KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 120



"Bu, ada kiriman undangan" ucap salah pak satpam membawa sebuah kotak kecil berisi undangan pernikahan.


"Terimakasih pak" jawab Keisya.


Keisya duduk di sofa ruang tamu dan membuka kotak undangan berwarna golden brown itu.


"Kotak nya aja semewah ini, pasti orang berpengaruh di sini, teman ayah kayaknya" batin Keisya melihat kotak itu dengan teliti.


Setelah kotak terbuka, justru ia di kejutkan dengan sepasang foto yang membuat air matanya jatuh dan bibirnya terbungkam.


Reno Andriyansyah Tahrim & Andini Anggraeni Sasmito.


Keisya hanya bisa memandang undangan itu dengan perasaan tak menentu. tanpa memikirkan apa yang akan terjadi, Keisya langsung berbalik dan masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Tak lama Hanan datang dan melihat sebuah kotak emas tergeletak dan isinya tercecer di meja.


Hanan yang penasaran langsung meraih dan membaca undangan itu.


"Jadi benar yang kamu katakan mas Reno, tapi tetap saja aku masih ragu, maafkan saya yang sudah ikut melukai mu, seandainya dulu saya tidak terburu-buru, mungkin hari ini kalian sudah bahagia, maafkan mas Kei, mas sudah memisahkan kalian" ucap Hanan dalam hati.


Tanpa ragu Hanan masuk ke dalam dan naik ke atas. benar dugaannya kalau istrinya yang menerimanya undangan itu dan sudah membacanya.


Keisya benar-benar mengunci pintu. Niatnya hari ini ingin meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman diantara mereka yang telah terjadi beberapa Minggu ini. Nyatanya hari ini hal itu tidak terjadi.


Hanan kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan bersalah. Harusnya dia senang karena Reno sudah menikah dengan pilihan hidupnya. Tapi di sisi yang sama ia juga merasa bersalah teramat dalam pada sang istri yang rupanya masih tak bisa melupakan masa lalunya.


Seandainya dulu ia tidak terburu-buru dan memaksakan kehendak, tidak akan terjadi hal ini dalam rumah tangganya, terlebih sudah ada anak di antara mereka.


Meski ia tahu sebagai istri Keisya juga salah karena memikirkan laki-laki lain yang bukan muhrimnya. Tapi lima masa lalu itu tak bisa terhapus begitu saja.


Luka yang di buat di atas luka lain yang belum sembuh dan mengering, membuat psikologis Keisya terkadang memang tidak menentu.


Meski ia juga cemburu dan sakit saat tahu istrinya masih belum melupakan luka masa lalunya, tapi toh ia juga tak bisa berbuat apa-apa apalagi memaksakan kehendak.


Ia tak ingin menyakiti Keisya terlebih kedua anak mereka. Sudah banyak pengorbanan yang Keisya lakukan untuk melahirkan kedua buah hati mereka.


Sudah terlalu banyak pula beban yang ia berikan padanya sebagai suami. Meski Keisya tak banyak menuntut apapun darinya.


Materi memang lebih dari cukup, tapi bukan itu yang membuat kebahagiaan itu utuh. Inilah letak ujian hidup dan rumah tangganya yang harus ia jalani kali ini.


Hanan ingat bagaimana perjuangannya mengambil hati Keisya beberapa tahun lalu sebelum mereka resmi menikah.


Tiga kali penolakan yang ia terima dari Keisya tak mampu menggoyahkan keinginannya untuk memiliki gadis itu hingga akhirnya tuhan memberikan jalan terbaik dan Keisya menerima pinangannya.


Selama enam tahun mengarungi bahtera rumah tangga, tak pernah sekalipun ia dan Keisya bertengkar apalagi perang dingin sehebat ini.


Keisya yang selalu penurut dan melayaninya tanpa mengeluh tak pernah menuntut macam-macam padanya meskipun wanita itu juga sibuk mengurus kedua anak mereka dan perusahaan yang ia pimpin.


Hanan membuka album lama di meja kerjanya, foto saat ia melamar Keisya hingga hari pernikahan mereka.


"Tok tok tok assalamualaikum tuan" panggil mbok Iyah dari depan pintu.


"Waalaikumsalam kenapa mbok?" tanya Hanan dari dalam


"Nyonya tuan, nyonya nggak bukain pintu dari tadi, Faras daritadi nangis mau ketemu bundanya" ucap mbok Iyah membuat Hanan batal membuka album dan langsung berlari membuka pintu ruang kerja nya.


"Mana anak-anak mbok?" tanya Hanan


"Anak-anak sama mbak nya tuan di belakang, ayo ke kamar ibu dulu tuan" ucap mbok Iyah berlari menyusul Hanan ke lantai atas.


Dor dor dor


"Nyonya, saya bawa susu hangat sama buah, tolong bukain pintunya" ucap mbok Iyah


"Kei, buka pintunya sayang, mas mau mandi" ucap Hanan sekali lagi tapi tetap saja pintu tidak terbuka.


Hanan tetao berusaha membuka pintu dengan bersama mbok Iyah.


"Kei,... Buka pintunya atau mas yang dobrak?" teriak Hanan frustasi sembari menarik rambutnya.


Cleck.


Pintu terbuka, Keisya berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan langsung jatuh pingsan.


Bruk


"Astaghfirullah nyonya," teriak mbok Iyah kaget


Hanan lambung meraih tubuh Keisya dan menggendong masuk kembali ke kamar.


"Mbok ambilkan kotak p3k, bawakan air hangat saja" titah Hanan


"Kei, bangun sayang, maafin mas, maaf mas udah bikin kamu tertekan selama ini, bangun sayang" ucap Hanan dengan Isak tangis memeluk tubuh lemas Keisya.


"Tuan apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya mbok iyah berbalik lagi ke kamar.


"Astaghfirullah iya mbok saya malah lupa, panggil dokter Siska sekarang" ucap Hanan


mbok Iyah langsung mengambil ponselnya di saku baju dan langsung menghubungi dokter Siska.


"Lima belas menit lagi beliau sampai tuan, saya kebawah dulu" ucap mbok Iyah


Hanan menangis di tepi ranjang, hatinya benar-benar merasa lelah karena terlalu lambat mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya.


Seharusnya tadi ia masuk ke dalam kamar bukan malah ke ruang kerjanya.


Tak berselang lama dokter Siska datang dan langsung memeriksa kondisi Keisya.


"Bagaimana dok?" tanya Hanan


"Kayaknya Kaila bakalan punya adik lagi deh, coba di tespek nanti kalau dia bangun" ucap dokter Siska.


"Hamil?" tanya Hanan terkejut


Mbok Iyah yang ada di sudut kamar tersenyum senang mendengar ucapan dokter Siska kalau Keisya tengah hamil anak ketiganya.


"Itu baru prediksi ku tuan, nanti kalau bangun suruh tespek dulu kalau hasilnya dua garis berarti positif hamil. Kalau kisaran usianya belum bisa saya cek kalau dia belum bangun, nanti saya atur waktu untuk USG setelah dapat hasilnya, saya nggak bawa alat soalnya tadi buru-buru antar anak ke tempat les" jelas dokter Siska


"Okelah dok, semoga saja hasilnya positif, kalau begitu atur saja waktu supaya saya bisa bawa Keisya ke rumah sakit, atau ke tempat dokter saja" ucap Hanan


"Saya tunggu kabarnya dari sini dulu lah, paling lambat besok ya, sudah dua kali punya anak masih nggak tahu ngadepin orang hamil" cibir dokter Siska pada Hanan yang hanya mesem-mesem saja.


"Iya maklum dua anak saya selama hamil nggak mau di deketin emaknya,kemana-mana yang nuntun mbak Kinara sama mbok Iyah, saya cuma jadi sopir hehehehe" ucap Hanan membalik ucapan dokter Siska.


"Hahaha, ya udah oke, tunggu aja dia bangun, mbok tolong di dampingi ya nyonya muda nya, tuan mudanya nggak bisa ngurus istri sih hehehe" ucap Dokter Siska seraya pamit pulang.


Hanan hanya mendengus kesal mendapat cibiran seperti itu dari dokter keluarga istrinya. kalau tak ingat dokter Siska dulu adalah Adik kelas mas Hanif yang sempat di taksir sang kakak, ingin saja rasanya Hanan memberi pelajaran pada dokter usil itu.