KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 90



POV Reno


Pagi ini aku terlambat bangun karena setelah sholat subuh aku tidur lagi. badan ku masih terasa sakit dan pegal-pegal tapi niatku untuk ke Jakarta melihat kos-kosan dan toko kue tak pernah surut.


Sejak semalam Dimas tak lagi mengajak ku bicara sepatah katapun, Arkan juga sepertinya masih kesal tragedi piringnya jatuh dan tak jadi makan rupanya membuat anak itu ngambek dengan adik kembarnya.


Dan rupanya bang Somat juga begitu, semalam ingin minum kopi ternyata gula habis dan nasi di atas meja juga ludes beserta lauknya. jadilah bang Somat menyusul Arkan di warung bakso mas Sugeng.


Kebiasaan Dimas kalau marah memang aneh, apapun yang ada di atas meja ludes tak bersisa tapi tetap saja badannya ramping meskipun banyak makan.


Ibu baru kembali pagi tadi bersama Bulik Sukaesih, dan langsung pergi ke rumah sakit kabupaten untuk kontrol. aku sempat menawari untuk di antar tapi ibu tidak mau.


Saat aku terbangun pukul sembilan pagi, Bulik tetangga sebelah yang kemarin rumahnya tertimpa pohon kelapa datang membawa rantang berisi nasi dan lauk-pauknya.


Rupanya ibu memesan nasi untuk kami makan, ibu memang biasanya begitu kalau kondisinya sedang tidak fit pasti memesan makanan dari tetangga. karena Bulik Sum juga di kenal tukang masak di pesta-pesta.


"Mas, besok motor mu ku bawa ya" pamit Arkan saat aku tengah mengemasi barang-barang yang akan ku bawa ke Jakarta.


"Bawa aja, yang penting bensinnya ful" ucapku


"Beres, btw Dimas masih ngambek?" tanyanya setengah berbisik


"Nggak tau, bodo amat lah" kataku


"Ck, alamat buruk itu...mending nggak usah pergi deh mas, batalin aja, gue juga jadi takut gitu kalau Dimas marah" ucap nya nampak khawatir.


"haissh kenapa Lo malah ikut-ikutan Dimas sih Ar?" tanya ku kesal tapi juga membenarkan apa yang di katakan Arkan.


"Iishh...ya udah lah, terserah mas aja, yang penting hati-hati disana, semoga aja filling Dimas kali ini salah." ucap Arkan kemudian


"Semoga saja nggak ada apa-apa, udahlah bantuin masukin ini ke mobil, nanti kalau ibu pulang bilang aja aku udah berangkat" titah ku


"Mas ini baru jam sebelas siang, nggak sekalian aja nanti abis sholat duhur" saran Arkan dan aku langsung mengiyakan.


Tak lupa aku memasukkan sesuatu ke dalam tas ranselku, sebuah kotak berwarna merah beludru yang ku beli sebagi oleh-oleh di Kalimantan sebelum pulang ke kampung.


Kotak itu yang membuat aku semakin bersemangat. semoga saja apa yang menjadi harapan ku bisa terwujud sebagai penebus kesalahan ku di masa lalu.


Teriakan Arkan membuyarkan lamunanku, aku bergegas menuju ke sumber suara dan rupanya Arkan berteriak karena pintu mobil belum terbuka, aku tertawa melihat nya kesal, lalu ku tekan tombol otomatis kunci mobil.


Setelah sholat duhur aku berangkat setelah pamit dengan bang Somat dan ibu juga Arkan. Dimas sudah pergi sejak pagi, entah kemana anak itu pergi tanpa pamit pada ibu apalagi bang Somat yang sejak subuh sudah sibuk dengan ayam jagonya di belakang rumah.


Mobil melaju perlahan melewati rumah-rumah penduduk yang semua tertutup karena sang penghuni sedang bekerja atau justru sedang beristirahat.


***


"Ini baju yang kamu pakai buat lamaran?" tanya mama Hanna pada Keisya yang sedang menyusun baju-baju pesanan sesuai tujuan pengiriman.


"Iya ma, mama nggak suka?" tanya Keisya


"Ini bagus tapi terlalu polos sayang, di kasih outer gitu kayaknya bagus, emang Hanan suka yang polos-polos gini?" tanya mama


"Mas Hanan orangnya alim ma, kalau kebanyakan aksen ntar kesannya terlalu rame banget bajunya, apalagi yang datang bukan cuma orang tuanya tapi keluarga besar pesantren juga, makanya aku buat baju yang sederhana gini aja biar nggak terlalu kelihatan rame" ujar Keisya menjelaskan


"Iya juga sih sayang, tapi ini terlalu polos banget, mana kudungnya juga polos, aduuuh nggak banget deh, make baju itu yang penting kamu nyaman jangan peduli apa kata orang, pokonya ini di kasi outer, biar mama aja yang buat, tetap sederhana tapi elegan" imbuh mama Hanna ngeyel


"Ya udahlah terserah mama aja" ucap Keisya menyerah.


Memang kalau menghadapi mama Hanna yang Fashionable baik Kinara ataupun Keisya lebih memilih mengalah dan menyerahkan keputusan pada mama Hanna.


"Bajunya mau di apain ma?" tanya Kinara yang baru datang, Keisya langsung memberikan kode pada kakaknya untuk diam.


"Mau di rombak ulang, tenang aja" sahut mama Hanna tanpa menoleh ke arah menantu nya yang baru saja datang.


Kinara dan Keisya nampak saling bertukar pandangan. Kinara tersenyum dan menepuk pundak adiknya.


"Udah tenang, turutin aja apa mau nya mama" ucap Kinara pelan.


Keisya hanya memutar bola mata jengah, dan tetap melanjutkan aktifitasnya.


"Kei, kamu mau ngundang temen kamu nggak?" tanya Kinara


"Nggak, temen aku jauh semua, cuma undangan virtual aja, terserah mereka mau datang apa nggak" jawab Keisya


"Yakin?"


"Cuma lamaran mbak, ngapain juga undang banyak orang, mending nanti kalau udah jadi undangan pernikahannya baru aku kirimkan undangan secara langsung Kerumah mereka masing-masing" ucap Keisya


"Ya udah kalau gitu berarti pesenan kue di fitrah bakery nggak ada tambahan ya?" tanya Kinara memastikan.


"Iya terserah mbak aja gimana baik nya" kata Keisya


Kinara membantu Keisya menyusun barang di bantu dua karyawannya.


Lamaran tinggal tiga hari lagi, dan Keisya harus menyelesaikan pesanan pelanggan sehari sebelum acara lamaran.