KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 105



Reno melihat jam di pergelangan tangannya. ia mendesah pelan lalu mengambilnya tas ransel yang biasa ia gunakan ke sekolah saat mengajar.


Hari ini hari pertama ia masuk mengajar kembali setelah dua Minggu libur semester kenaikan kelas.


"Mau berangkat Ren?" tanya Tante Meri di ambang pintu dapur saat ia tengah mengambil piring untuk sarapan.


"Ia Tan, udah seminggu aku izin cuti, hari ini udah masuk kembali, Arzan mana?" tanya Reno seraya mengambil nasi.


"Udah berangkat dari subuh" jawab Tante Meri.


"Ren, kamu udah ketemu Andin?" tanya Tante Meri lagi.


"Andin? nggak tuh kenapa emang Tan?"tanya balik Reno


"Loh waktu pulang nggak singgah ke rumah om Martin?" tanya Tante Meri


"Enggak, aku nginap di kosan Arzan soalnya udah malem juga" jawab Reno apa adanya.


"Oh kirain kamu kesana"kata Tante Meri


"Nanti lah kalau ada waktu aku kesana, sekarang masih sibuk nyiapin perlengkapan mengajar dulu, udah kelewat satu minggu"kata reno


"Oh ya udah"


Reno melanjutkan acara santap paginya dengan khidmat, setelahnya ia langsung bergegas pergi menaiki motor trail yang biasa ia gunakan.


****


Hujan deras mengguyur ibu kota sejak semalam dan masih belum ada tanda-tanda akan berhenti.


Pagi ini Keisya berangkat lebih pagi ke butik karena masih harus menyelesaikan beberapa seragam keluarga yang belum selesai.


Pertengkarannya dengan Hanan dua hari lalu di cafe masih membekas hingga kini, ia lebih memilih diam sembari memberi waktu laki-laki itu untuk menyadari kesalahannya.


Memang ia masih belum sepenuhnya bisa menerima Hanan apalagi mencintai pria itu dengan tulus, tapi ia tetap berusaha membuka hatinya agar tak lagi memendam kerinduan pada suami orang lain.


Keisya berjalan pelan membuka pintu butik, terlihat beberapa karyawan sudah sibuk dengan bagian pekerjaan mereka masing-masing.


Keisya berjalan ke arah pantry di belakang dan bertemu dengan salah satu staf yang sedang menyeduh teh.


"Tumben bikin teh, buat siapa Ris?" tanya Keisya


"Loh, nona nggak lihat ada tamu di atas?" tanya balik Keisya


"Tamu?"tanya Keisya bingung


"Lah iya tamu, namanya Dimas ngakunya keluarga nona dari desa" jawab Riris


"Hah?" Keisya melongo mendengar nama dimas di sebut. pikirannya langsung melayang pada satu sosok bernama Dimas yang ia kenal.


"Anak muda Ris?" tanya Keisya lagi karena penasaran


"Iya kayak baru lulus SMA, nona ke atas aja biar saya yang bawa ini" jawab Riris santai berjalan melewati Keisya yang masih merasa antar percaya atau tidak, entah Dimas yang ia kenal atau Dimas yang lain.


Keisya mengikuti langkah panjang Riris di depannya. begitu sampai di depan pintu ruangannya, ia di kejutkan dengan sosok anak muda yang gagah rupawan meskipun penampilan terkesan biasa saja, tapi tak mampu mengurangi kadar ke_macho_an nya.


"Dimas?" ucap Keisya terkejut dan berusaha menetralkan keadaan serta menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Hai mbak, apa kabar sehat?" tanya Dimas tersenyum dan mengulur kan tangan nya. Keisya menyambut dengan senyum khasnya.


"Silahkan duduk kembali Dim, kabar aku baik Alhamdulillah, tumben jalan-jalan kesini, kirain udah lupa" Seloroh Keisya mencairkan suasana.


"Ya nggak bakalan lupa lah mbak" balas Dimas.


"Gimana kabar ibu? sehat? kamu kesini sendirian?" tanya Keisya bertubi-tubi


"Alhamdulillah sehat, ibu sehat mbak, aku kebetulan aja ada perlu ke Jakarta ada undangan reuni dari temen-temen SD" jawab Dimas


"Owh, jadi kesini mau sewa baju?" tebak Keisya


"hahaha kamu tetap aja nggak berubah suka ngebanyol" timpal Keisya


"Iya lah cuma pamor ku aja yang banyak berubah nya hahahaha" tawa Dimas


"Gedeg gue denger nya hahaha" ucap Keisya tertawa pelan.


"Ada baju rekomendasi kan mbak? aku mau beli satu set buat kondangan sepupu aku di desa, trus dua set buat aku sama Arkan, dan satu set buat ibu lengkap dari atas sampai bawah, aku udah bawain ukuran baju aku sama Arkan juga ibu" kata dimas membuat Keisya tiba-tiba terdiam


"Mbak, kenapa diam?" tanya Dimas yang merasa aneh melihat sikap Keisya.


"Nggak apa-apa, ini buat acara apa kalau boleh tahu?"


"Buat pernikahan kakak sepupu aku dari pihak almarhum bapaknya mas Reno, mau nikah dua atau tiga bulan lagi, makanya aku pesen duluan daripada nanti mendekati hari H malah kerepotan" kata Dimas


"Oh, kirain buat ke acara reuni" ucap Keisya


"Kalau buat acara reuni mah baju yang biasa aku pake aja, lagian acaranya juga ngumpul di cafe nya mas Azka" ucap Dimas


"Owh, iya jadi design terserah sama aku kan?" tanya Keisya memastikan


"Iya lah, terserah mbak aja yang buat, penting kita terima jadi aja" jawab Dimas.


"Oh oke fix kalau gitu, oh ya emm... maaf aku juga sekalian ada yang mau aku sampaikan mumpung kamu nya ada di sini" ucap Keisya


"Apaan tuh?" tanya Dimas penasaran.


"10 hari lagi acara pernikahanku, tanggal 15 hari Senin, kalau sekiranya kamu ada waktu luang sempetin datang ya" ucap Keisya pelan dengan dada bergemuruh hebat hingga tak sadar kedua tangannya menggenggam erat ujung tunik yang ia pakai.


"Owh, iya Insha Allah kalau nggak ada halangan aku datang, SMS aja dimana tempat acaranya nanti aku cari sendiri" ucap Dimas


Keisya terkejut dengan ucapan Dimas yang seolah tak terkejut apalagi mendapati ekspresi anak muda itu. tetap bersikap seperti biasa seolah tak ada yang membuat kaget.


"Iya, iya makasih Dim" ucap Keisya


"Mbak, boleh aku ngomong sesuatu juga?" tanya Dimas balik


"Sesuatu?" tanya Keisya dengan kening berkerut.


"Ini soal mas Reno, maaf kalau bikin mbak shock" kata Dimas


"Owh nggak apa-apa dim, aku udah tahu kok" putus Keisya tanpa mendengar ucapan Dimas selanjutnya.


"Tahu? mbak tahu kalau mas Reno mabuk berat semalaman gara-gara numpahin kue waktu mbak lamaran?" cecar Dimas membuat Keisya justru semakin terkejut.


"Apa?" ucap Keisya menutup mulut


"What's? mbak kok malah kaget?" tanya balik Dimas


"Mas Reno yang numpahin kue waktu itu? nggak mungkin dim, mas Reno mabuk gara-gara itu? jangan ngaco kamu, mas Reno kan udah nikah ,kenapa kamu malah ngomong yang nggak jelas gini?" ucap Keisya tak mengerti.


"Nikah?" tanya balik Dimas yang terkejut mendengar penuturan Dimas kalau Reno sudah menikah.


Dimas memilih diam sejenak mencoba menerka apa yang tidak ia ketahui selama ini dari sang kakak. kalau Reno menikah, lalu kenapa ibu tidak tahu? atau kah karena perempuan bernama Andin itu atau rumor dari orang lain? batin Dimas berperang.


"Dim, aku nanya, kenapa mas Reno mabuk?" tanya Keisya penasaran


"Mas Reno emang datang dan nggak sengaja kakinya nyerempet sesuatu trus kue nya jatuh waktu itu, sebenernya mas Reno memang berniat nemuin mbak, mau minta maaf soal kesalahan yang dulu sekaligus ngasih ucapan selamat atas pertunangan mbak sama calonnya, tapi karena insiden itu mas Reno akhirnya pulang, soal mabuk semalaman karena di ajak temennya dugem" jelas Dimas menutupi keadaan yang sebenarnya.


"Owh, gitu, aku nggak tahu kalau karyawan itu mas Reno dim"


"Owh gitu, ya udah karena aku disini, ya aku sampaikan permintaan maaf atas nama mas Reno dan keluarga karena kesalahan di masa lalu, mas Reno emang udah nikah sekarang udah pulang ke kampung istrinya karena istrinya lagi hamil muda" kata Dimas berbohong meski hatinya sakit saat mengucapkan kata itu.


"Owh iya, udahlah aku udah maafin semuanya kok, emang bukan takdir kita berjodoh, biar bagaimanapun kita tetap jadi saudara dim" ucap Keisya tersenyum samar


"Makasih pengertian nya mbak"


"Iya sama-sama"