
Kita tinggalkan dulu Marven, Irfan dan Butet dengan segala tak-tik kotor mereka. Kini, mari kita ikuti orang-orang dari organisasi tentara bayaran Tiger Syam yang mendapat tugas khusus dari Joe William untuk membereskan Ferdy yang ternyata telah melakukan niat jahat untuk membunuh Rio.
Malam itu, di bagian paling pinggir perumahan dinas kepolisian kota Batu, tampak sekitar 10 orang lelaki berbadan tegap berhenti di bawah sebatang pohon beringin di perempatan jalan. Ketika itu, jam baru saja menunjukkan tepat pukul delapan malam.
Orang-orang berbadan tegap itu kini mengeluarkan sejenis senjata Laras pendek berwarna hitam pekat. Namun yang aneh adalah, peluru dari senjata itu bukanlah terbuat dari jenis logam. Melainkan seperti jarum yang di bagian tengahnya terlihat seperti tabung berisi cairan.
"Kita berbagi tugas. Kau segera bereskan orang bernama Ferdy itu. Sedangkan aku, akan membersihkan jalan!"
"Baik. Kau segera amankan rekaman cctv di rumah itu!"
"Siap!"
"Untuk hal lainnya, kita tidak perlu khawatir. Rio sudah mengatur semuanya!"
"Alah. Tanpa bantuan dari Rio pun, seratus orang seperti Ferdy bukan masalah bagi kita. Berbagai jenis misi telah kita lalui. Apalah arti Ferdy yang hanya anggota kepolisian tua. Mari!"
"Atur agar kita tetap terhubung. Pasang intercom mini kalian!'
"Baik! Mari bergerak. Dua orang memasuki rumah Ferdy. Dua orang mengamankan cctv! Jangan sampai pergerakan kita terlihat di kamera pengawas. Dua orang mengamati di setiap jalan, satu orang menunggu di mobil, dan tiga orang segera berjaga-jaga di setiap simpang!"
"Baiklah! Mari kita lakukan!"
Kini, sepuluh orang tadi mulai berpencar, dan menempati posisi mereka masing-masing.
"Ingat Bent! Setelah Ferdy berhasil kita tangkap, langsung bawa ke mobil! Jika ada pengejaran, langsung habisi saja! Ketua tidak memerintahkan kita menangkap orang itu hidup-hidup. Dia hanya menyuruh kita membereskan orang yang bernama Ferdy ini!"
"Baik!" Jawab orang bernama Bent tadi.
Kini, dua orang berbadan tegap, mengenakan pakaian loreng hitam, dan bertopeng itu mulai mendekati tembok rumah milik Ferdy.
Sepertinya mereka ini adalah orang-orang yang sangat terlatih dan terbiasa menerima latihan ala pasukan elit. Terlihat jelas dari pergerakan mereka yang bisa merayap di tembok, persis seperti cicak.
Tidak sampai lima detik, tembok rumah setinggi tiga meter itu dengan mudah mereka lewati.
Dengan memberi kode ke arah temannya, kini mereka mulai berpencar.
Sementara di bagian depan, dari arah rerimbunan pohon bunga, melesat sebutir peluru dari senjata yang menggunakan peredam suara, tepat menghantam kamera pengintai di depan rumah Ferdy.
"Semuanya aman!" Terdengar suara di intercom yang terpasang di telinga orang yang melompati tembok tadi.
"Di copy!" Jawabannya, lalu segera mengendap mendekati dinding.
***********
Di dalam rumah, Ferdy kelihatannya sedang santai.
Dia, dan istrinya tampak sedang menonton acara televisi.
Karena mereka hanya tinggal berdua saja, jadi, Ferdy yang seharusnya sudah pensiun itu banyak menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga. Jabatan baginya hanya untuk mengeruk keuntungan. Tanpa bekerja pun, tidak ada yang mau menegurnya. Apa lagi selama ini AKBP Rio sangat menghormati dirinya. Tapi itu dulu. Sebelum dia dan Rio terlibat konfrontasi yang menyebabkan dirinya meminta kepada Irfan untuk menyingkirkan Rio.
Merasa penasaran, Ferdy segera melihat kebelakang. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa di dalam rumah itu bukan hanya dirinya dan istri saja. Melainkan sudah ada dua orang lelaki berbadan tegap yang hanya terlihat bola matanya saja. Kedua orang itu sedikitpun tidak berkedip menatap ke arahnya.
"Si.., siapa, siapa kalian?" Tanya Ferdy bergegas untuk bangkit. Tapi, sebelum dia bangun, tangan lelaki bertubuh tegap itu telah menahan pundaknya. Kontan saja Ferdy merasakan seperti ditimpa sebongkah batu. Tenaga tuanya tidak mampu melawan kekuatan dari orang bertubuh tegap tadi.
"Kami adalah orang-orang yang diperintahkan untuk membawa mu menemuinya. Hidup atau mati. Jika sayang nyawa, maka ikut secara baik-baik! Jika tidak, jangan salahkan kami!" Jawab lelaki bertopeng itu.
"Apa kalian tidak tau bahwa aku adalah petugas kepolisian di kota batu ini? Berani sekali kalian memasuki rumah seorang petugas kepolisian seperti pencuri?!" Gertak Ferdy berusaha menakut-nakuti dua orang lelaki itu.
"Kami sudah terbiasa di medan perang. Maaf! Kami tidak punya banyak waktu. Ikut secara baik-baik, atau kami paksa!"
"Pak. Siapa mereka ini pak?" Tanya sang istri yang tampak ketakutan.
Belum sempat Ferdy menjawab, kini salah satu dari kedua orang itu menikamkan sejenis alat tepat di leher wanita tua itu.
Sejenak dia mendelik, lalu terkulai lemas.
"Istri mu hanya pingsan. Besok dia sudah siuman. Kau jangan khawatir!"
"Biadab kalian ini! Tolooo....,"
Plak!
Brugh..
"Argh!"
Belum sempat Ferdy menjerit meminta tolong, satu tamparan terlebih dahulu hinggap di pipi keriput miliknya, membuat Ferdy terhuyung ke samping.
"Jangan mempersulit kami. Kau akan menyesal!"
"Sudah main-main nya! Segera bereskan!" Seru lelaki yang satunya lagi.
"Ayo Bent!"
Mereka lalu menikamkan alat yang sama di bagian leher Ferdy. Sebentar kemudian, lelaki itu mengeluarkan semacam kantong besar, dan memasukkan tubuh Ferdy ke dalam kantong besar tersebut.
"Cepat Bent! Aku akan melalukan pembersihan di rumah ini!"
"Ok!" Jawab lelaki bernama Bent itu. Sejenak dia meninjau ke arah jendela. Begitu melihat kode dari orang yang berada di luar, dia segera melemparkan tubuh Ferdy ke luar sebelum melompat mengikut jendela.
Setelah semuanya selesai dengan rapi, satu unit mobil tanpa plat nomor kendaraan segera melesat meninggalkan rumah milik Ferdy dan terus memutar menuju bukit batu. Tiba di bukit batu, mereka menukar kendaraan dengan mobil tanpa plat nomor kendaraan itu menuju ke kota Tasik Putri, dan yang satunya lagi menuju ke kota Kemuning.
Di rumah Ferdy, tampak delapan orang lelaki bertubuh tegap yang sudah selesai dengan tugas mereka, segera meninggalkan rumah target mereka. Kali ini tujuan mereka adalah bangunan bangkrut di dekat perkebunan karet kota Batu.
Misi mereka kali ini berhasil dengan sukses tanpa ada hambatan yang berarti.
Bersambung...