
"Mbak, kapan rencananya mas Hanan mau melamar?" tanya Keisya saat mereka sedang di dapur berdua.
"Loh kok tanya mbak sih Kei, kan kamu yang sering komunikasi" jawab Kinara heran
"Udah lama aku nggak komunikasi mbak" ucap Keisya seraya mencuci beras.
"Loh kok?" tanya Kinara terkejut.
"Ya emang dari awal kan aku nggak pernah SMS atau telepon dia duluan kalau bukan urusan kerjaan mbak" jawab Keisya
Kinara menggeleng lemah mendengar ucapan adiknya, memang benar kata Arini kalau Keisya itu terkenal dingin dengan laki-laki termasuk Hanan.
"Apa kamu sudah ngasih keputusan kei?"
"Dari awal aku udah bilang mbak, kalau memang mas Hanan jodohku dan kalian merestui, insha Allah aku ikhlas menerimanya" kata Keisya meyakinkan saudara kembarnya
"Kamu benar-benar yakin menerima Hanan?" tanya Kinara sekali lagi
"Iya Insha Allah aku ikhlas menerima, jodoh urusan Tuhan mbak, kalau memang mas Hanan sudah menjadi takdir ku, apa ada alasan untuk aku menolak?" tukas Keisya
"Ya udah, nanti mbak yang akan ngomong sama ayah, kalau soal kapan Hanan mau melamar, biar itu jadi urusan ayah dan kak Revan aja" ucap kinara
"Ya deh ide bagus" putus Keisya tertawa kecil tapi ada perasaan tak menentu dalam hatinya sejak beberapa Minggu berlalu.
Keisya kembali kedalam kamar begitu pekerja mereka telah selesai. hari tak banyak yang ia lakukan karena liburan semester juga masih panjang, ajuan proposal yang sudah di acc oleh dosen pembimbing juga sudah hampir rampung. tinggal membuat angket saja dan melakukan penelitian langsung ke lapangan.
Kinara dan Azka juga akan wisuda akhir tahun ini, teman-teman seangkatan mereka sudah di wisuda di awal tahun, tapi mereka berdua justru mengambil wisuda akhir tahun gelombang ke tiga.
Karena kesibukan mereka di dunia bisnis membuat mereka terkadang bingung harus menyelesaikan tugas yang mana terlebih dahulu.
Keisya duduk termenung di atas kursi kerjanya, entah sudah ke berapa kalinya ia terus menerus membuka foto Reno di album diary yang menjadi teman setiap harinya.
Sudah beberapa Minggu terakhir ia selalu di rundung gundah tak karuan. sejak kedatangannya ke rumah Kinara dan melihat ibu Fitri di stasiun kereta membuat ia kembali mengingat momen-momen lama mereka yang masih tersimpan rapat di ingatan Keisya.
"Mas, kenapa di saat aku akan menerima pinangan orang lain, justru bayangan mu yang selalu hadir, bukan kah kau juga sudah berbahagia disana dengan wanita pilihan mu?" batin Keisya sedih.
Keisya membuka lembaran terakhir yang belum terisi dan mulai menggores kan tinta hitam di atas lembaran kertas putih itu dengan hati tak karuan.
Di sudut kota lain, Reno tengah menyuapi Andin makan. sudah dua hari Andin siuman tapi kondisinya masih belum benar-benar pulih, luka di kedua kaki dan tangannya tak bisa membuat nya banyak bergerak.
Pak RT juga memenuhi janjinya untuk meminta sang adik merawat Andin di rumah sakit. sebuah kebetulan lokasi kecelakaan Andin memang tak jauh dari rumah sakit tempat Adik pak RT bertugas.
Bu RT juga bergantian dengan pak RT menjenguk Andin di rumah sakit meski pun mereka lebih banyak waktu mengurus anak-anak mereka juga Puput. tapi di sela waktu kosong mereka sempatkan untuk menjenguk Andin.
Reno berencana akan pulang kampung Minggu depan berhubung liburan semester juga baru hari ini.
"Sudah?" tanya Reno di sela kesibukannya menyuapi Andin.
"Sudah mas, terimakasih" kata Andin lirih. ada riak yang hendak keluar tapi sekuat tenaga ia tahan karena tak ingin memperlihatkan air matanya di depan Reno laki-laki yang ia cintai.
"Bisa, tunggu sebentar ya" kata Reno beranjak meninggalkan Andin setelah menyimpan kembali piring ke atas nakas.
"Kenapa kamu lebih peduli padaku mas, seharusnya sikap kamu tak perlu seperti ini kalau memang kamu benar mencintai wanita itu, seharusnya kamu berjuang untuk nya bukan malah membuat aku semakin tidak berarti seperti ini" batin Andin mengusap sudut matanya yang berair.
Tak butuh waktu lama, suster Ainin akhirnya datang dan membantu Andin untuk membersihkan diri di kamar mandi. sedangkan Reno memilih keluar untuk mencari makanan karena sejak pagi ia belum makan sama sekali.
Hanya makanan yang di bawakan oleh pak RT semalam yang ia makan saat subuh tadi, meskipun sudah sedikit tak enak Reno tetap memakannya hingga tandas.
Saat tengah memesan makanan di sebuah warung tak jauh dari rumah sakit, Reno bertemu kembali dengan dokter Fritz.
Sebisa mungkin Reno bersikap normal seperti biasanya meskipun dalam hati ia gundah gulana.
"Hai Ren, lagi pesen makanan?" tanya dokter Fritz
"Hai dok, iya nih kelaparan, dokter mau makan juga?"
"Iya ngambilin pesanan istri saya, kebetulan istri dan anak-anak saya menyusul kemari setelah hampir setahun saya bolak-balik pulang kampung tiap bulan"
"Oh, salam buat anak-anak dirumah pak dok"
"Oh ya aku dengar dari pak RT istri kamu kecelakaan ya?"
"Iya pulang dari belanja, udah siuman cuma belum bisa ngapa-ngapain karena kaki sama tangannya di gips"
"Parah lukanya?"
",Iya dok, kakinya terjepit motor waktu terguling, trus tangannya patah di siku kanan kiri"
"Ya Allah ya Robbi, tapi nggak ada kelumpuhan kan?"
"Alhamdulillah proses operasi nya lancar, tinggal pemulihan saja"
Tak lama pesanan dokter Fritz selesai dan iaangsung pamit pulang. Reno bernafas lega dan langsung mengambil kursi begitu makanan yang ia pesan sudah datang.
Reno langsung melahap makanan dalam porsi jumbo yang ia pesan. tanpa peduli bagaimana tatapan para pengunjung restoran yang melihat caranya makan seperti orang kelaparan setahun tidak makan.
Tepat setelah ia selesai makan, ponselnya berdering sebuah nomor baru tak di kenal menghubungi nya berkali-kali, tapi Reno tetap abai dan langsung membayar makanannya lalu pergi.
Ponselnya kembali bergetar saat ia sudah memasuki pintu gerbang rumah sakit umum. Reno akhirnya membuka pesan panjang dari nomor yang sejak tadi menghubungi nya.
๐ฉ
"Anjir nih anak, Lo kemana sih ogeb? nomor gue Lo blok ya?๐คฆ kenapa Lo ngilang selama itu Ren?๐ Lo nggak kangen sama kita-kita?๐. gue udah denger cerita Lo dari Kinara dan Azka, kenapa harus melarikan diri sih Lo?๐ค asal Lo tahu Keisya itu udah mau lamaran, dan cek percek dia diam-diam masih ngarepin lo๐คญ, gue tahu dari sepupet nya di desa Arini namanya, gue ketemu tiga hari lalu pas ngambil pesenan kebaya tetangga emak gue, si Arini cerita banyak soal Keisya yang masih ngarepin lo balik Ren, Lo nggak kasihan sama Azka yang udah mati-matian nyariin Lo selama hampir empat tahun?๐คจ kenapa harus sembunyi sih Ren? om Wibowo udah pernah cerita ke gue kalau udah nggak mau masalahin apapun ke Lo, kenapa Lo harus takut dengan bayangan Lo sendiri sih? gue bakalan nyariin Lo sampai ketemu, gue tahu banget siapa Lo, kalau Lo masih cinta sama dia, lebih baik perjuangin sebelum janur kuning berlayar di depan rumah Kinara. oke?? kalau centang dua berarti Lo udah baca pesan gue ogeb. gue tungguin Lo, awas aja ya!!!๐ก๐ก๐ก sahabat baik Lo Beno si gendut.
Reno berhenti sejenak di pos satpam dekat pintu gerbang rumah sakit seraya membaca berkali-kali isi pesan dari Beno. Keisya menunggunya selama ini? benarkah itu? tanya batinnya.