
Perkuliahan baru saja selesai, semua mahasiswa sudah keluar dari dari ruangan. hanya tersisa Azka dan Gugun teman yang baru di kenalnya saat masuk kuliah.
Gugun yang hobi membuat sketsa masih asik dengan kertas dan pena di atas meja. sedangkan Azka masih tertidur sejak 15 menit sebelum kelas selesai.
Gugun belum beranjak dari duduknya meski sudah ada 5 sketsa ia kerjakan sejak pagi tadi sebelum pergi ke kampus dan melanjutkan lagi setelah perkuliahan selesai. Gugun hanya merasa tidak enak pada Azka yang memintanya untuk tetap di kelas saat dosen masih menjelaskan materi.
"Anak orang kaya mah bebas ck" Gugun menoleh pada Azka yang masih asik mendengkur dengan mulut sedikit menganga. tak tega untuk membangunkan, Gugun kembali fokus pada goresan tangannya.
Di kelas lain Kinara hanya duduk bersandar di kursi di temani Reno. ia tahu jika Azka sudah keluar kelas sejak tadi tapi ia sengaja tak mau merecoki suaminya karena Gugun sudah mengirimkan pesan jika Azka tengah tertidur.
"Hei, lama-lama gue jadi peyek disini Ra" oceh Reno yang mulai merasa kesal.
"Tungguin gue Napa sih?"
"Lagian kenapa nggak Lo susul aja sih di kelasnya aneh banget sih Lo"
"Males gue ketemu cewek gatel"
"Argh siapa lagi sih?"
"Itu rambut cacing"
"Hah, si Lina, orang kayak gitu aja Lo ambil hati sih, lagian dia di kelas cuma sama Gugun, ayo deh gue antar"
"Aiih males jalan Reno...." ucap Kinara manja
"Hiih gue sumpahin anak Lo brojol kayak gue, dah lah gue jemput dulu laki Lo, jangan kemana-mana awas!!" Reno berucap sembari menatap tajam Kinara dengan dua jari ia arahkan di matanya.
Kinara hanya memutar bola mata jengah, "Cepetan deh" sahut Kinara jengkel.
Belum lama Reno beranjak meninggalkan nya duo rusuh yang baru saja ia gunjingkan bersama Reno datang membawa anak buahnya yang super duper berisik.
Kinara hanya menatap malas pada mereka berlima. bukan sekali ini saja Lina dan kawanannya merecoki Kinara bahkan sejak awal masuk kuliah, si pemilik gelar rambut cacing dari Kinara sudah sering membuat rusuh. meski mereka beda satu dua tingkatan tapi entah apa yang membuat Lina dan kawanannya selalu merecoki Kinara.
"Hei ukhti, bagi duit Lo" ucap Lina menggebrak meja.
Kinara hanya diam saja tidak merespon tetap fokus pada ponsel di genggaman nya.
"Hei, denger nggak sih.?
"Nggak punya kuping" ucap salah satu anak buahnya
"Udah ketutup hijab" sahut yang lain
"Hahahahaaaa" tawa menggema dari mereka berlima
"Kalian mau apa?"tatapannya tajam ia tujukan pada Lina. andai saja ia tidak hamil ingin rasanya ia remukkan wajah oplas itu.
Lina sebenarnya takut melihat tatapan tajam bagai samurai dari sorot mata Kinara tapi berusaha untuk tetap terlihat lebih kuat.
"Lo nggak denger tadi gue ngomong apa hah?" ucap Lina menggebrak meja sengaja membuat Kinara takut dan sedang menyembunyikan ketakutannya sendiri.
Kinara tersenyum miring, satu tangannya sedang merogoh ke dalam tas selempang nya mengambil sebuah pulpen kesayangannya. dan tangan satunya memasukkan ponsel ke dalam saku tunik nya.
Mata Lina berbinar kala melihat Kinara mengeluarkan uang merah dan sebuah pulpen dari tasnya.
"Lo mau ini?" tanya Kinara tenang menunjukkan uang merah itu di atas meja. Lina hendak merebut paksa tanpa basa-basi namun malah mendapatkan balasan menyakitkan dari Kinara
"Aaarrrggg" teriak Lina kesakitan karena tangannya di tusuk ujung pulpen oleh Kinara. rupanya Kinara lebih gesit dari dugaannya begitu tangannya hendak mengambil uang di meja dengan cepat Kinara meraih tangannya dan menancapkan ujung pulpen tepat di sela jarinya.
"Masih belum taubat Lo? harus gini ya caranya kalau mau dapetin uang? nggak kasihan Lo sama emak Lo yang sakit-sakitan dirumah, belum lagi bapak Lo yang mulung tiap hari buat ngasih Lo makan hah?" ucapan Kinara sontak membuat nyali Lina terhempas kenapa anak ini tahu tentang orang tuanya?
"Le...pa..sin..arrrghh sakiiit"
"Nggak bakalan gue lepas sebelum Lo sujud di kaki orang tua Lo ngerti?"
"Arrrghh....."
Ke empat anak buah Lina mundur perlahan karena takut Kinara akan melukai mereka juga. pada awalnya mereka mengira kalau kinara tidak akan berontak karena sedang hamil nyatanya justru sebaliknya wanita hamil itu terlihat menakutkan.
"Berani kalian mundur, nasib orang tua kalian di rumah di pertaruhan" ucap Kinara tegas karena ia tahu ada Reno, Gugun, dan Azka berdiri di pintu kelas memperhatikan aksinya.
Keempat anak buah Lina langsung diam di tempat tidak berani melangkah mundur. Kinara tidak perduli dengan teriakan Lina yang menghiba.
"Darah?" ucap anak buah Lina yang melihat ada darah keluar dari tangan bos gengnya.
"nah sudah, silakan kalian keluar dan temui orang tua kalian dirumah, maafkan aku Lina" ucap Kinara yang melihat Lina masih menangis
"Ke..kenapa Lo obatin tangan gue?"
"Karena gue tusuk berdarah jadi gue obatin lah, dah sekarang mendingan Lo pulang minta maaf sama orang tua Lo, kasihan mereka Lina"
"Da...darimana Lo tahu?"
"Itu urusan gue" Kinara tersenyum simpul lalu berjalan keluar kelas. keempat anak buah Lina menunduk ketakutan. sebenarnya mereka semua sama saja bukan dari kalangan orang berduit tapi karena pergaulan bebas dan kurangnya perhatian dari orang tua membuat mereka seperti itu.
"Darimana dia tahu keluarga kita sih?" ucap salah satu anggota geng Lina dengan kesal.
"Dia bukan orang sembarangan, asal Lo tahu dia yang menjadi donatur terbesar di kampus ini. gue pernah denger di ruang rektorat" jawab salah satu anggota lainnya
"Anak belagu gitu jadi donatur, emang dia orang kaya? gayanya udah kayak ibu-ibu gitu"
"Diem" bentak Lina pada anak buahnya yang masih mengomel. "Dia benar, kalau emang dia mau bunuh gue bisa saja tadi, tapi Lo lihat kan sudah nusuk tangan gue justru dia obatin lagi, kalian ngerti nggak sih??" omel Lina berdiri meninggalkan mereka yang masih terdiam, namun salah satu dari mereka rupanya ada yang menaruh dendam pada Kinara.
Reno yang pandai membaca watak orang sangat tahu dan tersenyum miring setelahnya ikut menyusul ketiga sahabatnya pergi.
"Hati-hati Lo, ini peringatan terakhir, sampai terulang lagi, gue nggak bakal ngelepasin kalian" ucap Reno pada Lina dan gengnya sebelum pergi.
"Gila tuh anak, ganteng - ganteng galak amat" oceh salah satu anak buah Lina yang menyiratkan dendam pada Kinara.
"Diam" bentak Lina membuat mereka semua diam. "Gue pulang" lanjut nya lagi meneruskan langkah dengan hati yang tak karuan setelah insiden tadi. jujur saja Lina takut dengan ancaman Kinara tadi. padahal selama ini ia sering mengganggu tapi Kinara tidak pernah berontak, baru kali ini Kinara benar-benar berontak bahkan melukainya dan tahu semua tentang kedua orangtuanya.
"Kenapa sampai segitunya sih sayang?" tanya Azka saat mereka sudah tiba di depan gedung rektorat duduk di gazebo yang ada di tepat di halaman depan gedung.
"Sesekali ngasih pelajaran buat mereka biar nggak berulah"
"Ya tapi nggak dengan cara kasar gitu sayang, kasihan loh,"
"Makanya jangan bangunin singa tidur kalau nggak mau di terkam"
"Lain kali jangan gitu lagi lah, bisa-bisa kamu yang di tuntut pasal penganiayaan "
"Iya ini yang terakhir mas, lagian aku juga punya alasan kenapa sampe begitu, tanya aja Reno"
Giliran Reno yang mendapatkan lirikan dari Azka seolah meminta jawaban.
"Tanya Gugun deh, dia tau juga kok" ucap Reno berdalih
"Huhalah mas Reno calon guru olahraga bergelar S.Pd, yang di tanyain situ kenapa harus sini yang jawab??" ucap Gugun santai sambil menikmati es jeruknya.
"Jawab Ren" ucap Azka tegas
Reno menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Lina pernah gebukin anak seni seangkatan kita dua bulan lalu sampai anak itu pingsan dan mendapatkan perawatan, waktu itu gue lagi di toilet ternyata kejadiannya pas setelah gue keluar dari toilet di dekat masjid kampus, Kinara pas masuk ke toilet juga katanya lihat kejadiannya langsung hubungin gue, waktu itu Lo masih ada kelas" jelas Reno Azka manggut-manggut mendengarkan lalu menatap pada Gugun yang masih asik dengan minuman di depannya.
"Hubungan nya sama Gugun apa?" tanya Azka
"Anak seni itu sepupunya Gugun" jawab Reno menatap Gugun
"Bener Gun?"tanya Azka
"Bener"
"Kenapa nggak cerita?"
"Gue udah cerita deh" balas Gugun
"Kapan gun?" tanya Azka
"Waktu gue minta izin nggak masuk mau ke polres urus kasus sepupu gue" ucap Gugun
"Oh waktu itu gue ingat tapi kenapa Lo nggak ngomong kasusnya gimana"
",Ya Lo kan nggak nanya Ka" ucap Gugun membela diri.
Kinara hanya memandang jengah pada ketiga pria di depannya.