KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 124



"Apa masih bisa di sembuhkan dok?" tanya Reno pada dokter yang memeriksa Andin


"Masih bisa, masih bisa di sembuhkan dengan pengobatan" Jawab dokter spesialis kandungan bernama Rahma


"Kemungkinan hamil masih bisa kan dok?" tanya Reno lagi


"Masih, kita obati dulu kista nya, kalau ibu Andin tidak mau operasi, kita bisa lakukan prosedur alami, pakai herbal yang bisa menghambat pertumbuhan sel kista" jelas dokter


"Bagaimana Kamu mau kan?"tanya Reno pada sang istri yang sejak tadi tak berhenti m menangis


"Iya" jawab Andin lirih


Reno memeluk Andin erat, satu tahun mereka menikah dan sudah berulang kali melakukan pemeriksaan, baru kali ini Andin tahu jika ada kista dalam rahimnya.


"Kita berusaha, biar Tuhan yang menentukan ya sayang" ucap Reno menenangkan istrinya


Setelah membicarakan banyak hal soal program kehamilan yang akan mereka lakukan, Reno akhirnya mengajak Andin pulang agar bisa beristirahat dengan tenang.


Ia tahu mental istrinya begitu tertekan karena keinginannya yang besar akan hadirnya seorang anak. Bu Fitri yang selalu setia mengunjungi mereka di rumah setiap pagi, selalu memberi wejangan agar Andin tak terus berlarut dalam kesedihan.


"Nak, urusan buah hati itu hak prerogatif Allah, Insha Allah Tuhan berikan jalan asal kamu yakin, kami pasti sembuh, pasrah saja dengan ketentuan Allah swt ya nak" ucap Bu Fitri suatu pagi saat datang mengunjungi anak dan menantunya.


Reno memapah Andin masuk ke dalam rumah dan beristirahat.


"Mas mau kerja dulu ya? ada meeting penting dengan pihak kedua yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita" ucap Reno pamitan


"iya hati-hati ya mas"


"Mau di bawain apa?"


"Nggak usah, yang penting kamu pulang"


"Oke, tidur ya, nanti biar ibu yang datang kesini atau Cintya yang nemenin kamu"


"Iya"


Reno langsung pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil berkas dan tas kerja. Saat mengambil salah satu map, sesuatu terjatuh dari tumpukan map.


"Undangan?" gumamnya seraya mengambil undangan yang terjatuh itu dari lantai.


Reno membuka perlahan undangan berukuran persegi empat itu. Meski bentuknya kecil.


"Aqiqah Shofia Zahra Humaira" gumamnya membaca sebuah nama. sudut matanya berhenti pada satu nama Keisya Prameswari Wibowo.


"Ini undangan sudah satu tahun lalu, kapan aku Nerima undangan ini? kenapa bisa disini?" batin Reno menatap undangan yang masih terlihat rapi dan bersegel saat ia buka.


"Nggak mungkin Andin yang Nerima, tapi bagaimana bisa disini? tapi kalaupun Andin yang Nerima kenapa dia nggak ngomong?" batin Reno bertanya


Reno menyimpan undangan ke dalam laci mejanya dan langsung pergi.


Di gerbang ia berpapasan dengan ibunya yang baru saj tiba untuk menjaga Andin.


"Mau berangkat?" tanya Bu Fitri


"Iya Bu, tolong temani Andin dulu ya, aku harus meeting" pamit Reno mencium punggung tangan ibunya


"iya hati-hati"


Reno langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang.


"Pak Ujang, nanti singgah beli buah ya ditempat biasa saya beli" pinta Reno


"Iya pak"


"Oh ya pak, boleh ngomong sedikit?" tanya pak sopir


"Ada apa pak?"


"Emm cuma mau kasih saran saja, kemarin saya ketemu ibu muda di depan rumah sakit kasusnya juga sama dengan Bu Andin pak, ibu ini malah sudah dua belas tahun menikah belum dapat momongan, dia mau terbang ke Singapura untuk pengobatan sekaligus program kehamilan disana" jelas pak sopir


"Oh ya pak? Kayaknya bisa tuh saya ikuti langkah nya, di Singapura ya, nanti lah saya cari-cari informasi, makasih infonya pak, doakan saja istri saya cepat hamil" kata Reno


"Insha Allah selalu pak"


Sampai di kantor Reno langsung menghadiri rapat terbuka dengan semua karyawan dan mendengarkan keluhan serta saran mereka.


Tengah hari Reno baru menemui klien yang sudah membuat janji sebelumnya.


"Senang bekerjasama dengan anda pak Reno"


"Sama-sama saya juga senang bisa menjamu anda di sini"


Setelah mencapai kesepakatan akhirnya Reno memilih pulang karena hari sudah sore. Tak lupa ia singgah di toko buah langganan nya.


"Anak ganteng, nunggu siapa?" tanya Reno pada seorang anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun yang sedang membawa baki buah.


"Nunggu Ibu sama mama, om siapa?" tanya anak itu menatap Reno dengan lekat


"Kenalin nama om Reno, kamu siapa?" tanya balik Reno


"Aku Faras om" jawabnya mencium tangan Reno.


"Anak Sholeh, udah beli buah atau mau ikut om milih buah?" tawarnya


"Boleh, ayo om kita milih buah bareng" ucap anak laki-laki itu bersemangat.


"Emang ibu kamu kemana?"


"Ibu lagi sama mama ke taman bunga yang di belakang toko ini"


"Kenapa kamu nggak ikutan?"


"Nggak suka bunga om, aku lebih suka tanaman"


"Bunga kan juga tanaman, aneh kamu ini nak"


"Kan beda om, kalau bunga itu warna-warni kalau tanaman pohon kan warna nya cuma ijo"


"Gitu ya om?"


"Iya, kamu beli buah buat siapa?"


"Buat adik aku Kaila yang lagi ngambek, kalau aku beliin buah kan dia nggak ngambek lagi"


"Hahahah, adek kamu ada berapa?"


"Ada dua tapi tinggal satu om" ucap Faras tiba-tiba dengan wajah sedih


"Kok bisa?"


"Adek meninggal sakit panas, dan ibu juga sakit om" ucap Faras menunduk


"Maaf ya om turut bersedih, adek yang di surga sudah tenang sama Allah swt"


"Makasih om, om kok baik banget sama aku? Kan kita baru kenal" tanya Faras.


"Karena om juga punya adik"


"Oh ya? Adik om sama kayak aku?"


"Adik om sudah besar sudah menikah"


"Yah berarti aku nggak punya teman yang kayak aku dong"


"Kamu kan sekolah, banyak teman kan?"


"Iya sih, om keranjang ku udah penuh,"


"Oh iya tunggu,kita sama-sama ke kasir ya"


"Om beli kok banyak banget untuk siapa?"


"Untuk istri om di rumah, sama keluarga yang lain"


"Om udah punya anak ya?"


"Belum" ucap Reno tersenyum dan mengelus rambut Faras.


"Om ayo ke kasir, ini berat"


"Hehe sini biar om yang bawa"


"Ibu kamu ke taman bunga mau ngapain?"


"pesen bunga buat nyekar ke makam adek"


"Nyekar ya, kamu tunggu disini ya, biar om yang ke kasir"


"Iya om"


Reno langsung ke kasir dan membayar buah yang mereka pilih tadi.


"Nah ini buat kamu dan ibu mu" ucap Reno memberikan dua kresek putih buah pada Faras.


"Banyak banget makasih ya om baik hati"


"Sama-sama, om mau pulang, kamu mau tunggu ibu kamu?"


"Iya, aku mau tunggu ibu di teras depan aja, om pulang aja nanti di cariin istrinya"


"Haha makasih pengertian sekali, hati-hati ya, om pulang"


"Iya om hati-hati juga ya, makasih buahnya"


"Sama-sama, sampai jumpa"


"Sampai jumpa"


Reno masuk ke dalam mobil dan Faras tetap mengamatinya hingga mobil yang ia kendarai menghilang di ujung jalan.


"Aku ingat om itu, om itu kan yang ada di album ibu di gudang, nanti aku cariin lagi ah" gumamnya


"Faras, kamu disini" panggil Kinara yang baru datang dari arah samping toko


"Iya ma, ibu mana?"


"Kamu beli buah?" tanya Keisya yang menyusul di belakang Kinara


"Iya Bu, di beliin om Reno"


"Reno?" tanya Kinara dan Keisya bersamaan. Mereka saling menatap


"Reno siapa ras?" tanya Keisya


"Ya om Reno, namanya om Reno aku nggak tahu nama panjangnya Bu" jawab Faras.


"Orangnya tinggi? Putih? Gagah?" tanya kinara


"Iyalah, namanya juga laki-laki pasti gagah lah ma"


"Hihh nih anak nyebelin, dah ayo kita ke makam nanti kesorean" ajak Kinara menggandeng Keana.


Mereka berjalan beriringan menuju ke mobil, sampai di jok belakang, Keana menimpali Faras dengan ucapan menohok.


"Kalau kenal orang jangan sembarangan dek, harus hati-hati, ibu sama mama itu kepikiran loh kamu bisa di beliin buah segini banyaknya sama orang nggak di kenal" nasihat Keana pada Faras.


"Kakak nggak tahu aja kalau om Reno itu mantannya ibu dulu" bisik Faras.


"Hati-hati kamu ras, mereka dengar bisa kapok kamu di marahi ibu"


"Sst diam makanya kak"