
"Gimana kondisinya dok?" tanya Azka pada dokter Siska yang baru saja selesai memeriksa Kinara. Azka sengaja menemui dokter Siska di ruangannya agar lebih leluasa jika ada yang ingin ia tanyakan.
"Masih lemas katanya, itu sudah hal yang lumrah bagi ibu setelah melahirkan, apalagi ini anak kembar, beruntung Kinara punya tenaga ekstra saat mengejan, sehingga mereka bisa lahir selamat, vitaminnya di minum ya, biarkan Kinara istirahat dulu sampai besok, pagi saya akan visit kalau kondisinya lebih baik bisa di bawa pulang dan rawat di rumah aja, tadi udah bisa saya ajak ngobrol berarti sudah banyak kemajuan, saran aku, jangan sampai Kinara stres ya itu bisa mengganggu kondisi mentalnya, kasihan anak kalian, kalau bisa untuk sementara jangan biarkan Kinara bekerja sampai nifasnya selesai, untuk diet setelah melahirkan bisa konsultasi sama bidan Yunik aja ya" terang dokter Siska panjang lebar
"Diet?" tanya Azka kaget
"Hahaha kamu ini lucu, perempuan mana sih yang nggak mau diet setelah melahirkan, apalagi bentuk tubuh sudah berubah drastis tidak seperti sebelumnya"
"Apa Kinara ngomong gitu?"
"Iya, sebelum lahiran dia pernah ngomong mau diet sehat setelah melahirkan, bahkan udah sibuk nyari konsultan diet"
puk
Azka menepuk dahinya pelan, lalu " ribet amat sih perempuan" ocehnya yang bisa di dengar oleh dokter Siska.
"Hahaha kamu itu aneh, perempuan mana yang nggak minder sama bentuk tubuhnya yang sudah berubah, apalagi menyusui udah pasti butuh banyak asupan gizi, terkadang wanita itu juga merasa rendah diri di depan suaminya kalau nggak bisa tampil cantik, dan itu lumrah Azka" terang dokter Siska terkekeh melihat raut wajah Azka yang aneh menurut nya.
"Hah apa-apa lah dok, terserah dia, lagian saya juga nggak pernah permasalahankan soal bentuk tubuh, kalau mau nya Kinara begitu ya saya dukung aja, tolong di bimbing aja dok, sekaligus carikan konsultan diet sehat"
"Baik tuan muda, hehehe"
"Ya sudah makasih ya dok, saya permisi assalamualaikum"
"Waalaikumsalam "
Azka berjalan membuka pintu ruangan namun berhenti sejenak dan menoleh lalu berucap yang membuat dokter Siska melotot kesal.
"Udah dapet pengganti belum dok? nggak mungkin kan mau nungguin dudanya kak Revan hihihi" ucap Azka lalu melengos pergi meninggalkan ruangan dokter Siska.
"Dasar anak itu.... tau dari mana dia soal Revan iishh" gerutunya kesal.
Azka berhenti sejenak di depan lorong rumah sakit, menyelesaikan tawanya yang sempat tertahan saat meninggalkan ruangan dokter Siska. tangannya sibuk menekan tombol panggil, dua kali panggilan baru terjawab.
"assalamualaikum mbak Reni, anak-anak udah bobok?"
"Oh ya udah, sampaikan sama mama ya , insha Allah besok Kinara bisa pulang, tolong bersihin kamar di lantai satu dekat kamar mama, untuk sementara Kinara biar disitu dulu sampai benar-benar pulih"
"Oh ya? baguslah kalau begitu kirain masih di kamar atas"
"Oke makasih mbak assalamualaikum"
Azka melanjutkan langkah ke ruang rawat Kinara. saat ia pergi menemui Dokter Siska tadi Kinara tengah tidur dan sempat meminta perawat untuk menjaganya sementara.
"Assalamualaikum sayang..... astaghfirullah Ra kamu kenapa?" teriak Azka panik melihat selang infus Kinara mengeluarkan banyak darah
Kinara hanya diam meringis tanpa Berniat mau menjawab pasalnya suster yang menjaganya tadi ia minta membelikan stok pembalut herbal di apotik, karena pembalut yang ia pakai sudah habis.
"Ini gimana ceritanya?" Azka menekan tombol yang ada di samping nakas. dan tidak lama seorang suster datang menghampiri mereka
"Astaghfirullah tuan muda ini kenapa?" tanya suster Yasmin
Kinara hanya terkekeh saja melihat kedua orang di hadapannya panik. suster Yasmin mengatur nafasnya sejenak lalu tersenyum.
"Maaf sus, tadi suster Intan saya minta untuk pergi membeli stok pembalut di apotik karena habis, trus aku kebelet pipis dan lupa kalau ada selang nyangkut aku tarik aja, pas baru jalan selangkah terasa sakitnya" ucap Kinara pelan seraya meringis.
"Lain kali hati-hati nona, kenapa nggak panggil perawat yang lain? untung aja aku standby di ruangan"
"Ya maaf sus"
"Tahan sebentar ya nona bismillahirrahmanirrahim" ucap suster Yasmin mencabut jarum infus dan menggantinya dengan yang baru.
"Tuan minta tolong tekan kapas nya dulu ya jangan sampai keluar nanti darahnya"
"Iya sus"
"Apa yang nona rasakan sekarang?"
"Masih lemes aja tapi masih kuat kalau buat jalan yang penting nggak kejauhan hehe"
"ASI-nya udah di pompa belum? tuh bajunya basah kuyup"
"Bantuin mompa ya sus, saya mau keluar dulu nyari makanan buat makan malam" ucap Azka
"Baik tuan muda"
"Nanti ada pak Puji yang datang ambil stok ASI nya kalau saya belum datang, berikan saja ya sus"
"Iya tuan siap. nah sudah selesai, hati-hati ya nona,jangan sampai terulang lagi, bisa-bisa saya yang di marahin dokter Siska nanti"
"Iya sus maaf sekali lagi"
"Iya nggak papa, kalau butuh apa-apa pencet tombol saja kalau nggak ada suster Intan yang nemenin, saya mau visit pasien lain dulu, permisi"
"Iya sus makasih ya"
"Sama-sama"
Setelah suster Yasmin pergi Azka mendelik kesal pada sang istri yang kadang memang ceroboh.
"Ya maaf abis mas pergi lama banget, aku udah kebelet"
"Ya udah nggak papa, tunggu suster Intan datang mas mau keluar cari makanan, nanti biar suster Intan saja yang bantu mompa ASI kalau suster Yasmin belum datang"
"iy mas, anak-anak nggak rewel kan, mas udah nelpon mama kan?"
"Baru aja tadi nelpon mbak Reni, anak-anak anteng nggak rewel kok, lagi seneng-seneng nya bobok"
"Alhamdulillah, aku kapan bisa pulang?"
"Masih lemes nggak?"
"Masih sih kalau cuma ke kamar mandi bisa aja tapi kalau kerja belum bisa"
"Tunggu keputusan dokter Siska besok pagi setelah visit"