Joe William

Joe William
Roger babak belur



Saat ini, Tengku Mahmud tampak sedang menimang-nimang beberapa butir kulit kerang di telapak tangannya.


Sejak tadi, telinganya yang tajam mendengar beberapa hembusan nafas dari arah depan rumahnya itu membuat sifat jahilnya seketika memberontak di rongga dadanya.


"Untuk apa kakek kulit kerang itu? Besok saja latihannya kek. Aku cape." Kata Joe yang salah dalam mengartikan kulit kerang yang berada pada telapak tangan Tengku Mahmud itu.


"Diam kau setan! Apa kau tidak tau di luar rumah ini ada orang yang datang?" Kata Tengku Mahmud sambil menekan nada suara nya.


"Hah. Apa iya?" Kata Joe sambil berjalan pelan menuju dinding bambu rumah itu lalu mengintip di balik celahnya.


Kini Joe dapat melihat bahwa di luar memang ada beberapa orang lelaki berbadan tegap yang salah satunya dia kenal sebagai orang yang tadi di pesta rakyat mencari gara-gara dengannya.


"Mau apa lagi orang ini kemari?" Kata Joe dalam hati.


"Kau kenal mereka itu Joe?" Tanya Tengku Mahmud.


"Aku tadi sempat bertengkar dengan salah satu dari mereka kek. Mereka terlalu mengintimidasi. Andai tadi pengawal ku tidak lekas datang, kemungkinan aku tidak bisa mengendalikan emosi ku." Kata Joe menjawab pertanyaan dari guru nya itu.


"Apa kau ingin memperpanjang permasalahan dengan mereka?" Tanya Tengku Mahmud.


"Maksud kakek?"


"Kau akan tau." Kata Tengku Mahmud lalu membuka sedikit saja pintu rumah itu.


Di bawah sinar bulan, kini Tengku Mahmud tampak dengan jelas melihat beberapa orang lelaki itu.


Tidak hanya itu saja. Dia juga dapat melihat agak jauh dari depan rumah nya, tepatnya di sekitar pohon kelapa yang ditabrak oleh Joe kemarin, ada juga enam orang lelaki yang sedang memperhatikan. Kali ini Tengku Mahmud mengenal ke-enam lelaki yang berdiri di sekitar pohon kelapa itu.


"Kau mau ikutan?" Tanya Tengku Mahmud sambil memberikan beberapa butir kulit kerang kepada Joe.


"Mau." Jawab Joe lalu menerima kulit kerang itu.


"Anggap saja ini latihan. Ayo!"


"Satu."


"Dua."


"Tiga!"


Wuzz!


Wer..!


Plak!


"Akh..."


"Heh. Apa ini? Ada apa?" Tanya Roger kepada dua orang yang mendadak tumbang di belakangnya.


Wuz...!


Terlihat benda putih saling susul menyusul dari arah rumah dan menghantam dua orang lagi anak buah Roger.


"Hantu kah ini?" Kata Roger mulai panik.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tapi anak buahnya sudah empat orang yang terjengkang sambil mengusap jidat masing-masing.


"Kulit kerang ini bang." Kata mereka begitu menemukan benda yang menghantam jidat mereka tadi.


Sementara itu, kini dua buah kulit kerang tampak menderu mengarah ke tubuh Roger saling susul menyusul.


Kulit kerang itu seperti tidak putus-putusnya menghantam betis, paha, perut, dada dan terakhir mendarat di keningnya membuat kening itu merah berdarah dengan cap kulit kerang yang sangat indah. Layaknya seperti perhiasan di kening para brahmana. Hanya saja, bedanya cap ini terbuat dari kulit kerang.


Roger tampak seperti kesurupan Michael Jackson ketika tubuhnya tadi dihujani oleh lemparan kulit kerang dari kakek dan cucu yang kurang waras itu.


Keadaan Roger dan anak buahnya ini bukan saja membuat Tengku Mahmud dan Joe setengah mati menahan tawa. Sebaliknya, Ameng dan kelima anggota nya pun juga tampak terduduk sambil memegangi perut menahan tawa.


"Nasib mu benar-benar malang Roger. Kau berurusan dengan orang yang salah." Kata Ameng sambil tertawa.


Roger kini benar-benar tidak tahan dengan serangan kulit kerang itu. Dia kini berinisiatif untuk menghindar dulu dari depan rumah Tengku Mahmud dan menunggu di samping yang akan jauh. Namun apa sial, dia berdiri di bawah pohon yang salah. Karena di atas pohon itu ada sarang tawon nya.


"Kau tega Joe?" Tanya Tengku Mahmud.


"Aku tega kek. Biar dia bisa mengambil pelajaran dari kesombongan nya itu." Kata Joe lalu mengeluarkan sebutir bola besi dari saku celananya. Tak lama setelah itu,


Wuz...


Ngung.., ngung.., ngung!


"Aduh. Apa ini?"


"We Bang. Lari bang. Tawon!"


"Mati aku maaaak!" Kata Roger berteriak lalu berlari ke arah pantai.


Melihat kejadian ini, dan menyadari adanya bahaya yang nyata, bukan hanya Roger dan anak buahnya saja yang nyemplung ke laut. Ameng dan anak buahnya juga ikut-ikutan kabur.


Byur...!


Byur....!


"Rasakan itu biar kapok." Kata Joe sambil merapatkan dinding anyaman bambu yang tadi dia renggangkan untuk menembak sarang tawon itu dengan bola besi kecil senjata andalannya.


*********


Keesokan harinya, dengan berpura-pura tidak tau apa yang terjadi, seperti biasa. Joe masih tetap melakukan aktivitasnya mengangkat air, menyapu halaman rumahnya kemudian melatih pernafasan sekaligus melakukan peregangan pada otot-ototnya agar tidak kaku.


Dia sengaja berpura pura tidak melihat bahwa ada sekitar tujuh atau delapan orang lelaki berdiri tak jauh dari tempatnya berlatih dengan keadaan yang sangat menyedihkan.


Sambil berlagak kaget, Joe kini memperhatikan mereka semua dari atas hingga ke bawah lalu bertanya. "Mau apa lagi kalian? Apa mau mencari gara-gara lagi dengan ku?" Tanya Joe berlagak marah.


"Maafkan kami ketua. Kami tidak tau kalau itu adalah anda. Kami tidak menduga bahwa kota Tasik Putri kedatangan naga tadi malam." Kata Roger sambil jatuh berlutut.


"Oh. Tidak tau. Karena tidak tau, kalian berani sombong di depan ku. Andai itu bukan aku, kemungkinan kau pasti akan terus mem-bully orang kan?" Tanya Joe mulai sedikit naik darah.


Sepatah pun pertanyaan dari Joe ini tidak bisa mereka jawab. Apa lagi Roger. Mereka hanya menundukkan kepala saja.


"Jawab aku! Mengapa kalian diam?" Bentak Joe.


"Maafkan kami ketua. Kami mengaku salah."


"Ini adalah lampu yang anda inginkan itu. Tolong di terima." Kata Roger sambil menyerahkan kotak yang terbungkus dengan rapi kepada Joe William.


"Apa kalian pikir lampu ini terlalu berharga bagiku?" Tanya Joe yang seperti enggan menerima pemberian dari Roger itu.


"Aku ada sedikit pertanyaan kepada mu." Kata Joe lalu duduk di depan mereka yang berlutut.


"Paman Tigor pernah menceritakan kepada ku tentang suatu masa sekitar 17 tahun yang lalu bahwa kota Dolok ginjang pernah di serang oleh geng kucing hitam dibantu oleh geng tengkorak. Semua kelompok yang ada di kota itu hancur lebur dan melarikan diri ke kota Kemuning. Mereka yang jadi korban ketika itu persis seperti pengemis menjilat ke paman Tigor untuk menolong mereka dari kehancuran itu. Sementara itu paman Tigor pun tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan perlawanan andai kota Kemuning ketika itu di serang."


"Atas inisiatif dari paman Tigor dan anak buahnya, mereka lalu meminta bantuan kepada Ayah ku yang diwakilkan oleh Paman Arslan untuk membantu mengatasi masalah itu. Dan tidak sampai satu malam, dua kota besar berhasil ditaklukkan oleh anak buah Ayah ku dari Dragon empire. Apakah itu benar?" Tanya Joe.


"Sangat benar sekali ketua. Cerita itu bukanlah isapan jempol belaka. Memang benar adanya." Jawab Roger.


"Setelah kedua geng itu hancur, lalu kalian menggabungkan diri ke dalam organisasi Dragon Empire. Apakah itu juga benar?"


"Benar ketua. Kami adalah orang-orang Dragon Empire." Jawab Roger lagi.


"Dengan hilangnya dua kekuatan di dua kota yaitu geng kucing hitam dan Geng tengkorak, sudah pasti keadaan akan menjadi aman. Iya kan? Lalu, apakah kalian ingin memulai membuat keributan yang bisa menyebabkan nama Organisasi menjadi tercemar?" Tanya Joe sambil mengambil sebutir kerikil.


"Jawab aku!" Bentak Joe lalu,


Wuz..


Plak!


Pergerakan cepat dari tangan Joe ini tampak menjentikkan sesuatu. Tak lama setelah itu terlihat Roger memegangi kepalanya yang mulai mengalirkan darah segar.


Tidak ada keluhan. Juga tidak ada kesan kesakitan. Entah karena takut, atau karena merasa sangat bersalah.


"Apakah kalian akan menjadi penjajah di kota sendiri lalu mengatasnamakan Dragon empire? Jika seperti itu, aku akan membunuh kalian sekarang juga di sini. Hidup pun kalian tidak berguna jika hanya menjadi sampah bagi organisasi." Kata Joe lalu memungut beberapa butir lagi batu kerikil.


Semenjak bertemu dengan Tigor dan mendapat pencerahan tentang betapa pentingnya organisasi Dragon Empire bagi mereka semua, sebagai ketua, yang sebenarnya Joe sendiri pun tidak terlalu mengerti itu, Joe merasa memiliki kewajiban untuk memelihara serta melakukan beberapa pencegahan agar organisasi Dragon Empire ini tidak terlalu memiliki banyak masalah walaupun organisasi ini sebenarnya bergerak melalui lorong Hitam.


"Ampuni kami ketua. Tolong beri kami satu kesempatan lagi. Kami akan memperbaiki diri. Saya bersumpah tidak akan melakukan intimidasi lagi terhadap siapapun itu. Mohon ketua sudi memaafkan dan mengampuni kami." Kata Roger sambil merangkak mendekati Joe.


"Begitukah?"


"Benar ketua. Saya bersumpah demi anak dan istri bahwa saya tidak akan melakukan kesalahan yang bisa berdampak terhadap nama besar organisasi." Jawab Roger.


"Paman Ameng. Bawa orang ini pergi. Aku tidak mau melihat wajah mereka di sini."


"Aku maafkan. Tapi dalam beberapa hari ini, jangan tunjukkan wajah mu di depan mataku." Kata Joe sambil melambaikan tangannya persis seperti orang mengusir ayam.