KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
28 Missunderstanding



"Jadi gini cara lo ngehargain Kinar heh?" Ucap Aldo seraya berlalu menyusul Kinara yang sudah keluar cafe.


Ucapan Aldo masih terngiang di kepalanya. Sejak pertengkarannya dengan Kinara kemarin tidak sekalipun mereka saling berbicara. Karna Azka pulang larut malam saat Kinara sudah terlelap bahkan sejak subuh Kinara sudah berada di dapur sedangkan papa memintanya untuk bertemu di ruang kerja bahkan sampai melewatkan sarapan.


Azka menyisir rambutnya frustasi. Kalau bukan kak Sean yang meminta tolong padanya untuk menjemput Erin di bandara, seharusnya saat ini ia sudah berada di bengkel bukan malah bertemu istrinya saat bersama Erin.


"aaarrghh..." Azka membuang bantal ke sembarang arah sebagai pelampiasan emosinya. hari ini dia langsung menuju ke apartemen setelah mengantar Erin check in hotel.


Flasback


Setelah mengantar papa ke butik, Azka berbalik arah menuju ke bengkel tempatnya bekerja Karna weekend selalu ramai dengan pelanggan yang mengantri.


Drrrt Drrrt


Azka meraih ponsel di saku celananya dan menjawab panggilan telepon.


"Hallo kak tumben lo nelpon?"


"Gue ada perlu..bisa enggak?"


"Perlu apa? buat jagain si kembar? gua enggak bisa hari ini bengkel rame"


"Ckk kebiasaan lo...gue belom ngomong lo ngoceh duluan."


"Iya apaan??"


"Hari ini Erin tiba di Jakarta dari Bali, bisa enggak lo jemput di bandara terus lo anterin check in di hotel gue?"


"Ogah!"


"Pliss dek bantuin kakak hari ini, soalnya si kembar lagi rewel udah imunisasi kemarin dan Kak Rania juga lagi demam."


"Emang enggak bisa pesan taxi? dia punya kaki dan tangan kan? gue gak mau!"


setelah melalui perdebatan panjang dengan Sean, akhirnya Azka mengalah dan terpaksa meminta izin untuk tidak masuk bekerja hari ini."


Setelah tiba di bandara rupanya Erin sudah Menunggunya. dengan terpaksa ia mengesampingkan egonya kali ini mengingat kesalahan yang pernah Erin lakukan padanya beberapa tahun silam.


"Kita makan dulu yuk, udah lama banget aku gak makan soto betawi, yang aku dengar ada restoran milik artis ternama yang menyajikan makanan khas Indonesia. kesana yuk" ajak Erin antusias


"Emang harus ke restoran artis? penjual soto betawi banyak. ke tempat langganan gue, lo mau ikut pa enggak terserah! gue enggak peduli!"ucap Azka ketus seketika membuat wajah Erin pias.


"Ya udah deh aku ikut kamu aja!"


Setelah tiba di tempat langganan, kedua netra Azka tidak sengaja bersitatap debgan Kinara.


Kinara tak bisa memejamkan mata sejak tadi. Bayangan saat gadis cantik berambut pirang itu bergelayut manja di lengan Azka terus berputar di kepalanya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Dari rahasia keluarganya yang baru ia ketahui hingga perlakuan Azka padanya sejak kemarin hingga hari ini benar-benar membuatnya frustasi.


Sudah 2 hari mereka tidak saling bicara bahkan setelah sampai dirumah pun ia tak melihat batang hidung pria yang kini menjadi suaminya itu. Kinara benar-benar tidak mengerti kenapa takdir mempermainkannya seperti ini. Saat ia sudah benar berusaha bangkit dari bayang-bayang kematian ibunya justru ia di hadapkan dengan fakta baru dan permasalahan baru lagi.


Apa Azka hanya menjadikannya permainan? Jika memang dia terpaksa kenapa dia tidak menolak pernikahan ini sejak awal? Kenapa harus sampai sejauh ini saat dia berusaha membuka hati malah Azka menjatuhkannya terlalu dalam. Jika boleh egois mungkin ia sudah memaki-maki Azka dan perempuan itu tadi tanpa peduli dengan tatapan pelanggan cafe yang melihatnya. Jika bukan karna menjunjung harga dirinya di hadapan suami dan sahabatnya mungkin ia sudah menangis meronta-ronta.


Berkat Aldo ia masih bisa menahan gejolak emosi yang sudah membumbung tinggi. Entah apa yang Aldo ucapkan pada suaminya saat ia sudah keluar dari cafe itu. Yang dilihatnya wajah Aldo yang merah padam saat sudah keluar. Sepanjang perjalanan pulang pun Aldo hanya diam tak bicara sepatah katapun.


🍁🍁


Siang ini sesuai janji yang sudah di sepakati bersama teman kelompoknya, bahwa hari ini Kinara dan teman satu tim akan mulai latihan drama di gedung teater sekolah setelah jam pelajaran terakhir selesai.


Saat ini Kinara dan Ririn sedang berada di perpus untuk meminjam buku paket. "Ra...."Kinara menoleh ke sumber suara ia berbalik dan melihat Rangga datang menghampirinya. Ririn yang mengetahui gelagat Rangga segera menjauh dan memberi mereka waktu berdua.


"Maaf ganggu, aku mau kembaliin ini aja." ucap Rangga seraya memberikan paper bag hitam. Kinara menerima dan melihat isinya rupanya itu sweeter kesayangannya yang ia cari-cari selama ini. "Emm kok ini ada di kamu?"tanya Kinara heran mencoba mengingat-ingat terakhir kali ia memakainya.


"Waktu itu kamu buru-buru nunggu jemputan di halte dan ini kelupaan jadi aku bawa pulang, dan maaf aku juga sempat lupa buat ngembaliinnya karna tersimpan di tas lama." jelas Rangga.


Kinara tersenyum samar melihat sweeter yang memiliki banyak kenangan waktu mereka bersama. Entah kenapa ingatan itu terlintas begitu saja.


"Makasih ya. Ku pikir ini udah hilang, aku udah cari ke semua tempat tapi enggak nemu, Rupanya ada di kamu. Sekali lagi makasih" ujar Kinara. Rangga mengangguk membuat mereka akhirnya merasa canggung setelah sekian lama tidak berbicara seintens ini.


"Emm ya udah aku duluan... Kabarin aja kalo mau latihan nanti" Rangga kikuk seraya menggaruk tengkuknya.


"I-iya..." jawab Kinara canggung. Setelah Rangga keluar ia mengatur nafas untuk meredam detak jantungnya yang tak karuan.


"Wei napa lo?" Ririn menoel pipinya


"masih nerves aja ketemu mantan xixi" Bisik Ririn.


"Paan sih sok tau" Kinara tersipu.


"Do, aku mau latihan dulu di teater, kamu mau nungguin?" tanya Kinara setelah jam pelajaran terakhir selesai.


"Tungguin aja bos lu Do, gua duluan udah hampir telat." Azka menyahut sebelum Aldo sempat merespon Kinara di antara mereka. Azka melengos keluar kelas tanpa menoleh sedikitpun.


"ckck tuh anak sarap?" omel Aldo melihat punggung Azka yang sudah berlalu.


Kinara tersenyum pedih melihat sikap Azka yang masih mendiaminya sejak 4 hari ini bahkan hampir tidak pernah bertemu dengannya di rumah. Azka menghindari nya sejak pertengkaran waktu itu.


"Sabar aja punya laki sarap kek dia,ntar waras sendiri, dah yuk gua anter ke teater noh kelompok lo udah pada jalan" ajak Aldo. Kinara mengikutinya.


Setelah mencapai kesepakatan akhirnya pemeran utama di perankan oleh Kinara sebagai Dayang Sumbi, Rangga sebagai Sangkuriang. Latihan pertama hari ini mereka olah dialog masing-masing peran serta pengaturan panggung dan busana apa yang akan mereka kenakan. mengingat waktu hanya 2 minggu sebelum pementasan, sejak awal Ririn sebagai ketua kelompok sudah menyiapkan semua keperluan pentas termasuk busana pemeran utama.


Aldo masih asik duduk di barisan penonton memainkan ponselnya. " Dasar banci ciih" omelnya saat melihat seseorang di luar gedung berlalu begitu saja. Ia tahu siapa sosok itu hanya dengan melihat punggungnya.


"Wooii lu gak pulang beb? Bos lu udah mau pulang noh!" Ririn menoel hidung kekasihnya.


"Ohh udah kelar? Gua gak nyadar hehe!" balas Aldo cengengesan.


"Pulang bareng gimana sekalian aku anter" tawarnya lagi pada si cinta.


"Ogah! gua udah di jemput bang mamat, gua duluan byee muach!" Ucap Ririn sok cium jauh.


"Kalian ini pacar rasa temen kek di webseries yang biasa gua baca" Ucap Kinara


"Udah dari sononya sih gitu, dianya orang santuy, gua ngimbangin aja toh gua juga aslinya nyantui haha" cerocos Aldo.


"Kadang iri sih liat cara kalian pacaran, pantesan awet!" ucap Kinara


"Jujur apa boong nih Ra?"cibir Aldo


"Emang tampang gue boong?" sahut Kinara dan di sambut gelengan kepala Aldo


"Gue malah pengen kek kalian langsung sah biar bisa selalu samaan, karna gue benci rasa khawatir terlebih kalau kangen heheehe" Aldo nyengir


"Udah gak sabar lo?." Goda Kinar


"Biasa aja tuh hahaha" sanggah Aldo


"Dah anter gue ke apart sekarang ada yang mau gue ambil" Ajak Kinara menyudahi obrolan mereka saat sudah sampai di parkiran.


🍁🍁


Azka sampai di apartemen, ia menaruh sembarang tas punggungnya lalu segera ke kamar mandi setelahnya bersiap-siap berangkat ke tempat kerja. Meski suasana hatinya masih belum membaik setidaknya hanya dengan bekerja ia bisa sedikit melupakan masalahnya kali ini.


Azka segera membuka pintu apartemen bersamaan dengan itu seorang gadis juga hendak memencet bel namun tangannya tertahan di udara karna pintu telah terbuka.


"Erin?? Ngapain sih lu kesini segala? Dari mana lu tau apartemen gua heh?" cerocos Azka jengah melihat kehadiran mantan tetangga sekomplek sekaligus orang yang pernah hampir ngubrak abrik hidup Azka dulu di Jerman karna kesalahan yang gadis itu lakukan padanya.


"Rahasia... Anterin aku keliling kamu enggak sibuk kan?"


"Pergi sendiri..gua mau berangkat kerja udah telat" tolak Azka, Erin mencebik kecewa.


"Minggir! gua mau lewat" ucap Azka ketus setelah menutup pintu apartemennya. Erin yang gelagapan langsung meraih lengan Azka dan memegangnya erat.


"Lepasin Erin!" Azka mengibas kasar tangan Erin namun gadis itu masih kekeh memegang erat lengan Azka.


"Anterin aku keliling please babe" rayu Erin sekali lagi membuat Azka semakin jengah di buatnya.


" Ohh jadi gini cara lo heh? Dasar banci lo.." Ucap sarkas seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Al...Aldo..? Gua bisa jelasin! In...ini.."


"Lo mau bilang apa lagi heh? Belum cukup lo sakitin Kinar sekarang lo berdua sama cewek lain di depan bini lo sendiri?? Apalagi yang mau lo jelasin??" ucap Aldo pelan namun mampu membuat lidah Azka bungkam seketika saat tatapan matanya bertemu dengan Kinara di belakang Aldo. Ia lemah sangat lemah jika menatap manik cokelat gadisnya yang sendu.


Aldo menarik lengan Kinara dan mengajaknya pergi. Kinara hanya menurut saat mobil mereka melaju keluar dari pelataran apartemen.


Azka masih bersitegang dengan Erin yang kekeh memintanya untuk menemani keliling kota.


"Belum puas lo ancurin hidup gue dulu dan sekarang lo mau bikin drama apalagi Erin?" gertak Azka sarkas lalu pergi meninggalkan Erin yang masih tergugu di tempat.


Gadis itu hanya bisa memandang sayu punggung Azka yang sudah menghilang.


"Maaf, maaf Eins ku pikir aku masih bisa rupanya tidak" jerit hati Erin. Pedih mengingat kesalahan yang pernah ia lakukan pada Azka.