
"A...ayah??!" ucap Kinara pelan setelah melihat siapa tamu yang tiba-tiba datang di tengah acara.
Pak Anderson dan mama Hanna tidak terkejut karna memang mereka lah yang mengundang Pak Wibowo datang untuk memberi kejutan pada Kinara.
Semua tamu yang hadir pun ikut terkejut dengan kehadiran beliau, pasalnya sempat terdengar desas desus di kalangan karyawan jika pak Wibowo telah menghilang dan belum di temukan hingga saat ini.
"Itu beneran bos 01?" bisik salah seorang tamu pada temannya.
"Iya lah emang siapa lagi? tapi kok aneh ya? katanya hilang tapi ini udah muncul aja kek hantu tau nggak?" respon teman yang lain.
"Syukur lah kalo udah ketemu" tambah yang lain.
"Hem alhamdulillah akhirnya bos baik hati kembali"
"Iya akhirnya nafas gue bisa plong!" ucap yang lainnya.
Kinara langsung memeluk sang ayah penuh kerinduan. Ia terisak di pelukan ayah, pak Wibowo mengelus kepala anaknya yang tertutup hijab instan hingga tangisan sang anak mereda. semua pandang mata tak lepas dari mereka berdua. ada rasa haru yang menyeruak melihat pemandangan ayah dan anak yang seperti tak pernah bertemu seumur hidup.
"Maafkan ayah baru kembali."
"Kenapa ayah lakukan ini? kenapa ayah nggak pernah hubungi aku?"
"Udah, yang penting sekarang ayah udah ada di sini jadi nggak perlu drama lagi oke?"
"Iisshh ayah apaan sih? janji ya ayah nggak boleh ngilang lagi?!"
"Janji!!" menaikkan dua jari berbentuk V
"Idiih adek gue ya?"ucap Revan yang tiba-tiba muncul
"Bukan! ondel-ondel". jawab Kinara sewot.
"Hahaaha.. dasar ngambekan. nggak malu tuh sama mereka??" Revan memajukan dagunya ke arah tamu membuat Kinara malu karna sikapnya yang seperti anak Tk saja.
"Hadirin semua akhirnya acara ini terasa lengkap berkat kehadiran sahabat lama saya yang sudah kembali bersama kita malam ini. awalnya ini hanya usulan dari anak-anak kami yang mengundang teman-teman sekolahnya untuk reunian sebelum ujian nasional berhubung setelah ini mereka akan berpisah, tapi rupanya istri tercinta saya lebih antusias menyambut usulan mereka untuk mengundang kalian semua. saya ucapkan selamat datang kembali untuk sahabat lama saya"
Para tamu undangan yang hadir bertepuk tangan riuh.
Sementara itu di suatu tempat....
Praang
Praaaang
Semua perabot yang ada di ruangan itu pecah dan terhambur memenuhi ruangan itu.
"Bangsaat kau Anderson!" umpat seorang pria paruh baya
"Aku tidak akan terima kekalahan, akan ku balas kalian semua, dasar ******* kalian, tidak akan pernah ku maafkan kau Anderson, Wibowo!! umpat nya lagi seraya melempar vas bunga ke sembarang arah.
"Tuan.. tuan.." Salah seorang bodyguard nya datang untuk menenangkan tuannya.
"Minumlah.." ujar nya seraya memberikan segelas air putih pada Tuannya.
Anthony meraih gelas itu dan menenggaknya hingga tandas lalu menyerahkan kembali gelas itu pada Roby sang bodyguard sekaligus asisten nya.
Roby tau apa yang tengah terjadi pada sang bos. pasalnya setelah tertangkap nya Riko oleh anak buah Anderson, kini keberadaan Anthony juga tengah terancam begitu juga dengan perusahaan nya juga terancam hancur. pasalnya perusahaan baru yang ia dirikan di salah satu pulau itu masih tersendat karna terkendala izin operasional juga sengketa lahan dengan penduduk setempat. untuk itulah ia sengaja memasukkan Riko ke perusahaan Anderson untuk meretas dan mengambil alih perusahaan itu perlahan. namun rupanya nasib berkata lain.
"Rob, kamu awasi rumah itu sekarang. kamu tahu kan apa tugasmu?!" titah Anthony
"Semua sudah siap tuan. kita hanya tinggal menjalankan misi selanjutnya." papar Roby.
"Jangan sampai gagal!" ucapnya tegas dengan tatapan menghunus.
"Baik"
Roby segera keluar setelah mendapat kan perintah lalu menelpon seseorang setelah ia memastikan keadaan aman.
"Laksanakan tugasmu " titahnya pada orang di seberang telepon.
🍂🍂
"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Alex
"Bawa aku ke tempat Yusuf." ucap Pak Denias
"Ya itu juga."
"Sebaiknya jangan sekarang tuan!" Ucap Alex dengan sedikit takut
"Maksud mu?"
"Begini tuan...." Alex membisikkan sesuatu pada pak Denias.
"Begitu rupanya... baiklah perketat penjagaan, apa Wibowo dan Anderson sudah tahu?"
"Sudah tuan!"
"Baiklah, aku akan meminta Yusuf menemui ku dengan Riko sekarang. tolong kamu hubungi Yusuf."
"Baik tuan."
Alex segera menghubungi Yusuf untuk menemui Pak Denias.
"Baik Alex, sampaikan pada nya aku akan menemui nya setengah jam lagi." ucap Yusuf di seberang telepon.
"Siapa Suf?" Tanya pak Anderson yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Yusuf
"Tuan Denis pak, beliau meminta saya untuk menemui nya."
"Baiklah. ingat kamu harus lebih berhati-hati. Anthony akan berbuat lebih nekat lagi jika kita lengah sedikit saja."
"Baik Pak. Apa perlu saya menghubungi tuan Bagas?"
"Sebaiknya kita jangan libatkan yang tidak terlibat, sementara ini sudah cukup kita membantu tuan Bagas membebaskan Riko dari jeratan Anthony. tapi tetap kita harus berhati-hati jikalau Anthony berani menyentuh tuan Bagas kita juga harus bertindak. Apa Bos besar meminta bertemu Riko?"
"Ya itu juga tuan."
"Hmm tetap waspada. oh ya apa kau sudah mengecek rekaman cctv yang aku berikan padamu?"
"Sudah tuan."
"Apa kau tahu siapa yang membuntuti mereka?"
"Iya tuan. sebenarnya ini agak aneh!"
"Maksudmu?"
"Dari rekaman yang saya dapat Riko yang membuntuti mereka dan Riko juga yang menyelamatkan dan membawa mereka ke rumah sakit. tapi aneh nya Riko tidak melaporkan pengintaian nya pada Anthony tuan."
"Benar begitu?" pak Anderson mengeryit heran.
"Apa kau sudah menanyakan langsung pada Riko?"lanjutnya.
"Belum, karna sewaktu aku pergi kemari dia belum siuman" ucapnya seraya nyengir kuda.
"Apa?? Berapa gram kalian masukin ke dalam gelas Suf?"
"Itu urusan Bambang dan Romi Tuan.." jawab Yusuf membuat pak Anderson seketika menepuk jidat nya. 🤦♂🤦♂
Satu persatu tamu sudah mulai meninggalkan kediaman pak Anderson, hanya tinggal Kinara dan ke empat sahabat nya serta Aldo dan kawan-kawan yang masih betah dan belum berniat untuk beranjak pulang.
Kini Yusuf dan Pak Anderson pergi menemui pak Denias. Meski malam sudah mulai beranjak naik ke peraduannya tidak membuat kedua pria beda usia itu tenang.
Beberapa saat setelah percakapan terakhir tadi, Yusuf mendapat kabar jika Riko sang tawanan sudah siuman.
"Apa kau bisa tenang Alexa?"tanya Varo pelan pada istrinya.
"Ah ya maaf. aku akan duduk!" ucapnya pelan seraya duduk di sofa. Ia masih gelisah pasalnya malam ini ia ingin sekali mengunjungi rumah pamannya tapi Varo selalu menghalangi nya untuk keluar dari apartemen mereka.
Semua rencana nya gagal total karna Varo yang tiba-tiba batal pergi ke Cafe sore tadi. bukan tanpa alasan batalnya Varo untuk pergi ke Cafe miliknya karna permintaan sang nenek mertua dan paman Anderson untuk mengawasi Alexa.
"Arrgh kenapa harus gagal lagi sih? aku akan buat perhitungan sama kamu Kinara. aku gak rela Azka kamu miliki. dia hanya milikku saja." gerutu Alexa dalam hati.
Varo hanya menarik nafas kasar melihat tingkah istrinya itu. ia tahu jika malam ini Alexa akan berbuat nekat lagi seperti yang di lakukannya pada Kinara dulu.
"Sampai kapan hati mu di tutup kegelapan Alexa? apa kau tidak bisa melihatku walau hanya sedetik dalam hidup mu?"batin Varo