KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 15



"Hari ini jadwal kamu terapi Kei, mbak nggak bisa nemenin, nanti di antar sama mama dan mas Hanan" ucap mbak Kinar saat kami tengah menyiapkan sarapan pagi.


Sudah dua minggu aku tinggal bersama keluarga mertua mbak Kinara. awal nya memang sulit untuk aku beradaptasi dengan keadaan baru di rumah ini, tapi sikap mertua mbak Kinara yang lembut dan keibuan perlahan membuatku merasa nyaman.


Terlebih lagi kedua bayi mungil kembar Keenan dan Keana yang mewarnai hari-hari ku di rumah besar ini. setiap pagi mama Hanna selalu mengajakku jogging bersama si kembar dan pulangnya kami singgah di warung bubur langganan mama.


Mbak Kinara tentu saja sudah sigap di dapur sejak subuh untuk menyiapkan sarapan buat kamu sekeluarga. di samping kesibukannya menjadi calon CEO perusahaan, mbak Kinara tidak pernah lupa akan tanggung jawab nya sebagai istri, ibu, mahasiswi, juga bos yang menghidupi ratusan karyawan.


Meski lelah dengan semua rutinitas nya, tidak pernah aku melihat mbak Kinar mengeluh macam-macam, Ia selalu terlihat ceria dan terus tersenyum meski sebenarnya ia juga lelah.


Selama dua Minggu ini aku pun punya aktivitas baru setiap mbak Kinar dan mas Azka ada jadwal kuliah. aku dan mama Hanna menjaga si kembar. kalau mama Hanna sedang ada urusan di luar aku bersama suster Ema dan asisten lainnya yang menjaga si kembar bersama-sama.


Ku pikir mereka yang tinggal dan bekerja untuk mama Hanna sering berganti seperti yang biasa aku lihat dan aku dengar cerita dari teman-teman ku di pondok yang orang tuanya punya usaha dan selalu berganti pegawai. ternyata mereka ada yang sudah bertahun-tahun bekerja pada keluarga ini.


Aku menelan suapan terakhir sarapan pagi ku sebelum menjawab ucapan mbak Kinar.


"Nanti pulang dari terapi mama mau ngajak kamu singgah ke yayasan karena mama sudah lama nggak kesana" ucap mbak Kinar lagi


"Iya mbak" hanya itu saja yang bisa ku ucapkan.


Pukul sembilan pagi mbak Kinar dan suaminya pergi ke kampus, si kembar sudah bersama suster Ema dan mbak Reni. aku sedang bersiap-siap di kamar untuk pergi.


Hanya setelah celana dan baju kemeja serta pashmina yang ku gunakan hari ini. sederhana dan sesuai dengan style ku yang memang lebih suka memakai celana ketimbang rok apalagi terusan.


Memang benar kata dokter Fritz dan mas Hanan kalau aku dan mbak Kinar dua orang yang berbeda. dari segi style berpakaian saja sudah berbeda jauh apalagi karakter kami yang memang sungguh berbeda.


Mbak Kinar yang selalu berpenampilan kalem memakai gamis dan hijab menutup dada, serta sikap santun dan sopannya memang jauh berbeda dari aku yang selalu cuek tapi perasa. urusan sikap, semua tergantung bagaimana sikap orang lain padaku.


"Loh mas Hanan sudah disini, emang nggak ada jadwal kuliah atau masuk kerja?" tanya ku saat sudah berada di teras rumah.


"Kuliah siang, jadi masih bisa antar ke dokter, nyonya Hanna mana?"


"Mama masih siap-siap, mas sudah sarapan?"


"Alhamdulillah sudah"


"Mas, nggak dapat kabar?" tanyaku pada mas Hanan dengan suara lirih. mas Hanan hanya menjawab dengan gelengan saja.


Ake memberengut kesal, sudah hampir sebulan aku mencari informasi tentang mas Reno dari mas Hanan tapi tetap saja nihil. entah kenapa aku masih betah untuk mencarinya hingga saat ini padahal sudah jelas di melukai ku.


"Sabar ya, aku juga sudah nanyain ke penjaga kos juga nggak tahu, ke toko rotinya Bu Fitri juga cuma ketemu karyawan nya saja" jelas mas Hanan lagi.


"Hufft, padahal aku cuma mau minta penjelasan nya saja, tapi kenapa susah sekali" batinku


Suara lantang mama Hanna membuatku berhenti bertanya lagi. ku lihat mas Hanan tersenyum simpul.


"Lah berduaan aja kalian, jangan-jangan jodoh" Seloroh mama Hanna menggoda kami


"Kita berangkat sekarang nyonya, mobil sudah siap" ucap mas Hanan sopan


"Nggak usah kaku gitu nan, Kei ayo" ucap mama Hanna menarik lenganku. mas Hanan sudah berjalan dahulu di depan membukakan pintu mobil untuk kami berdua.


"Nanti singgah ke yayasan dulu ya Mas, saya udah lama nggak jenguk anak-anak asuh di sana" ucap mama Hanna.


Aku memang tidak mengerti yayasan apa yang dimaksud mama Hanna. karena baru kali ini mama Hanna mengajak ku ke sana.


Sepanjang jalan kami terdiam hanya sesekali saja aku mendengar mama berbicara di telepon dengan seseorang. sampai kami tiba di rumah sakit dan aku melakukan terapi dengan dokter Fritz.


"Sejauh ini apa yang kamu rasakan?" tanya dokter Fritz.


"Jauh lebih tenang dok dari sebelumnya" jawabku


"Masih kepikiran dia nggak, maaf nih"


",Iya....masih dok, aku cuma mau minta alasan dia yang sebenarnya sih" jawabku terbata


"Gitu ya, tapi saran aku sebagai sahabat kamu, kalau kamu lelah berhenti ya, jangan paksakan sesuatu yang belum bisa kamu raih"


"Iya dok, makasih"


"Gimana kondisi ayah kamu?"


"Ayah sudah sehat dan masih tinggal di rumah kak Revan dok, emang dokter nggak pernah ketemu ayah?"


"Nggak"


"Loh ini kan rumah sakit ayah, ayah juga sering kesini kan"


"Kalaupun ini rumah sakit milik presiden sekalipun kan nggak ada kewajiban saya harus ketemu beliau setiap saat, saya punya jadwal yang sudah di atur, apalagi ayah kamu kan orang sibuk, CEO loh"


"Kan mbak Kinar yang bakal gantiin"


"Belum resmi ada serah terima jabatan, dan ayah kamu juga belum resmi mengundurkan diri. Kei, kesibukan setiap orang itu berbeda-beda, contoh nya saya kalau bukan amanah dan permintaan langsung dari tuan Denias saya juga nggak mungkin ada di depan kamu sekarang, mas Hanan di tunjuk sebagai bodyguard kamu juga bukan karena keinginannya tapi keinginan kakak ipar mu, meskipun setiap hari mas Hanan selalu ada dirumah, tapi nggak setiap menit ketemu Azka atau Kinara kan? apalagi mama Hanna dan papa Anderson. Kei, setiap saat semua manusia selalu berinteraksi dengan orang baru dalam sejarah hidup mereka. coba bayangkan kamu yang dulu nggak tahu apapun sekarang pada akhirnya kamu tahu tentang siapa jati diri mu, keluarga mu iya kan? kamu yang dulu nggak tahu apapun tentang sekolah, tentang pesantren apalagi pendidikan terutama agama, pada akhirnya sekarang kamu tahu kan, bahkan kamu punya banyak teman baru di pondok" terang pak dokter panjang lebar.


Aku langsung mengangguk mengerti, kali ini aku benar-benar menyadari di mana letak kekurangan ku selama ini. dan salahkah jika ada rasa benci timbul pada orang yang sudah meninggal?