
"Sayang. Bagaimana dengan persiapan untuk Touring besok?" Tanya Joe kepada Tiara.
"Aku? Katanya sayang. Mengapa tidak kau saja yang menyediakan semuanya?" Ejek Tiara.
"Hahaha. Kau ini. Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya. Kemah dua, selimut dua, tikar dua, bantal, ranjang, Periuk, kuali, piring, gelas, mangkuk...,"
"Sudah sudah sudah! Kita mau berkemah atau mau pindahan? Siapkan saja alakadarnya!" Potong Tiara ketika Joe sedang berucap.
"Baru kali ini aku mengikuti kegiatan touring," kata Joe yang tampak kebingungan.
"Kan ketuanya adalah Jericho. Biarkan saja dia yang mempersiapkan seluruh list nya. Nanti, dia juga akan membagi-bagikan tugas kepada kalian masing-masing. Tidak perlu repot-repot mikir!"
"Ya sudah. Eh sayang, apa kau lapar. Aku sudah lama tidak makan enak. Bagaimana jika kita makan?" Ajak Joe.
"Di mana?"
"Pokoknya ikut saja lah!" Kata Joe sambil mengeluarkan ponselnya.
"Paman. Apakah ada orang-orang kita yang berada di kota batu?" Tanya Joe kepada Tigor melalui pesan WhatsApp.
"Ada, Ketua. Ucok dan Jabat saat ini berada di kota Batu."
"Terimakasih, Paman! Aku akan menghubungi mereka!"
Joe lalu segera mencari nomor kontak milik Ucok di daftar kontak miliknya, lalu menekan tombol panggil.
"Hallo ketua!"
"Paman. Maaf jika saya merepotkan Anda. Bisakah anda membawa saya ke gang Kumuh? Saya ingin makan malam di sana!"
"Di mana Anda saat ini?" Tanya Ucok.
"Saya akan mengirimkan lokasi saya saat ini!" Kata Joe lalu mengakhiri panggilan.
Tak berapa lama kemudian, tiga unit mobil BMW pun berhenti di taman kota batu.
Setelah Joe berbicara dengan beberapa orang yang di bawa oleh Ucok dan Jabat, mereka pun langsung mendorong Vespa milik Joe dan sepeda motor baru milik Tiara.
"Kirim motor butut ku ini ke bengkel! Setelah itu, antar motor milik calon nyonya muda ini ke alamat di kertas ini!" Kata Joe sembari memberikan secarik kertas kepada anak buah Jabat dan Ucok. Setelah itu, barulah Joe membukakan pintu mobil untuk Tiara.
"Mau makan di restoran mana, Ketua?" Tanya Ucok.
"Tower Restauran di gang Kumuh. Tapi, antar aku cukup disekitar 100 meter saja jaraknya dari depan restoran itu!" Kata Joe berpesan sebelum mereka berangkat.
"Baik. Silahkan masuk, Ketua!" Kata Ucok mempersilahkan.
"Terimakasih Paman!" Joe pun segera memasuki mobil dan duduk di samping Tiara.
"Ada urusan apa paman di kota batu ini?" Tanya Joe begitu mobil tersebut telah bergerak menuju ke gang Kumuh.
"Hmmm. Apa mereka sering mengunjungi si Marven itu?" Tanya Joe.
"Benar, Ketua. Mereka memang sering mengunjungi pusat tahanan kota Batu. Apalagi waktu bebasnya Marven tinggal beberapa bulan lagi. Mungkin sangat banyak persiapan yang akan mereka lakukan. Dan akhir-akhir ini beberapa mantan anggota dari geng kucing hitam, Tengkorak dan bekas anak buah Ronggur sudah mulai bergerak ke kota Kemuning. Mereka mungkin sedang membentuk aliansi. Semuanya pasti bertujuan untuk melawan kita,"
"Aku sudah lama siap, Paman. Seberapapun kekuatan mereka, mereka tidak akan mampu melawan kita. Hanya saja, yang aku khawatirkan adalah, mereka akan bermain kotor. Oleh karena itu, aku menginginkan bentrokan secara langsung. Aku ingin mereka menyenggol ku. Senggol, berarti bacok!"
"Bagaimana caranya, Ketua?" Tanya Ucok yang mulai serius menanggapi perkataan dari Joe tadi.
"Pantai Kuala Nipah!"
"Oh. Jadi, itu tujuan anda untuk memajukan pantai Kuala Nipah? Aku tidak berfikir sampai ke sana!"
"Aku sudah mendapat bocoran dari Albern. Mereka ingin mendirikan pabrik di Kuala Nipah. Kemana limbah pabrik tersebut akan mereka buang jika tidak ke laut? Jika limbah mereka lepas ke laut, berarti mereka telah menyenggol ku. Kita lihat saja! Ini adalah peperangan pamungkas antara keluarga William dan keluarga Miller. Persiapkan diri kalian, Paman! Sekali kalian mengikuti peperangan ini, tidak ada kata mundur. Atau, akan di cap sebagai pengkhianat. Tau apa hukuman dari organisasi jika dianggap pengkhianat?" Tanya Joe.
"Hahaha. Sebelum seperti ini, anda mungkin pernah mendengar siapa kami ini. Saya, Jabat , bang Tigor dan yang lainnya adalah setan jalanan. Darah bagi kami sudah biasa. Sebelumnya kami sudah berhutang banyak kepada Ayah anda. Kami juga telah bergabung kedalam organisasi Dragon Empire, bahkan sebelum anda lahir. Kalau masalah kesetiaan, anda mungkin bisa meragukan orang-orang dari Garden Hill. Tapi tidak dengan orang-orang dari Kota Kemuning!" Kata Ucok menegaskan kesetiaannya.
"Maafkan aku, Paman. Bukan maksudku untuk menyinggung perasaan anda. Aku hanya terbawa suasana hatiku ketika mengingat keluarga Miller ini. Beruntung bagiku bahwa mereka sampai saat ini belum mengenal wajahku. Apa kalian pikir aku tidak lelah harus terus-menerus menyamar seperti ini? Aku lelah. Aku marah. Aku emosi. Tapi mau bagaimana? Jika Honor ada di depan ku saat ini, aku pasti membunuhnya. Entah mengapa kebebasan Marven ini terasa lama sekali. Andai bisa dipercepat, aku pasti akan membayar sejumlah uang kepada pihak tahanan agar Marven bisa dibebaskan!" Ujar Joe sambil mengepalkan tinjunya.
Tiara yang melihat bahwa Joe sudah dikuasai oleh kemarahan langsung menggenggam tangan pemuda itu.
Joe kembali mengendurkan kemarahannya. Nyaris saja dia kelepasan kendali.
"Ketua.., kita telah sampai di gang Kumuh. Apakah anda ingin turun di sini?" Tanya Ucok ketika mobil BMW yang dia kendarai berjarak sekitar seratus meter lagi dari Tower Restoran.
"Ya. Kami akan turun di sini!" Jawab Joe yang langsung keluar dari mobil tersebut tanpa menunggu Jabat membukakan pintu.
"Ada apa dengan anak itu?" Tanya Jabat kepada Ucok setelah Joe dan Tiara sudah hampir tiba di depan pintu restoran.
"Entahlah. Aku merasa bahwa dia mendapatkan banyak tekanan. Aku merasakan perubahan pada dirinya. Dulu dia sangat lucu, sangat imut dan suka jahil. Tapi sekarang, banyak guratan pada wajahnya," jawab Ucok.
"Kasihan. Masa muda anak itu di rampas dengan urusan seperti ini. Dari kecil dia sudah sangat menderita. Sekarang, dia semakin menderita. Andai itu aku, aku pasti akan setengah gila," ujar Jabat yang merasa kasihan melihat Joe.
"Yah. Orang seperti kita ini hanya bisa membantu saja. Anak itu dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Tuan besar Jerry sungguh tega,"
"Pasti ada alasan lain. Mana ada orang tua yang mau anaknya mengalami penderitaan. Suatu saat Joe akan memetik dari apa yang dia usahakan sendiri."
"Ya sudah. Ayo kita pergi. Nanti kalau dia minta di jemput, kita akan ke sini lagi."
"Hei. Aku sudah lama tidak keliling-keliling di gang Kumuh ini. Apa kau tidak rindu?"
"Hahaha. Mumpung sedang di sini, ayo kita ke jembatan! Sekalian mengenang masa-masa susah kita dulu!" Kata Ucok.
"Let's go!"
Mereka pun berangkat menuju jembatan tempat tinggal mereka ketika menjadi anak gelandangan dulu.
Bersambung...