
Keadaan di Tower restoran persis seperti akan perang saja. Masing-masing dari staf yang ada di tempat dimana Joe tadi meminta pakaian pelayan kini sedang dipermak oleh para staf.
Walaupun Namora merasa lucu dengan niat Joe yang terlihat sangat nyeleneh ini, tapi dia tau bahwa di dalam hati sahabat sekaligus ketua nya itu menyimpan sekam bara api yang bisa membakar apa saja.
Joe juga merasakan bahang panas dihatinya. Namun, dia sudah terbiasa dengan keadaan ini. Beruntung baginya digembleng oleh dua guru sekaligus sehingga baik fisik dan mentalnya tidak lemah.
Kini, setelah Joe selesai berpakaian, dengan ditemani oleh Namora, kedua pemuda itu sambil diikuti oleh beberapa orang pelayan dan koki pun bergegas naik ke lantai dimana Diamond VIP box berada.
Sementara itu, di dalam kamar diamond box, Honor benar-benar dimanja dengan pelayanan yang diberikan oleh pelayan di tempat itu. Bahkan, manager sendiri yang turut menyediakan pesanan dari Honor.
Tepat ketika dia meminta pencuci mulut, baru lah seisi ruangan itu dilanda keterkejutan. Bukan Honor, melainkan sang manager beserta staf di sana, sekaligus Tiara. Bagaimana tidak, saat itu, yang memasuki ruangan itu dengan membawa berbagai hidangan pencuci mulut adalah Joe William dengan didampingi oleh Namora.
Sang manager buru-buru ingin membungkukkan badannya. Namun, Namora segera berseru. "Keluar kalian semua!" Kata pemuda itu dengan dingin dan suara tertahan, membuat sang Manager dan staf yang berada di ruangan itu tidak berani melanjutkan aksinya.
Mendengar perintah itu, sang Manager tidak langsung keluar. Malah, mereka berdiri tepat dibelakang Joe.
Melihat mereka berdiri dibelakang Joe, bukannya membuat Namora berhenti sampai di situ, dia yang terkenal dengan temperamen yang tidak menentu langsung melotot dan mengambil sebutir buah strawberry dari nampan yang dipegang oleh Joe, dan langsung melemparnya tepat ke arah jidat sang manager.
"Aku tidak suka mengulangi perkataanku!" Ujar Namora lagi. Kali ini, tidak ada satupun yang berani bertahan di tempat itu kecuali para staf yang ikut menyertai Joe dan Namora tadi. Semuanya lari terbirit-birit dengan sang Manager keluar sambil memegangi jidatnya yang terkena lemparan buah dari Namora barusan.
Kejadian ini jelas-jelas membuat Honor Miller menjadi terheran-heran.
Dalam hati dia bertanya-tanya siapa pemuda yang berani membuat acara makan malamnya menjadi berantakan seperti itu?
"Orang ini.., apa dia yang bernama Joe William? Ah. Tapi tidak mungkin. Joe William adalah seorang pemuda berkulit hitam. Sedangkan pemuda ini, jelas-jelas wajahnya serta kulitnya sangat identik dengan warna kulit orang Asia tenggara," kata Honor Miller dalam hati.
Berbanding terbalik dengan Honor Miller, Tiara yang melihat dua pemuda tadi langsung pucat. Andai bibirnya disayat ketika ini, tentu saja bibir itu tidak akan berdarah saking kaget dan dengan perasaan campur aduk yang tak menentu.
"Maafkan atas kejadian yang tidak mengenakkan ini, Tuan Honor Miller. Aku tidak suka dibantah oleh bawahan. Jika mereka masih ingin hidup normal, maka sebaiknya tidak membantah perintah dariku," kata Namora dengan wajah yang tampak sepuluh kali lipat lebih sombong dari Honor.
"Wah wah wah. Anda. Terlalu berlebihan, Tuan. Dengan siapa anda berhadapan pun anda sepertinya tidak mau tau. Anda bahkan tidak memberi wajah kepada saya," ujar Honor Miller yang merasa bahwa jiwa dominasinya tercabik-cabik.
"Aku memberi wajah kepada yang selayaknya saja. Aku tidak mengenal anda, tapi mengapa anda bisa berada di diamond box ini? Berapa uang yang anda keluarkan untuk menyuap manager di restoran ini?" Semakin dingin suara Namora ketika memberi pertanyaan.
Ketika itu, Joe yang sudah mulai geram langsung melangkah dan berniat untuk meletakkan nampan yang dia bawa keatas meja dimana Honor dan Tiara duduk. Namun, Namora yang sudah terlanjur panas malah memberi tekel ke tumit kaki Joe membuat pemuda tuh terhuyung tepat di depan meja milik Honor.
Gubrak..!
Prang..!
Kini, Honor benar-benar gelagapan melihat kejadian ini. Dia semakin marah ketika jas miliknya dan gaun yang dikenakan oleh Tiara menjadi kotor di sana sini.
Honor sejenak melupakan kemarahannya dan segera mengambil tisu. Dengan lembut dia mengusap sisa makanan dan air minuman yang terkena di gaun Tiara. Hal ini, tentu saja membuat Joe sesak nafas. Karena, seumur hidup dia tidak pernah menyentuh gadis itu seperti yang dilakukan oleh Honor ketika ini.
Joe ingin marah. Namun, Namora segera memberi isyarat agar Joe mampu untuk menahan diri. Minimal untuk satu hari ini saja.
"Kau. Aku telah berbaik hati untuk tidak melakukan perdebatan. Tapi sepertinya anda ingin memancing kemarahan ku!" Bentak Honor berang. Dia tidak bisa menahan lagi untuk penghinaan yang dia dapat malam ini. Karena, seumur hidupnya, dia memang tidak pernah diintimidasi oleh siapapun.
"Oh. Maafkan atas kejadian ini. Ini sungguh di luar kendali saya. Apakah anda merasa bahwa ini adalah sesuatu yang sangat menjatuhkan harga diri anda?" Tanya Namora berpura-pura menyesal. Tapi, sama sekali dia tidak beranjak atau memberikan gestur sebagai tanda permintaan maaf. Hal ini tentu saja membuat Honor menjadi semakin berang.
"Anda bukan hanya tidak menghormati saya sebagai pelanggan di restoran ini. Anda bahkan mengacaukan semuanya. Saya ingin tau keberanian seperti apa yang anda miliki sehingga anda sangat berani seperti ini?" Kata Honor sambil bangkit berdiri.
"Oh. Saya takut. Sebagai tanda permintaan maaf saya, silahkan anda pulang dan semua pembiayaan makan anda, saya hitung gratis. Bagaimana?" Tanya Namora santai. Bahkan saking santainya, dia memetik sebutir anggur di atas meja dan menyuapkannya ke mulut Tiara.
"Aku tidak memiliki julukan yang pas untuk mu, Tiara. Apakah kau pantas aku panggil sebagai perempuan pintar, atau perempuan brengsek!" Ujar Namora, tapi dalam bahasa daerah membuat Joe dan Honor tidak mengerti. Namun, tindakan dari Namora ini membuat Honor menjadi naik pitam.
"Ssssst. Tahan kemarahan anda Tuan Honor. Wanita yang bersama dengan anda saat ini adalah sahabat kecil ku. Kami sama-sama dilahirkan oleh emak-emak. Jadi, anda jangan cemburu. Aku tebak, anda baru mengenal Tiara ini sekitar satu Minggu. Saya, mengenal Tiara ini sudah dua puluh satu tahun!" Ujar Namora tidak memberi kesempatan kepada Honor Miller untuk mendamprat.
"Kau akan menyesali atas kejadian dan penghinaan ini. Aku pasti akan membalas mu!" Marah Honor Miller sekaligus memberi ancaman.
"Anda sudah terlalu banyak mengancam. Anda bahkan berani mengancam ayah saya. Benar-benar anda bosan hidup. Jika aku memiliki hati culas seperti anda, aku pastikan bahwa anda akan keluar dari restoran ini sebagai bangkai. Tapi aku adalah seorang lelaki jantan. Aku tidak melakukan perbuatan curang. Jika ingin bertarung, sediakan tempat untuk kita. Tanpa istirahat pun aku sanggup!
Simpan ancaman mu. Karena, terakhir kali kau mengancam untuk membakar restoran ini, aku sudah mempersiapkan Restoran ini untuk kau bakar. Kau adalah tamu biadab. Kembali ke negara asal mu sebelum yang kembali hanya gelar almarhum!" Balas Namora tepat di dekat wajah Honor Miller.
"Kau Tiara. Bawa genda'an mu ini pergi. Kau memiliki kami yang bisa kau andalkan. Tapi kau memilih musuh dari kami. Kau bukan hanya menghancurkan hati sahabat ku, tapi menghancurkan segala usaha kami. Kau semakin memperkeruh keadaan. Aku pernah trauma oleh seorang wanita. Jangan sampai kau menjadi pelampiasan rasa trauma ku. Pergi sekarang!" Bentak Namora lagi.
"Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan! J..,"
"Diam...!" Bentak Namora sebelum Tiara menyebut nama Joe. Nama yang sangat ditakutkan oleh Namora andai Honor tau bahwa pelayan itu adalah Joe.
"Kalian sungguh biadab!" Kata Honor yang langsung menarik tangan Tiara untuk meninggalkan Diamond VIP box di restoran itu.
"Jangan lupa. Nama ku adalah Namora Habonaran, putra dari Tigor Habonaran. Hayya.., lu pulang saja sana tempat lu punya negri. Lu jangan datang tempat orang punya negri. Shiang-shiang Maling Sheng.., Shiang-shiang maling Thong!" Kata Namora berlagak berbahasa Kantonis.
Joe yang mendengar ketinggian selera humor Namora itu tidak kuasa menahan tawa. Setelah Honor Miller dan Tiara keluar dengan tidak terhormat dari ruangan tadi, Joe pun segera menendang pantat Namora membuat pemuda itu mau tidak mau tersenyum juga, walaupun senyuman itu persis seperti senyuman kuda kebelet pipis sekaligus pupus.
Bersambung...