KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
145 Tamu tak di undang



"Ka, gue pamit ya ntar malam nggak bisa nginep disini, nanti ada Gugun kan yang bakal kesini?" tanya Reno sembari meminum sisa tehnya.


"Emang Lo mau kemana lagi, pacar aja nggak punya"


"Mau ke tempat kosan temen baru gue, Lo masih ingat cowok berpenampilan parlente yang nanyain prodi bahasa Inggris dulu?"


"Owh cowok alim itu, iya gue ingat, Lo berteman baik sama dia?"


"Hem, dia baik, berprestasi lagi, lulusan pondok pesantren ternama pula, bukan cuma pintar bahas Inggris dia juga pintar bahasa Arab, bahasa Jerman, Cina dan Korea" papar Reno menggambarkan sosok Hanan pada Azka.


"Owh udah kelihatan dari penampilannya, calon kandidat dubes masa depan kayaknya" seloroh Azka.


"Gue masukin kerja di kantornya bang Revan "


Ctak


Suara derit gelas dan tatakan yang bersatu seolah di sengaja.


"Lo masukin dia di kantor pusat?"


"Iya, soalnya dia lagi butuh kerjaan, dan gue udah lihat biodata dirinya selama jadi santri disana, karena bang Revan emang udah pernah minta gue nyariin karyawan buat gantiin Bambang sementara"


"Kenapa Lo nggak cerita sama gue sih?"


"Loh urusannya sama Lo apa? kan bukan Lo CEO di KSW group. Lo kan di pewaris kedua Eins Corp."


"Iya sih tapi harusnya Lo cerita sama gue dulu lah jangan main serobot gitu"


"Main serobot gimana maksud Lo? emang Lo udah geser gender Ka?"


"Bangsat Lo ngatain gue geser, gue masih normal buktinya Kinara hamil enak aja Lo ngomong"


"Abisnya kenapa Lo yang sewot gitu, lagian yang pegang kendali perusahaan juga bukan Lo, tapi bang Revan, Lo kenapa sih sama Hanan, nggak suka?" tebak Reno yang membuat Azka bungkam dan salah tingkah.


"Em..ya nggak gitu juga"


"Bilang aja Lo cemburu karena Hanan pernah liatin Kinara kan?"


Azka melotot mendengar ucapan sarkas Reno yang menghakimi nya. memang benar sih apa yang Reno katakan.


"Apa bedanya kalau Lo ketemu sama mantan Lo yang bule itu kemarin? Lo pikir Kinara nggak marah? ck"


"Maksud Lo apa Ren?"


"Lah bukannya kemarin mantan Lo yang bule itu dateng ke warung buat nemuin Lo?".


"Astaghfirullah Lo pikir dulu lah kalau bicara Ren, yang Lo maksud si Catherine?"


"Gue nggak tahu siapa, yang penting gue lihat dia bicara sama Kinar, dan gue lihat cewek bule itu emang ada niatan buat gangguin kalian, buktinya Kinara sampe sebel kemarin belum lagi Lo buat ulah minum obat tidur nggak tambah gimana itu bini Lo"


"Iya sih, gue lagi penat kemarin gara-gara nggak ada istirahat tiga hari jadi gue minum aja obat tidur biar nggak di ganggu, gue pengen tidur nyaman"


"Ya tapi nggak harus segitunya juga kali Ka, ck Lo udah sembuh kan?"


"Maksud Lo apa? gue nggak sakit"


"Kirain, ya udah gue cabut dulu, ada kelas jam sepuluh besok baru gue dateng lagi, bye"


"Tumben Lo nggak sarapan?"


"Udah kenyang, ntar aja di kampus"


"Ren,..." Azka memanggil saat Reno sudah mulai melangkah


",Kenapa?"


",Kinara ada cerita sama Lo ketemu Catherine?"


"gue lihat dengan mata kepala sendiri di depan warung"


"Lo tau mereka ngobrolin apa?"


",Nggak, yang jelas gue tau kalau Kinara juga lagi marah cuma diem aja"


"Gue minta tolong mulai hari ini Lo bisa lebih ketat jagain dia, Catherine kayaknya bakalan nekat lagi, gue khawatir sama Kinara "


"Harusnya Lo jadi laki yang kudu peka, jagain dia 24 jam"


"Ya udah gue buru-buru, jadwalnya dosen killer, habis nilai gue D semua kalau lambat semenit aja"


"Oke gue tunggu Lo besok"


Sepeninggal Reno Azka kembali sibuk menghabiskan sisa sarapannya. pikirannya teringat kembali pada ucapan Azka tentang Catherine yang menemui nya dua hari lalu. Azka mendesah pelan. semoga saja yang ia takutkan tidak terjadi, ia benar-benar tidak mau terjadi apa-apa lagi dengan kandungan sang istri.


"Mas, mau ke kampus jam berapa?" tanya Kinara yang datang membawa seikat sayur hijau yang baru di belinya di kang sayur langganan kompleks.


"Nggak ada jam kuliah, udah selesai semua ujian" Azka mengambil segelas air dan meminumnya.


"Jadi hari ini dirumah kan?"


"Iya tadi udah janji sama pak Puji mau lihat ikan di empang"


"Owh empangnya pak Puji?"


"Iya ada juga tambak udangnya. punya anak nya yang dosen itu loh"


"Owh, izin mau ke tempat nya si kembar ya mas, lama nggak kesana, kak Sean katanya balik lagi ke Jerman"


"Iya, kak Rania udah aku minta tinggal disini selama kak Sean nggak ada, kamu nggak ada kuliah kan?"


"Nggak ada, udah selesai semua ujian"


"Nggak ada planning gitu mau liburan kemana?"


"Nggak, kalau nggak ada panggilan, badanku udah mulai mekar mas nih lihat, udah sering capek-capek sekarang, mau jalan-jalan aja rasanya malas banget"


"Hahaha"


cup


"Biar mekar tetap istri mas, nggak akan ada yang bisa gantiin" ucap Azka mengecup pipi sang istri.


"Huss sana minggir, malu di lihat bik Siti"


"Orangnya nggak ada, mas tunggu di kamar ya,"


"Iiishh nggak mau"


"Mas masih kangen, udah puasa dua Minggu ini, nggak jengukin dedek bayi"


"Ck, katanya mau pergi sama pak Puji? dah sana dulu lah"


"Emmuach, mas nagih ntar malam"


"Iya iya"


Azka berlalu meninggalkan Kinara yang masih sibuk di dapur. pergi ke kamar berganti baju yang lebih nyaman karena hendak pergi ke Empang. setelah siap ia kembali ke dapur berpamitan pada Kinara.


"Hati-hati mas, pak Puji salam buat ibu dan keluarga ya" ucap Kinara pada pria tua yang sudah bekerja pada keluarga kakek dan nenek Handoko sejak lama.


"Iya nona insha Allah saya sampaikan"


Setelah mobil keluar melewati pagar, Kinara masuk kembali ke dalam rumah melanjutkan aktifitas nya yang tertunda.


Kinara sibuk memasak makanan untuk di bawa nya kerumah kak Rania nanti.


"Non ada nyonya muda datang, sama si kembar?" ucap bik Siti yang masuk dengan wajah terkejut.


"Loh kok udah kesini, ya udah bibik lanjutin ya biar saya bantu dulu kak Rania"


Kinara berjalan ke arah pintu utama namun langkahnya terhenti kala melihat sosok wanita yang membuat hatinya begitu resah.


"Hai ketemu lagi kita" ucap wanita itu membuat aliran darah naik seketika. Kinara terpaksa tersenyum untuk menyembunyikan rasa kesalnya.


"Kak kenapa nggak bilang kalau mau kesini? kan bisa di jemput dulu sama mas Azka biar kakak nggak kerepotan" ucap Kinara pada Rania yang tak dapat menyembunyikan raut wajah bersalah. Rania tahu betul wanita yang ikut bersamanya memang sangat dibenci oleh adik iparnya.


"Maafin kakak dek" kak Rania menunduk lalu mendongak menatap tajam pada wanita yang duduk di hadapannya. menyesal telah membukakan pintu rumah nya untuk wanita tidak tahu diri itu.


"Ya udah kak aku siapin kamarnya buat si kembar dulu"


"Iya, eh Kami hamil biar kakak sendiri yang bersihinnya kamu duduk aja disini sama Azzam dan Azmi" ucap kak Rania seraya mengerling ke arah Kinara. Kinara yang sadar langung mengiyakan ia tahu pasti kak Rania akan melapor pada suami serta papa dan mama Hanna juga Azka.