
"Mbak Rena udah lama ya kerja disini?" tanya Kinara pada Rena yang sibuk menyiangi sayur
"Baru setahun nona, biyung yang ajak saya kerja disini setelah bapak meninggal"
"Biyung?" tanya Kinara bingung
"Iya orang disini manggilnya bik Asih, dia saudara dari nenek saya"
"Oh, tapi dari tadi aku datang cuma ada mbak Rena aja di sini?"
"Iya, karena biyung sedang izin pulang kampung lihat cucu nya yang baru lahir nona"
"Oh gitu, krasan ya sampeyan disini mbak Ren?"
"Alhamdulillah betah nona, tuan juga baik hati orangnya, malah saya mau di daftarin kuliah tahun ini"
"Waah bagus tuh, alhamdulillah itu rejeki mbak Rena, di terima aja mbak, kapan lagi sih ada orang sebaik om Denis"
"Hehe iya mbak beliau itu orangnya baik tegas pula trus suka bercanda sama anak-anak disini makanya mereka pada betah semua kerja sama beliau"
"Om Denis memang begitu orangnya mbak."
"Nona, udah lama ya menikah sama den Azka?"
"Belum ada setahun mbak, kenapa emang?"
"Nikah itu gimana sih nona?"
"Gimana apanya mbak Ren?"
"Lha katanya si mbok kalau nona itu menikah di jodohin?"
"Hm, emang iya mba Rena, mbok siapa yang bilang?"
"Mbok Jum, asisten paling di segani disini, dia kepala asisten mbak, orangnya ramah tapi tegas,trus telaten banget ngurus anak-anak"
"Loh, bukannya bik Asih yang sudah lama di sini?"
"Lebih dulu si mbok daripada biyung yang mengabdi disini nona, kalau si mbok kan dulu kerjanya sama bos yang satu itu saya lupa namanya, trus kalau biyung dulunya kerja sama istrinya pak bos trus sama pak bos di pindah disini buat ngurusin rumah peninggalan almarhum adiknya pak bos"
"Oh gitu, apa kalian disini pake shift?"
"Kalau untuk bersih-bersih dan urusan rumah tangga sudah ada yang di tugasin nona, termasuk saya sama biyung, yang pake shift itu satpam sama boboho di depan"
"Bobo....ho??"
"Iya itu loh yang pake baju serba hitam kecamata hitam sepatu hitam, sampe kulitnya aja hitam ngalahin angusnya panci gosong wkwkwk"
"Wkwkwkkwk bodyguard mbak Rena bukan boboho hahahahah"
"Abis susah nyebutinnya makanya aku sebut aja boboho nona biar beres"
"Mbak Rena ada-ada aja. oh ya ini mau di masak sup kan ya?"
"Oh iya nona, tadi saya di suruh bikin sup iga sama tuan karna akan ada tamu yang datang nanti malam katanya"
"Ooh gitu, sini biar aku aja yang masak sup iganya, mbak Rena kerja yang lain aja"
"Iih jangan nanti pak bos marah gimana?"
"Om Denis nggak bakalan marah, dia tahu kalau aku suka masak"
"Beneran loh ini nona?"
"Iya don't worry mbak Rena!"
"Janji ya nggak bikin wajanku angus?"
"Hahaha kayak siapa aja, mbak duduk aja deh liat aku masak daripada bawel"
"Okelah siap!"
Setelah kepergian Aldo, Azka dan Kinara memang masih berada di rumah tuan Denias, dengan alasan karna tidak ada kendaraan yang bisa mereka bawa pulang kerumah. terlebih lagi Aldo berpesan agar tak meninggalkan rumah tanpa pengawasan sampai ia kembali dari pemakaman.
Sejujurnya Kinara mulai merasa jengah dengan semua hal yang melekat pada keluarga ini, apapun harus dengan pengawasan, seolah kebebasan mereka di renggut begitu saja.
Terlebih setelah mengetahui kenyataan tentang Keisya, juga adik kembar mendiang ibunya meskipun ia sendiri masih tidak yakin jika bibi nya masih hidup. ada sesuatu yang menggelitik di sudut hatinya tentang sosok Amira yang sering ia dengar ketika sang ibu masih hidup.
Seringkali ibunya berucap jika rindu pada Amira sang adik kembarnya yang tidak di ketahui dimana berada. entah sudah mati atau masih hidup.
Malam itu setelah tak sengaja mendengar percakapan mama Hanna dan Dokter Fritz, Kinara merasa penasaran dengan sosok Amira, ada keinginan untuk mencari tahu tentang beliau namun ia urungkan karna mengingat beberapa hal yang telah mama Hanna ceritakan padanya tentang Azka yang pernah mengalami trauma dan depresi sejak kecil.
"Mbak Rena, tau nggak kira-kira siapa tamu nya om Denias?"
"Em saya kurang tahu nona, pak bos hanya bilang beliau ingin datang berkunjung sama mau menjenguk nona Keisya".
"Oh gitu,"
"Emang kenapa, nona penasaran ya?"
"Ah nggak juga mbak Ren, nanya doang"
Kinara dan Rena kembali berkutat dengan semua bahan makanan untuk santap malam. sedang kan Azka masih larut dalam mimpinya sejak siang tadi. bahkan hari sudah menjrlang sore, Azka masih tetap asyik larut dalam nyanyian tidurnya alias ngorok.
"Hm mas mas kamu ini kerjanya kalau tidur ngorok" gumam Kinara menghampiri Azka yang tertidur di karpet ruang keluarga.
"Bangun smudah sore belum sholat Ashar kan?" Kinara menggoyang tubuh Azka
"Hm masih ngantuk"
"Bangun ini udah sore, waktu ashar nggak lama habis mas"
"Nggak bawa baju ganti"
"Udah ada tuh di anterin Mbak Reni tadi"
"Bentar lagi lima menit"
"Nggak, dapat jatah seterusnya"
"Aiih jangan gitu dong, udah mulai resek ya?"😀
"Ck, cepetan bangun udah sore"
"Mandi bareng"
"Nggak, gue itung 1.....2. ...
Cup
cup
cup
cup
cup
"Aiihh bau ileer Azkaaaaaa" teriak Kinara tak terima Azka mencium seluruh wajahnya
"Biarin"
"Ganjen banget sih jadi cowok"
"Kan sama istri sendiri"
"Ya tapi nggak gitu juga lah, ini rumah orang Azka"
"Nggak ada yang liat kok"
"Tetep aja nggak sopan"
"Diem atau gue cium lagi nih?"
"Ck bawel lo, pergi sana. bau lo"
"Ceriwis" Azka berlalu meninggalkan Kinara yang masih memasang wajah garang karna perbuatannya tadi.
Seseorang tersenyum dari balik dinding pembatas ruangan melihat tingkah kedua pasangan suami istri itu.
"Lucu juga mereka, kalau aja ada jodohku sekarang hihihi" batin Rena
" Ngapain mbak?"
"E..eh nona Keisya, itu.."
"Itu apa mbak?"
"Nggak bukan apa-apa nona"
"Mbak Rena udah selesai masak?"
"Iya nona, mau makan sekarang?"
"Nanti aja, bawa ke kamar aja mbak!"
"Buatkan aku pecel lele yang kayak biasa mbak Rena masak buat semua asisten disini"
"Hm lelenya abis nona, yang lain aja ya?"
"Kalau gitu udang asam manis kayak biasanya"
"Oke sip nona!"
"Aku mau ke atas dulu ya, oh ya kakak ku masih belum pulang kan?"
"Belum nona, mereka mau bulan madu disini kayaknya"
"Hah? bulan madu? maksudnya?"
"Ahh itu loh kalau sudah menikah mereka jalan-jalan, nyantai nonton tv makan bareng dll"
"Ooh gitu, ya udah aku keatas dulu"
"baik nona"
***
"Halo mas, apa Kinara ada disana bersama Keisya?" tanya nyonya Amira lewat sambungan telepon
"Iya ada disana, karna bodyguard yang di tugaskan besanku ada disini sedang melayat"
"Oh baiklah, aku segera kesana selepas sholat maghrib"
"Baiklah, sampaikan salamku pada si kembar"
"Oke"
Nyonya Amira segera memutus sambungan telepon, sejujurnya ada sedikit ragu di hatinya untuk menemui kedua keponakannya itu. takut jika mereka tak akan menerima kehadirannya.
"Mommy, what happen?"
"Nothing, just still nervous!"
"Why?"
"I will meet them tonight, but I afraid if they will not accept me"
"Don't worry mom, I will go with you"
"Really?"
"Really, I will accompany you to meet them tonight"
"Thank u dear"
"Welcome"
***
"Ra,, kapan kamu siap?" tanya Azka saat mereka selesai sholat maghrib berjamaah
"Nggak tahu"
Jawaban Kinara membuat Azka mendesah berat. tapi ia tak bisa memaksa jika Kinara menolak nya. ia tak ingin kesalahannya terulang kembali dan menyakiti Kinara untuk kesekian kalinya.
"Kenapa melamun?"
"Ahh nggak kok"
"Mikirin yang tadi ya?"
"Nggak juga,maaf kalau kamu nggak nyaman"
"Nggak papa, aku juga minta maaf kalau seoama ini banyak bikin salah sama kamu, aku nggak tahu kalau kamu pernah punya trauma"
"Maaf, kamu tahu darimana?"
"Dari mama kemaren"
"Oh maaf kalau penyakitku justru bikin kamu nggak betah ada di sisi aku"
"Nggak papa, kita masih sama-sama belajar"
"Ya udah yuk makan aku lapar" ucap Kinara beranjak merapikan alat sholat.
Mereka turun ke bawah setelah bersiap-siap.
"Eh udah nunggu, maaf telat!" Kinara duduk di kusi seberang berhadapan dengan Keisya, sedangkan Azka duduk tepat di samping sang istri.
"Nggak papa nona,"
"Ka..kak mau makan apa?" tanya Keisya pada Kinara
"Aku bisa ambil sendiri Kei," jawab Kinara agak kikuk
"Mas mau makan sama lauk apa?"Kinara menoleh pada sang suami.
"Apapun yang kamu ambilin aku makan sayang"
"Ya udah deh apapun"
Keisya memperhatikan interaksi kedua suami istri itu tanpa berkedip. ada sesuatu yang aneh di sudut hatinya melihat sikap Kinara pada Azka.
"Kenapa aku gini?" batin Keisya.
"Kei, cepetan di makan kenapa malah bengong?" tanya Kinara melihat Keisya melamun
"Ehh..i..iya kak"
Suasana berubah canggung setelah Kinara menegur Keisya yang tengah melamun. Azka hanya bersikap cuek melihat tingkah Keisya. bukan ia tak menyadari jika sejak kedatangan mereka siang tadi sikap Keisya selalu mencuri pandang padanya. apapun itu ia tidak terpengaruh sedikitpun.
ting tong
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Kinara, Azka dan Mbak Rena menjawab bersamaan
"Itu mungkin tamunya mbak Rena"
"Iya nona, saya akan bukakan pintu dulu"
"Biar aku aja mbak Ren, sampeyan makan aja"
"Tapi nona"
"Sudah lanjut aja makannya"
Kinara segera keluar dari ruang dapur menuju pintu utama.
"Maaf ingin bertemu siapa ya?" tanya Kinara pada gadis belia yang di taksir umurnya seusia dengannya.
"Is it my twins cousin home?"
"What, what's u mean?"
"I hear that my twins cousins live here"
"Who are they?"
"Kinara and Keisya"
"That's me and my twin sister. but who you are?"
"I am Steffy, your cousin sister"
"What?"
"Don't believe me?"
"Sorry, I don't believe you, I don't habe any sister with your name"
"Oh my god, I am Mrs Amira's daughter, my mom is your mom twins sister"
"WHAT??!"
"She was died, my aunt was died,"
"No, my mom still live untill now, she is not died"
"But my mom said that her twin sister was died"
"Oh my god🤯....Mom where are you?"
Tak lama setelah Steffy memanggil ibunya, muncul wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski terlihat guratan halus di wajah cantiknya.
"Kau..." ucap Kinara terkejut melihat wanita yang berjalan dengan anggun datang menghampirinya dengan senyuman khas persis milik ibunya.