KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 49



"Vi maafin mas" ucap Revan lembut di depan sang istri yang sedang menyiapkan sarapan.


Lutfiah hanya terdiam tanpa mau menatap sang suami yang tengah memandang nya sendu.


"Vi, sampai kapan kamu mau diamkan mas kayak gini, ini udah seminggu kamu pulang kerumah, sekali saja menatap mas kamu nggak mau, mas tahu mas udah salah" ucap Revan yang membuat Lutfiah langsung menghentikan aktivitasnya.


"Cepat sarapan, keburu dingin nasinya, aku mau pergi ada rapat di rektorat pemilihan dekan baru" ucap Lutfiah dingin


Revan hanya bisa mendesah berat mendengar respon Lutfiah yang sangat dingin padanya. melanjutkan sarapan sepertinya lebih baik dari pada mendapatkan respon yang tak mengenakan.


Lutfiah hanya menghabiskan sepotong roti dan segelas air putih lalu segera pergi meninggalkan Revan yang masih menghabiskan sarapannya. sesuap nasi masuk ke kerongkongan terasa sakit jika keadaan selalu seperti ini.


Revan memilih meninggalkan sisa sarapannya di atas meja, sang asisten yang memang tahu keadaan rumah tangga majikannya hanya bisa berdoa dan mengurut dada.


Sampai di parkiran rupanya mobil yang biasa di gunakan Lutfiah sudah tidak ada. sekali lagi Revan mendesah berat. Lutfiah wanita yang benar-benar keras jika sudah menyangkut kepercayaan, jika merasa tidak di percaya ia akan menjauh tanpa mau menoleh kembali.


Revan mengambil beberapa map penting yang akan ia rapatkan dengan sang adik sebelum pergantian kepemimpinan perusahaan di awal tahun.


"Kali ini mau nggak mau ibu mu yang akan datang padaku Reno, tanah dan bangunan seluas itu milik ibuku bukan hak dari bapak sambung mu apalagi milik mu dan ibumu" batin Revan tersenyum smirk.


Revan langsung meluncur pergi meninggalkan rumah menuju ke kantor pusat untuk menemui Kinara.


***


"Kak ini dokumen benar punya ibu?" tanya Kinara setelah membaca salah satu map yang di berikan oleh Revan


"Iya itu tanah punya ibu, dokumen yang pertama itu berupa tanah kosong, yang kedua tanah beserta bangunan yang sekarang jadi toko roti itu juga punya ibu" jelas Revan.


"Masak sih? bukannya itu udah di jual?" kata Kinara mencoba mencari kejujuran dari sang kakak


"Di jual? ibu nggak pernah jual tanah itu, kalaupun di jual harusnya ada dokumen jual beli tanah, nah ini nggak ada sama sekali bahkan sertifikat tanah juga jelas masih atas nama ibu kan?" terang Revan jujur.


"Kakak yakin? ibu ngga pernah jual tanah?" tanya Kinara


"Yakin dek, bukti fisik nya akta jual beli aja nggak ada"


"Ck, trus kakak dapat ini darimana?"


"Dari arsip lama ibu di rumah, di laci ruang kerja ibu"


"Mas Devan, tolong hubungi Bu Ranti bilang aja nyonya yang minta untuk datang ke kantor pusat sekarang sekalian bawa semua dokumen " titah Kinara pada salah satu asistennya


"Baik Bu"


"Kenapa kamu minta Tante Ranti datang? emang dia ada urusannya sama kantor pusat?" tanya Revan sedikit bingung


"Ada dokumen yang ketinggalan di rumah Tante Ranti kemarin jadi sekalian minta di bawain soalnya hari ini mas Azka ada janji sama Tante Ranti soal endorse produk makanan"jawab Kinara sedikit berbohong demi mengelabui Revan.


Semalam Kinara sempat meminta Vivi untuk mencarikan dokumen lama kepemilikan tanah almarhum ibu yang di simpan Revan. tapi rupanya Vivi tidak menemukan sama sekali. sebenarnya Vivi juga sudah tahu dokumen apa yang diminta adik iparnya tapi karena ingin sedikit memberikan pelajaran untuk suaminya Vivi berbohong jika tidak menemukan dokumen itu.


Setengah jam kemudian Tante Ranti sudah datang ke ruangan Keisya membawa serta semua dokumen yang diminta oleh keponakannya.


"Gimana kabarnya Van? Sehat?" tanya Tante Ranti begitu tiba dan langsung menyapa Revan yang juga terlihat bingung.


"Alhamdulillah sehat semua Tan, tumbenan datang lngsung datang begitu di telpon" kata Revan


"Kebetulan aja pas lagi deket daerah sini, lagi ketemu klien, sekalian aja mampir" balas Tante Ranti.


"Wah, lancar bener endorse nya" sindir Revan


"Hahaha, Alhamdulillah" ucap Tante Ranti akhirnya stelah tahu kode mata yang di berikan oleh Kinara.


"Lumayan dong, apalagi Azka yang jadi brand ambassador nya" sindir Revan lagi


"Ha? ahhaha justru saya yang minta tolong sama Azka buat nyari bintang jadi brand ambassador produk berlian yang bakalan louncing akhir bulan depan." balas Tante Ranti membuat Revan sedikit melongo karena merasa kecolongan dengan ekspektasi nya sendiri.


"Oh gitu, kirain Azka yang jadi brand ambassador produk berlian" kata Revan akhirnya.


"Saya butuh model cewek bukan cowok Van, oh ya gimana kabar istri mu?" tanya Tante Ranti


"Alhamdulillah sehat kerjaannya sudah semakin lancar, malah mau di angkat jadi ketua prodi tahun ajaran baru nanti"


"Wow bagus dong, banyak peningkatan, nggak sia-sia perjuangannya selama ini buat kamu" sindiran telak Tante Ranti membuat Revan langsung bungkam dan mengingat kemarahan Lutfiah seminggu yang lalu saat ia tengah marah besar.


"Oh ya Ra, ini semua dokumen milik ibumu yang sudah di perbarui, harta pribadi ibumu dan juga harta bersama setelah menikah dengan ayahmu semua sudah lengkap disini termasuk pengalihan tanah setelah jual beli dengan almarhum suaminya Bu Fitri" kata Tante Ranti


"Jual beli?" sahut Revan kaget mendengar Tante Meri mengatakan jual beli tanah dengan almarhum bapak sambung Reno.


"Kenapa Ren? kok kamu kaget?" tanya Tante Ranti mencibir.


"Ra, tolong jelasin" kata Revan langsung meminta penjelasan dari Kinara.


"Maksudnya apa kak?mana yang musti aku jelasin?" tanya balik Kinara


"Jual beli tanah dengan almarhum bapak sambung Reno"


"Oh ngomong Dong, ini kakak baca semua dokumennya, bukan rekayasa, ini asli tanya aja Tante Ranti kalau nggak percaya, sekalian aja aku panggil om Darwis kesini kalau kakak maish nggak paham" jawab Kinara ketus.


Revan membaca dengan seksama dokumen yang baru saja di berikan oleh Kinara padanya.


"Bukannya bapak Reno cuma pegawai pemerintah desa?"


"Siapa yang bilang? di satu-satunya pengusaha yang sudah menolong kedua orang tua kalian saat itu, saat perusahaan baru separuh berjalan dan hancur dalam satu jam, cuma almarhum yang berani mengambil langkah tegas menyelamatkan perusahaan ayah ibumu saat itu" jelas Tante Ranti membuat Revan merasa di permainkan lalu memilih keluar ruangan dengan perasaan kesal.