Joe William

Joe William
The new Black Cat



Seorang gadis tampak berdiri dengan tubuh bergoncang keras menahan tangis. Namun, sekuat apapun dia bertahan, air matanya tetap jatuh juga.


Di dalam genggaman tangan nya tampak selembar kertas yang diberikan oleh lelaki setengah baya kepadanya.


Dia yang masih berdiri dengan ditemani oleh lelaki setengah baya itu terus saja menangis membuat lelaki itu kasihan juga melihatnya.


"Tiara. Kau harus dapat memahami maksud baik dari Joe. Dia memang sengaja tidak menunggu mu untuk berpamitan. Keadaannya memang sangat mendesak sekali. Jadi, dia hanya meninggalkan surat ini kepadaku untuk diserahkan kepadamu." Kata lelaki setengah baya itu.


"Apakah Joe akan datang lagi kemari Paman?" Tanya gadis itu.


Gadis ini memang tau bahwa tidak akan selamanya Joe berada di kampung Kuala Nipah ini. Hal ini karena kampung Kuala Nipah ini hanyalah tempat belajar bagi pemuda itu. Namun yang tidak dia duga adalah, perpisahan dengan pemuda itu terjadi begitu mendadak. Bahkan dia tidak sempat menatap kepergian orang yang dia kasihi itu. Ini lah yang menjadi ganjalan terbesar dalam hatinya saat ini.


Baru saja beberapa hari yang lalu Joe mengatakan bahwa dia memang akan pergi namun tidak dalam waktu dekat ini. Tapi kenyataannya, Joe pergi juga secara tiba-tiba.


"Paman tidak tau apakah Joe akan kembali lagi kemari. Namun saat ini, ada pekerjaan yang berat menanti dirinya. Kau juga tahu bahwa Joe ini tidak sama seperti diri kita. Dia adalah anak yang dipersiapkan untuk menghadapi situasi yang sulit dengan musuh yang kapan saja bisa mengintai. Oleh karena rasa sayangnya kepada kalian, makanya dia tidak memberitahu kepergiannya dan hanya melalui surat ini saja. Paman harap kau bisa memaklumi." Kata lelaki setengah baya itu berusaha memberikan pengertian kepada gadis itu.


"Saya mengerti paman. Tapi hati ini sangat sulit menerima kenyataan. Sampai saat ini saya masih merasa bahwa dia masih berada di sini. Menunggu ku di pinggir pantai sambil tersenyum." Kata Tiara.


Tidak ada lagi yang bisa diucapkan oleh lelaki itu kepada gadis belia yang berada di hadapannya ini.


Sebagai seorang yang juga memiliki anak yang beranjak dewasa, dia tentu sangat dapat memahami perasaan gadis ini. Namun apa mau di kata, keputusan Joe sudah bulat dan memang tidak bisa di ganggu gugat.


Dia justru prihatin dengan Joe dan Tiara ini. Karena setelah disibukkan dengan berbagai hal, kemungkinan terbesarnya adalah, Joe tidak memiliki waktu lagi untuk berhubungan dengan seorang gadis.


"Tiara. Paman tidak bisa memberikan jalan untuk dirimu. Sebaiknya lanjutkan hidupmu seperti biasa. Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan mulai terbiasa tanpa kehadiran Joe. Jaga dirimu baik-baik." Kata Lelaki itu.


Sebelum dia pergi, dia masih sempat memegang kepala gadis itu lalu mengusapnya.


"Paman pergi dulu." Kata lelaki itu lalu melangkah ke arah mobilnya kemudian tancap gas menuju kota Kemuning.


*********


Kota Kemuning


Malam sudah meninggalkan senja ketika rombongan Tigor baru saja tiba di Martins Hotel dari Kuala Nipah.


Setelah memarkir mobilnya di area parkir depan hotel itu, tampak beberapa orang lelaki datang ke arah mobil itu lalu membukakan pintu.


Kini dari dalam tampak Tigor keluar bersama dengan seorang pemuda yang mengenakan Jaket Hoodie yang berusaha menyembunyikan wajahnya lalu segera bergegas memasuki lobby hotel dan sama sekali tidak menghiraukan beberapa lelaki yang membungkuk ketika dilalui oleh pemuda itu.


Melihat pemuda itu langsung memasuki Hotel, Tigor pun segera menyusul dan mensejajarkan langkah dengan pemuda itu.


"Ketua. Apakah anda memang ingin menginap di hotel ini malam ini?" Tanya Tigor setelah berhasil mensejajarkan langkah dengan pemuda itu.


"Ketua. Apakah tidak sebaiknya jika anda tinggal di rumah ku saja?" Tanya Tigor.


"Terimakasih paman. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Ingat bahwa kita dalam misi kali ini. Aku tidak ingin wajah ku dikenali oleh orang-orang. Aku ingin memakai masker saja ketika berurusan dengan bawahan. Dan itu harus melekat menjadi identitas ku."


"Em. Kalau begitu, itu bukan hal yang sulit. Karena dulunya saya juga seperti anda. Bergerak dengan menggunakan topeng." Kata Tigor sambil tersenyum.


"Wah. Benarkah Paman?" Tanya pemuda itu.


Tigor hanya mengangguk lalu berkata. "Anda tunggu di sini ketua. Saya akan kembali ke mobil. Ada sesuatu yang akan saya berikan. Tidak tau apakah anda menyukainya atau tidak." Kata Tigor.


Setelah mendapat anggukan dari pemuda itu, Tigor pun segera menuju ke mobilnya lalu mengambil sebuah bungkusan dari bagasi mobil tersebut kemudian buru-buru kembali memasuki hotel dengan bungkusan yang berada di tangan nya.


"Ini ketua. Coba anda pilih. Di sini ada masker dan topeng. Tapi menurut saya, anda lebih cocok dengan masker saja dipadu dengan Jaket Hoodie ini." Kata Tigor.


Pemuda itu menerima bungkusan tersebut. Membuka lalu mengeluarkan isinya.


Kini dia melihat sebuah topeng kucing berwarna hitam kemudian sebuah lagi masker bergambar kucing juga berwarna hitam.


"Hmmm... Aku suka yang ini paman." Kata pemuda itu sembari mengembalikan topeng itu kepada Tigor.


"Baiklah Ketua. Jika anda suka memakai masker ini, saya akan menyuruh bawahan untuk memproduksi masker ini dalam jumlah yang banyak untuk anda gunakan agar bisa sering-sering di tukar." Kata Tigor dengan gembira.


Pemuda itu juga tersenyum lalu segera mengenakan masker tersebut, lalu memasang kembali Hoodie nya sehingga kini lebih dari separuh wajah pemuda itu tertutup dan tidak mudah untuk di kenali.


"Apakah ada yang kurang paman?" Tanya pemuda itu.


Tigor berfikir sejenak sambil memandang ke atas dan ke bawah lalu berkata. "Coba anda keluarkan kalung anda ketua!" Kata Tigor.


Pemuda itu menuruti permintaan Tigor lalu mengeluarkan kalung dengan lencana Giok naga dan kepala harimau miliknya.


"Hahahaha. Akhirnya. Ini lah The new Black Cat." Kata Tigor tertawa dengan bangga sekali.


"Sering-seringlah berpenampilan seperti ini ketua. Ketika saya melihat anda saat ini, saya merasa menemukan diri saya sekitar dua puluh tahun yang lalu." Kata Tigor.


Sekilas ada persamaan antara Tigor di masa muda dulu, dengan pemuda ini. Yaitu, semua serba hitam dari atas sampai ke bawah. Dan juga ada embel-embel kucing nya.


"Ketua. Anda silahkan istirahat. Saya masih banyak urusan. Jika anda perlu sesuatu, Ameng bisa mengurus semuanya untuk anda. Mungkin malam ini juga dia akan tiba."


"Selamat beristirahat ketua." Kata Tigor.


"Terimakasih paman." Jawab pemuda itu lalu mereka pun berpisah dengan pemuda itu segera menggesekkan kartunya untuk membuka pintu, sedangkan Tigor berjalan ke luar dari hotel itu.