
Dalam perjalanan Kinara dan Azka asik berceloteh ria saling menggoda satu sama lain. sesekali mereka tertawa keras jika topiknya terlalu lucu. Entah apakah kebahagiaan itu akan selama nya ada?
"Kita udah sampai" ucap Azka saat sudah masuk ke dalam area parkiran rumah sakit.
"Bawain dong paperbag nya itu" titah Kinara dengan suara manja
"Iya nyonya Eins, manja banget sekarang" sahut Azka gemas menoel pipi chubby Kinara
"Iih kebiasaan banget"
Kinara keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu ke ruang rawat pak Rowi calon mertua Revan.
"Kinara ya?" suara pria dari arah berlawanan memanggilnya. Kinara mendongak melihat siapa sosok yang memanggil namanya..
"Eeh kak Beni ya??" Kinara memastikan orang di hadapannya memang benar Beni sahabat sang kakak yang sudah lama tidak berjumpa.
"Haha masih ingat juga ternyata, kirain udah lupa sama kakak"
"Masih lah, ingat-ingat lupa sih hehe, kak Beni apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat, dengar-dengar udah isi ya, selamat ya jadi ibu muda, gercep juga laki Lo"
"Hehe kok tahu?"
"Kemarin lusa mertua kamu ngasih undangan syukuran cuma kakak nggak bisa datang karena mama sakit"
"Oohh hehe, Tante Wini sakit apa?"
"Biasalah sakit udah tua, komplikasi lagi"
"Di rawat disini juga kan?"
"Enggak, mama di rawat di rumah sakit Citra Husada"
"Trus Kakak ngapain disini?"
"Itu...em ... itu lagi ada urusan dikit sama klien aku yang kebetulan di rawat disini jadi aku datang jenguk sekaligus lihat kondisinya kapan di perbolehkan pulang" bohong Beni mencoba menutupi maksud yang sebenarnya, ia takut jika harus mengatakan hal ini pada Kinara jika kedatangannya kerumah sakit karena ingin menyerahkan sampel DNA ibu kandung Revan.
"Ooh ya sudah aku duluan Kak mau jenguk calon mertuanya kak Revan"
"Ooh iya, emang sakit apa?" tanya Beni pura-pura tidak tahu
"Kecelakaan, ya udah aku duluan ya"
"Iya hati-hati" Beni mengelus dada merasa tenang setelah Kinara berlalu pergi, setidaknya untuk kali ini saja ia berbohong tentang kebenaran yang Revan simpan selama ini.
Azka bingung mencari bangsal tempat di rawat calon mertua Kakak iparnya, Kinara masuk lebih dulu meninggalkannya yang masih mengambil paper bag di bagasi.
"Aduh dimana sih?" Azka berjalan semabri menoleh ke kiri kanan. "Mana namanya juga aku nggak tahu lagi, ponsel ketinggalan dirumah duh apes banget sih" gerutunya
"Bruk"
"Eh maaf pak, saya nggak sengaja" ucap Azka yang tidak sengaja menabrak Beni yang sedang berjalan sembari memegang ponsel.
"E..eh nggak papa, kok kayak kenal sih?"
"Ha?" Azka melongo "Maaf pak tapi saya nggak kenal kok sama bapak"
"Tapi saya kayak kenal kamu, tunggu dulu, kamu kok mirip temen saya ya,"
"Ha??" Azka semakin melebarkan mulutnya benar-benar tidak mengerti dengan orang yang baru saja di tabraknya.
"Bapak kenal saya?" tanya Azka sekali lagi
"Iya muka kamu mirip sama temen saya"
"Namanya siapa?"
"Sean, orangnya bule juga kayak kamu gini"
"Sean siapa?"
"Sean, anaknya pemilik Eins Corp"
"Oooh pantas berarti kamu suaminya Kinara ya?"
"Kok tahu?"
"Jelas tahu saya kan sahabat Kaka ipar kamu"
"Hah, ooh gitu ya?, we..eh pak boleh tahu tanya dimana ruang rawat calon mertua Kak Revan hehe"
"Loh, kok malah situ nggak tahu, gimana ceritanya?"
"Di tinggalin tadi sama bini hehe, mau nelpon ponsel ketinggalan dirumah hehehe" ucap Azka garuk kepala
"Astaghfirullah, diruang VIP, tanya aja bagian administrasi"
"Tapi nggak tahu namanya pak hehe"
"Haduh Iki piye to, bilang aja pasien atas nama pak Rowi korban kecelakaan tadi malam"
"Ooh gitu ya, maaf pak merepotkan, makasih banyak"
"Iya sama-sama, saya duluan ya"
Azka melanjutkan langkah menuju ke bagian administrasi setelah Beni pamit, setelah mendapatkan informasi ia langsung bergegas menuju ke tempat yang dituju. saat tiba di lorong ruangan Azka melihat Kinara yang memasang wajah cemberut tengah menatapnya nyalang.
"Darimana aja sih lama banget" cecar Kinara
"Aduh jangan marah dong sayang, aku keliling nyariin kamu, untung tadi ketemu temennya kak Revan jadi mas tanya dulu ke orangnya"
"Emang punya ponsel di apain?
"Ketinggalan di dapur tadi kelupaan hehe"
"Astaghfirullah mas, kamu tuh ya"
"Stop jangan ngumpat, ingat pesan bik Siti tadi pagi apa"
"Ya udah masuk"
Azka mengikuti langkah Kinara masuk ke ruang perawatan, ada Revan, Lutfiah, Bu Rohana, dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 17 tahun, melihat ada tamu yang datang, Bu Rohana menyambut dengan terharu. ia tahu betul siapa yang datang menjenguk suaminya.
"Nak Kinara rupanya, sini duduk, ini suaminya ya?"
"I..iya Bu ini suami saya" ucap Kinara setelah mencium takzim punggung tangan wanita paruh baya itu diikuti Azka.
"Kalian serasi cantik dan ganteng"
"Hehe makasih Bu".
Kinara berbincang dengan Lutfiah dan ibunya, sesekali Azka ikut menimpali jika ia di tanya. sedangkan Revan sudah kembali ke kantor sejak mereka tiba karena ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan.
"Mbak Vi, kakak kenapa ya kok mukanya kusut gitu, ku dengar semalam juga nggak pulang ya?" tanya Kinara saat mereka sudah ada di koridor rumah sakit. Azka dan Kinara pamit pulang setelah berbincang banyak dengan bu Rohana.
"Ooh lagi capek urus proyek dek, semalam nggak bisa terjadi tidur juga nemenin mbak disini jagain bapak, sebenarnya udah mbak minta pulang tapi kakak mu ngotot nggak mau pulang" ucap Vivi menutupi kejadian sebenarnya yang terjadi semalam sesuai permintaan Revan.
"Ooh gitu ya kirain ada masalah berat, aku tahu banget kalau Kakak lagi ada masalah pasti wajahnya lesu kayak mayat hidup"
"Hem, emang sih, tapi kalaupun ada masalah sudah pasti dia ngomong kok sama mbak"
"Gitu ya, makasih ya mbak udah bisa ngertiin kak Revan, meskipun dia bukan saudara kandungku, tapi kak Revan satu-satunya orang yang peduli banget sama aku dari kecil" ucap Kinara sontak membuat Vivi menghentikan langkahnya.
"Mbak kenapa? kayak orang kesurupan"
"E ..eh engg...enggak papa kok, Mbak lupa tadi ibu minta buat Nebus obat yang beli di ambil, ya udah mbak balik dulu ya ambil resep nya di ibu" ucap Vivi mengalihkan topik.
"Oh gitu ya udah deh, aku duluan mbak"
"I..iya"
Setelah memastikan Kinara dan Azka semakin menjauh, Vivi terduduk lesu di bangku yang ada di koridor. detak jantung nya tak menentu mendengar ucapan Kinara tadi. "Jadi Kinara udah tahu kalau Revan bukan kakak kandungnya, tapi kenapa mas Revan menyembunyikan identitas nya dari semua keluarganya, atau memang mereka semua tahu tapi lebih memilih diam agar tidak ada yang merasa tersakiti?" batin Vivi dalam hati.