KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
110 Pingsan Bersama



Kinara masih terdiam di kamar setelah pulang dari rumah sakit siang tadi. bahkan untuk makan malam pun Mbak Reni yang mengantarkan ke kamar.


Azka sibuk mengerjakan tugas kuliah di ruang kerjanya, meski sesekali bolak balik ke kamar untuk melihat keadaan istrinya.


Mama Hanna dan papa Anderson juga masih belum kembali, pulang dari rumah sakit mereka singgah di rumah salah satu kerabat yang mengadakan acara syukuran kecil-kecilan karena memasuki rumah baru.


Berkali-kali Kinara mendesah berat, bayangan kematian ibu, kembali mengusik hatinya. air mata pun sudah mengering. makan malam yang mbak Reni antarkan belum ia sentuh sama sekali.


Pukul sembilan malam Azka kembali ke dalam kamar setelah selesai mengerjakan tugas kuliahnya. di lihatnya Kinara yang tidur meringkuk dengan kelopak mata yang bengkak.


Azka melihat ke atas nakas ada nasi dan kawan-kawannya yang masih utuh tidak tersentuh. Azka mendesah, khawatir jika kondisi Kinara akan berpengaruh juga pada kondisi kehamilannya.


"Ra bangun, nasinya dari tadi kamu anggurin loh, makan dulu ya sayang?" ucapnya seraya mengusap lembut kepala istri nya.


Kinara yang memang sensitif dengan sentuhan langsung terbangun saat Azka mengusap kepalanya.


"Makan ya?"


Kinara menggeleng dengan raut wajah yang sedikit pucat.


"Kasian sama anak kita sayang, kalau kamu sakit dia juga sakit, makan ya aku suapin" ucap Azka menghiba agar sang istri mau makan. akhirnya Kinara mengangguk samar membuat Azka senang bukan main.


"Mas tahu yang terjadi selama ini?" tanya Kinara di sela mengunyah makanannya.


"Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh ya, fokus sama anak kita saja" elak Azka agar Kinara tidak terlalu berpikir berat.


"Jawab aku" sentak Kinara seraya menjauhkan sendok dari genggaman Azka.


Azka menahan gejolak dalam dadanya, mengingat kondisi istrinya yang tidak stabil ia memilih diam terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Ra, please tenanglah kasihan anak kita kalau kamu seperti ini sayang" ucap Azka lembut.


"Kalian nggak ada bedanya pembohong semua, belum cukup kah kalian membohongi ku tentang Keisya, Tante Amira, sekarang kalian menyembunyikan penjahat itu dan menolong nya hah, dia yang bunuh ibuku mas.." teriak Kinara histeris membuat Azka terkejut. dengan sigap ia memeluk Kinara yang menangis histeris


"Kalian pembohong..." ucap Kinara terisak dalam pelukan Azka.


Mbak Reni yang sedang berada di ruang keluarga langsung naik keatas saat mendengar teriakan Kinara.


"Nona nggak papa?" tanya mbak Reni panik


"Mbak tolong ambilin ponsel aku di ruang kerja" ucap Azka


"Baik Den"


"Sayang udah ya ..."Azka memeluk Kinara ia telungkup kan tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


"Den Azka ini hapenya" mbak Reni datang membawa ponsel Azka


"Rapiin dulu mbak sprei nya ya, biar dia bisa tidur nyenyak" pinta Azka. dengan sigap mbak Reni melakukan permintaan Azka.


Tanpa di sadari olehnya ternyata Kinara sudah pingsan dalam dekapannya, saat tubuh Kinara mendadak ke lunglai Azka terkejut bukan main lalu meminta mbak Reni menyiapkan mobil dan membawa Kinara ke rumah sakit.


"Sayang bangun, kamu kenapa harus begini sih" tangis Azka pecah saat melihat Kinara pingsan dengan darah mengalir dari kedua kakinya.


"Mbak Reni telpon mama papa sekarang, pak Agus cepetan bawa mobilnya istri saya pendarahan" teriak Azka histeris sembari menggendong Kinara masuk ke dalam mobil. sedang kan mbak Reni bersama bik Siti memakai mobil yang lain bersama pak Man suami bik Siti.


Mereka berlalu meninggalkan rumah dan menuju ke rumah sakit. sepanjang jalan Azka merutuki kesalahannya, andai saja ia tidak mengajak Kinara ke rumah sakit siang tadi hal ini tidak akan terjadi.


Sudah pasti kondisi psikologis Kinara bisa mempengaruhi kondisi kehamilannya apalagi baru masuk bulan ke tiga. dalam kondisi trimester pertama memang sangat riskan.


Azka benar-benar menyesali perbuatannya tadi siang. andai saja tuan Denias tidak ngotot ingin mempertemukan mereka semua pada Anthony,hal ini tidak akan terjadi.


Mobil sudah memasuki pelataran rumah sakit, Azka membopong Kinara masuk ke ruang IGD.


Tak lama mama dan papa datang menyusul Azka di rumah sakit.


"Apa yang terjadi nak?" tanya mama Hanna lembut meski hatinya di landa gelisah tak karuan.


"Semua salah ku ma" Azka memeluk sang mama dengan berurai air mata.


"Sudah tenang dulu, biarkan dokter yang melakukan tugasnya dulu" ujar sang papa Sabri mengelus punggung kekar Azka.


"Nyonya ini pakaian ganti untuk nona muda sama tuan" ucap bik Siti dengan sedikit takut.


"Terimakasih bik, malam ini kalian disini saja ya, saya sudah minta semua bodyguard dan anak lainnya berjaga di rumah" ucap tuan Anderson.


"Baik tuan"


"Apa Kinara tadi sudah makan?" tanya tuan Anderson membuat mbak Reni dan bik Siti saling sikut saking takutnya.


"Ya sudah kalian istirahat dulu di bilik keluarga pasien yang ada di lantai atas ya, ini pakaian gantinya juga di bawa. nanti Kinara akan saya minta untuk di pindahkan ke ruang VVIP." ucap tuan Anderson.


"ckckck orang kaya mah apa aja bisa ya, rumah sakit aja berasa hotel bintang sepuluh hihihi" kata Mak othor


"Mama disini ya, papa urus administrasi dulu" ucap tuan Anderson pada sang istri. nyonya Hanna hanya mengangguk sembari tetap memeluk Azka yang menangis.


"Kamu laki-laki nak, harus kuat nggak boleh nangis"


"Seandainya aku nggak bawa dia ke rumah sakit tadi ma, Kinara nggak akan begini" ucap Azka di sela isak tangis nya.


Tidak lama kemudian dokter Siska keluar dari ruang IGD dengan wajah sedihnya.


"Nyonya mari ikut ke ruangan saya, kita harus bicara" ucap dokter Siska dengan raut wajah memohon.


Nyonya Hanna bingung jika Azka ia tinggal kan sendiri takutnya malah bikin heboh petugas kesehatan. karena nyonya Hanna tahu jika Azka paling tidak bisa di tinggalkan sendiri dalam kondisi seperti ini mengingat trauma masa kecilnya saat kehilangan Rafka sang adik.


Dokter Siska yang memang sudah menyadari kekhawatiran nyonya Hanna, segera memanggil salah satu perawat untuk menjaga Kinara di IGD secara khusus.


"Asisten saya akan menjaga Kinara, dia sudah jalan kemari nyonya, kita bisa bicara di ruang kerja ku" ajak dokter Siska


"Baiklah"


"Azka bangun hei..ini anak ishh" nyonya Hanna mengguncang tubuh Azka yang bersandar di pelukannya. tiba-tiba tubuh Azka oleng dan jatuh. rupanya pingsan juga. mama Hanna dan dokter Siska terkejut bukan main.


Perawat yang sedang berada dalam IGD langsung keluar begitu mendengar teriakan dokter Siska.


"Angkat tuan muda dan bawa masuk, sepertinya dia juga kelelahan" titah nya pada perawat laki-laki yang sedang lewat di koridor depan IGD.


Mama Hanna histeris melihat anak dan menantu nya dalam kondisi terpuruk. seorang perawat berusaha menenangkannya.


Dokter Siska segera menghubungi dokter Fritz dan dokter Wawan untuk segera ke rumah sakit karena mereka berdua sedang dinas di rumah sakit lain.


"Nyonya tenanglah, tuan sedang kemari" ucap seorang perawat ber-nametag Sekar yang memang mengenal baik tuan Anderson dan keluarganya.


Tampak tuan Anderson lari tergopoh-gopoh dengan nafas memburu.


"Kenapa Azka Sekar?"


"Pingsan pak, sedang di rawat di dalam, dokter Siska sudah memanggil dokter Wawan dan dokter Fritz mereka sedang dinas di rumah sakit lain." ucap Sekar dengan tegas.


"Astaghfirullah kenapa harus terjadi lagi" batin tuan Anderson mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu terduduk di ruang tunggu.


Tak lama dokter Siska keluar dari IGD.


"Kenapa Azka dok?" tanya tuan Anderson


"Bisa kita ke ruang kerja saya tuan?"


"Baiklah ayo", tanpa basa-basi tuan Anderson berlalu mendahului langkah dokter Siska.


"Jaga nyonya disini sampai para dokter tampan itu datang kesini" ucapnya pada Sekar.


Dokter Siska melanjutkan langkahnya ke ruang kerjanya.


"Maaf tuan saya terlambat silakan masuk"


Tuan Anderson masuk terlebih dahulu dan duduk di sofa dengan tenang meskipun sebenarnya panik bukan main.


"Jadi bisa jelaskan?"


"Untuk Kinara, dia sepertinya stress dan tertekan, selain itu belum ada asupan makanan yang masuk sehingga kondisinya lemah, beruntung kondisi janin masih baik-baik saja dan selamat, kalau Azka bisa jadi trauma serangan panik itu datang kembali saat melihat Kinara tidak sadarkan diri, dia juga kelelahan, ini hanya dugaan sementara saya biarkan dokter Fritz saja nanti yang menangani Azka sepertinya beliau yang lebih faham kondisi mental Azka." papar dokter Siska.


"Alhamdulillah kalau kondisi anak dan cucuku masih baik-baik saja"


"Maaf tuan, kalau boleh tahu, apa mereka ada masalah hingga membuat Kinara tertekan dan stress berlebihan?"


"Semua karena kesalahan kami dok, dokter tahu kan apa yang sedang terjadi di rumah sakit X, bukannya anda juga bekerja disana?"


"Oh iya aku tahu, tapi maaf tuan saya tidak terlalu faham dan tidak ingin ikut campur, hanya saja saya sarankan untuk saat ini jangan biarkan Kinara dan Azka tertekan dengan permasalahan yang berat yang bisa membuat luka mental mereka kambuh lagi, saya sangat mengkhawatirkan kondisi janinnya Kinara tuan, ini baru trimester pertama usia baru 10 Minggu masih sangat riskan"


"Iya saya mengerti dokter terimakasih atas kerja keras dan pengabdian mu selama ini, kapan nikah dok?" tanya tuan Anderson di akhir kalimatnya membuat senyum dokter Siska seketika luntur.


"Maaf saya hanya bercanda, jika anda siap menikah saya bersedia menjadi penghulunya, bahkan saya punya beberapa kandidat yang cocok dengan dokter hehehe" tuan Anderson tertawa renyah


"Maaf tuan anda terlalu berlebihan saya belum dan tidak sedang dekat dengan siapapun saat ini, masih ingin fokus dengan karir, tapi saya berterima kasih jika tuan mau dengan sukarela menjadi saksi pernikahan saya nantinya"


"Ahahha baiklah saya pergi dulu, terimakasih atas waktunya dokter" tuan Anderson