KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 132



Hari demi hari berlalu, bulan berganti tahun musim penghujan berganti musim kemarau panjang. Begitulah seleksi alam membawa manusia sibuk dengan urusan mereka masing-masing tanpa menyadari perubahan dan pergantian waktu selalu membersamai setiap menit waktu mereka.


Sama halnya dengan Keisya, hidupnya kini semakin bahagia dengan keluarga kecilnya. Bertahun-tahun lamanya setelah kehilangan Shofia anak ketiganya, kini ia bahagia dengan dua anak kembarnya yang sudah berusia Tujuh tahun.


Waktu berlalu begitu cepat, tiga tahun setelah Shofia meninggal, Keisya hamil lagi anak ketiga buah pernikahannya dengan Hanan, laki-laki yang kini sangat ia cintai.


Laki-laki yang mempu mengorbankan banyak hal untuknya, meski pernah ia sakiti dengan sangat dalam. Meski begitu Hanan tetaplah Hanan yang memiliki keluasan hati seluas lautan hingga mampu menarik Keisya jatuh ke dalamnya.


Faras kini sudah tumbuh menjadi anak remaja yang memilih untuk belajar di pondok pesantren tempat eyang buyutnya. Bukan tanpa alasan, anak itu sejatinya adalah gambaran foto kopi Hanan yang sejak kecil memang sudah mendalami ilmu agama di samping belajar ilmu pengetahuan umum.


Berkat bimbingan Gus Rohid kakeknya yang selalu membawanya sowan ke pesantren-pesantren yang ada di Jawa membuat Faras semakin tertarik belajar ilmu agama meski tak mengesampingkan ilmu sekolah umum.


Sedangkan Kaila sang adik kini sudah duduk di bangku madrasah Tsanawiyah. Jauh dari kedua orang tuanya yang menetap dan tinggal di kota metropolitan, Kaila juga lebih memilih ikut dengan kakeknya di desa yang sudah sangat sepuh.


Kaila yang memang sejak kecil dengan tuan Wibowo kakeknya, tak bisa meninggalkan sang kakek yang hidup seorang diri di desa meskipun memiliki beberapa asisten dan ajudan yang menjaga setiap saat.


Baik Kinara atau Keisya setiap sebulan sekali selalu datang mengunjungi ayahnya. berkali-kali mereka membujuk agar sang ayah mau ikut dengan mereka, tapi semua itu tak lantas membuat pria sepuh itu goyah.


Keinginannya hanya satu mewujudkan impian almarhumah istrinya yang ingin menghabiskan masa tuanya di desa.


Meski terkadang ada perdebatan kecil antara Kinara, Keisya dan Revan tentang siapa yang akan menjenguk lebih dulu, tetap saja ketiganya selalu membawa keluarga kecil mereka ke desa bersama-sama.


"Kak, uang bulanan ayah udah di transfer belom?" tanua Kinara di telpon


"Lo aja deh, gue belakangan, lagi banyak kebutuhan, anak gue mau masuk sekolah minta seragam baru segala macam" jawab Revan


"Ck, alasan kuno, awas ya kalau gue harus nombokin Lo lagi, nggak malu sama istri tiap bulan make duit gue?" cibir Kinara


"Iya-iya bawel amat Lo emak-emak juga, banyak bacot Lo"ejek Revan kesal


"Lo juga anjai" balas kinara


Keisya yang mendengar perdebatan dua kakak nya hanya bisa geleng-geleng kepala. Setiap bulan ini yang terjadi, setelah membayarkan gaji karyawan, mereka selalu berdebat siapa yang sudah mengirim uang untuk ayah mereka di desa, belum lagi siapa yang akan menjenguk kesana lebih dulu.


"Mbak, bisa nggak sih, kalian nggak bertengkar Mulu? Sumpah deh udah tua bukannya makin akur makin kayak anak kecil aja rebutan permen" ucap Keisya kesal.


"Lo aja deh yang TF, bulan depan gue tombok" sahut Kinara


"Astaghfirullah, gini amat, udah deh biar aku duluan sekalian aku dobel punya kalian, mau transfer aja rebutan" kata Keisya kesal.


Kinara hanya diam tak menjawab, ia sibuk menscrol beranda sosmed melihat berita terkini.


"Ini Reno? Kayak nggak percaya gue, tambah tua makin gagah aja nih anak,.." ucap Kinara berbicara sendiri


"Wow ternyata dia tinggal di London,....wiiih anaknya cantik banget.. Imut-imut... Ternyata belom nikah lagi...kasihan...ck" ucapnya lagi tak menyadari jika Keisya mendengar semua ucapan nya.


"Kasihan Lo Ren... Di tinggal mati istri, harus besarin anak sendiri, mana anaknya gemes banget kayak boneka gini, gue jodohin sama Keenan kali ya hihihi" ucap Kinara lagi.


Keisya yang sejatinya sibuk menekan beberapa digit nominal saldo yang ia transfer akhirnya berhenti sejenak karena mendengar ocehan kinara yang berbicara sendiri dengan ponselnya.


Mendengar nama sang mantan di sebut, Keisya sedikit terkejut saat Kinara berucap yang terakhir kali jika Reno seorang duda.


"apaan sih Lo, bikin kaget aja" ucap Kinara mengusap dadanya


"abis di ajak ngomong sibuk ngomong sendiri sama hape" cibir Keisya


"Nih lihat,mantan terindah Lo, sahabat gue semasa kecil, makin gagah kan? Duda lagi, anaknya itu lho imut-imut, mau deh kalau di jodohin sama Keenan" kata Kinara membuat Keisya memutar bola mata jengah.


"Mbak, mbak, hari gini, udah beda jaman" ucap Keisya.


"nggak ada salahnya," balas Kinara


"Nih lihat udah aku TF, Minggu depan kita otewe" ucap Keisya memperlihatkan notifikasi mbanking.


"Oke fix".


****


Sementara itu di sudut negara lain, Reno tengah sibuk menemani anaknya belajar. Setelah seharian sibuk mengurus pekerjaan, Reno harus meluangkan lebih banyak waktu untuk anak semata wayangnya dengan almarhumah Andin.


Anak yang sudah berusia delapan tahun itu tengah menempuh pendidikan tingkat dasar. Dan Reno harus ekstra menjaganya karena ia seorang diri tinggal di tempat asing yang bukan tanah airnya.


Delapan tahun lalu anak ini lahir berkat pengorbanan seorang wanita kuat yang masih ia simpan rapi namanya di lubuk hati hingga hari ini. setahun setelah Andin meninggal, Reno memutuskan untuk menetap di London hingga kini demi bisa merelakan kepergian sang istri.


Perjuangannya membesarkan anak satu-satunya di perantauan tidaklah mudah. Sama halnya saat ia berusaha merelakan kepergian istri tercintanya.


Itulah alasan kenapa Reno tak mau menikah lagi, bukan karena tak ingin tapi ia tak mau membuat anaknya merasa tidak nyaman dengan orang baru.


Meski sang ibu juga sudah berpuluh-puluh kali memintanya untuk menikah lagi, tapi Reno tetap pada pendiriannya. Cukup hanya ada dia dan Dira itu sudah lebih dari bahagia dalam hidupnya.


"Papa, kapan kita pulang ke Indonesia? Aku kangen nenek, aku juga pengen ngobrol sama mama" ucap gadis cilik itu menatap sang ayah.


Tangannya yang sibuk memegang alat tulis ia hentikan sejenak karena ingin melihat respon sang ayah.


"Libur musim ini kita pergi, dan nggak akan kembali lagi kesini, kita akan menetap di rumah nenek, om Dimas sama om Arkan punya adik bayi lagi, kamu pengen lihat kan?" jawab Reno


"Beneran pa?" tanya gadis cilik itulah berbinar


"Iya, papa sudah mengurus semua administrasinya, termasuk kepindahan kamu ke sekolah yang baru di sana" ucap Reno


"Nggak sabar pengen cepat liburan pa, disana nanti kita tinggal di rumah nenek apa di rumah papa yang banyak pintunya itu?" tanya gadis kecil itu membuat Reno tertawa terbahak-bahak


"Itu namanya kos-kosan nak, kamu ini ada-ada aja"


Reno mengusap rambut sang anak dengan sayang.


"Andin andai engkau masih ada disini, lihatlah anak kita sudah besar, anak yang engkau idam-idamkan sudah jadi gadis cilik yang cerdas" batin Reno mengusap sudut matanya


"Papa nangis? Papa kangen mama? aku juga kangen".