KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 102



"Kei, undangan udah cetak, catering udah, seragam Bridesmaids udah, gedung udah, MUA yang bakal ngerias kamu juga udah, sisa apa yang belum?" tanya Kinara mengoreksi catatannya.


Dua Minggu lagi acara pernikahan Keisya dan Hanan, dan sejak selesai lamaran Kinara sudah sibuk mengurus ini itu di temani mbak Vivi dan asistennya. Keisya hanya terima beres karena baju dia sendiri yang mendesain dan membuatnya di bantu oleh anak Buha di butik.


Sudah seminggu semenjak terakhir kali Hanan berkunjung kerumah sore itu dengan sikap dingin dan datar.


Keisya lebih memilih diam dan tak mau menanggapi meskipun ia sendiri penasaran dengan sikap Hanan padanya. entah kesalahan apa yang telah dia perbuat.


Dan pagi ini mereka harus fitting baju di lanjutkan foto prewedding siangnya mesti hanya memakai konsep sederhana dan merakyat, tetap saja Keisya sibuk menyiapkan ini itu nya.


Keisya menatap Kinara dan Vivi bergantian, betapa beruntungnya ia punya saudara perempuan yang sama-sama peduli dan baik juga penuh kasih sayang meski seringkali ia dan Kinara banyak berdebat dan bertengkar untuk hal-hal kecil.


"Mbak, keluarga dari kampung mau datang semua nggak? atau cuma di kabarin aja? mumpung stok kain masih ada aku buatin baju sekalian" tanya Keisya


"Ya harus datang semua tanpa terkecuali, Mbah uyut dari ayah juga bakalan datang, kalau kakek nenek kan udah nggak ada semua kecuali nenek Widya dari almarhum ibu katanya besok udah terbang dari Singapore kesini" jawab Kinara


"Owh ya udah, aku berangkat dulu ke butik, masih banyak mau di kerjain" pamit Keisya


"Siang ini mau foto pre-wed kan?" tanya Kinara


"Iya, kenapa?"


"Langsung pulang kalau udah selesai, jangan mampir ke mall" kata Kinara cekikikan


"Lo pikir gue sedangkal itu huh?" cibir Keisya sembari berjalan melewati kedua kakaknya.


Kinara dan mbak Vivi tertawa cekikikan melihat tingkah kesal Keisya.


"Kamu tuh jahil banget Ra" tuduh mbak Vivi.


"Seneng aja liat muka nya bete" tukas Kinara.


Keisya menatap gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi kota metropolitan ini. asap dari kendaraan yang mengganggu pernafasan belum lagi pemandangan pengendara yang saling bersahutan dan berebut di atas aspal membuat Keisya lelah meskipun jarak dari rumah ke butik juga tidak terlalu jauh hanya sekitar 15 menit jika kondisi jalanan normal.


Sudah seminggu Hanan juga tidak pernah mengirim pesan meskipun sekedar bertanya sedang apa? lagi apa?. hari pertama mungkin Keisya berpikir jika Hanan kecapekan karena pekerjaan yang menumpuk belum lagi ngurus ujian tesis nya yang sempat tertunda.


Karena alasan itulah Keisya tak mau menghubungi Hanan terlebih dahulu. ia hanya ingin menjaga perasaan Hanan saja. tapi setelah satu Minggu berlalu ternyata Hanan masih tetap tak menghubungi nya sama sekali bahkan bertemu pun tidak. menanyakan soal persiapan pernikahan mereka yang tersisa dua Minggu lagi pun tidak sama sekali.


Keisya bahkan sudah meminta asistennya untuk menghubungi Hanan karena hari ini mereka akan fitting baju dan di lanjutkan foto pre-wed setelah makan siang hingga selesai.


Meski kesal, Keisya tetap berusaha profesional. masalah Hanan bukanlah satu-satunya yang ia hadapi, tetapi ada hal lain yang tengah menganggu ketenangan batinnya selama beberapa hari ini.


Keisya membuka kembali pesan anonim dari nomor tak di kenal di ponselnya.


"Semoga bahagia dan selalu dalam perlindungan dan Rahmat Allah swt. terimakasih sudah memberikan pelajaran berharga yang akan selalu ku ingat seumur hidup ku. terimakasih atas senyum terakhir yang sudah kau berikan untuk ku sore itu, maafkan aku atas semua rasa sakit yang pernah ku berikan, kali ini aku ikhlas menerima rasa sakit yang sama. Doa ku selalu menyertaimu. @R"


Keisya membaca berulangkali pesan yang masuk di ponselnya, mencoba menerka siapa gerangan yang mengirim pesan untuk nya.


Beberapa hari setelah acara lamaran, dokter Fritz datang secara khusus kerumah Kinara dan menemuinya. dari dokter tampan itu ia tahu kalau Reno sudah menikah. jadi sangat mustahil jika Reno yang mengirimkan pesan singkat padanya.


Sesulit apapun ia berusaha melupakan, sekuat apapun ia bertahan dengan keyakinan jika Tuhan sudah menakdirkan mereka tak bisa bersama tak ada satupun manusia bisa menolaknya.


"Nona sudah sampai?" ucap pak sopir membuyarkan lamunannya.


"Oh udah sampai ya, makasih pak Asep, nanti nggak usah di jemput ya, saya pulang bareng mas Hanan" kata Keisya memberikan pesan pada sopir keluarga kakaknya.


"Baik non"


Keisya berjalan masuk ke dalam butik dan menyapa beberapa karyawan yang berpapasan.


"Nona, ada Gus Hanan sudah nunggu di atas" kata mbak Una


"Oh ya? tumben, udah kamu bawain Air putih kan?" tanya balik Keisya


"sudah nona"


"Oke terimakasih mbak Una, saya ke atas dulu"


Keisya langsung menaiki tangga sedikit tergesa karena Hanan baru kali ini datang berkunjung bahkan datang lebih dulu darinya setelah hari lamaran itu.


"Assalamualaikum, mas maaf udah nunggu lama" kata Keisya meminta maaf di depan tengah pintu yang terbuka lebar.


"Waalaikumsalam eh, maaf, kenapa malah nggak masuk? aku kan tamu" ucap Hanan tersenyum lembut.


"Eh iya, tumben mas udah di sini duluan" seru Keisya seraya menyimpan tas di atas meja kerjanya.


"Tadi malam asisten kamu nelpon katanya hari ini kita fitting baju sekalian foto pre-wed, daripada bikin kamu nunggu lama ya aku duluan datang" jelas Hanan menatap Keisya yang tampak banyak pikiran.


"Oh ... maaf udah bikin mas repot, nggak kerja?"


"Udah izin bahkan di kasi cuti sampai dua bulan ke depan"


"Hah?" Keisya melongo mendengar ucapan Hanan


"Ada yang salah? muka kamu lucu kalau gitu" kata Hanan tertawa pelan.


", Oops maaf, abis kaget aja, belum mendekati hari H mbak Kinar udah ngasih cuti sampai dua bulan"


"Ya, maklum lah mbak mu memang bos paling baik di kantor, saking baiknya saya selalu di marahin hehe"


"Ah... biasa begitu memang kalau udah ada buntutnya dua, jiwanya memang berubah drastis"


"Emang kamu nanti gitu juga nggak?"


"Hisss... liat aja nanti"


"Hahaha"