
...Real estate Quantum City...
Beberapa unit mobil baru saja tiba di sebuah rumah besar berbentuk Castel. Rumah itu adalah satu-satunya yang terbesar di kawasan perumahan elite di Quantum City ini, dan semua orang-orang di sana mengetahui bahwa itu adalah rumah milik orang terkaya di Quantum City ini.
Tuan Clifford. Begitu orang-orang di Quantum City ini menyebut pemilik rumah bak istana tersebut.
Bisa dikatakan bahwa Tuan Clifford adalah raja kecil di kota ini. Orang terkaya dan dengan kekayaan yang dia miliki, Tuan Clifford ini bahkan bisa saja menukar walikota dengan orang yang dia kehendaki. Setidaknya begitulah gambaran singkat untuk menggambarkan betapa berkuasanya dia di kota berkembang seperti Quantum City ini.
Selain Quantum entertainment dan sekitarnya, semua perusahaan di kota ini rata-rata berkolaborasi dengan perusahaan milik Tuan Clifford. Adapun itu secara suka rela, ataupun main paksa secara tak langsung.
Salah satu perusahaan yang bangkrut atas ulah keluarga Clifford ini adalah perusahaan Quantum entertainment yang ketika itu dipimpin oleh Tuan Baron. Lalu disusul oleh perusahaan milik Xavier.
Ketika Quantum entertainment saat itu sedang berada pada puncaknya, Tuan Clifford sempat mengajukan pembelian saham sebanyak 51% kepada Tuan Baron dengan harapan, bahwa Tuan Baron akan berada di bawahnya. Dan, dengan 51% saham pusat hiburan itu di tangan nya, maka setidaknya dia lah yang akan menjadi pengendali di perusahaan tersebut sebagai pemegang saham terbesar.
Ketika itu, Tuan Baron menolak mentah-mentah tawaran dari Tuan Clifford yang menyebabkan Tuan Clifford mendirikan Kryptonite Club' yang bersaing dengan perusahaan milik Tuan Baron.
Perlahan namun pasti, berkat kekuasaan yang dia miliki, berbagai peraturan dari pemerintah daerah pun berhasil membuat perusahaan Quantum entertainment merugi dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun yang menyebabkan Tuan Baron terpaksa mengajukan pinjaman ke bank lokal. Dan paling sialnya adalah, Tuan Clifford adalah pemegang saham terbesar di bank tersebut dengan kedok bahwa Bank tersebut adalah bank lokal yang dikendalikan oleh Pemerintah daerah.
Singkat cerita, Tuan Clifford berhasil menggulung perusahaan Quantum entertainment hingga diambang kebangkrutan.
Tuan Clifford juga kembali mengajukan agar perusahaan Quantum entertainment dijual saja kepadanya dengan harga yang sangat mencekik. Namun, sekali lagi Tuan Baron menolaknya.
Setelah terus dihimpit masalah, akhirnya Tuan Baron pun mengajukan perusahaan tersebut untuk bernaung dibawah perusahaan Future of Company. Namun, jika hanya bernaung saja, keamanan Quantum entertainment masih bisa diacak-acak oleh Clifford group. Atas saran dari orang-orang terdekat, akhirnya dengan dilandasi oleh sakit hati dan dendam, Tuan Baron pun memutuskan menjual 100% perusahaan itu secara mutlak kepada Future of Company dan disinilah akhir dari perburuan Tuan Clifford terhadap Quantum entertainment.
Baginya, bunuh diri jika melawan perusahaan Raksasa dengan cabang bisnisnya menggurita diberbagai belahan dunia. Bahkan, jika dia nekat, tidak sampai sepuluh menit, maka perusahaan miliknya pasti akan gulung tikar dihantam oleh perusahaan Future of Company.
Bagi Future of Company, Clifford Group hanya seperti sisa makanan yang nyangkut di gigi saja. Sama sekali tidak ada apa-apa. Bahkan hanya dengan Global Invest Corporate atau Tower Sole propier pun, Clifford Group tidak ada se-kuku hitamnya. Ini belum lagi dengan Dragon Empire yang dalam semalam saja bisa menghancurkan satu kota seperti Quantum City ini.
Jika satu kota saja bisa dihancurkan dalam satu malam, berarti untuk keluarga Clifford hanya butuh 15 menit untuk rata dengan tanah.
Singkat cerita, perbandingan antara Clifford Group dengan Future of Company adalah seperti perahu oleng dengan Kapal pesiar mewah.
...*********...
Beberapa lelaki berbadan tegap dan satu orang diantaranya paling besar dan paling tegap seperti gajah bunting keluar dari mobil lalu meminta kepada petugas penjaga untuk membukakan pintu pagar.
Dengan hormat, petugas jaga itupun membukakan pintu dan kembali menutupnya setelah rombongan orang-orang tersebut memasuki Castle megah nan mewah itu.
Tidak seorangpun dari lelaki berbadan tegap tadi berani membuka mulut ketika tiba di ruangan itu.
Mereka tahu betul jika lelaki itu kehilangan mood sarapannya, maka bisa-bisa mereka dihajar babak belur oleh empat orang penjaga di ruangan itu yang berdiri seperti patung. Namun berbahaya jika sudah bergerak.
"Kalian datang di waktu yang tidak tepat, Huge Rhinoceros, dan kau Zarco. Apakah ada sesuatu yang begitu penting sehingga kau datang dan mengganggu mood sarapan ku dengan tampang badak bunting kalian itu?" Tanya lelaki yang duduk menghadap meja yang diatasnya terhidang beraneka macam makanan tersebut.
"Ma-maafkan.., maafkan kami, Tuan besar. Anda silahkan sarapan terlebih dahulu. Kami akan menunggu di luar," kata Huge Rhinoceros ketakutan dan segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu.
"Tetap ditempat mu, Badak!" Seru lelaki itu. Makin dingin saja nada suaranya.
"Ba-ba-baik. Sa.., sa.., saya akan tetap di sini, Tuan!"
Rombongan lelaki tadi tidak jadi meninggalkan ruangan itu. Mereka terus saja berdiri di tempat itu dengan jakun turun naik karena ketakutan.
"Ayah. Aku berangkat dulu ke kampus!" Tampak seorang pemuda berlari menuruni tangga dan langsung berhenti ketika melihat Huge Rhinoceros, Zarco dan yang lainnya berada di tempat itu seperti patung.
Pemuda itu menyalami lelaki yang sedang sarapan itu lalu memperhatikan ke arah Huge Rhinoceros dan Zarco dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ada apa dengan kalian? Mengapa wajah kalian sangat kusut seperti itu?" Tanya pemuda yang bari saja turun tersebut.
"Tu-tu-Tuan muda Duff. Ada masalah di Kryptonite Club'," jawab Huge Rhinoceros ketakutan.
"Masalah? Masalah apa?" Tanya pemuda yang ternyata adalah Duff Clifford itu.
"Putra ku. Ini bukan urusanmu. Kau segera lah berangkat. Nanti kau terlambat kuliah," kata lelaki separuh baya itu yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak kuliah pun tidak ada satupun yang berani menegur ku. Jika berani, berarti mereka benar-benar lelah dan ingin cepat-cepat menjadi pengemis di kaki lima," jawab Duff Clifford. Bukannya dia berangkat ke kampus, malah dia kini duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu.
Tuan Clifford pun kini segera mengambil sebatang cerutu lalu segera menyulutnya dengan api. Setelah itu dia menjentikkan jarinya memerintahkan agar tujuh orang wanita yang melayaninya tadi segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah hanya tinggal mereka saja, kini Tuan Clifford pun meminta kepada Huge Rhinoceros untuk menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Sekarang, ceritakan kepadaku apa yang terjadi sehingga kalian datang mengganggu sarapan ku?" Pinta Tuan Clifford sambil mengangkat sebelah kakinya lalu meletakkan di atas meja.
Bersambung...