Joe William

Joe William
Tanggal satu



Tanggal 1 pada hari yang telah ditetapkan oleh Tiger Lee, Zacky, dan kelompoknya bersama dengan Tigor, Andra dan Ameng akhirnya tiba juga.


Seperti yang telah diceritakan pada bab sebelumnya, bahwa untuk menghindari kekacauan yang lebih parah di Gang Kumuh, maka Tigor dan kawan-kawanya terpaksa mengalah. Hal ini mereka lakukan untuk menyembunyikan kekuatan mereka yang sebenarnya.


Setelah kata sepakat diambil, akhirnya mereka pun bertemu kembali pada tanggal 1 sesuai dengan kesepakatan ketika itu. Hanya saja, jika beberapa hari yang lalu Tigor hanya bertiga saja menemui Tiger Lee dan Zacky, kali ini tidak demikian. Kali ini, Tigor datang dengan serombongan lelaki berbadan tegap. Terhitung jumlah mereka ada tiga puluh orang.


Orang-orang yang mengikuti Tigor saat ini adalah, Andra, Ameng, Acong, Timbul, Ucok, Jabat, Sugeng, Thomas, Monang, dan Roger. Sisanya adalah orang-orang elite dari Dragon Empire, dan Organisasi tentara bayaran yaitu Tiger Syam.


Tigor yang berjalan paling depan tampak menenteng satu koper berukuran sedang. Sedangkan Andra, tampak menenteng kotak kecil persis seperti kotak harta Karun.


Setelah mereka tiba di salah satu restoran megah di kota Tasik Putri, manager restoran tersebut langsung mempersilahkan Tigor beserta rombongannya dengan sangat hormat untuk segera menuju ke lantai paling atas, atau Diamond VIP box di restoran tersebut.


Oleh karena Tigor cukup memiliki nama yang besar di kota Tasik Putri, maka, tidak ada yang berani arogan apalagi kurang ajar terhadapnya. Mereka semua tau bahwa Tigor ini adalah anak angkat dari mendiang Martin, sang penguasa kota Tasik Putri, suatu ketika dulu.


"Kemari kau!" Kata Tigor sambil menggamit tangannya ke arah manager restoran tersebut.


"Ya bang. Apakah ada sesuatu yang bisa saya kerjakan?" Tanya sang Manager restoran dengan sedikit terbungkuk.


"Apakah orang asing itu telah tiba di sini?"


"Sudah bang. Mereka sudah datang ke sini satu jam yang lalu!" Jawab manager itu lagi.


"Siapa saja yang datang?"


"Ada dua orang asing yang bernama Tiger Lee dan Zacky. Kemudian, ada Marven bersama dengan Irfan. Setelah itu, di sana juga ada penasehat Marven bernama Carmen Bond 070,"


"Hmmmm. Bagus. Terimakasih!" Kata Tigor menepuk pundak manager tadi.


Setelah selesai bersoal jawab, Tigor pun bersama sekitar tiga puluh orang yang mengikutinya, segera bergantian memasuki pintu lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai atas.


Benar jawaban sang manager tadi. Karena, begitu tiba di lantai atas, mereka sudah disambut oleh tepuk tangan dari Tiger Lee yang pada hari itu berpenampilan lebih tertutup dan rapi.


"Wah wah wah. Ternyata anda menepati janji anda, Tuan Tigor!" Kata Tiger Lee sambil bangkit berdiri menyambut kedatangan Tigor.


"Itu lah yang membedakan antara manusia dan kerbau. Jika kerbau, yang dipegang adalah tali. Berbeda dengan manusia. Manusia, yang dipegang adalah kata-katanya!" Semprot Tigor tanpa tedeng aling-aling.


Prok prok prok...! Terdengar suara tepuk tangan yang datang dari arah belakang Tiger Lee.


"Tigor. Kita bertemu lagi. Apakah kau masih mengenaliku?" Tanya seorang lelaki paruh baya berambut gondrong dan diikat ke atas. Lelaki itu tampak tersenyum sinis melihat ke arah Tigor.


"Hahaha. Siapa yang tidak kenal dengan orang culas seperti mu. Syukur kau masih hidup!" Jawab Tigor yang melangkah mendekati lelaki tadi.


"Kurang ajar kau Tigor! Aku masih memiliki dendam lama kepada mu. Kau.., bangsat rendahan yang berasal dari lubang sampah. Begini cara mu berbicara di depan ku?" Bentak lelaki gondrong tadi dengan kesal.


Tigor tersenyum menghina mendengar bentakan suara lelaki tadi. Dia menggelengkan kepalanya sejenak, sebelum meminta kepada seseorang yang berdiri di belakang lelaki itu untuk menarik kan kursi untuknya.


"Jangan ambilkan kursi untuk sialan itu!" Cegah salah satu dari lelaki yang berdiri di samping lelaki gondrong tadi.


Mendengar larangan tadi, Tigor langsung menoleh dan menunjuk tepat-tepat di depan batang hidung lelaki tadi, sambil berucap. "Diam kau benalu! Aku sedang tidak berbicara kepada mu. Kau dan ayah mu sama saja. Menjilat, Menghasut, memecah belah. Memang kalau moral warisan, tidak jauh beda dari yang mewariskan. Sebaiknya diam sebelum aku lempar tubuh kurus mu itu ke bawah!"


Merah padam wajah lelaki tadi mendapatkan penghinaan dari Tigor. Tampak otot-otot dan urat lehernya menegang menahan luapan kemarahan.


Tiger Lee yang mendengar pertengkaran ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak tau seperti apa riwayat hubungan antara mereka dengan Tigor suatu ketika dulu.


"Kursi kataku!" Membahana bentakan suara Tigor membuat lelaki paruh baya berambut gondrong itu sedikit terkejut.


"Sudah lah Tuan Tigor! Aku secara pribadi yang akan mengambilkan kursi untuk mu!" Jawab Tiger Lee mengalah. Dia melangkah mendekati satu kursi, lalu menyeret kursi tersebut dan memberikannya kepada Tigor.


"Silahkan!" Katanya dengan tangan terentang.


"Terimakasih, Tuan Tiger!"


Setelah Tigor duduk, lelaki berambut gondrong yang diikat ke atas itu segera berkata "Berani sekali kau hanya datang dengan membawa orang-orang yang berjumlah sedikit ini. Apa kau tidak khawatir kalau kami akan membantai kalian di sini?"


"Hahaha. Marven.., oh Marven. Apa yang perlu aku takutkan dari mu hah? Kau ingin membunuh ku dengan menggunakan tangan orang lain? Aku sudah berada dihadapan mu saat ini. Tunggu apa lagi?" Cibir Tigor menyepelekan.


"Kau?!"


Marven segera berdiri dan menunjuk ke arah Tigor. "Kau ini. Manusia hina-dina. Kau lupa dari mana kau berasal? Martin mengangkat mu dari tempat kotoran. Jika kami tidak menerima mu, niscaya kau akan mati di jalanan. Kau juga tidak akan pernah berada di tempat mu saat ini. Jadi, jangan belagu dihadapan ku!"


"Setidaknya aku bukanlah anak haram yang terlahir dari hubungan terlarang. Kau mengerti maksud ku, Marven?" Semakin pedas kata-kata yang keluar dari mulut Tigor.


Prak...!


"Kurang ajar. Aku ingin menyongkel biji mata mu, dan memotong lidah mu itu!"


"Apa kau mampu? Jika bukan karena aku, kau juga telah lama menjadi bangkai. Kau juga banyak berhutang kepada anak gelandangan seperti aku ini, Marven. Apa perlu aku sebutkan satu persatu?"


"Aku tidak pernah berhutang kepada siapapun!" Sergah Marven berang.


"Di tikungan Pitu, kau nyaris mati dikeroyok oleh anak buah Putra Birong yang bernama Hasian. Siapa yang menyelamatkan nyawamu bersama dengan Wulan putri Lalah? Aku lah Black Cat yang telah menyelamatkan dirimu. Apa kau lupa itu? Ketika kau berada di dalam penjara. Siapa yang menyantuni Keluarga mu di kota Tasik Putri ini? Aku yang menyuruh Roger, Ucok dan Jabat secara bergantian untuk mengirim uang kepada keluarga mu. Istri mu keguguran bukan karena stress kau berada di penjara. Tapi dia sengaja menggugurkan bayi kalian dengan alasan agar tidak menyusahkan. Ibumu masuk rumah sakit jiwa karena banyak tekanan. Memang itu aku akui. Tapi, siapa yang membayar uang perawatan itu? Itu adalah uang dari hasil Martins Hotel di kota Kemuning. Bangsat satu itu sama sekali tidak berbuat apapun! Kau tanyakan kepada adik tiri haram mu itu!" Kata Tigor menunjuk ke arah wajah lelaki yang dibentak oleh Tigor tadi.


"Apa benar itu, Irfan?" Tanya Marven melototkan matanya kepada lelaki yang berada di sampingnya.


"I-i-itu..., Itu...," Terdengar suara terbata-bata yang keluar dari mulut lelaki tadi.


Bersambung....