
Selesai jam perkuliahan Reno pergi ke tempat kos-kosan yang akan di tempati Hanan sembari menunggu kedatangan pria yang selalu tampil rapi itu.
"Mas Reno baru datang?" tanya satpam yang menjaga kos-kosan saat ia baru saja tiba dan memarkirkan motornya di tempat parkir.
"Iya bang, gimana kondisi kos, aman kan?"
"Alhamdulillah aman bos, kemarin ada anak baru yang masuk di kos paling ujung itu, dua orang anak kuliahan juga" ujar pria bertubuh gempal itu
"Oh, udah ketemu sama ibu kan?"
"Udah kemarin ibu sendiri yang nganter ke sini bos"
"Oh ya udah, kalau ada keluhan langsung bilang ke saya ya bang, nanti malam ada teman saya yang ngekos di no 12 datang tolong di bukain pintu"
"Sip bos, mas Hanan yang dosen itu kan?"
"Dosen?"
"Lah bukannya dia dosen bos?"
"Ah bukan, dia mahasiswa pindahan baru semester tiga"
"Masak sih, tapi anak saya bilang kalau itu dosennya di kampus"
"Emang anak bang Randi kenal dimana?"
"Di kampusnya lah bos"
"Kakaknya kali bang, soalnya dia cerita kakaknya itu dosen di universitas Islam, lulusan Cairo Mesir"
"Wah bisa jadi, tapi emang mirip kali ya bos"
"Bisa jadi, ya udah saya masuk dulu ya, mumpung saya disini nanti malam temenin saya ngecek keadaan kos ya bang lepas maghrib"
"Oke, nanti bang Juki juga datang bos"
"Oh oke"
Reno berjalan menyusuri lorong kos-kosan yang pintunya rata-rata tertutup rapat karena sang penghuni memang sedang keluar. meski ada berapa penghuni juga masih ada, yang baru keluar hendak pergi dan menyapa Reno.
"Sore bang," sapa salah satu penghuni kos
"Sore, shift malam ya bang?"
"Iya nih, keburu telat, duluan ya bang"
"Yuhu, hati-hati bang"
Setelah bersapa Reno langsung masuk ke kamar no 12. merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang memang sudah di sediakan ibunya semenjak Hanan menyewa kos-kosan.
Reno memandang langit-langit kamar yang putih, angannya menerawang beberapa tahun lalu saat ia dan ibunya pernah hidup dalam kesusahan, bahkan hanya untuk sesuap nasi saja mereka tidak mampu.
Reno kecil hanya hidup berdua dengan sang ibu yang bekerja hanya sebagai buruh cuci. hidup dalam kesusahan sejak kecil membuat Reno menjadi laki-laki sangat bertanggung jawab pada wanita yang telah melahirkannya itu. setiap sore sepulang mengaji di surau, ia pergi membantu membuat keripik di rumah tetangga untuk di jual di sekolah esok paginya. untung penjualan yang tidak seberapa ia gunakan untuk membeli beras agar sang ibu bisa makan sepulang bekerja.
Tidak ada apapun yang tersisa semenjak ayahnya pergi meninggalkan ibunya merantau ke luar pulau kecuali hanya sepetak tanah warisan dan rumah yang mereka tempati. namun kabar duka datang setelah beberapa tahun ayahnya tidak pulang. ayahnya mengalami kecelakaan kerja di tambang saat menggali tanah dan nyawanya tidak bisa tertolong.
Reno dan ibunya tidak lantas larut dalam kesedihan, mereka bahu membahu mencari nafkah tanpa lelah. Hinga suatu hari mereka bertemu dengan nyonya Amina yang sedang mencari asisten. saat itu Reno masih kelas empat sekolah dasar.
Berbekal nekat dan niat merubah nasib ibu Reno menyetujui bekerja di rumah tuan Wibowo sebagai asisten nyonya Amina. saat itu perlahan kehidupan Reno dan ibunya mulai membaik. selang beberapa bulan menjadi asisten nyonya Amina, ibu Reno di lamar oleh salah satu pejabat pemerintahan. mereka akhirnya menikah dan tinggal di rumah sendiri. Reno memiliki dua orang adik laki-laki dari ayah sambungnya. namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. saat sang adik berusia 5 tahun sang ayah sambung meningggal karena sakit keras.
Nyonya Amina yang memiliki hubungan baik dengan ibu Reno dan keluarga besar dari pihak ayah sambungnya bertekad untuk menafkahi Reno dan kedua adiknya hingga lulus kuliah dan bisa bekerja. nyonya Amina juga memberikan modal usaha pada ibu Reno untuk membuka usaha warung dan kos-kosan yang sekarang di tempati Reno.
Angannya terhenti saat pintu di ketuk dari luar. Reno beranjak membukakan pintu dan rupanya sang ibu yang datang ke kos.
"Kamu disini, ibu kira yang sewa kos udah datang, ini ibu bawain makan malam" ibunya masuk dan menaruh rantang di atas meja.
"Kenapa ibu yang repot bawain makan malam, si Nori mana nggak bantuin?"
"Nori kerumah sakit baru saja, neneknya mendadak pingsan masuk ICU"
"Owh, Arka sama Dimas kemana?"
"Latihan futsal di gor mau tanding katanya Minggu depan, kamu nggak kuliah apa udah pulang?"
"Baru aja pulang Bu, Hanan katanya masih di perjalanan, tengah malam mungkin baru sampai. kalau barang-barang nya udah ada di terminal kayaknya sih nanti biar bang Juki yang ambilin".
"Owh, kuliah kamu baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah baik, tinggal nunggu nilai keluar Bu, udah selesai ujian semester"
"Syukurlah, Ren, ibu mau pergi ke kampung boleh nggak?"
"Ngapain Bu?"
"Ibu mau lihat tanah dan rumah almarhum ayah kamu, udah lama nggak di jenguk, kata bude mu ada orang kota yang mau beli, sempet nawar tapi budemu bilang nggak di jual karena itu tanah milik kakaknya"
"Nanti lah kalau Reno udah ada kepastian libur semester Bu, kita kesana bareng, aku juga harus izin dulu sama bos besar"
"Emang kamu di tugasin apa sama pak Anderson?"
"Jadi sopir pribadi anak dan mantu kesayangannya"
"Owh, la kenapa kamu disini kalau gitu"
"Udah izin sehari semalam, lagian pada libur mereka nggak kemana-mana, ada juga sopir rumah kalau mau pergi"
"Owh Ren,ibu dengar pak Wibowo sama anaknya yang hilang itu pergi ke desa ya?"
"Hem, pulang kampung lah tepat nya Bu, si Keisya adik kembarnya Kinara pengen masuk pesantren katanya"
"Owh gitu toh, trus yang megang kendali perusahaan siapa?"
"Kak Revan dan Kinara. Kinara pemilik sah, yang menjalankan roda perusahaan kak Revan. sebenarnya kak Revan udah punya perusahaan sendiri di bidang IT dan keamanan. tapi karena Kinara belum mau terjun langsung jadi kak Revan yang megang kendali"
"Hem gitu, ibu ketemu pak Wibowo beberapa hari lalu di kantor notaris"
"Ibu pas lagi ngurus sertifikat tanah almarhum bapak yang di daerah C. kebetulan beliau juga lagi ngurus surat tanah juga."
"Owh gitu"
"Ren, Keisya itu gimana sih ibu penasaran banget belum pernah lihat"
"Ya mirip Kinara lah Bu, cuma beda tahi lalat doang di dagu, kalau Kinara berhijab si Keisya nggak, penampilan nya tomboi senengnya pake baju kedodoran sama celana kulot atau jeans panjang, nggak pernah pakai rok apalagi gamis. Rambutnya selalu di kuncir kuda atau dicepol asal-asalan, trus anaknya introvert gitu Bu, pokoknya beda 100% lah sama kakaknya"
"Kamu sampai hapal gitu Ren, hahaha"
"Ah ibu, biasa aja mah"
"Kalau ibu jodohin kamu sama Keisya gimana?"
"Apa? Nggak level, jangan di jodoh-jodohin dong Bu"
"Hahaha, nggak lah siapa juga mau jodohin kamu, cari aja sendiri yang penting baik agama dan prilakunya, udah itu aja ibu mah"
"Trus dapat ide darimana mau jodohin aku sama Keisya, ogah lah bukan tipeku Bu"
"Hahaha ya sudahlah ikuti saja jalan takdir, udah mau Maghrib ibu pulang ya, nanti kalau temen kamu datang besok pagi bawa kerumah"
"Okelah sip, bilang ke Arkan sama Dimas Bu kalau masuk finalis jangan lupa datang ke kampus, kebetulan sesudah Turnamen di GOR, ada kejuaraan lagi di kampus ku, prodi ku kerjasama dengan dinas pendidikan."
"Iya nanti ibu sampaikan, jangan lupa cek kondisi kos, seminggu yang lalu ada yang kehilangan uang, untung nggak banyak cuma 200 ribu, tapi bagi mereka bisa buat beli beras dan makanan untuk seminggu."
"Oh iya Bu, udah ketemu kok pelaku nya"
"Ah masak, kok ibu nggak tahu?"
"Pak duda itu kan yang kehilangan uang?"
"Iya, yang di kamar no 7"
"Anaknya dateng minta uang buat bayar SPP tapi nggak ngomong sama bapaknya, pas dateng bapaknya lagi mandi, nggak tahu kalau ada anaknya dateng Bu gitu ceritanya"
"Oh gitu, ya udah sana mandi trus siap-siap sholat Maghrib assalamualaikum"
"Waalaikumsalam hati-hati Bu"
Reno kembali menutup pintu setelah ibunya benar-benar menghilang di balik pagar. Reno mendesah berulang-ulang. ada rasa kasihan melihat ibunya hidup sendiri sejak dulu, beruntung ada Arkan dan Dimas yang selalu ada menemaninya, meski mereka masih duduk di kelas dua SMP tapi kedua adik seibunya itu selalu kompak menjaga ibu mereka, bahkan mereka selalu melarang Reno melakukan apapun jika pulang kerumah, mereka mengerti betul jika Reno menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayah mereka tiada. meski mereka lahir dari ayah yang berbeda. tapi kasih sayang mereka tidak bisa di ukur dengan apapun.
Reno masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu pergi ke masjid. seperti janjinya pada bang Randi setelah sholat Maghrib dan makan malam mereka mengecek kondisi kos-kosan yang berjumlah 25 pintu itu.
Setelah memastikan semua dalam keadaan aman, Reno kembali ke kamar kos yang ia di sewa Hanan. sembari menunggu pria itu tiba.
tepat pukul dua belas malam pintu kamar di ketuk beberapa kali dan suara salam terdengar bersahutan. Reno mengerjap memindai kamar dan melihat jam di dinding sudah pukul 12 malam lebih lima belas menit.
mendengar namanya di sebut dari depan pintu, ia bergegas turun dari pembaringan dan berjalan gontai ke depan. setelah pintu terbuka helaan nafas dari tiga orang di depan pintu terdengar. ada juga beberapa yang berdiri di belakang mereka yang juga melakukan hal sama.
"Alhamdulillah" ucap mereka serempak membuat Reno seketika memicing kan matanya.
"Kalian kenapa? ini kok pada ngumpul disini bukannya enak-enak tidur" ucap Reno yang masih tidak mengerti.
Hanan menerobos masuk kamar tanpa peduli omongan Reno. tubuhnya sudah sangat lengket dan apek perjalanan yang memakan waktu hampir dua belas jam. beruntung tadi selepas sholat isya bang Juki satpam yang ikut berjaga di kos sudah mengambil barang-barang miliknya di terminal bus.
Hanan masuk ke kamar mandi membasuh kaki dan mencuci muka lalu berwudlu. ia masih tak peduli dengan percakapan mereka di depan pintu kamar. meski sedikit kesal tapi ia juga memaklumi mungkin saja Reno kelelahan dan tidur sangat nyenyak, hingga membuatnya lelah menunggu selama hampir setengah jam lamanya untuk di bukakan pintu.
"Sorry nan gue ketiduran, tadi lupa nitip kunci cadangan sama bang Juki" ucap Reno yang masuk kembali ke kamar setelah penghuni lainnya masuk ke kamar masing-masing.
"Iya nggak papa, yang penting sekarang bisa istirahat, ini ada makanan kamu yang masak Ren?"
"Bukan, itu ibu kos yang ngaterin tadi, emang biasanya gitu tiap tiga hari dalam seminggu selalu nganterin makanan buat penghuni kos, tiap hari Senin, Rabu dan Jumat"
"Owhh kebetulan saya lapar, ini masih enak kan Ren?"
"Iya lah udah gue angetin tadi sebelum tidur biar Lo bisa langsung makan, lagian tadi sore mau maghrib ibu kos dateng kesini nganterin makanan"
"Baik banget ya ibu kosnya Ren, kalau gini aku bisa hemat pengeluaran, bisa di tabung buat masa depan hehe" Hanan berucap seraya menyendok nasi
"Udah mikirin masa depan Lo, umur baru 20 juga, gue masih santai belom kepikiran malah"
"Emang kamu mau selama nya hidup sendiri Ren?"
"Ya nggak lah, gue belom mikir aja kesitu masih pengen berkarir dulu bahagiakan ibu nyekolahin adek-adek gue sampai lulus kuliah, baru deh mikir nikah"
"Adek kamu berapa?"
"Dua cowok semua masih SMP, saudara seibu beda bapak" ucap Reno mengenang
"Owh maaf Ren, nggak ada maksud buat nyinggung kamu" ucap Hanan merasa bersalah
"Nggak papa emang Lo harus tahu nan, ayah kandung gue meninggal kecelakaan kerja di tambang, trus ibu gue kerja sama almarhum pemilik perusahaan tempat Lo kerja sekarang, selang berapa bulan ibu gue di lamar sama pejabat temen baiknya nyonya Amina, pas adek-adek gue umur lima tahun bapak meninggal karena kanker hati. sampai sekarang gue berjuang buat mereka nan"
"Kamu kuat Ren, saya salut semoga suatu saat akan ada berkah hidup buat kamu amiiin"
"Amiiin oh ya ibu kos tadi pesen besok Lo harus dateng kerumahnya"
"Loh ada apa Ren, uang kos kan udah saya bayar setahun"
"Udah datang aja, ibu kos memang selalu begitu sama penghuni baru, besok sama gue sekalian gue mau ketemu adek-adek gue dirumah"
"Oh iya-iya besok pagi ya, soalnya siang akan harus wawancara di perusahaan KSW group"
"Iya beres dah," Reno berjalan ke arah kamar mandi.
"Ini masih sisa banyak saya simpan buat sarapan ya Ren?"
"Yuhuuuu silakan aja nan, tapi di angetin dulu biar nggak basi, udah Lo obok-obok kan tadi" ucap Reno dari dalam kamar mandi.
"Hehehe sip"