KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
114 Masalah Pisang Ijo



"Coba dulu den, enak nggak?" pinta bik Siti pada Azka.


"Ini yang namanya pisang ijo, kayak kolak ya, tapi ini ijo nya dari tepung kan ya?"Azka balik bertanya karena masih penasaran dengan bentuk pisang ijo.


"Hahahaha, itu anak bos tempat emak kerja?" tanya Acang menantu nya bik Siti pada istrinya.


"Huush, nanti orangnya denger bisa marah, dah lah cepetan di bungkus" tegur sang istri.


Riri menghampiri sang ibu yang sedang duduk di meja pelanggan bersama Azka dan mbak Reni.


"Den Azka tunggu sebentar ya masih di bungkusin, emang sudah hamil berapa bulan istrinya den?" tanya Riri


"Baru masuk bulan ketiga sih kata dokternya, mbak ini kulit nya dari tepung kan ya?"


"Iya lah den dari tepung masak dari pelepah pisang juga??" celetuk Riri


"Iya den Azka ini aneh, mau makan aja di lihatin dari tadi, mending langsung di coba" timpal mbak Reni.


"Nggak papa kan mbak?" tanya Azka lagi


"Udah nggak usah banyak nanya coba dulu lah"


Akhirnya dengan sedikit paksaan Azka berani mencoba, sedikit demi sedikit akhirnya ia tandaskan tanpa sisa.


"Pesen semua porsi deh mbak buat orang serumah, ini enak banget" ucap Azka setelah menghabiskan satu porsi pisang ijo.


"Haduh, hari ini kami cuma buat sedikit den, itupun bahan adonan di dalam buat besok siang karena belum ada stok pisang yang masuk hari ini." ucap Riri pelan.


"Yang ada saja mbak saya pesan semua malam ini, kenapa bikin cuma sedikit mbak, kan lumayan warungnya loh rame"


"Kalau hari biasa kami bikin nggak terlalu banyak den,karena masih ada menu lainnya yang jadi andalan disini, kalau bulan puasa baru kami bikin lebih banyak lagi, karena banyak di cari pelanggan untuk berbuka."


"Oh gitu ya udahlah yang ada saja bungkus semua"


Bik Siti dan mbak Reni hanya manggut-manggut saja melihat sikap tuan mudanya yang sepertinya ketagihan dengan rasa pisang ijo.


Pisang ijo paling enak di makan saat siang hari panas terik, atau jadi sajian berbuka puasa. sebenarnya bik Siti bisa saja membuat kan Pisang Ijo hanya saja nanti berujung pertengkaran lagi seperti tragedi es dawet beberapa waktu lalu. makanya ia tak mau ambil pusing apalagi setiap hari mendengar dan melihat langsung bagaimana mereka bertengkar cuma masalah kecil.


Bawaan orang hamil memang tidak selalu sama, tiap orang berbeda tergantung dari kondisi psikologisnya. untuk Kinara mungkin karena tekanan dari beberapa masalah yang ia hadapi sebelumnya membuat kondisi psikologis nya juga semakin tidak terkendali, sering marah berlarut-larut dan membuat hal kecil menjadi semakin besar sebagai bentuk pelampiasan amarahnya karena masalah yang mereka hadapi sebelumnya hingga kini.


Setelah semua pesanannya selesai, Azka segera membayar pada mbak Riri dan langsung pulang mengingat malam sudah semakin larut.


"Ternyata tadi kita lama juga ya disana mbak Reni" ucap Azka sembari menyetir.


"Iya den, lagian tadi masih kerja buat menu besok kita udah datang" ucap mbak Reni.


"Bik Siti bisa kan bikin pisang ijo?"


"Bisa den, tapi bibik nggak berani kalau buat nona muda, entar salah lagi kayak es dawet dulu" ucap bik Siti sendu.


"Maaf bik, maklumlah Kinara lagi hamil, saya juga kadang nggak ngerti apa yang dia mau, semua serba salah"


"Ya emang gitu lah den, namanya juga orang hamil kudu sabar aja"


"Iya bik".


Tak lama mobil yang mereka kendarai telah sampai di depan gerbang yang tinggi menjulang, pak satpam membukanya karena tahu tuan muda yang datang. karena kondisi jalanan yang cukup lengang maka mereka sepat sampai dirumah.


Sementara bik Siti dan Mbak Reni sudah turun tak jauh dari gerbang sebelumnya karena takut ketahuan Kinara jika mereka ikut membantu Azka mencari apa yang ia inginkan.


Bik Siti dan mbak Reni masuk lewat gerbang samping yang tembus ke arah rumah belakang yang mereka tempati sembari menenteng bawaan dari warung makan Riri tadi, beruntung Riri sudah menyisihkan makanan mereka sehingga saat tiba mereka tak harus lagi masuk ke rumah utama.


Azka menenteng paper bag berisi makanan khas yang sudah Riri siapkan tadi beserta pisang ijo nya.


"Kamu darimana?" tanya papa Anderson melihat Azka masuk rumah menenteng bawaan yang cukup banyak.


"Nyari wangsit buat ibu hamil" jawabnya terlalu santai membuat papa Anderson geleng-geleng kepala.


"Mereka udah pulang?" tanya Azka menanyakan ayah mertua dan yang lainnya.


"Mereka nginep disini semua cuma Vivi yang pulang karena sebenarnya dilarang kalau belum hari H" jelas sang papa


"Oh gitu, trus mereka tidur dimana?"


"Di kamar tamu, Keisya ada di kamar kalian sama Kinara" Azka langsung ketar ketir mendengar ucapan papanya.


"Buset, papa gimana sih?" ucap Azka tak rela


"Bentar kok mereka cuma lagi ngobrol doang, nanti Keisya tidur di kamar


baby twins bareng Rena" ucap papa santai


"Ooh gitu ya udah deh"


"Iihh papa mulai deh, Maaa ini papa minta duit katanya mau ke club" ucap Azka seraya memanggil sang mama


"Astaghfirullah nih anak mulutnya.... pergi nggak?!" papa Anderson geram


"Apaan sih, siapa yang mau ke club?" mama berjalan dari arah dapur membawa segelas air putih.


"Tuh papa kayaknya mau ke club"


"Astaghfirullah nggak ma, suwer deh anak mama ni ngadi-ngadi."ucap papa gemetar


"Papa masuk kamar, biar Azka urusan mama, kamu bawa apa nak?"


"Nih buat mama, yang ini buat Kinara pesenan tadi"


"Kok bau Coto"


"Emang Coto Makasar ma, ya udah aku ke atas dulu kasih ini ke Kinara"


"Makasih sayang"


Azka naik ke atas dan masuk ke kamar, saat masuk ia terkejut karena hanya Keisya saja yang ada di dalam.


"Istri ku mana?"tanya nya khawatir melihat Kinara tidak ada


"Di kamar mandi kak, dari tadi muntah-muntah, aku temenin nggak mau, katanya nunggu kakak pulang" ucap Keisya takut-takut


"hooek hoeeek" terdengar suara Kinara dari dalam kamar mandi. Azka lantas menyusul dan menaruh paper bag di atas nakas.


"Sayang buka pintunya, ini mas"


clek


Azka langsung masuk begitu pintu terbuka.


"Astaghfirullah kamu pucet banget sayang, masih sakit perutnya?"


"Mas, aku mau Coto buatan mba Riri anak nya bik Siti"


"hah" Azka melongo mendengar ucapan sang isteri. "Haduh gimana ini, udah di kasih ke mama lagi" batin Azka gelisah.


"Soto Lamongan aja ya?"


"Nggak mau, hoeeek hoeeek"


"Pisang ijo nya ada tuh di meja"


"Nggak mau, pokoknya Coto buatan mbak Riri"


"Ini udah malem sayang mbak Riri udah tutup"


"Memang mas tahu?" cerocos Kinara ketus


"Abis dari sana tadi beliin kamu pisang Ijo"


"Pokoknya aku mau Coto, tadi aku nyium bau Coto buatan bik Siti kok, pasti dari anaknya itu"


"What?" Azka tambah kelimpungan sendiri. ini mah namanya sudah jatuh tertimpa tangga. udah di belain jauh-jauh beli pisang ijo, sekarang mintanya Coto"


"Ya udah oke, mas beliin Coto, dedek sayang jangan marah ya, papa beliin Coto dulu ya, adek jangan rewel kasihan bunda sayang" ucap anak membelai perut Kinara,perut Kinara yang tadi terasa begah sekarang mendadak enakan saat Azka mengusap lembut perut nya.


"Kok udah nggak begah mas, malah enakan apa memang minta kamu usapndulu baru dia diem?"


"Ya kali, ya udah yuk kita keluar nanti masuk angin kelamaan di kamar mandi"


Azka menuntun Kinara keluar dari kamar mandi


dan mendudukkan di ranjang.


"Keisya mana mas?"


"Hah? nggak tahu"


"Yah, pasti udah keluar"


"Ini pisang Ijo mau?" ucap Azka menawarkan


"Dikit aja, panggilim bik Siti, anaknya suruh dateng kesini sekarang"


"What??"