
Sejak bangun tidur pukul 4.00 pagi Kinara sengaja menghindari Azka. ia masih merasa kesal dengan pertengkaran mereka kemarin. alih-alih meminta maaf sikap Azka pun tak jauh beda. ia sengaja mendiami Kinara karna merasa menyesal dengan sikapnya kemarin.
setelah selesai sarapan Kinara segera bersiap-siap untuk pergi ke galeri mendiang ibunya bersama Aldo. dan Azka sedang berada di ruang kerja papa. entah apa yang mereka bahas Kinara pun tak mau tahu.
"Mbak Rit aku keluar dulu ya.. Papa masih di ruang kerjanya kan?"
"Tuan barusan aja pergi sama den Azka Non katanya mau ke butik Nyonya."
"Ohh gitu. ya sudah aku pamit jaga rumah ya Mbak Rit..Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Aldo sudah menunggu di luar pagar. ia duduk santai di depan kemudi sembari mendengar musik melalui headset.
"Woiiii.... bukain pintunya Aldo...." Kinara mengetuk-ngetuk pintu mobil sejak tadi namun Aldo rupanya tak melihat membuat Kinara kesal setengah mati di buatnya.
Kinara meraih ponsel lalu menekan tombol panggil.
"Bukain pintu mobilnya ato gue lapor papa biar lo di pecat sekarang juga". teriaknya melalui telpon. Aldo cengengesan lalu membuka pintu mobil.
"Maapin yeee....hehe"Aldo mngangkat dua jarinya pertanda maaf.
"Ishh kok bisa Ririn betah sama lo..."
"Hehehe itulah uniknya gue.."
"Kepedean..hampir aja pita suara gue putus.."
"Kan gak sampe putus, sans aja sih...hehe"
"Serah lo deh Aldo..."sungut Kinara kesal.
Sepanjang perjalanan mereka berdua bercerita ngalor - ngidul hingga tak terasa mereka telah sampai di depan sebuah bangunan sederhana namun apik. bangunan itu sebenarnya adalah sebuah butik yang masih di kelola oleh tante Ranti salah satu saudara sepupu mendiang nyonya Amina. Karna satu-satunya keluarga yang dimiliki hanya tante Ranti saja. meskipun sebenarnya tante Ranti juga terbilang kaya dan terkenal dengan usaha butik dan beberapa gerai perhiasan serta barang-barang branded.
Sebelum meninggal almarhumah memberikan amanah pada tante Ranti untuk mengelola butik tersebut hingga waktunya tiba akan di serahkan kepada anak kembarnya Kinara dan Keisya.
"Emang tiap akhir pekan tutup ya?" tanya Aldo
"Iya..butik ini hanya buka senin sampai kamis aja, tiap jumat hanya buka sampai jam 12 siang. dan tiap sabtu tante Ranti dan karyawan kunjungan ke beberapa panti asuhan untuk membagikan separuh dari pendapatan butik ini dan hari minggu libur untuk karyawan karna dari senin-kamis mereka kerja 1x15 jam." papar Kinara
"Hmm emang berapa sih karyawan disini?"
"Aku juga kurang tahu sih soalnya jarang banget ke sini semenjak gak ada ibu. yang aku tau ada yang di bagian dalem galeri ada juga yang di bagian butik di depan dan ada juga yang di ruang produksi untuk jahit baju. dan kalo untuk ruang kerja ibu tempatnya agak terpisah dan gak sembarang bisa masuk kecuali aku, ayah dan Kak Revan aja. Tante Ratih aja gak berani masuk ke ruang kerja ibu."
"Emang kenapa enggak berani?"
"Tante sama ibu itu dekat banget, saat ibu enggak ada tante aja sempet gak mau keluar kamar selama 6 bulan. di dalem kamar nangisin ibu terus sampe ayah dan Kak Revan kalang kabut terlebih suami dan anaknya. tante enggak berani masuk karna itu bisa ngingetin dia sama ibu."
"Wahh sampai segitunya ya gue salut deh punya saudara kayak Tante Ranti."
"Ya Karna sejak kecil emang mereka berdua enggak pernah terpisah dan satu-satunya keluarga selain nenek dan paman Denis yang di miliki ibu cuma tante."
Kinara mengajak Aldo memasuki galeri milik mendiang ibunya yang masih berada di dalam bangunan yang sama hanya saja tempatnya terpisah . Aldo dibuat kagum dengan hasil lukisan mendiang Ny.Amina.
Kinara melihat-lihat lukisan ibunya yang terpajang rapi di dinding. Sampai pandangannya tertuju pada salah satu hasil karya Ibunya sebulan sebelum meninggal. Sebuah lukisan abstrak yang memiliki ribuan makna yang Kinara pun tak begitu mengerti.
Sorot matanya berhenti di salah satu huruf kecil di pojok kanan bawah lukisan. Ada sebuah inisial huruf A tertera jelas jika di lihat dari dekat. Kinara mendekatkan pandangannya untuk meyakinkan apa yang dilihatnya. Ternyata tulisan itu ada kelanjutannya sebuah nama yang sengaja dilukis secara tidak jelas oleh ibunya. Anthony! Tangannya terulur menyentuh lukisan tersebut namun sedikit mengganjal. "Do sini deh.." panggilnya dan Aldo segera menghampiri.
"apa sih?" tanya Aldo bingung
"Ini apaan ya?" kok ada yang ngeganjel?" tambah Aldo heran ia meraba ujung lukisan dan semakin merasakan tangannya seperti menemukan sesuatu di balik lukisan itu. Mereka beradu pandang beberapa saat. "Kita cuma berdua kan? Cctv aktif? Dimana ruang penyimpanan brankas?" tanya Aldo memastikan.
"Di ruang kerja Ibu, emang kenapa?"
"Bisa bantu gue angkat lukisan ini kan? Keknya ada sesuatu deh lu ngerasa juga kan?" tanya Aldo lagi. Kinara mengangguk kemudian membantu Aldo mengangkat lukisan itu ke ruang kerja mendiang Ibunya.
"Wow hebat bener nih teknologi berasa di film hollywood gue Ra, ini kedap suara, pintu terkunci otomatis dan pintunya bisa ngomong ya heheehe" Oceh Aldo dengan mata berbinar, Kinara hanya menggeleng mendengarnya.
Aldo meletakkan lukisan itu di lantai dengan posisi terbalik. Benar saja rupanya kanvas yang di gunakan Ibunya berlapis tiga. Mereka saling menatap kemudian membuka bingkai lukisan perlahan dan benar saja mereka menemukan 2 buah benda. Satu berbentuk kecil hitam bulat dan satunya sebuah benda berbentuk persegi mini.
"ini apaan ya Do?" tanya Kinara heran.
"Mana gua tau..." jawab Aldo seraya membolak balik kedua benda tersebut. "Ini flashdisk kalo yang ini bulet-bulet apaan yak? Ada komputer gak?"tanya Aldo
"Itu di sana coba lu buka!" ujar Kinara.
Aldo memasukkan flashdisk ke dalam slot lalu membuka isi di dalamnya. Benar saja ada beberapa video percakapan antara mendiang Ibu Kinara dengan seorang pria. "Ra sini lu liat" pinta Aldo, Kinara menghampirinya untuk melihat apa yang Aldo tunjukkan.
Aldo membuka satu persatu video tersebut. Mereka berdua sangat terkejut terlebih Kinara. Tangannya mengepal kuat, wajahnya yang tadi berbinar kini pucat pasi menahan gemuruh dalam dadanya. "Dia.... Diaaa.... Pembunuh itu" ucap Kinara bergetar Aldo memegang pundak Kinara berusaha menenangkan. Aldo segera mematikan Video dan memindahkan file di dalam flashdisk tadi ke flashdisk mini miliknya yang berfungsi sebagai accecoris ponsel. Ia menduga ada rahasia besar di balik masalah keluarga mereka. Setelah selesai Aldo menyimpan kembali semua benda yang mereka temukan ke dalam bingkai lukisan tadi.
Kinara masih bergeming. Ia masih tidak menyangka kenyataan yang ia lihat hari ini dengan tragedi kematian ibunya yang mendadak 3 tahun lalu. Air matanya luruh seketika tanpa di minta. Sesak, perih, kecewa, semua menyatu. di saat ia berusaha menerima takdir dan melupakan rasa sakit karna kematian ibunya itu sendirian malah ia di hadapkan dengan kenyataan yang sulit ia terima. Ia tahu bahwa ibunya meninggal karna di bunuh secara sengaja oleh seseorang. Sedang ayah dan kakaknya tak mengetahui itu.
3 tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa menghapus kenangan buruk itu. Ia berusaha menyimpan duka itu sendirian. Ia masih takut untuk mengungkap kebenaran yang di lihatnya tiga tahun lalu. Berusaha memaafkan pelaku dan menerima takdir.
Kinara terduduk lesu di bawah meja komputer tangannya tanpa sengaja menjatuhkan sebuah benda ke lantai. Benda itu menyala,Kinara mengambil dan menekan sebuah tombol di sana. Klik. Monitor kaca di dalam ruangan itu menyala secara otomatis. Aldo pun ikut terkejut saat tengah membereskan sisa bingkai yang di buka nya.
Sebuah video singkat yang di rekam 15 tahun yang lalu saat ulang tahun ibunya. Dua balita kembar perempuan dan seorang balita laki-laki sedang bermain bersama kedua ibu mereka.
"Tante Hanna?" ucap Aldo lirih. Tak lama seorang maid mengambil salah satu bayi kembar itu karna menangis buang air. Tak lama kemudian maid tadi kembali dan berteriak histeris karna kehilangan balita yang ia bawa saat sedang mengganti popoknya.
"Aku kekamar mandi nyonya menyimpan baju kotor Keisya dan mencuci bekas kotorannya. Saat keluar Key sudah tidak ada. Aku mencarinya ke semua sudut tidak ku temukan hikkss maaf nyonya... Aku khilaf" tiit Kinara menekan tombol off layar itu mati secara otomatis.
"Do gua yakin masih ada banyak rahasia di dalam sini yang belum kita temukan hikksss... Tapi aku... Aku gak kuat Do... Aku.... Aku...." ucap Kinara lirih tangisnya semakin menjadi membuat Aldo ikut kalang kabut menenangkan.
🌷🌷
"Cappucino hangat satu, Vanilla Latte satu" Aldo memesan 2 menu pada pelayan.
Saat ini mereka berada di sebuah cafe. Meski harus bersitegang dulu dengan Kinara yang masih shok dengan semua yang mereka temukan di dalam ruang kerja mendiang Nyonya Amina. bahkan aroma minuman kesukaannya berasa hambar di indera penciumannya sehambar hidup yang kini ia rasakan.
Sebagai sahabat yang sudah mengenal Kinara sejak smp, Aldo tahu tidak mudah menjalani hidup seperti Kinara. Gadis itu selalu menyimpan semua kesedihannya seorang diri sejak ibunya meninggal. Kinara gadis yang penurut, periang, respect, tidak pernah mengeluh. Hal itu lah yang membuat Aldo pernah menaruh hati padanya sebelum Rangga hadir dalam kehidupan Kinara.
Aldo menyeruput minumannya seraya memainkan ponsel. Ia sengaja membiarkan Kinara diam tidak mengajaknya ngobrol atau membahas apapun setidaknya sampai mood gadis itu perlahan sedikit membaik.
"Gua kecewa kenapa mereka harus berbohong soal kematian Keisya" ucap Kinara lirih.
Aldo menaruh ponselnya di meja. "Yakinlah pasti ada alasan kenapa mereka harus berbohong. Coba lu pikir waktu lo hilang, bos papa sampe bingung nyariin lo di apartemen di kira lo belum pulang sekolah pas balik kerumah ternyata lo enggak dateng ke sana. Azka gak bisa di hubungin sampe beliau telpon mami gua nanyain kalian. Gua bantu nyariin enggak ketemu sampe akhirnya jam sepuluh malem bang Yusuf ngabarin kalau lo ada nginap di rumahnya. Lu tau enggak gimana stressnya bos papa?"
Aldo menghentikan ceritanya sejenak.
"Besoknya Azka di marahin habis-habisan sampe di rumah. enggak ada yang berani ngelawan bos papa bahkan nenek Handoko sekalipun. Selama ini mereka ngejaga lo mati-matian karna kalo sampe lo kenapa-napa bukan cuma bos papa tapi ayah lo juga yang hancur. Lo ngerti?" jelas Aldo
"Gua masih belum ngerti kenapa sampe kayak gini Do.. Apa salah gue dan pembunuh itu...." Kinara menghentikan ucapannya. Matanya tertuju pada dua orang yang baru datang ke cafe. Aldo menatapnya bingung dan mengikuti arah tatapan mata Kinara. Ia menoleh ke belakang.
"Azka...?? Lo......???!! Ucap Aldo
TBC