KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
54 Bertemu Tanpa Sengaja



Kinara berjalan menyusuri koridor sekolah dan sesekali menyapa teman atau adik kelas yang berpapasan.


"Do," panggil Kinara. Aldo menoleh ke belakang karna mendengar suara orang memanggil nya.


"Udah selesai?" tanya Kinara


"Ya udah Do, gue duluan sampe ketemu nanti malam" Ucap Azka yang langsung pamit pergi saat Kinara menghampiri mereka.


Aldo hanya berdecak dalam hati melihat tingkah laku Azka yang dingin pada Kinara. Semenjak tragedi di kafe beberapa waktu lalu hubungan Kinara dan Azka semakin merenggang. Azka yang masih di kuasai rasa cemburu berlebihan tidak mampu mengontrol hati nya hingga setiap bertemu Kinara ia lebih memilih menghindar meskipun ia sedang bersama keempat sahabatnya.


"Yang sabar ya..." ucap Aldo menepuk pundak Kinara pelan


"Hem" balas Kinara pelan sembari menunduk mencoba untuk menahan agar genangan air mata itu tidak jatuh. Aldo langsung menarik lengan Kinara dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Hiks hiks hiks.." Kinara menangis sesenggukan di kursi penumpang. Aldo masih berdiri dengan posisi pintu mobil terbuka, mengangkat salah satu kakinya sembari memainkan ponselnya.


Aldo sengaja memberikan waktu pada Kinara untuk melepaskan semua kesedihannya. Ya meski ia sendiri tak dapat memungkiri bahwa ia juga turut andil pada tragedi itu.


"Ahh Andai waktu itu gue nolak, dan gue cari tahu dulu siapa yang ngirimin undangan ultah sama Kinar, kejadiannya nggak bakal seperti ini" batin Aldo merasa bersalah


"Do anterin ke rumah Om Denias sekarang" ucap Kinara dari dalam mobil.


"Emang boleh?"tanya Aldo


"Mau ngapain kesono sembeb?"


lanjutnya lagi


"Ck. cerewet amat lo.. dah ayo anterin" ucap Kinara lagi


"Okelah tuan putri" Jawab Aldo pelan seraya menghela nafas.


Aldo masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin.


"Ra lo yakin mau kesana?" tanya Aldo sebelum menjalankan mobil


"Iya, emang ada apa sih?"


Aldo menghela nafas berat. "Kalau sampe ketemu kembarannya gimana? bisa gagal nih rencana bos besar!" batin Aldo


"Ya udah, tapi lo izin dulu deh sama kak Revan atau ayah atau papa atau...." ucapan Aldo terpotong


"Udah jalan!" ucap Kinara ketus.


"Hem kalau udah gini bawaan nya gue pengin nyebur aja ke laut." batin Aldo sebal.


Aldo mengaktifkan pelacak yang berada di mobil dan mengirim lokasi tujuannya pada sang Bos, siapa lagi kalau bukan Mr. Anderson. setelah itu ia menjalankan mobil ke tempat tujuan.


"Do, nggak ada yang kalian sembunyiin kan dari gue?" tanya Kinara saat mereka tengah dalam perjalanan.


"Nggak!" Aldo menjawab singkat


"Kok gue ngerasa gitu ya?" tanya Kinara


"Ngerasa bagaimana?" Aldo balik bertanya


"Ya..gitu lah seperti ada yang kalian sembunyiin dari gue. Rekaman video dari galeri masih lo simpen kan?" tanya Kinara penasaran


"Masih lah, buat bukti suatu hari" Ucap Aldo tanpa filter otomatis kening Kinara berkerut.


"Maksud lo?"


"E..ehm nggak papa, siapa tahu suatu saat dalang kematian ibu lo bisa ke tangkep kan itu bisa kita jadikan bukti untuk polisi." ucap Aldo mencoba berdalih


"Hem, betul juga sih" Kinara menanggapi.


Sementara itu di kantor Eins Corp pak Anderson dan Pak Wibowo sedang mengadakan rapat dadakan bersama para petinggi dan pemegang saham yang masih mendukungnya sampai saat ini.


Sejak laporan yang di bawa oleh Sean dan Revan kemarin bahwa Amd Group akan menginvestasikan dana sebesar 2 triliun, mendadak para petinggi dan pemegang saham penasaran akan perusahaan kecil yang baru saja berdiri itu, pasalnya mereka juga terkena dampak kerugian akibat ulah Anthony.


Yusuf melihat notifikasi di layar ponsel sang bos yang tergeletak diatas meja. Ia segera meraih dan membaca pesan yang di kirim oleh Aldo dan signal pelacak yang langsung tersambung di ponsel sang bos.


"Haduh gawat, mana bos semuanya lagi rapat nih!"gumam Yusuf di meja kerjanya. Tak kehilangan akal ia segera menelepon Bambang.


"Arggh..mana nggak di angkat lagi" Yusuf menggerutu sembari bolak balik tak tentu arah di ruang kerja nya.


"Dah sampe' nona muda, mau turun apa gue yang turunin?" ucap Aldo di selingi tawa


"Ck, kebiasaan lo" omel Kinara seraya membuka pintu mobil


Kinara berdiri sejenak mengamati keadaan rumah tuan Denias yang nampak sepi dan hanya terlihat dua orang security yang sedang berjaga di pos. Kinara melajukan langkahnya ke gerbang yang tertutup.


"Assalamualaikum permisi pak!"


"Waalaikumsalam salam" jawab kedua satpam yang berjalan menghampiri nya


"Pak saya mau ketemu om Denis. orangnya ada nggak?"


Kedua satpam itu tahu jika yang datang saat ini adalah Kinara saudara kembar Keisya. salah satu satpam menyenggol lengan temannya.


"eh... non Kinara ya?"tanya satpam yang ber name-tag Ucup.


"Iya pak saya Kinara keponakan om Denis."


"Itu non.. anu..anu..." jawab Ucup gugup, Teman yang di sampingnya langsung menyela begitu melihat kegugupan Ucup.


"Gini non, tuan besar lagi keluar kota, kami sudah di amanahkan untuk tidak menerima tamu siapapun tanpa terkecuali" ucap Mamat.


"Berapa lama ya?"tanya Kinara penasaran.


"Saya juga kurang tahu non, soalnya tuan besar biasanya juga gitu kalau pergi suka lama baru pulang. kadang juga nggak pulang kerumah ini berbulan-bulan. biasanya sih ke Bintaro rumahnya Nyonya besar atau ke Surabaya ke rumah Eyang Anom" Mamat menjelaskan.


Kinara menghela nafas "segitu susahnya sih mau ketemu om Denis"batin Kinara.


"Oh ya pak, kalau ayah dan kakak saya apa biasanya tinggal disini?" tanya Kinara kemudian


"Kadang-kadang datang kasini kalau akhir pekan kadang juga tidak non, setau saya tuan bos tinggal bersama tuan muda di apartemen" jawab Mamat


"Hem, ya udah deh kalau gitu saya permisi lain kali aja aku mampir kasini lagi pak" ucap Keisya berpamitan. ada banyak hal janggal yang ia dapati hari ini. namun ia tepis dengan berbaik sangka.


Kedua satpam tadi akhirnya mengelus dada mereka karna merasa lega bisa melaksanakan tugas berat yang di berikan pada mereka kali ini. walau sebenarnya mereka juga merasa kasihan pada kedua saudara kembar itu.


"Do jalan" pinta Kinara saat sudah memasuki mobil.


"Loh katanya mau ketemu om Denis?"


"Nggak jadi, orangnya nggak ada" ucap Kinara lemas


" Terus kita mau kemana sekarang?"tanya Aldo lagi


"Ke mall deh keliling cuci mata, lama gue nggak nge-mall" ucap Kinara


"Ide bagus tuh cuss meluncur.." ucap Aldo girang


"Ngapain lo cengengesan nggak jelas?" tanya Kinara dengan kening berkerut.


"Nggak... nggak papa"


"Bilang aja seneng gue ajak cuci mata haahhaa" Kinara tertawa.


"Eh lo bawa baju ganti nggak?" tanya Aldo


"Nih ada cardigan, ada sendal jepit juga" jawab Kinara enteng


"Hah, sejak kapan ada sendal jepit dalam mobil?"


"Sejak lama kali... gue selipin di kantong kursi di belakang tempat lo duduk!"


"Tiap bersihin mobil gue nggak pernah menu tuh."


"Secara tiap hari sabtu gue ambil lagi lah.. ntar hari senin baru gue masukan lagi hahahaaa"


"Oohh .... jadi aroma terapi yang biasa gue cium dalem mobil itu dari sendal jepit lo.."


"Hahahahaa.... wangi nya bikin nagih kan ya... hahahaa" Kinara tertawa lepas


"Teroooss terooooss. ... " Ucap Aldo cemberut.


"Akhirnya setelah sekian lama gue baru kali ini liat lo ketawa lagi Kinar." batin Aldo senang.


Sepanjang perjalanan mereka di iringi canda tawa dan saling meledek hingga tanpa terasa mereka telah sampai di tujuan. Aldo segera melepas seragam yang melekat di tubuhnya begitu ia berhenti di parkiran.


"Woiii...lo liat-liat dong, ada penumpang lo kagak.. jangan asal buka baju" tegur Kinara


"Opps sorry lupa...lagian cuma buka doang, di dalem udah ada kaos, jadi nggak telanjang bulat"


"Tetap aja nggak sopan" ketus Kinara.


"Nggak usah sewot Lagian dari dulu lo tiap hari liat gue telanjang dada di sekolah." Ucap Aldo usil


"Itu kan dulu, gue belum baligh... sekarang lain ceritanya bapaaak... udah deh buruan keluar gue mau ganti"


"Selesai..dah gue keluar cepetan lo jangan lelet"


"Iishh cowok bawel kayak emak-emak arisan" Kinara mengomel sendiri. setelah Aldo keluar dari mobil ia segera melepas atributnya.


Baju atasan ia tutupi dengan cardigan kesayangannya, rok ia lepas dan hanya menyisakan celana kain sebatas mata kaki, sepatu ia ganti dengan sendal rumahan yang biasa ia pakai, berhubung jilbab yang ia gunakan instan ia tak melepasnya, hanya menambahkan kacamata dan memakai lipgloss. tak lupa tas ranselnya ia ubah menjadi tas selempang. karna tas yang ia gunakan memang 3 versi, bisa slempang, bisa ransel, bisa jadi tas jinjing. Kinara keluar dari mobil dengan penampilan yang terkesan sederhana.


"Ini lo?" Aldo menelisik satu persatu penampilan Kinara dari atas hingga ke bawah.


"Bukan...gue ondel-ondel" ucap Kinara


"Iish pa'an sih, nakutin lo ahh.." gerutu Kinara lagi di depan wajah Aldo sembari mengibaskan tangan


"Yess perfect, ala anak ndeso hahahahaaa sandal lo nggak cocok sembeeeb, pake high heels dong, masa pake sandal teplek gitu" ucap Aldo tertawa..


"Terooooos....terooooosss... seneng banget ngetawain gue..." Kinara melengos dan berlalu memasuki mall meninggalkan Aldo yang masih tertawa di parkiran.


"Buruan Aldo..." teriak Kinara yang sudah memegang handel pintu.


"Hahahaa.. sumpah perut gue sakit..kita ke gerai sandal sepatu deh..gue cariin sandal yang cocok buat lo.." Ucap Aldo saat sudah tiba di depan Kinara. ia langsung menarik lengan Kinara memasuki mall dan berkeliling mencari gerai sandal dan sepatu.


"Nah ini dia khusus cewek.. " ucap Aldo antusias memasuki gerai dan memilih sandal yang cocok dan pas untuk majikannya. Aldo masih tetap memegang erat lengan Kinara yang tertutup sweeter panjang sembari mencocok kan sandal yang ia liat.


"Nah yang ini cocok deh kayak nya" ucap Aldo tanpa menoleh pada Kinara yang sedari tadi menahan kekesalan nya. jika bukan di tempat umum Aldo sudah ia lempar dengan sandal yang ia pakai.


"Kak, liat yang ini dong, boleh di coba kan?" tanya Aldo pada sang pegawai


"Boleh dek, ini produk terbaru kami, limited edition, buat pacarnya cocok banget apalagi wajahnya imut gemeshin" ucap sang pegawai merespon.


Kinara bertambah geram dengan ucapan pegawai tersebut tapi ia tetap tersenyum ramah alias pura-pura ramah.


"Lo cobain dulu mbeb" titah Aldo sembari memberikan sandal pada Kinara.


"Nggak perlu di coba, itu udah ukuran kaki gue, modelnya juga bagus, sederhana tapi tetap terkesan mewah, nggak terlalu rame, warnanya juga gue suka, cocok sama sweeter gue, udah langsung keep aja" ucap Kinara panjang lebar, membuat pegawai tersebut melongo.


"Ini cewek keliatan alim tapi omongannya rada bar bar juga sih" batin pegawai tersebut.


"Keep ini ya kak" ucap Aldo pada pegawai toko


"Nggak perlu kak, sini aja langsung pakai" Kinara berucap


"Tadi gue suru cobain nggak mau" sanggah Aldo.


"Kapan gue bilang nggak mau?"


"Ck, susah deh ngomong sama orang yang otaknya diatas rata-rata" omel Aldo.


"Susah juga ngomong sama orang yang nggak nyadar megangin tangan majikannya nggak di lepas." balas Kinara ketus membuat Aldo langsung melepas genggaman tangannya.


"Ya maap refleks..." Ucap Aldo malu


"Ati-ati nyimpen hati sama istri orang" bisik Kinara di telinga Aldo membuat Aldo langsung melotot ke arahnya.


Kinara melengos seakan tidak terjadi apa-apa. ia sadar ucapan nya tadi mampu membuat Aldo salah tingkah dan merasa bersalah.


Setelah memakai sandal dan membayar, Kinara menenteng paper bag yang berisi sandal rumahan yang ia pakai saat memasuki mall tadi.


Aldo hanya mengekor di belakang Kinara tanpa banyak tanya. Ia merasa tersindir mendengar bisikan Kinara beberapa saat lalu. Ia sadar memang pernah menyimpan rasa pada istri sahabatnya itu. "Ahh kayak cenayan aja tahu isi hati gue, padahal udah lama tapi gue masih sayang sih sama dia, Hah dosa lagi dong mainin hati Ririn. ampuni gue ya Allah" batin Aldo gelisah.


Kinara hanya berkeliling dan melihat-lihat saja tanpa membeli apapun. padahal jika ia mau ia bisa membeli semua yang ia inginkan bahkan mall ini pun bisa ia beli. tapi Kinara tetap dengan kerendahan hati nya yang tak pernah berfoya-foya meski ia anak orang kaya.


Aldo yang sudah merasa kakinya pegal hanya mengikuti Kinara akhirnya bicara juga.


"Gue capek sembeeeeb, istirahat dulu deh, nyari minum yuk di lantai atas" ucap Aldo seraya mengacungkan tangannya ke atas


Kinara menoleh dan tersenyum, senyum yang pernah membuat Aldo merindukan senyum itu setiap saat (itu duluuuuuu).


Akhirnya Kinara memutar langkah menuju eskalator ke lantai atas dan Aldo hanya mengikuti langkahnya di belakang. Saat tiba di lantai atas Kinara memutar ruangan itu melihat situasi dan kondisi.


"Kita di sana aja yang pojokan" ucapnya pada Aldo


Bugh


"Auhh... maaf...maaf nggak sengaja kak" ucap Kinara menunduk lalu mengambil buku yang terjatuh dari tangan orang yang di tabraknya tanpa sengaja.


Ia memberikan buku tersebut dan meminta maaf..


"Dia...Ka..kak Kinara?" batin gadis di hadapan Kinara yang hanya diam membeku menatapnya.


Salah seorang wanita yang berdiri di samping gadis itu pun terkejut namun ia langsung menunduk.


"Kak ini bukunya, maaf ya aku nggak sengaja" Kinara meraih tangan gadis itu dan menyimpan buku itu di tangan sang gadis. setelah itu ia berlalu diikuti Aldo yang masih mengekor di belakangnya.