Joe William

Joe William
Beban pikiran Joe



"Kakek mau kemana?" Tanya Joe yang terheran-heran melihat Tengku Mahmud sudah berada di luar sambil membawa buntalan.


"Anak Jin! Sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di sini. Aku tidak ingin ikut campur dan tidak ingin menjadi saksi atas semua kejadian. Kau sudah cukup dewasa. Bekal mu juga sudah lebih dari cukup. Kau tidak membutuhkan siapapun sebenarnya. Hanya saja, kendalikan dirimu! Jangan terlalu baik kepada orang lain. Jika membenci, cukuplah sebencinya saja. Jika marah, cukuplah semarahnya saja. Jika mencintai, cukuplah secintanya saja! Tidak perlu berlebihan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Orang tua akan berpisah dengan anaknya. Kakek akan berpisah dengan cucunya. Istri akan berpisah dengan suaminya. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang abadi. Yang abadi hanya DIA! DIA YANG MAHA TUNGGAL! Jangankan dengan orang lain. Bahkan ruh pun pasti akan berpisah dengan jasadnya."


"Jangan terlalu bersedih jika mendapat musibah! Jangan pula terlalu bergembira jika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan! Semuanya hanya sementara. Pahit jangan cepat kau muntah kan, sedangkan manis, jangan pula cepat kau telan!. Dibalik setiap peristiwa, ada hikmah. Karena, sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan yang maha kuasa tidak ada yang sia-sia. Semua memiliki sebab-musabab."


"Manusia hanya bisa berusaha sebatas kemampuan yang dimiliki oleh nya. Jangan memikirkan hasil tanpa usaha. Sedangkan yang berusaha saja terkadang tidak mendapatkan hasil. Apalagi yang sama sekali tidak berusaha. Kau hanya perlu terus berusaha, kemudian pergunakan otak mu untuk berfikir. Di dunia ini tidak ada yang pasti. Kepastian hanya milik Tuhan. Aku hanya bisa menyampaikan kata-kata terakhir ku ini untuk mu. Selebihnya, kau sendiri yang akan mencernanya. Selamat tinggal untuk kalian berdua. Ingat pesan ku! Kau sedang diincar. Jaga jarak dengan orang-orang yang kau sayangi. Kecuali mereka memiliki kemampuan dan tidak lemah. Kau pasti faham maksud ku!" Kata Tengku Mahmud mengakhiri nasehatnya. Kemudian lelaki tua itupun berjalan menuruni tangga lalu segera melangkah meninggalkan halaman rumah yang sudah puluhan tahun ditempati olehnya itu.


Seperti terpukau, Joe dan Namora sama sekali tidak bereaksi. Dan itu hampir selama lima menit.


Setelah dia tersadar, barulah dia menyadari bahwa dia harus mengiringi kepergian orang tua yang telah banyak berjasa terhadap dirinya. Namun apa daya, Tengku Mahmud bagaikan hilang di telan bumi.


"Kakeeeeek!" Joe berteriak berlari kesana-kemari mencari keberadaan Tengku Mahmud. Namun sia-sia saja. Tengku Mahmud benar-benar telah menghilang.


"Tidak mungkin. Dari rumah ke jalan besar membutuhkan waktu paling tidak lima menit berjalan. Sedangkan jalan di depan sana lurus. Tidak mungkin dalam waktu lima menit bisa menghilang," gumam Joe sambil celingukan.


Namora juga tampak berlari sambil melirik kesana-kemari. Namun hasilnya tetap sama. Yaitu, tidak menemukan keberadaan Tengku Mahmud.


Joe benar-benar seperti orang linglung. Dia kini hanya terduduk di pinggir jalan dengan mata memerah menahan genangan air mata yang nyaris tumpah.


"Kau menemukannya, Namora?" Tanya Joe begitu Namora tiba di dekat nya.


"Saya tidak menemukan keberadaan Kakek Uyut Tengku Mahmud. Entahlah.., dia seperti menghilang di telan bumi," jawab Namora kebingungan.


"Aneh sekali," gumam Joe yang sejak tadi terduduk di jalan. Dia tidak lagi memperdulikan keadaan dirinya. Yang dia fikirkan adalah, mengapa secepat itu Tengku Mahmud menghilang.


*********


"Kau sudah datang kembali ke Kuala Nipah ini Joe?"


Terdengar sapaan dari arah belakang. Suara ini adalah suara seorang gadis. Dan, tentu saja Joe sangat mengenal pemilik suara ini.


"Tiara?!" Gumam Joe perlahan. Dia ingin menghindar. Tapi sudah tidak mungkin. Dia ingin berdiri dan memeluk gadis itu, tapi teringat pesan dari Tengku Mahmud tadi. Joe akhirnya serba-salah tidak tau harus berbuat apa.


Joe hanya mendongak memandangi gadis yang sangat manis itu tanpa tau harus memulai kata-kata dari mana.


Keadaan yang seperti ini tentu saja membuat senyum gadis itu berangsur-angsur memudar.


Namora tau bahwa pertemuan ini sangat dinanti-nantikan oleh Tiara. Dia tidak ingin menjadi perusak acara. Jadi, dia lebih memilih berlindung di bawah sebatang pohon kelapa dari sengatan matahari agak jauh dari tempat Joe dan Tiara tadi.


"Ada apa denganmu, Joe?" Tanya Tiara heran.


"Uhuk.., uhuk..! Aku.., aku tidak apa-apa. Hanya saja.., hanya saja..,"


"Hanya saja apa? Ada apa dengan mu?" Tanya Tiara lembut. Gadis itu lalu duduk bersebelahan dengan pemuda yang tampak dengan tampang yang sangat bodoh itu.


"Mati aku. Perasaan apa ini?" Tanya Joe dalam hati.


Jelas dia merasakan perasaan yang campur aduk ketika ini. Dia sangat bahagia. Ingin rasanya memeluk gadis itu. Tapi dia sangat takut kalau-kalau dirinya sudah ketahuan dan itu sangat berbahaya bagi keselamatan gadis pujaan hatinya ini. Tapi, apakah Tiara bisa mengerti?


"Kau terlambat, Joe! Maha guru Tengku Mahmud sudah berangkat kemarin tak lama setelah Paman Tigor pergi," jawab gadis itu. Ada pancaran kejujuran dimatanya.


"Apa? Ja-ja-jadi.., jadi.., yang tadi itu?" Tanya Joe dengan mata nyaris melompat dari rongganya.


"Yang tadi itu apa? Aku justru heran melihat mu. Baru saja tiba, sudah berlari menuju pantai lalu menceburkan diri ke dalam air laut. Setelah itu kau seperti orang linglung berbicara sendiri. Sahabat mu Namora juga aku lihat sama. Kalian bertingkah aneh sekali hari ini,"


"Tiara. Apa kau..? Aaaakh. Apa sebenarnya semua ini?"


Joe saat ini benar-benar seperti orang bodoh.


"Mungkin itu adalah salah satu dari kesaktian yang dimiliki oleh Maha guru Tengku Mahmud," kata Tiara yang hanya bisa menduga-duga.


"Tiara. Apa kau ingat tentang kata-kata ku yang dulu?" Tanya Joe.


"Kau terlalu banyak perkataan. Kata-kata yang mana?" Tanya gadis itu pula.


"Aku pernah mengatakan bahwa jika aku menjauhi dirimu, itu tandanya bahwa aku sangat menyayangimu. Apa kau masih ingat?" Tanya Joe.


"He'em. Aku masih ingat. Lalu?"


"Jauhi aku, Tiara! Aku memiliki ramai musuh. Tolong! Jauhilah aku. Aku tidak ingin nantinya kau akan menjadi korban salah sasaran dari permusuhan ini. Saat ini aku sedang diintai. Kau bisa celaka jika memaksakan untuk terus dekat dengan ku," pinta Joe dengan bersungguh-sungguh.


"Joe. Ada satu pertanyaan untuk mu dari ku,"


"Aku akan menjawab. Silahkan!" Kata Joe mempersilahkan.


"Apa kau mencintaiku?" Tanya gadis itu tiba-tiba membuat Joe sekali lagi seperti orang bodoh.


"Apa kau tidak merasakan perlakuanku selama ini? Tentunya kau bisa merasakan apakah aku mencintaimu atau tidak,"


"Aku butuh jawaban yang tegas!" Desak Tiara.


"Gatal kepalaku jika sudah begini," kata Joe mencakar-cakar kepalanya.


"Baiklah. Aku tidak mendesak mu. Lagi pula, siapalah aku ini," kata Tiara lalu segera berlari meninggalkan pemuda itu.


"Tiaraaaa!"


Percuma saja Joe berteriak memanggil nama gadis itu. Gadis itu sudah keburu jauh.


"Ya sudahlah. Mungkin inilah jalannya. Aku mencintaimu dengan caraku menjauhi mu," kata Joe lalu segera melangkah meninggalkan tempat itu menyusuri jalan tanpa arah tujuan.


Namora yang melihat ini, dia segera menyusul lalu mensejajarkan langkahnya dengan langkah Joe.


Kedua pemuda itu berjalan dengan mulut terkunci. Terlalu banyak teka-teki dan beban fikiran yang mereka rasakan saat ini.


Bersambung...