah, dengan mendadak mobil yang didepan menginjak pedal break dan hasilnya..,
Boom!
Rio tidak dapat lagi menghindari ketika mobil yang dia kendarai menabrak bagian belakang dari mobil yang menyalibnya tadi, akibat pengendara di depan menginjak rem mendadak.
Ketika tabrakan tadi terjadi, anak perempuan Rio langsung mencelat ke depan sehingga kepalanya berdarah akibat terkena serpihan kaca.
Tidak ada suara tangisan dari anak itu. Karena, dia sudah keburu pingsan.
"Anak ku! Anak kuuu!" Kata Rio dengan panik.
Boom...!
"Argh...!"
Sekali lagi terdengar suara tabrakan. Dan kali ini, mobil yang berada di belakang pula yang menabrak bagian belakang mobil Rio, sehingga mobil milik pegawai kepolisian itu terjepit di tengah-tengah.
Ketika tabrakan keras tadi terjadi, Rio tidak bisa lagi menjaga keseimbangannya. Karena hentakan itu terlalu kuat, membuat bagian wajahnya menghantam stir mobil. Seketika pandangan Rio berkunang-kunang.
Keadaan sang istri juga tidak lebih baik. Pakaian putih yang dikenakan wanita cantik itu sudah bernoda darah di sana sini.
Antara sadar dan tidak, Rio masih sempat mengeluarkan pistol miliknya, lalu berpura-pura pingsan.
Samar-samar, Rio melihat dari kaca mobilnya yang pecah, beberapa orang lelaki dari mobil yang dia tabrak tadi telah keluar dan mulai berjalan ke arah mobilnya.
"Hahaha. Ternyata hanya begini saja. Seorang anggota kepolisian yang sangat tersohor itu begitu mudahnya tumbang. Dasar payah!"
"Mau kita apakan orang ini, Panjol?" Tanya seorang lelaki berbadan gemuk.
"Momok..! Dan juga kau, Ganjang! Biarkan anak buah mu yang mengurus anggota polisi yang reseh ini. Bawa saja ke jembatan kota Tasik Putri, tenggelamkan!" Ujar lelaki bernama Panjol tadi.
Rio yang berpura-pura pingsan segera menarik pelatuk pistolnya. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Baginya kali ini adalah, andaikata dia mati, setidaknya dia juga harus bisa membunuh sekurang-kurangnya enam orang dari mereka.
Bersambung...