Joe William

Joe William
Mengancam Tuan Paul



Seorang lelaki berusia 60-an berbadan gemuk dan berkepala botak itu tampak mondar-mandir di ruangan kerjanya dengan pandangan terus mengarah ke layar ponselnya.


Dia adalah Tuan Paul.


Di samping meja kerjanya tampak dua orang yang sebaya dengannya hanya memperhatikan saja tingkah Tuan Paul ini. Mereka adalah Frank dan Diana Regnar bersaudara.


"Kemana perginya Sean ini? Mengapa tidak dapat di hubungi?" Kata Tuan Paul dengan kasar menekan tombol panggil sekali lagi namun, hasilnya tetap sama.


"Bagaimana Paul? Apakah bisa Sean itu dihubungi?" Tanya Frank Regnar.


"Sama sekali tidak bisa dihubungi." Jawabnya dengan kesal.


"Hmmm... Mengherankan sekali." Gumam Frank.


"Apa kau hanya punya nomor Sean saja, Paul?" Tanya Diana.


"Basten juga sama. Sejak empat hari yang lalu terakhir mereka menelepon, ponselnya lalu tidak bisa lagi dihubungi." Jawab Tuan Paul lagi dengan wajah ditekuk cemberut.


"Ada apa sebenarnya. Apakah mereka semua gagal dalam menjalankan tugasnya?" Kata Frank bergumam seperti bicara kepada dirinya sendiri.


"Tidak mungkin. Mereka ini adalah kelompok pembunuh bayaran yang paling sadis dan tidak pernah gagal. Jangankan hanya anak seperti anak Jerry William ini. Sedangkan pengusaha kaya raya dari Hongkong pun sanggup mereka bunuh. Bahkan pengawal nya pun habis di babat. Ah tidak mungkin." Kata Tuan Paul pula dengan raut wajah ketidakpercayaan.


Tak lama setelah itu tampak seorang pemuda berusia 20-an memasuki ruangan itu kemudian duduk di atas meja kerja tuan Paul dengan lagak dan gaya yang sangat angkuh.


"Bagaimana Paul? Masih belum bisa di hubungi?" Tanya pemuda itu.


"Masih belum bisa, Tuan muda Honor." Jawab Tuan Paul.


"Hmmm... Aneh juga." Kata pemuda itu sambil memegangi dagu nya.


***


Sementara itu, di belakang yayasan Martins, tampak seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan masker lambang kucing diapit oleh dua orang lelaki setengah baya memasuki sebuah rumah yang biasanya digunakan oleh mereka sebagai tempat istirahat.


Kini pemuda yang tidak dapat dikenali wajahnya itu di antar langsung memasuki satu ruangan di mana di dalam ruangan itu terlihat seorang lelaki berbadan tegap meringkuk duduk sambil memegangi lututnya.


Begitu melihat siapa yang datang, dia langsung ketakutan dan merapat ke sudut ruangan dengan tubuh gemetaran.


"Ampuni aku. Tolong ampuni aku!" Kata lelaki itu dengan muka pucat sepucat mayat.


"Kau ketakutan Sean?" Tanya pemuda yang mengenakan masker tadi.


"Ampuni aku. Tolong jangan bunuh aku. Ampuuun.." kata lelaki bernama Sean itu.


"Oh. Kau tau juga apa itu rasa takut. Aku pikir kau tidak akan merasa ketakutan. Mungkin kau berfikir bahwa perasaan ini tidak akan pernah kau rasakan seumur hidup mu. Iya kan?"


"Begini lah rasanya ketakutan. Perasaan yang sama dengan mereka yang pernah menjadi korban mu. Andai itu aku, kau pasti tidak akan mengampuni diri ku. Ayo mengaku saja!" Kata pemuda itu sambil duduk di atas kursi.


Setelah pemuda itu duduk, tampak dua orang lelaki tadi segera berdiri di belakang pemuda itu.


"Sean Sean Sean. Hahaha. Jika aku melepaskan mu, kemana kau akan pergi?" Tanya pemuda itu.


"Aku akan kembali ke MegaTown." Jawab Sean masih dengan nada suara ketakutan.


"MegaTown. Hmmm. Apakah kau akan menemui majikan mu dan mengadukan semua ini?" Tanya pemuda itu lagi.


"Tidak. Aku tidak berani kembali. Mereka pasti akan membunuh ku."


"Kau tidak punya pilihan. Ketika kau aku lepaskan, maka kau harus menemui majikan mu. Itu harus! Jika tidak, aku akan memburu mu dan pasti akan menemukan dirimu. Kau pernah mendengar tentang organisasi Dragon Empire? Aku lah ketua di organisasi itu. Dunia ini akan sangat sempit bagimu. Mengerti?!" Bentak pemuda itu.


Mungkin saking terlalu marah, sampai dia berdiri dan melangkahkan mendekati Sean lalu menginjak tangan lelaki berbadan tegap itu.


"Aduuuh. Ampuni aku. Tolong ampuni aku." Kata Sean menjerit kesakitan.


"Baiklah.., akh... Tolong jangan injak tangan ku. Aku berjanji akan memenuhi keinginan anda." Jerit Sean kesakitan.


"Paman. Di mana ponsel milik Sean ini?"


"Ada ketua. Akan saya ambilkan." Kata Ameng lalu bergegas keluar ruangan itu untuk mengambil ponsel milik Sean yang dia sita.


Tak lama kemudian Ameng kembali memasuki ruangan itu dan berkata, "ini ponselnya, Ketua."


"Terimakasih Paman." Jawab pemuda itu lalu segera menekan tombol ON.


Setelah ponsel itu aktif, kini bermunculan SMS tentang panggilan semasa ponsel itu tidak aktif.


"Hmmm... Ada banyak panggilan yang masuk. Mungkin ini dari majikan mu." Kata Pemuda itu dengan senyum mengejek.


Baru saja dia selesai berkata, benar saja. Ponsel milik Sean itu langsung berdering.


"Kau tau nomor siapa ini Sean?"


"I-itu.., itu adalah nomor Tu.., Tuan Paul." Jawab Sean sambil tergagap.


"Bagus." Kata pemuda itu lalu mengusap layar untuk menjawab panggilan.


Belum sempat dia mengatakan 'Halo.' Terdengar suara memaki dari seberang sana.


"Celaka kamu Sean. Kemana saja kau hah? Kau tau sudah ribuan kali aku menghubungi mu?" Tanya suara itu.


"Begitu kah? Apakah kau sangat merindukan ku?"


"Heh. Siapa ini?" Tanya suara itu dengan nada heran.


"Hahaha. Paul oh Paul. Ini aku malaikat maut yang akan mencabut nyawa mu. Aku adalah Joe William yang kau buru. Hahaha."


"Bangsat. Jangan bermain-main dengan ku." Bentak si penelepon itu.


"Aku bermain-main dengan mu? Kau yang bermain-main dengan ku Paul. Kau mengirim Sean dan anak buahnya untuk memburu diriku di Indonesia ini. Aku katakan kepada mu Paul. Kau salah sasaran. Kau akan sangat menyesali perbuatan mu ini. Aku akan pastikan akan menemukan mu dan membunuh mu. Ingat itu Paul!"


"Mau mau bicara dengan cecunguk mu ini? Nah bicara lah kepada nya. Hanya dia yang tersisa. Yang lainnya sudah tewas tanpa kubur." Kata Joe sambil menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.


"Bicara! Cepat katakan kepada majikan mu ini!" Bentak Joe.


"Tu.., Tuan Paul. Maafkan aku. Aku telah gagal." Kata Sean sambil menangis.


"Setaaaan. Setan kau Sean. Mengapa kau tidak bunuh diri saja. Aku akan membunuh mu. Kau akan aku bunuh." Teriak si penelepon yang bernama Tuan Paul itu.


"Hahaha. Dia akan kembali ke MegaTown. Aku akan mengirimkannya untuk kembali kepadamu sebagai simbol kemenangan ku. Dan selanjutnya, katakan kepada majikan mu bahwa kirim lagi ratusan orang kemari untuk membunuh ku. Aku akan mengirimkan sebuah peti mati berisi potongan kepala mereka. Kau mau? Jika kau mau, aku akan menunggu orang-orang mu di sini. Jika tidak, kau tunggu kedatangan kakek mu ini!"


Selesai berkata seperti itu, Joe langsung mematikan ponsel tersebut dan melemparkannya ke pangkuan Sean yang masih terduduk di sudut ruangan itu.


"Sean. Besok kau akan ku kirim kembali ke MegaTown. Semua persiapan sudah di atur. Ingat! Kau harus kembali dan menemui mereka. Aku akan mengutus beberapa orang untuk membuntuti dirimu di sana nanti. Jika kau tidak menemui mereka, aku akan menyuruh anak buah ku untuk menangkap mu. Kau tau apa yang akan aku lakukan? Aku akan mengiris-iris tubuh mu sampai kau menyembah memohon kepada ku untuk sebuah kata kematian. Ingat itu!" Kata Joe lalu segera memutar badan dan meninggalkan ruangan itu.


"Jaga orang itu! Besok kirim dia ke Kuala namu untuk segera kembali ke MegaTown!" Kata Joe memerintahkan kepada puluhan lelaki yang berada di ruangan tengah rumah itu.


"Siap Ketua!." Jawab mereka.


"Paman. Aku akan kembali ke Martins Hotel."


"Ketua. Kami akan mengantar anda." Kata Ameng lalu buru-buru menuju ke arah mobil dan membukakan pintu untuk pemuda itu.


...SELESAI BACA, WAJIB LIKE!!!...